Terpesona 99 Cahaya di Langit Eropa

Prolog: Ketika tengah berdesak-desakan dalam Commuter Line Bekasi-Tanah Abang, mata saya terpaku pada kalimat demi kalimat indah pada sebuah buku.
“Paris n’est pas qu’une question de Tour Eiffel et de Louvre. Cela va bien au delà de ces ’petits bâtiments’.”
Membaca sebagian paragraf yang berbahasa Perancis dalam buku itu saya tergugah. Badan yang sedang tergencet puluhan badan di kereta saya abaikan. Hey, buku apa ini? Saat itu saya juga tengah memegang buku pelajaran bahasa Perancis, maklum persiapan untuk Final Test di CCF (sekarang IFI Jakarta) bikin saya harus lebay belajar walaupun cuma sedikit aja yang nyangkut. Mengabaikan buku Perancis Échoe 2, saya lebih tertarik pada buku yang tengah dibaca oleh seorang perempuan muda berjilbab itu. Posisi saya yang sangat dekat dan bahkan bisa dibilang berhimpitan dengan perempuan muda itu membuat saya selalu menyajikan senyum kepadanya. Meski sakit tergencet-gencet tapi saya tetap ingin mencoba tersenyum.
Hingga suatu ketika kereta kami berhenti di St. Manggarai. Saya memberanikan diri menjawil bahu si mbak yang masih asyik membaca, “Mbak, itu buku apa ya?”. Si Mbak yang ternyata memiliki senyuman manis itu bergegas membalik bukunya dan menunjukkan cover tersebut pada saya: 99 Cahaya di Langit Eropa – Best Seller karya Hanum Salsabiela Rais.

99 Cahaya di Langit Eropa dan Tiket Commuter Line Bekasi – Sudirman. Tiket-tiket di sebelah buku merupakan pembatas buku ini. Mereka menunjukkan perkiraan sudah berapa banyak perjalanan yang saya lalui dengan membaca buku ini.

Baca lebih lanjut

Layang-Layang Putus

Bloggers, kali ini saya akan mengulas novel yang baru saya baca. Novel yang bukan termasuk dalam hitungan best seller atau juga paling baru ini berjudul ‘Layang-Layang Putus’. Novel ini sudah terbit sejak Februari 2005, hanya saja sepertinya tidak terlalu menarik minat banyak pembeli. Sebab berkali-kali novel ini menjadi langganan dalam daftar obral dan diskon pada pameran buku. Meski begitu, isi yang disajikan dalam ceritanya tidak obralan alias cukup bermutu untuk menjadi sebuah bacaan.

Novel karya Masharto Alfathi ini bercerita tentang perjuangan orang-orang difabel (different abbilities) dalam menjalani hidup. Difabel lebih dikenal sebagai penyandang cacat oleh orang-orang umum yang dalam kehidupan berkemampuan ‘normal’. Novel ini memperjuangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kesetaraan orang-orang yang dianggap cacat. Seperti tentang penggunaan kata difabel yang lebih disukai daripada ‘penyandang cacat’ yang dianggap sangat mendiskriminasi. Orang-orang difabel selalu dianggap kelas dua atau bahkan kelas tiga (jika ditambah dengan predikat miskin) oleh kebanyakan masyarakat. Mereka selalu dianggap tidak memiliki kemampuan dan sangat menyusahkan orang lain. Pemikiran seperti inilah yang seharusnya diubah. Orang-orang difabel menjadi tidak mampu karena mereka seringkali tidak diberi kesempatan untuk berjuang secara mandiri. Mereka selalu dianggap kaum yang butuh bantuan terus menerus. Padahal jika diberi kesempatan untuk mandiri, jika tidak dicemooh dan dianggap lemah mereka mampu menjadi hidup bersama dengan orang-orang ‘normal’ tanpa harus dianggap sebelah mata. Contoh yang populer adalah Nick Vujicic, seorang motivator yang terlahir tanpa tangan dan kaki. Baca lebih lanjut

Chocolat

Pada kesempatan kali ini saya akan kembali mengulas buku setelah sekian lama hiatus dari dunia per-blog-an. Buku yang akan saya bedah kali ini adalah sebuah novel berjudul Chocolat karya Joanne Harris. Ada yang pernah membacanya? Atau mungkin kalau tidak membaca novelnya teman sekalian sudah pernah menonton filmnya? Ya, karena popular novel ini pun sempat di-remake dalam bentuk film pada tahun 2000 dengan judul yang sama dibintangi oleh Juliette Binoche dan Jhonny Deep. Film ini juga mengispirasi hadirnya film Brownies yang disutradarai Hanung Bramantyo pada tahun 2004.

Novel ini menceritakan tentang seorang pembuat cokelat bernama Vianne Rocher. Ia bersama anaknya, Anouk, menjadi pendatang baru di Lansquenet-sous-Tannes. Lansquenet-sous-Tannes digambarkan sebagai kota yang bernuansa muram dengan penduduk yang hampir semuanya berkarakter kaku. Rocher membawa warna baru yang lebih hidup bagi kota ini. Ia mendirikan toko cokelat La Céleste Praline di sebuah rumah hampir rapuh yang disewanya. Pada awalnya penduduk kota dengan dukungan Pastur Francis Reynaud sangat tidak begitu menyukai kehadiran Rocher karena dianggap membawa pengaruh buruk bagi mereka. Namun seiring dengan berjalannya waktu, cinta pun datang sendiri menghampiri Rocher dan toko cokelatnya.

Novel ini luar biasa. Berkisah tentang pergolakan-pergolakan yang sering terjadi dalam hati manusia. Juga tentang harapan dan cita-cita. Jika diharuskan memberi penilaian, saya akan memberi 4 dari 5 bintang. So, sudah mulai tertarik dengan novel ini? Saya sarankan untuk membacanya. Bahasa dalam novel terjemahannya bagus (apalagi bahasa dalam novel aslinya).

Si Ayam dan Saya

suatu malam di saat saya sedang mengalami sakit kepala sebelah. dengan selimut menutupi permukaan tubuh, saya menahan rasa nyeri yang membuat saya terbangun terus menerus. dan ketika hampir tengah malam atau sekitar pukul 23 lewat, lamat-lamat saya seperti melihat ibu saya menghampiri saya sambil membawa paket yang terbungkus rapi. pelan-pelan beliau menempatkan paket tsb disamping kepala saya. masih dalam keadaan setengah sadar, saya mencoba membuka paket coklat itu. karena saya ingat ada seorang teman yang kabarnya akan mengirim paket minggu-minggu ini. apakah isinya sama dengan yang teman saya maksud? dan ternyata benar. isinya buku CHICKENstrip: Why Did the Chicken Browse the Social Media? karya Diki Andeas. hehe, thx mas Agyl.

kata yang ngasih, akan ada surprise-nya. jadi saya penasaran begitu dapat paketnya. hmm, dapet paket ini aja udah kejutan buat saya, karena saya dapet buku lagi setelah diberi buku beberapa hari lalu oleh teman saya. dibawah ini saya tampilkan cover buku CHICKENstrip-nya :mrgreen: Baca lebih lanjut