Guru dan Blog

sekarang saya ingin membahas mengenai guru (lagi). kali ini tentang Guru dan Blog. sebenarnya saya mau nulis ini gara-gara komentar Guskar di salah satu artikel saya The Class: Dokumenter Seorang Guru. begini komentarnya:

guskar Says:
05/12/2009 at 9:26 pm | Reply

klo gurunya punya blog dijamin di depan kelas ia akan disenangi para muridnya.. :P

soal Guru punya blog akan disenangi oleh murid di depan kelas seperti kata Guskar diatas, hmm bisa jadi betul adanya. apalagi jikalau muridnya blogger semua :mrgreen:. tapi kalau guru punya blog, bisa jadi kelebihan tersendiri lho. apa aja kelebihannya?

pertama, guru bisa ngenalin soal blog. apa fungsinya, gimana penggunaanya. dan apa manfaatnya.

kedua, guru bisa menggunakan blog sebagai sarana informasi pelajaran. misal, kalo guru sedang di-cecar banyak pertanyaan yang terkadang dijawab dengan kurang jelas dan memuaskan siswa, sang guru bisa mencari informasi yang kurang lengkap dan menuliskannya di blog. setelah itu, tanpa perlu repot-repot lagi mencari di search engine, siswa tinggal diminta membuka blog gurunya itu.

ketiga, guru bisa menjadikan blog sebagai sarana KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di luar jam sekolah. hal yang ini bisa mengambil dari waktu luang para siswa. tapi harus ada beberapa syarat yang dipenuhi agar blog bisa menjadi sarana efektif untuk KBM (menurut saya lhoo). syarat yang paling utama ialah, para siswa harus sudah mengenal blog, setidaknya sebatas pengetahuan dasar pun cukup. kemudian guru langsung berinisiatif dengan membangun proyek KBM non formal ini bersama dengan siswa. misal, sang guru memberi tugas agar para siswa membuat sebuah tulisan dengan tema tertentu dan mempublikasikannya di blog masing2. untuk hal ini harus ditetapkan deadline yaa, biar mantap KBM-nya. lalu wajibkan blogwalking bagi para siswa (guru juga ikutan) agar mereka bisa mengunjungi blog teman-teman mereka dan ikut berkomentar atau mengkritisi karya tulisnya.

nah, manfaat dari kelebihan blog yang terakhir ini (point ketiga), para siswa akan mendapatkan banyak manfaat. tidak hanya ilmu dari pelajaran yang bersangkutan, namun juga ilmu nge-blog (baca: menulis). para siswa pun akan berulang kali mendapat wawasan dengan tema tertentu (akibat dari blogwalking) dan hal ini dapat melekat pada benak siswa.

so, gimana para guru? yang belum punya blog, ayo donk bikin blog, kayak beberapa guru kita nih: kang dede, kang irfan, om sunarno, dan sapa lagi yah. terus buat guru yang udah punya blog, seperti orang-orang yang saya sebutkan tadi, yuk coba buat inisiatif dengan supaya para siswa semakin semangat belajar. barangkali tips saya ini laku untuk dicoba. :mrgreen:

Orang Tua = Murobbi Bagi Anak

Sungguh suatu kebahagiaan bagi orang tua jika mendapati anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Namun, untuk mendapatkan anak yang sperti itu tidak bisa diperoleh dengan instant saja dan berharap pada keajaiban yang tumbuh dengan sendirinya pada diri sang anak. Dibutuhkan kerja keras dan usaha lebih dari orang tua untuk mendidik anaknya agar bisa menjadi seperti yang diimpikan.

Kenapa butuh pendidikan yang secara langsung ditangani oleh orang tua? Karena memang orang tualah yang menjadi contoh pertama dalam kehidupan anak semasa kecilnya. Mari coba kita tela’ah dulu pengertian pendidikan.

Dari segi bahasa, kata tarbiyah (pendidikan) bisa dikembalikan pada 3 unsur bahasa, yaitu:
Rabaa-yarubuu, yang berarti: bertambah dan berkembang.
Allah berfirman: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah (QS 2:276). Dikatakan: Rabbaituhu fatarabbaa (aku mengembangkannya; maka berkembanglah ia), dan ar-rabwah adalah tempat yang tinggi.

Rabiya-yarbaa: menurut wajan khafiya-yakhfaa, yang berarti: tumbuh (nasya’a) dan berkembang (tara’ra’a). dalam syairnya, Ibn ‘Arabii berkata:
“Barang siapa bertanya di mana aku,
Sungguh, aku ada di Makkah, rumahku.
Di sana aku tumbuh dan berkembang.”
Maka, patut dikatakan jika Islam ialah agama yang sangat concern dengan pendidikan, bahkan sejak anak itu berada di dalam kandungan dan ketika ia lahir ke dunia. Di dalam kandungan, ayah atau ibu tidak hanya melakukan ritual yang memperhatikan kesehatan tubuh sang ibu dan jabang bayi, namun juga rohani. Seperti misalnya, jika waktu senggang, ayah dan ibu berusaha memperkenalkan sang anak yang masih di dalam perut kepada agamanya dengan bertilawah dan membaca buku yang menambah wawasan ke-Islaman dan pengingat kepada Allah.

Rabba-yarubbu: menurut madda-yamuddu, yang bermakna: perbaikan, siasat, dan penjagaan. Dalam syairnya, Hasan bin Tsabit berkata:
“Engkau benar-benar lebih baik ketika muncul di depan kami sewaktu keluar di halaman istana
Daripada mutiara putih murni yang diperbaiki dari kerang di bawah laut.”

Ar-Raaghib al-Ishfahaanii mengatakan, “Pendidikan (tarbiyyah) adalah mengembangkan sesuatu setahap demi setahap menuju kesempurnaan.” (Ash-Shawwaf,2003:47-48)

Maka, sudah cukup jelas jika orang tua ialah merupakan Murobbi (pendidik) sekaligus Qudwah (teladan) bagi anak-anaknya. Orang tualah yang mengamati perkembangan anak-anaknya. Pendidikan yang diberikan bagi orang tua tidak hanya soal pengetahuan umum, namun juga soal moral dan agama.

 

Lalu ketika lahir, sang ayah dengan sigap dan segera mengumandangkan adzan dan iqomah ke telinga putra/putrinya. Sehingga adzan-lah sebagai materi awal bagi pendidikan pertama mereka. Telinga generasi cilik tsb bergerak-gerak seolah memahami akan apa yang dibisikkan dalam telinganya.

Seperti apa yang Allah firmankan dalam QS 51:56 bahwa: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.”
Para mufasir menyebutkan makna al-‘ibadah dalam ayat ini dalam beberapa pendapat; pertama, tauhid; kedua, melaksanakan ibadah dan menjaga ketaatan; ketiga, mengenal Allah (ma’rifatullah). (Tafsir al-Qurtuubi, Juz. 17/55)

Sebagaimana tujuan utama pernikahan dalam Islam adalah membina generasi imani yang mempunyai keimanan kuat dalam hatinya dan terlihat pengaruhnya pada akhlak dan perbuatannya. (Ash-Showwaf,2003:59)

Dalam sabdanya Rasulullah pun bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Maka, semakin jelas pemikiran kita bahwa orang tua merupakan guru pertama bagi anaknya. Dan dasar-dasar akidah yang paling penting yang wajib diajarkan kepada anak-anak adalah: a) mengesakan Allah (tauhidullah), b) Allah menaklukkan semua makhluk untuk berkhidmat kepada manusia, c) beriman kepada qadha’ dan qadar serta bertawakal kepada Allah, d) menanamkan kecintaan kepada Nabi saw. (Ash-Showwaf,2003:60)

Semoga kita menjadi orang tua yang budiman lagi berbudi luhur dan menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita nantinya. Amin!!
Wallahu a’lam bish showab

Sumber:
Al-Qur’an Al-Kariim
As-Sunnah

Ash-Showwaf, Muhammad Syarif. ABG Islami (Tarbiyyah al-abnaa wa al-muraahiqiin min manzhar asy-syari’ah al-islamiyyah). Terjemahan. Bandung: Pustaka Hidayah, 2003.