DJ, Supir Taxi Wanita Pertama Blue Bird

 

DJ, Supir wanita pertama Blue Bird

Ketika itu hari Jumat sore di Bandara Soekarno – Hatta. Saya yang baru tiba dari Gorontalo berusaha mencari taxi kosong untuk ditumpangi hingga ke rumah. Setelah 10 menit melongok kesana kemari akhirnya saya pun mendapat sebuah Blue Bird kosong. Disambut dengan gegap gempita sang supir yang cekatan mengangkati barang-barang saya masuk bagasi. Awalnya saya tidak mengira sang supir adalah perempuan, tapi untung saja suaranya masih feminin sehingga saya mengenalinya sebagai cirikhas jenis perempuan. Ketakjuban saya tidak berhenti sampai disana, ketika saya dipersilahkan masuk, saya menemui banyak hal yang tak biasa saya temui di taxi Blue Bird manapun. Suara house music, pernak-pernik mobil, tempat sampah yang fancy, dua kaleng permen, dan hal-hal lain yang belum pernah saya temui.

Djumawati T (DJ) adalah nama yang tertera pada kartu tanda pengenal supir untuk ibu supir yang funky itu. Sebagai supir ia cukup banyak omong dan sangat solutif dengan artian memiliki banyak solusi dalam perjalanan. Macet dan jauh tak jadi soal baginya. Bayangkan, jarak jauh ditambah kondisi macet bisa ditempuh hanya dalam waktu lebih singkat, tentu saja ini dengan persetujuan sang penumpang terlebih dahulu. Kepada saya, ia memaparkan kondisi jalanan saat itu sebelum berangkat. Untuk lebih meyakinkan ia menghubungi salah satu operator lalu lintas dan memperdengarkannya kepada saya. Ibu supir ini meski funky, agak selengean, suka ngebut, dll, tapi merupakan tipe driver yang cerdas membaca situasi. Dia juga tipe perempuan yang hangat dan bertanggung jawab.

“Mereka (penumpang) beli waktu dengan aku. aku ga mau ambil resiko hanya untuk uang lebih buat taxi aku. Yang aku mau adalah kepercayaan dari tamu (penumpang -red).” Kata Bu DJ.

Supir taxi dengan NIP 64779 ini adalah supir wanita pertama untuk perusahaan Blue Bird. Menakjubkan dan menyenangkan bertemu orang sejenis ini. It experienced me a lot. Semoga kalian, hey bloggers, bisa naik taxinya kapan2. :mrgreen:

Nurdin Halid Bertahan: Yes for GENTA, NO for Rakyat Indonesia!

Spanduk GENTA untuk Nurdin Halid Bertahan
Spanduk GENTA untuk Nurdin Halid Bertahan

Selamat pagi bloggers! Cuaca Rabu (5/1) pagi di Jakarta ini cukup dingin ya, karena memang hujan telah menyambangi JADEBOTABEK sejak pagi-pagi sekali. Makanya ngga heran tadi banyak warga Jakarta yang berseliweran mengenakan jaket dan switter sebagai pakaian tambahan sebagai penghangat tubuh. Tapi ketika hati terasa panas dingin ketika saya tiba di Shelter Busway Patra Kuningan. Badan yang sudah saya balut dengan jaket semakin terasa dingin. Bagaimana tidak dingin, begitu turun saya tak sengaja melihat sebuah spanduk merah terpampang yang mengatasnamakan GENTA (Gerakan Pendukung Timnas Indonesia). Spanduk tersebut berisi dukungan agar Nurdin Halid terus maju memimpin PSSI demi supremasi sepak bola Indonesia di mata bangsa lain.

Wow, apa-apaan ini? Batin saya terus teriak begitu. Baru pagi tadi saya menonton acara dialog di Metro TV soal pelarangan PSSI terhadap adanya Liga Primer Indonesia (LPI) yang kabarnya sampai diadukan ke pihak yang berwajib. Dan disana terdapat banyak penelpon yang masuk ke Metro TV untuk meminta Nurdin mundur karena kerja dia yang tidak becus. Ya jelas tidak becus. Bagaimana bisa kebijakan-kebijakan yang dia buat menjadikan kualitas PSSI semakin bobrok. Dan ternyata protesnya rakyat membuat dia berusaha bertahan dengan tameng-tamengnya. Salah satu contoh yang dijadikan tamengnya adalah spanduk tadi. Bisa dilihat gambarnya dengan jelas dibawah ini:

 

Nurdin Maju dari GENTA.
Spanduk dari dekat
Spanduk dari arah kiri
Spanduk dari arah kiri
Spanduk dari kiri bawah jembatan

Spanduk diatas yang mengatasnamakan GENTA sangat tidak mewakili suara dan hati rakyat Indonesia. Jelas-jelas rakyat semakin cerdas mengamati perkembangan kondisi sosial politik negaranya. Mungkin pejabat lupa bahwa rakyat sudah tak bisa lagi dibohongi. Rakyat Indonesia, dalam khususnya untuk bidang Sepak Bola semakin rindu manajemen liga yang fair dan tanpa tipu daya. Itulah salah satu alasan kenapa Liga Primer Indonesia didirikan. Anjas Asmara, mantan pemain Timnas, berkata dalam Dialog Metro TV yang tadi pagi saya tonton: “Saya mantan tapi saya sudah muak dengan ini semua.”

Jadi makin yakin dengan dukungan yang akan Nurdin peroleh dari rakyat Indonesia? Jawabannya: TIDAK MUNGKIN 3x (supporter Indonesia mode: on). Coba lihat spanduk-spanduk di bawah ini:

Ganyang Nurdin. Sumber: fajarhartono.co.cc
Ganyang Nurdin. Sumber: fajarhartono.co.cc
Thanks to Alfred But Not to Nurdin Halid (Sumber; fajarhartono.co.cc)

Thanks to Alfred But Not to Nurdin Halid (Sumber; fajarhartono.co.cc)

Tabloid untuk Tabok Nurdin Halid (Sumber: forum.detik.com)
Tabloid untuk Tabok Nurdin Halid (Sumber: forum.detik.com)
Ganyang Nurdin (Sumber: forum.detik.com)
Ganyang Nurdin (Sumber: forum.detik.com)

Ya, begitulah ceritanya. Rakyat Indonesia semakin cerdas dan tahu kemana mereka akan memberikan dukungan. Namun, tentu bukan tidak mungkin pintu perbaikan tertutup. Intinya, jika Nurdin Halid mencoba menjadi lebih baik, barangkali rakyat Indonesia akan dengan senang hati PSSI-nya dipimpin oleh dia. Itu jika dia tidak lagi bobrok lho ya.. Ingat Nurdin, PSSI milik Rakyat Indonesia. Timnas Indonesia pun milik rakyat Indonesia, bukan milik PSSI atau politisi atau mungkin perorangan apalagi yang namanya Bakrie itu. Blah. Uupss, sopan dong dila. :mrgreen:

Rujak Halte UIN Lebih Enak Daripada Rujak Pantai Natsepa

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Buat bloggers yang sudah pernah ke Ambon saya punya satu pertanyaan, pernahkah teman-teman mengunjungi Pantai Natsepa? Kalau sudah pernah, berarti teman-teman pun sudah menyipi rujak Natsepa, ya kan? Kata salah satu teman yang tinggal di Ambon, kalau belum pernah nyobain rujak Natsepa belum afdhol rasanya. Hmm.. ketika itu saya menjadi penasaran bagaimana rasanya. Tetapi ketika sampai sana dan mencoba mencicipi rujak buatan salah satu pedagang rujak disana, rasanya biasa saja buat saya. :mrgreen: Emm, enak sih, tetapi tidak se-enak yang saya harapkan. Sebab lidah saya sudah merasakan rujak yang lebih enak sebelumnya.

Baca lebih lanjut

My First Trip With KRL

Suatu hari di hari Jumat. Saya takjub dengan pemandangan yang ada di Stasiun Bekasi. FYI, ketika itu pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Stasiun Bekasi untuk menumpang KRL Jabotabek menuju kantor. Wah, heran kan saya yang notabene warga Bekasi hampir tidak tahu bagaimana cara dan rute jalan menuju stasiun Sudirman. :mrgreen: Ya sebenarnya wajar juga karena memang saya tidak membiasakan diri bergelut dengan kereta. Maka tak heran jika pada perjalanan saya pertama kali dengan kereta itu, takjub dan takut yang saya rasakan. Untung saja saya ditemani adik dalam pengalaman pertama ini. Dia yang menemani saya sejak membeli tiket, melihat-lihat jadwal, hingga naik kereta.

Tiket yang saya beli ketika itu adalah tiket untuk KRL jenis Ekspres jurusan Bekasi – Tanah Abang. FYI, untuk jurusan Bekasi – Tanah Abang yang nantinya akan transit di stasiun Manggarai dan stasiun Sudirman hanya ada kereta jenis Express dan Ekonomi. Sementara untuk jenis kereta Ekonomi AC tidak ada untuk jurusan yang saya sebut diatas. Jadi buat para komuter yang berkantor di daerah Sudirman, Kuningan dan sekitarnya, kalau mau naik KRL ya tidak ada pilihan lain kecuali Ekspres dan Ekonomi.

Suasana dalam kereta cukup nyaman dengan kursi empuk dan pendingin udara yang dapat membuat tubuh agak menggigil (norak mode). Di dalam kereta pun saya tidak harus berdesak-desakan karena kursi penumpang masih banyak yang kosong. Ditambah lagi saya berada dalam gerbong khusus wanita yang hampir minus laki-laki. Rasanya dunia sungguh melegakan ketika itu, tanpa stress karena harus melihat jalanan yang selalu penuh.

Akhirnya tanpa terasa tibalah KRL di stasiun Sudirman. Ini saatnya saya harus turun dan melanjutkan perjalanan dengan Trans Jakarta. FYI, halte Bus Way Dukuh Atas ternyata cukup dekat dengan stasiun Sudirman, jadi cukup memudahkan. :mrgreen:

Laki-Laki Silahkan Duduk, Perempuan Silahkan Berdiri

Transportasi merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi masyarakat khususnya warga Jakarta. Meskipun bus atau angkutan umum yang dioperasikan sudah tua, usang, tak layak, namun warga tetap bergantung pada keberadaan transportasi. Ditambah lagi situasi bus yang selalu penuh dan jalanan yang macet sehingga membuat suasana semakin tak nyaman. Dan lagi-lagi warga tak punya banyak pilihan.

Seperti yang saya ungkapkan diatas, suasana dalam angkutan umum selalu tidak nyaman, apalagi jika kondisinya sedang dalam keadaan penuh dan berdesak-desakkan. Jika hal ini sudah terjadi maka para penumpang hanya bisa pasrah menunggu hingga sampai ke tempat tujuan. Tetapi biasanya, kalau sudah begini ada beberapa tipe penumpang yang dirugikan; perempuan, lansia, ibu hamil, anak-anak. Biasanya, para penumpang menjadi lebih egois untuk urusan angkutan umum. Kebanyakan mereka memikirkan dirinya sendiri, apakah saya dapat tempat duduk, nyamankan kursinya untuk saya, dsb. Mereka jarang berpikir untuk menyerahkan tempat duduknya jika datang penumpang yang termasuk dalam daftar dipersilahkan duduk. Dan ternyata kebanyakan yang egois ini adalah laki-laki. No offense ya, alias bukan maksud menyalahkan atau menuduh atau menyudutkan, namun fakta yang sering saya lihat seperti itu. Bisa lihat foto yang saya ambil di transjakarta tadi sore (23/6) dibawah ini:

P23-06-10_17-11 Baca lebih lanjut