Menjaga Hutan Latoma, Menjaga Sungai Konawe-Eha

Ini adalah postingan terakhir saya dengan kategori Oleh-Oleh dari Latoma.  Coba bloggers amati gambar diatas. Gambar tersebut adalah secuil kawasan hutan yang mulai gundul dan mengering di kawasan Latoma, Sulawesi Tenggara. Gambar tersebut saya ambil dari dalam mobil ketika kami sedang melakukan perjalanan menuju Desa Nesowi, pedesaan paling ujung di Kecamatan Latoma. Baca lebih lanjut

Buang HPmu dan Kembali ke Dunia Nyata!

Kali ini saya akan berbagi tentang ketidakpedulian saya dan saya harap ini dapat menjadi pelajaran bagi teman-teman blogger. Suatu ketika saya mengunjungi salah satu teman kantor yang sedang berduka karena ibu mertuanya meninggal. Saya tidak sendiri namun bersama-sama dengan pegawai kantor lainnya dan juga beserta pak bos yang berkewarganegaraan asing.

Setelah melihat mayit yang meninggal dan mengucapkan belasungkawa pada ahli waris yang tengah berduka, kami pun duduk di kursi-kursi tamu yang terletak di teras rumah. Saat itu upacara pemberangkatan mayit ke tempat peristirahatan terakhir pun dimulai. Salah seorang perwakilan keluarga pun mulai berpidato. Sementara saya mendengarkan sambil melihat hp dan membalas sms-sms yang belum sempat saya balas. Tiba-tiba pak bos yang duduk disamping saya mengamati saya yang tengah sibuk dengan hp tanpa berkedip. Saya menoleh ke pak bos dan mendapatinya tersenyum. Seperti anak kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan, saya membalasnya dengan cengiran dan berkata, “I am replying text from my friend. (saya lagi balas sms dari teman).”

Pak bos masih tersenyum sambil berkata. “I didn’t ask you. I just want to you pay attention to this ceremony. Look, I put my hand in my pocket and switch off my mobile. (Saya ga tanya kamu ngapain. Saya cuma ingin kamu perhatiin apa yang sedang terjadi disini. Lihat, saya masukin tangan saya ke kantong celana dan langsung matiin hp).” Saya terdiam dan merasa tertohok. He kills me, guys! He kills me with his advice. Saya merenung karena semua yang dikatakan dan dicontohkan bos saya adalah benar adanya.

Ya begitulah teman, saat ini seringkali kita mengabaikan apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Kita terlalu sibuk apa yang terjadi dengan gadget kita. Padahal apa yang ada disana seringkali hanya merupakan sampah yang membuat kita terdampar di tempat yang tidak menyenangkan. Coba lihat pak bos yang non muslim dan berkebangsaan lain bisa dengan penuh perhatian menghargai situasi duka yang ada di hadapannya. Sementara saya yang jelas-jelas satu kalangan, tampak tidak peduli dan mengacuhkan.

Di Indonesia peristiwa dan perasaan tidak adanya kepedulian dan penghargaan ini tampaknya sudah meyebar luas. Banyak orang menjadi egois dan lebih peduli dengan popularitasnya, khususnya dengan aktivitas mereka di dunia maya. Sementara di dunia nyata mereka menjadi orang yang anti-sosial. Mereka hidup di dunia yang berbeda dan menganggap tiada apa-apa yang nyata. sungguh menyedihkan. Well bloggers, untuk saya dan yang merasa seperti saya yang apatis ini, marilah perhatikan apa yang ada di sekitar. Minimalisir aktivitas yang menjadikan kalian apatis dan egois. Dunia nyata adalah dunia yang lebih indah tiada dua daripada dunia maya yang tak teraba. Dunia maya hanyalah wadah sharing dan tak perlu dijadikan dunia utama.

Berikut ada video yang merepresentasikan apa yang artikel ini bicarakan:

Muter-Muter Commuter Line

Tiket transisi Commuter Line Sudirman - Bekasi. Ter-Cap Rp. 6,500.

Siapa disini blogger yang juga ROKER (Rombongan Kereta)? Jika ada pastinya bisa secara langsung merasakan apa yang saya tulis disini. Well, akhirnya awal Juli 2011 ini adalah awal baru bagi kami para Roker Jabodetabek untuk merasakan barunya sistem perkereta-apian di Indonesia, khususnya untuk kawasan Jabodetabek. Setelah ditunda selama 3 bulan (baca postingan saya yang ini: KRL Commuter Line Ditunda Hingga 3 Bulan), PT KAI pun menepati ucapannya untuk memberlakukan Single Operation Commuter Line (Operasi Tunggal Garis Komuter). Baca lebih lanjut

Kenapa Susah Tertib?

tulisan semi-curhat ini saya dedikasikan untuk temaP3190025n-teman FM (bukan Fadhilatul Muharram :mrgreen:) yakni kependekan dari FOCUS MANAGEMENT, calon perusahaan besar dari angkatan 2004 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (aamin). disamping ini saya pampang gambar mereka ah, lumayan, biar kerennya kelihatan (yang gambarnya gak ikut dipampang, jangan marah ya 😉 ) Baca lebih lanjut

Sundal Peradaban

Sebelumnya mohon maaf jika tulisan ini sangat tidak berkenan. Apalagi jika nantinya akan terbaca kata-kata yang kurang sopan. Sebab ini adalah salah satu bentuk kemarahan yang tak terlontar luas. Kemarahan yang terpendam hingga tak lagi saya rasakan kecuali rasa perih dalam hati yang berkepanjangan. Dan satu lagi untuk sebelumnya, semua yg saya tulis saat ini ialah nyata dan apa adanya dan inilah yang benar-benar terjadi pada saya.

***

Senja di daerah Kuningan, Jakarta ketika itu (1/12) memang padat seperti biasa. Saya duduk di salah satu tempat duduk lusuh di dalam Kopaja jurusan Senen – Lebak Bulus sambil mengamati sekitar. Hingga tiba-tiba masuklah tiga orang ABG ke dalam Kopaja dengan penampilan hitam-hitam (kaus dan celana hitam), lusuh dan kotor tak karuan. Seketika itu pula saya tahu jika mereka ingin mengamen dalam bus mini tsb. Namun perasaan saya sudah tak enak, sebab mereka mengawali dengan kata – kata paksaan dan kurang sopan dalam ngamen-nya. Salah satu mereka, berambut panjang dengan mata nyalang, tampak seperti habis minum sesuatu yang keras dan membuat hilang akal. Ia berjalan sempoyongan sambil bernyanyi soal korupsi dan kemiskinan. Mereka berteriak-teriak tentang ketidakadilan hidup yang mereka alami sebelum kemudian menodongkan tangan dengan paksa ke arah penumpang, dimana saya salah satunya. Tetapi apa yang saya alami ternyata melebihi apa yang penumpang lain alami. Anak gondrong yang sedang hilang akalnya itu mendorongkan tangannya ke tubuh saya yang kurus kerontang untuk meminta uang. Dan saya memberi tanda TIDAK untuknya. Jelas saya tidak sudi memberi uang pada generasi yang akan membeli obat atau barang haram lainnya. Mungkin saya berprasangka buruk, tetapi sika mereka yang membuat saya begini. Lalu apa yang terjadi setelah saya bilang tidak? Ia dengan sengaja menggunakan sikutnya dengan keras untuk menyentuh dahi saya dan menggeser jilbab saya agar terlepas!! Beruntung saya menahan dan jilbab saya cukup kuat terkunci sehingga tidak ada rambut yang terlihat orang lain. Namun perbuatan itu membuat saya sakit hati bertubi-tubi. Tidak ada lelaki yang pernah saya izinkan menyentuh saya, siapapun termasuk sepupu. Tetapi ia berlaku bejat seperti itu! Langsung saja saya mengumpat **J***!

Hati saya bergemuruh luar biasa akibat kemarahan. Jika ketika itu saya tidak ingat dengan keselamatan nyawa, mungkin akan saya ajak bergulat meski saya pribadi tidak punya keahlian khusus bela diri. Jika ketika itu saya tidak ingat hukum qishos dan penjara, mungkin akan saya tarik pemuda hilang akal itu dan saya lemparkan keluar Kopaja. Biar terjatuh dan mati saja sekalian karena gegar otak dan tertabrak juga terlindas kendaraan. Namun saya tidak ingin masalah berkelanjutan apalagi sampai ke pengadilan. Karena jika begitu, bisa terhambat masa depan saya hanya karena anak-anak aneh itu.

Hati saya juga bergemuruh akibat kesedihan. Mereka mengamen dengan syair-syair indah. Tentang bangsa dan keadaannya. Namun apa yang terjadi?? Mereka sendiri tidak pernah membuktikan hal yang dinyanyikan itu dengan tingkah laku nyata. Yang ada hanyalah memaksa, menodong dan hilang akal. Hey, kami tidak butuh generasi sundal seperti kalian! Tahu apa kalian soal bangsa? Apakah pemerasan dan NARKOBA jalan keluar? Itukah yang dibutuhkan bangsa, hah?? Tahu apa kalian soal penyamarataan pendidikan jika kalian saja tidak mau berusaha untuk sekolah. Tahu apa kalian soal kemajuan bangsa jika kalian malas dan tidak mau berusaha. BULLSHIT jika kalian bilang kalian memikirkan bangsa. ESAD! Kalian Cuma sebagian kecil sundal yang beredar di peradaban ini. Kalian tahu, ucapan kalian itu menyakitkan bagi orang yang benar-benar berjuang untuk bangsa ini. Dan apakah kalian tidak tahu bagaimana perasaan sakit itu? Ah, kalian hanya sundal yang jadi korban. Lalu salah siapa semua ini?? Salah gue, salah teman-teman gue?? Dasar SAKIT JIWA!

** puas sudah setelah mengeluarkan uneg-uneg. Sekali lagi mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan untuk dibaca. Ini hanyalah sekedar ungkapan terpendam seorang sundal yang bingung harus berbuat apa untuk memulihkan kebobrokan bangsanya.