Kenapa Susah Tertib?

tulisan semi-curhat ini saya dedikasikan untuk temaP3190025n-teman FM (bukan Fadhilatul Muharram :mrgreen:) yakni kependekan dari FOCUS MANAGEMENT, calon perusahaan besar dari angkatan 2004 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (aamin). disamping ini saya pampang gambar mereka ah, lumayan, biar kerennya kelihatan (yang gambarnya gak ikut dipampang, jangan marah ya 😉 ) Baca lebih lanjut

PEMIRA 2010

DIGI0104 sekarang sudah akhir Maret 2010. saya masih ingat tentang isu-isu bahwa PEMIRA (Pemilihan Umum Raya) akan diadakan kembali di bulan Maret 2010 setelah vakum setahun (CMIIW). hmm, saya memang ragu sebenarnya tentang kepastian ini. apakah benar-benar akan diadakan kembali? masalahnya masih ada urusan-urusan yang harus diselesaikan. entah apa itu, hanya mahasiswa yang terjun di bidang SOSPOL (sosial politik) yang mengerti detail soal ini. kalau saya mah, cuma belagak ikutan pengen tahu aja, kenapa ini, ada apa ini. :mgreen:

PC010022 hmm, entah ini postingan yang keberapa yang saya tulis tentang PEMIRA di kampus saya. jika dulu saya menulis dengan menggebu-gebu dan sangat idealis (maklum waktu itu masih mahasiswa semester awal dan masih aktif di kampus), sekarang saya menulis ini dengan gaya pengamat asal-asalan (maklum juga, udah jadi alumni dan ceritanya mau mantau kegiatan kampus).

PC010001 oke, sekali lagi, sekarang sudah akhir Maret 2010 dan PEMIRA yang menjadi isu belum juga terlaksana di kampus. kasihan juga partai-partai kampus yang sudah mengeluarkan uang untuk promosi calon-calonnya. promosi dengan baliho itu kan membutuhkan dana yang tidak sedikit. dana untuk baliho, poster, stiker membutuhkan setidaknya jutaanlah. wow, mahasiswa dapat dana dari mana ya untuk mengadakan benda2 promosi itu? biasanya sih dari calonnya atau dari para pendukung dan simpatisan partai. saya masih ingat ketika saya dicalonkan menjadi presiden fakultas, setidaknya harus memberi dana sekian untuk pembuatan baliho bersama calon presiden fakultas lain dan calon presiden BEMU dari partai kampus yang mengusung saya. dan jadi ingat ketika itu baliho kita jadinya lebar sekali persis segi panjang dan foto saya mendapat tempat di pinggir paling kiri. rasanya tidak enak yah melihat foto kita dipanjang besar-besar di depan publik (menurut saya lho), belum lagi stiker yang ditempel dimana-mana. haha.

oke, masih mengenai PEMIRA kampus, saya harap tidak vacuum terlalu lama. rasanya tidak enak saja melihat kehidupan di kampus sendiri tidak sehat. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Sebuah Negara dalam Kampus

Note: tulisan ini saya sengaja posting di tengah hiruk pikuk pemilu negeri ini. semoga nyambung dengan postingannya. Jaya Negeri dan Bangsaku! 🙂

IMG_0400

kampanye salah satu partai kampus

Beberapa waktu lalu saya bertanya soal kapan PEMIRA (Pemilihan Umum Raya) akan kembali dilangsungkan di kampus pada adik kelas. Dia menjawab dengan ragu, “katanya sih Agustus, kak. Tapi kayaknya gak akan mungkin juga deh.” Saya pun mengangguk paham. Saya mencoba mengerti (lebih tepatnya sok tau) dengan keadaan sospol (sosial politik) kampus yang carut marut, tidak beda jauh dengan keadaan politik negeri ini. Di kampus kami pengadaan pemilu untuk BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) baik tingkat jurusan, fakultas dan universitas memang tidak pernah tepat waktu alias selalu molor. Seharusnya kampanye dan pemilu raya sudah diadakan bulan Juni, namun sampai awal Juli pun belum ada tanda-tanda persiapan pembentukkan KPU dan panitia pengawas pemilu. Sementara beberapa partai mahasiswa sudah tampak menyiapkan diri untuk pertarungan berikutnya. Ah entah kenapa mulanya PEMIRA bisa tidak tepat waktu begini. Padahal dulu ketika saya pertama kali mengenal dunia politik di kampus (2005), pemilu dilakukan setiap bulan Juni. Namun pada PEMIRA berikutnya (2006), entah apa sebabnya di-molorkan hingga dilangsungkan pada bulan September. Dan PEMIRA 2008 kemarin menjadi lebih molor lagi yakni dilangsungkan pada dua bulan terakhir di akhir tahun. Lalu kapan nih PEMIRA tahun ini ya??

PC010012

suasana TPS di salah satu fakultas

Begitulah kampus kami yang mengusung student government sebagai bentuk kebebasan berpolitik bagi mahasiswanya. Banyak yang bilang bahwa student government yang kami miliki persis seperti dengan miniatur NKRI. Mungkin begitu juga dengan kampus lain yang juga mengusung student government sebagai jalurnya. Student government alias pemerintahan mahasiswa memiliki sistem yang cukup rumit juga. Ya, persislah seperti Negara. Ada partai mahasiswa (kampus) yang berfungsi sebagai afiliasi politik bagi para mahasiswa. Di kampus kami setidaknya ada 6 partai kampus. Dan dari 6 partai inilah visi-misi, calon legislative dan executive digulirkan dan ditawarkan. Ada kampanye dll, biasalah persis kayak sistem demokrasi Indonesia. Bagi mahasiswa yang suka politik atau terlanjur terekrut dan aktif di perpolitikan kampus, pastinya getol dalam mempromosikan partainya. Bagi mahasiswa yang lebih aktif di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) biasanya berpikir lebih netral walaupun terkadang ada juga anggota UKM yang menjadi anggota partai kampus. Tapi disinilah fungsinya UKM, khususnya UKM yang spesifik kepada media kampus, mereka menjadi monitor bagi perpolitikan kampus. Bagi mahasiswa yang SO (study oriented) atau bahkan yang apatis (kupu-kupu alias kuliah pulang 2x) pastinya menjadi target empuk bagi para politikus kampus.

PC010038

suasana TPS di salah satu fakultas (dibalik bilik suara)

Bahkan pengalaman saya nih (ketika tingkat 1, kebetulan memang ketika itu masih hot-hotnya berpolitik) hanya karena berbeda partai politik, teman sekelas pun bisa jadi musuh. Saya merasakan suasana yang cukup panas dan alot di kelas ketika tengah musim kampanye dan pemira tiba. Ketika itu banyak teman yang bilang, “beda partai udah kayak beda agama”. :mrgreen: Ya, mau tak mau itulah yang harus diakui bersama. Segala cara bisa ditempuh Cuma karena ingin memenangkan kampus. Tapi bagi saya, ini bukan hanya sekedar berbicara tentang kekuasaan. Namun kita berbicara tentang ide-ide kita dalam membangun kampus lebih baik. Buat saya mahasiswa jangan hanya menuntut kepada kampus, tapi lakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan. Dan itulah salah satu alasan kenapa saya ikut berpartisipasi dalam politik kampus, setidaknya mau menjadi tim logistik kampanye dan bahkan diusung menjadi calon presiden di fakultas. Karena saya ingin berbagi ide untuk kampus saya yang lebih baik. Atau mungkin saya yang terlalu idealis? Ya-ya mungkin saja.

Sebuah Negara dalam kampus, tentu saja merupakan program yang cukup baik bagi perkembangan sense mahasiswa dalam kebebasan berpolitik. Jadi, isu untuk pembubaran student government di kampus kami, moga tidak menjadi nyata. Walaupun sebenarnya untuk belajar berorganisasi tidak harus melalui sistem student government. Oke kepada seluruh aktivis mahasiswa, tetap semangat! Jangan mengabaikan kuliah demi organisasi atau sospol. Dan jangan juga terlalu apatis sehingga mematikan kebebasan berorganisasi dalam hati. Karena sesungguhnya itu pun kebutuhan kita sebagai mahasiswa.

Lebih lanjut untuk artikel tips menjadi mahasiswa yang cerdas dan aktif, lihat disini.

Lebih lanjut untuk artikel-artikel lama saya tentang politik kampus UIN Syahid, lihat list berikut:

Lewat Teater, Kami Bicara Soal Indonesia

*saat latihan* adegan pembuka: para warga Desa Miskin tengah beraktivitas. terlihat sang pembawa prolog tengah mengelilingi panggung sambil membaca puisi.

*saat latihan* adegan pembuka: para warga Desa Miskin tengah beraktivitas. terlihat sang pembawa prolog tengah mengelilingi panggung sambil membaca puisi.

Akhirnya, alhamdulillah, saya punya ide baru lagi untuk menulis. Dengan mood yang baik dan inspirasi yang telah menunggu mampir beserta kata-kata yang siap diluncurkan di pikiran brilian ini.

Pemilihan-pemilihan umum-disingkat sebagai PEMILU. Kabarnya pemilu merupakan wujud nyata demokrasi, sehingga banyak yang menyambut baik pemilihan umum model begini yakni yang dengan cara langsung dipilih dari rakyat. Tapi ternyata dengan pemilu pun pemimpin yang lahir tidak bisa menghasilkan apa-apa, malah terkadang rakyat merasa sengsara dengan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan kondisi mereka. Lalu mengapa pemilu harus dipe

*saat latihan* masih dalam adegan aktivitas warga

rtahankan? Hmm….

Soal pemilu yang carut marut ini, kami dari mahasiswa hanya bisa mengkritisi dengan berbagai cara terbaik kami. Entah itu dengan menulis blog seperti yang saya lakukan sekarang ini, atau dengan aksi turun ke jalan, atau dengan aksi teaterikal, dll. Nah, dengan begitu kami berharap suara-suara kritis kami bisa didengar dan dipertimbangkan dan ditindaklanjuti oleh mereka yang merasa berwenang.

100_0087

*saat latihan* adegan debat kandidat

Soal aksi teaterikal, saya pun pernah melakukannya dengan teman-teman sekelas. Meski sebenarnya aksi yang kami lakukan bukan sebenar-benarnya aksi. Melainkan kami tengah melakukan ujian akhir semester (final test) kami untuk mata kuliah DRAMA. Ketika itu kami sekelas diminta untuk melakukan pementasan drama dengan tema bebas dan karya bebas juga. Akhirnya kami mengambil kesempatan ini untuk benar-benar mementaskan naskah drama buatan kami sendiri (buatan sutradara kami, Waode Fadhilah Fitriah). Waode memilih tema yang tidak biasa, yakni soal situasi pemilu di Indonesia yang carut marut. Kebetulan ketika itu sedang ramai-ramainya berbagai pilkada (pemilihan kepala daerah) di berbagai kota dan kabupaten dan provinsi di Indonesia yang ternyata (lucu dan miris) selalu berakhir dengan sedikit (kalo gak mau dibilang banyak) kericuhan. Maka kami bersegera menuangkan konsep itu ke dalam teater yang akan kami pentaskan untuk UAS kelas kami.

Ceritanya berlatar belakang sebuah desa miskin dan kumuh yang sudah sampai saatnya melangsungkan pemilihan kepala desa yang baru. Penduduk di desa miskin itu benar-benar terdiri da

*saat latihan* adegan mengantri nyoblos

*saat latihan* adegan mengantri nyoblos

ri orang miskin yang gajinya dibawah UMR. Sehari-harinya mereka hanya memikirkan bagaimana mereka harus makan dan tidak familiar sama sekali dengan pilkada yang akan berlangsung di desa mereka. Hingga suatu saat panitia pilkada datang berkunjung untuk memberitahu soal pilkada secara umum berikut calon-calonnya. Para penduduk cukup antusias mendengarnya dan berharap mereka bisa mendapatkan pemimpin baru yang adil dan sejahtera.

Kemudian saat kampanye tiba. Kebetulan untuk pilkada di desa kumuh ini hanya ada dua calon, yang pertama calon perempuan (Mrs. Ratu stared by Nurhayati) dan yang kedua calon laki-laki (Mr. Sudarisman stared by Yoga Sudarisman). Mrs. Ratu mendapat giliran kampanye pada hari pertama, sedangkan Mr. Sudarisman mendapat giliran pada hari kedua. Kampanye mereka dihadiri warga dengan cukup antusias. Mereka, para calon tersebut, selain membawa a

saat break latihan... huah, lumayan serius lho kita evaluasi...

saat break latihan... huah, lumayan serius lho kita evaluasi...

sisten pribadi dan ajudan mereka, juga membawa janji-janji untuk perubahan di desa miskin tersebut. Sehingga warga semakin antusias.

Sebelum diadakan pilkada, panitia pilkada inisiatif bersama warga desa miskin yang terdiri dari pemulung, pengemis, tukang dagang, pengamen, dan juga preman mengadakan debat kandidat pada H-1. Pada momen tersebut terlihat para calon saling beradu argument dan saling pamer janji. Sementara para warga terbagi atas dua kubu yang mendukung Mrs. Ratu dan Mr. Sudarisman.

Dan akhirnya, tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yakni pemilihan pilkada di desa miskin itu. Ketika para warga tengah sibuk berbaris, ternyata ajudan dari masing-masing kandidat tengah berusaha memberi uang kepada para warga secara diam-diam. Uang yang diberikan itu dimaksudkan untuk agar supaya (halaahh, mubazir kata dech) para warga bisa memberikan suaranya di bilik suara. Dan merupakan konsep yang brilian, ketika di panggung bilik suara di-setting menghadap penonton dengan tanpa penutup dan penghalang apapun di pintu depan. Sehingga penonton bisa melihat calon mana yang dipilih warga.

ini dia sutradara kelas kami, Waode Fadhilah Fitriah...

ini dia sutradara kelas kami, Waode Fadhilah Fitriah...

Oke, tiba ke perhitungan suara, ternyata hasil suara seri untuk masing-masing kandidat. Dan ini sangat mengherankan (ternyata kedua kandidat melakukan money politic dan penggelembungan suara). Akhirnya kedua kandidat tidak menerima dan saling menuduh. Panitia pilkada pun tidak bisa berbuat banyak. Sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan. Perkelahian antar kedua kubu pun tidak bisa dielakkan. Dan kericuhan pun terjadi. Semua berkelahi. Semua berteriak dan berlari. Juga menangis. Dan akhirnya, lampu panggung mati. GELAP. Semua mati. Tidak ada kehidupan. Kemudian lampu panggung menyala lagi, sutradara maju ke depan panggung. Dan disanalah para penonton baru sadar jika pentas telah usai. Tepuk tangan pun MERIAH. Dan kami mendapat nilai A+ untuk UAS DRAMA ini. Alhamdulillah….

Phhuiiihhh…. Panjang betul ceritanya yup. Baik teman, jadi intinya begini, lewat pentas drama tadi kami mencoba memberi pesan kepada para penonton soal apa yang tengah terjadi di Negara kita ini. Sungguh menngerikan. Saya menulis ini karena saya pikir momennya tengah tepat, yakni di saat hari-hari menuju pilpres di Juni 2009 nanti. Semoga bermanfaat dan ada hikmahnya.

Thx to:

  • Allah SWT
  • Rasulullah SAW
  • Momen PILKADA DKI JAKARTA pada Juli 2007. Mungkin ini adalah salah satu inspirasi bagi kami dalam berteater.
  • Mrs. Ina (Dosen DRAMA yang udah ngasih nilai “excellent” buat kita, tapi sayangnya karena nilai UTS kita jelek-jelek, nilai akhirnya jarang yang dapet A. hehehhh)
  • Teman-teman di kelas B jurusan Sastra Inggris 04 UIN Syahid; Ode (sutradara
    ini foto beberapa pemain dgn pengamen2 cilik yg berhasil masuk kampus tanpa ketauan satpam. ada Mika, si-wartawan yg lagi megang mic. trus Nuril yg berperan sebagai banci. dan Dila (penulis blog ini) dgn peran sebagai pemulung. hehehhh

    ini foto beberapa pemain dgn pengamen2 cilik yg berhasil masuk kampus tanpa ketauan satpam. ada Mika, si-wartawan yg lagi megang mic. trus Nuril yg berperan sebagai banci. dan Dila (penulis blog ini) dgn peran sebagai pemulung. hehehhh

    ), Nova (pembawa prolog), Edy (penata musik), Wulan (make-up), Nur (Mrs. Ratu), Yoga (Mr. Sudarisman), Habibi (Ajudan Mr. Sudarisman), Adrian (Ajudan Mrs. Ratu), Risa (Asisten Mrs. Ratu), Devi (Asisten Mr. Sudarisman), Iqbal (ketua panitia pilkada), Bayu (staff penitia pilkada), Ipeh (staff panitia pilkada), Lisa (pengemis), Yanti (preman pasar), Nuril (banci pasar), Meiva (tukang sayur), Aya (tukang ikan), Dening (tukang jamu), Ida (pembeli 1), Kiki (pembeli 2), Mela (pembeli 3), Mika (wartawan TV), Ede (kameramen), Toriq (anak dari Mrs. Ratu yang berpacaran dengan anak Mr. Sudarisman), Nufus (anak dari Mr. Sudarisman yang berpacaran dengan anak Mrs. Ratu), dan dila alias diriku sendiri (sebagai pemulung).

  • Teman-teman yang udah nonton.
  • Juga semua pribadi yang tak bisa kami sebutkan satu per satu.

Peran Dakwah ADK UIN Syahid di Dunia Virtual: Analisa dan Taksiran

Didekasikan untuk dakwah kampus di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Ikhwah, bersemangatlah dalam juang. Karena antum adalah bagian dari proses kemenangan itu.

Dunia dakwah merupakan dunia yang tidak pernah lepas dari seorang manusia beriman yang pada diri-dirinya melekat predikat da’i. Banyak jenis dakwah yang bisa dipilih da’I sebagai tempat dalam merangkul objek dakwahnya, dan dari sekian jenis itu terdapat dakwah virtual. Dakwah virtual merupakan ranah baru dalam era modern ini, dimana teknologi berkembang sedemikian pesatnya. Namun sayangnya tidak banyak da’I yang menggeluti dakwah virtual ini secara massive.

Suatu ketika saya tidak sengaja membaca sebuah komen pada sebuah note tentang dakwah. Komen itu ditulis oleh seorang ikhwah yang berasal dari salah satu kampus teknologi terbesar di Indonesia yang berlokasi di barat Jawa. Saya tidak hapal persis komennya namun saya dapat menangkap maksudnya,kurang lebih begini, “…di kampus kita itu persenan antara dakwah dunia nyata dan dunia maya itu 50% : 50%. Sementara di kampus lain 90% : 10%.”

Ketika membaca komen tersebut, saya jadi berpikir sendiri tentang peran dakwah ADK UIN di ranah virtual. Kurang lebih analisa seorang ikhwah tersebut bisa dibenarkan, mengingat kampus kita yang mungkin belum terlalu hi-tech. lantas, jika mau mengambil sample-nya yakni 90% (dunia nyata) : 10% (dunia virtual), bagaimana peran dakwah yang 10% ini?

Begini, saya mencoba membagi dakwah 10% tersebut kepada beberapa bagian di dunia virtual. Bagian ini saya sebut sebagai alat atau sarana atau senjata. Coba lihat bagan berikut di bawah.

clip_image001[9]

Ya, kira-kira seperti itu pembagian dakwah di dunia virtual. Menurut pengamatan saya, yang paling sering digunakan ADK UIN ialah email dan chatting, milis dan situs jejaring sosial seperti FS, FB, Tagged, Hi5, Twitter, dll. Sementara Blog dan Website masih kalah popular dibandingkan situs jejaring sosial itu. meskipun sebenarnya lembaga-lembaga dakwah kampus baik intra maupun ekstra yang ada di UIN telah memiliki websitenya sendiri, namun ternyata ADK lebih suka mengunjungi FS atau FB atau malah lebih senang chatting. Meski sebenarnya juga tidak ada yang salah dalam memilih sarana dakwah virtual ini selama itu masih ada unsur kepada dakwah dan menyeru kepada kebaikan.

Begitu juga dengan blog. Masih banyak ADK UIN yang belum kenal dengan blog, dalam artian membuat dan me-maintenance-nya. Padahal jika mau di-massive-kan, blog bisa menjadi sarana yang ampuh untuk merangkul objek dakwah secara menyeluruh. Di beberapa kampus besar Indonesia, hampir seluruh ikhwahnya memiliki blog. Sehingga mereka terbiasa saling blogwalking (berkunjung ke blog orang lain), atau mempromosikan blog mereka kepada objek dakwah yang tersebar baik di kampus mereka sendiri ataupun di luar kampus.

Sekali lagi tidak masalah memilih jenis sarana dakwah yang akan digunakan di dunia virtual. Namun ketika kita berbicara dunia virtual, pasti kita akan berbicara mengenai cara kita berdakwah disana. Caranya tidak lain tidak bukan ialah dengan menggunakan tulisan. Nah ini berarti kembali lagi kepada sarana yang belum terlalu dijamah dengan massive oleh ADK UIN, yakni website dan blog.

Dunia Virtual = Dunia Komunikasi Tulis dan Baca

Email dan milis (mailing list) juga merupakan sarana yang baik dalam menyebarkan pemikiran kita lewat tulisan. Namun lebih baik jika mem-posting tulisan yang telah kita pada website dan blog milik lembaga (organisasi) dakwah atau pribadi. Sehingga ketika orang lain membutuhkan tulisan tersebut, akan lebih mudah dicari.

Baik, kembali ke topik tulis dan baca sebagai senjata ampuh di dunia virtual (begitu juga video dan musik dan animasi). Tulisan merupakan alat yang paling tajam dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita. Ia menjadi alat propaganda yang selalu menjadi pilihan pertama dalam mempublikasikan pemikiran brilliant. Maka tidak heran jika banyak orang pintar yang menggunakan tulisan sebagai penyampaian ide-ide mereka. Bahkan syarat yang harus dimiliki untuk menjadi seorang professor ialah berapa banyaknya buku yang telah ditulis si calon professor tersebut.

Namun sayangnya, ternyata menulis belum menjadi tradisi yang baik di kalangan ADK UIN. Ikhwah UIN secara umum *menurut pengamatan saya* jarang menjadikan menulis sebagai hobby yang harus ditekuninya. Mereka menulis jika hanya disuruh mengisi rubric tertentu dalam bulletin dakwah kampus. Itu pun terkadang yang menjadi isi bulletin adalah saduran dari tulisan orang lain yang telah dimuat di media tertentu yang terkadang sumbernya pun tidak dicantumkan!!

Cukup miris sebenarnya. Pernah saya mendapat kiriman balasan email dari seorang akh tentang tulisan yang cukup bagus. Ketika itu saya tertarik untuk mempublikasikannya dalam blog saya. saya pun meminta izin sebelum memuat artikelnya pada akh tersebut dan diperbolehkan. Selanjutnya ada artikel lagi darinya dan isinya cukup bagus, maka saya kembali tertarik untuk mempublikasikannya. Namun kali itu saya mencoba kembali bertanya bahwa apa benar ia yang menulis artikel tersebut? Dan ia pun menjawab, “Bukan. Itu gabungan beberapa artikel yang ane punya,”

Seketika saya terhenyak dan agak menyesal dengan pengakuan itu. dan kembali menyesal mengingat saya pernah mempublikasikan artikel darinya. Memang, di bagian akhir artikel terdapat keterangan ma’roji. Namun tetap saja membuat saya rancu jika itu benar merupakan gabungan artikel orang lain yang dimilikinya. Kecuali jika ia membuat tulisan itu sendiri dengan menggunakan artikel lain sebagai sumber pendukung. Jika artikelnya hanyalah gabungan dari beberapa artikel orang lain, alangkah baiknya diberi keterangan pada awal tulisan. Misalnya “artikel ini merupakan gabungan dari beberapa artikel karya si fulan dan fulanah yang telah dimuat di majalah/website/buku….”

Berdakwahlah dengan Menulis

Maka berdakwahlah dengan menulis, ikhwah. Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa menulis ialah salah satu cara ampuh berdakwah di dunia virtual. Menulislah setiap hari walau sekali, walau satu kalimat, walau satu paragraph.

Keluarkanlah ide-ide brilian itu walau hanya satu falsafah, walau satu bait, walau satu pasal, walau satu ayat. Manfaatkanlah fasilitas elektronik yang kita punya demi mempermudah lahirnya tulisan kita. Kerena banyak juga ikhwah yang jago menulis namun sulit mem-publikasi-kannya di dunia virtual karena kekurangan sarana.

Dan ingat, JANGAN PLAGIAT!! Jika menggunakan sumber lain sebagai penguat dalam artikel kita, cantumkanlah darimana sumber asalnya. Jika hilang atau lupa akan asal sumber tersebut, cukup tuliskan begini, “kalimat ini saya ambil dari salah satu artikel yang sayangnya tidak terdapat nama penulisnya” atau penggalan kalimat lain yang menyatakan bahwa ada sumber lain yang kita gunakan untuk artikel kita.

Sekali lagi semangat. Semoga tulisan ini menjadi bermanfaat.

Wallahua’lam