Tentang TimNas Indonesia dan Cinta Saya Kepadanya :)

Indonesia
syal Indonesia yang bertengger di dual screen saya di desk di kantor.

 

Tulisan ini saya tulis berdasarkan momen AFF yang luar biasa dan tentang luar biasanya TimNas Indonesia dan seluruh rakyat Indonesia yang luar biasa cinta kepadanya. Jangan bete ya, karena saya akan menyisipkan sedikit kisah saya tentang bagaimana saya jatuh cinta kepada bola dan TimNas Indonesia.

Sebelum 1998:

Tiap sore saya selalu gabung nonton Liga Indonesia bersama kakek. Ketika itu saya belum suka dan tidak mengerti bola sama sekali, tetapi lucunya selalu sok ngerti dan sok tahu.

1998:

Euforia World Cup menggema di hati setiap orang, termasuk saya yang masih kelas 6 SD. Ketika itu saya yang masih berlangganan majalah BOBO, menemukan sebuah cerpen yang sangat bagus dan sangat motivatif  di salah satu edisinya. Isi cerpennya menceritakan tentang kemenangan TimNas Indonesia melawan Italia di Final Piala Dunia dengan skor 5-0!!! Saya tahu itu hal yang kurang bisa dicerna secara logika mengingat TimNas Indonesia masih terus merangkak maju dan masih kalah secara kualitas dengan tim-tim Eropa. Namun tetap saja, saya merasakan haru dan bangga meski itu hanyalah khayalan. Ah tapi tidak, tidak akan menjadi khayalan terus menerus. Saya yakin Indonesia akan sejajar kualitasnya dengan mereka yang di Eropa. Semangat!! *Sayangnya majalah BOBO yang berisi cerpen itu sudah entah kemana sekarang. sampai sekarang saya masih suka dan teringat dengan euforia Indonesia dalam cerpen itu lho! 😉

Pasca 1998:

Kecintaan saya terhadap bola turun naik. Saya sempat mengikuti Lega Calcio selama beberapa musim, namun kini terhenti dan hanya mengikuti perkembangan pertandingan dalam kejuaraan-kejuaraan internasional saja. Saya juga sempat memiliki pemain favorit seperti Alessandro Nesta (Mantan Bek TimNas Italia), Oliver Khan (Mantan Kiper Jerman) dan Zinedine Zidane (Mantan Penyerang Perancis). Pada masa itu saya pesimis dengan Liga Indonesia. Saya mencelanya habis-habisan. Saya menghina manajemennya dan negara ini yang kurang perhatian terhadap nasib Sepak Bola di Indonesia. Intinya saya bukanlah supporter Indonesia yang baik ketika itu.

2010:

Tiba-tiba optimisme terhadap Indonesia pun membumbung tinggi seiring kemajuan permainan TimNas kita di Kejuaraan Piala AFF. Rasa nasionalisme dan persaudaraan begitu kuat saya rasakan. Saya bagai orang yang tengah jatuh cinta saja jika membicarakan TimNas dan sepak terjangnya. Sungguh indah rasanya. Namun tiba-tiba optimisme atas kemenangan Indonesia untuk menjadi juara di AFF buyar sudah mengingat fakta TimNas kita yang hanya mengumpulkan agregat 2-4 atas Malaysia. Tapi tidak, itu bukan berarti kehancuran kita kawan-kawan! Bukan! Justru itu adalah lecutan-lecutan untuk kita agar semakin maju dan semakin kuat. Dan atas dasar ini kesetiakawanan dan dukungan dari Rakyat Indonesia dari Merauke hingga Sabang pun terasa indah dan erat. Itulah kemenangan kita sebenarnya. Bukan soal angka, bukan pula soal uang dan juara apalagi prestise. Tetapi ini soal kemenangan atas hati rakyat Indonesia dan dunia yang mengakui ketangguhan TimNas Sepak Bola Indonesia! : )

Setiap kejadian entah menang atau kalah pasti memiliki hikmah. Dan saya mencoba menyimpulkan hikmah dari apa-apa yang saya pikirkan diatas tadi:

  1. Dengan adanya ini, semua orang termasuk yang tidak suka bola, yang sering menghina dina kualitas persepakbolaan Indonesia (termasuk saya), semua orang yang menjadi politikus dan pejabat negara bahkan koruptor, menjadi aware atas tangguhnya TimNas Indonesia. Persepakbolaan Indonesia harusnya didukung, bukan dicaci terus-terusan.
  2. Dengan belum diberi kesempatannya Indonesia menjadi juara di AFF, berarti menutup kesempatan para politikus yang ingin mencari untung dari menangnya TimNas Indonesia. Sebelumnya pada saat semifinal kita pun tahu ada salah seorang politikus, pengusaha dan pejabat negara yang mengundang TimNas untuk makan bersama di rumahnya dan memberikan berhektar-hektar tanah sebagai base-camp baru. Bukankah itu salah satu strategi cari muka namanya?
  3. Dengan belum diberi kesempatannya Indonesia menjadi juara kembali di AFF, berarti terbukanya kesempatan dari Allah untuk kita semua agar selalu merenung dan intropeksi. Jangan sampai lagi kita ‘ujub atau berbangga diri berlebih-lebihan. Sepertinya ada beberapa dari kita yang mengganggap enteng Malaysia. Padahal bola itu bundar seperti nasib yang berputar. Dan seperti itu pula masa depan yang belum kita bisa prediksi. Akhirnya Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan memberikan kemenangan pada Malaysia dan membuat Indonesia bersabar untuk berlatih berbesar hati.

After all, teman-teman, bloggers, untuk menjadi pemenang sejati, kita tidak butuh angka dan piala apalagi uang, namun kita butuh kebesaran hati untuk aktualisasi dan orang-orang yang selalu memberi dukungan terhadap kita. Tetap semangat Indonesia. Tetap menjadi bangsa yang besar dan wibawa! Love Indonesia!

Malang Bag. 5: Sarang Aktivis

postingan terkait sebelumnya: Malang Bag.1: Keberangkatan, Malang Bag. 2: Tur Kampus, Malang Bag. 3: Workshop, Malang Bag. 4: Wisata.

***

tinggal seminggu di Malang membuat saya berpikir untuk mengunjungi salah satu organisasi mahasiswa daerah yang ada di Malang. jelas saya tidak akan menyiakan kesempatan yang begitu langka ini. mumpung ada disini, kenapa tidak saya mengontak teman-teman aktivis yang ada di daerah ini. ketika itu hal pertama yang saya lakukan ialah bertanya kepada teman di Ciputat perihal nomor kontak teman-teman aktivis Malang. kemudian saya melanjutkannya dengan menghubungi aktivis-aktivis Malang tsb.

butuh sekitar tiga hari saling kontak sebelum akhirnya saya nekad pergi sendirian ke sekretariat organisasi yang dimaksud di malam hari. organisasi yang saya kunjungi ialah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim (KAMMI) Daerah Malang. pada awalnya saya berjanji untuk mampir ke tempat mereka pada Kamis sore, namun nyatanya workshop berlangsung lebih lama dari yang saya duga. workshop baru selesai ketika adzan maghrib selesai dikumandangkan. lantas saya merasa bersalah sehingga harus cepat-cepat mengunjungi mereka di malam hari, tanpa tahu apa yang saya lakukan itu tidak dibenarkan. ya, ternyata ada sebuah peraturan dimana anggota KAMMI yang berjenis perempuan tidak diperkenankan keluar pada malam hari (batas waktu mereka berada di luar rumah sekitar jam 20.00 dan batas waktu mereka mengunjungi sekretariat hanya sampai jam 18.00).

setelah rusuh-rusuh kontroversi kedatangan saya ke sekretariat di malam hari, akhirnya saya berkunjung kembali pada hari Jumat pagi. kali ini tidak sendirian, namun diantar oleh salah seorang teman yang juga staff Departemen Humas KAMMI Daerah Malang. sesampainya disana saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil gambar.

kammi mlg

ketika saya berkunjung ke sekretariat, KAMMI Daerah Malang baru saja mengadakan aksi sehari sebelumnya. tema aksinya ialah protes aksi dugaan pelemahan  KPK yang dilakukan oleh jaksa dan kepolisian.P1140140 ya, seluruh rakyat Indonesia dari berbagai elemen kini tengah berduka akibat adanya pelemahan dan rekayasa terhadap KPK seperti itu. rakyat berduka akibat merasa dibohongi. sakit hati ini rupanya. namun tuntutan tidak boleh sekedar tuntutan. dan perjuangan-perjuangan P1140133tidak boleh hanya untuk dikenang. namun yang harus dilakukan ialah bagaimana kita melakukan aksi secara nyata dari dalam diri kita. tunjukkan bahwa kita ialah sebenar-benarnya pejuang untuk bangsa. korupsi terjadi karena kejahatan kecil yang kita biasa kita lakukan. bukankah begitu?

kembali ke topik KAMMI Daerah Malang. sedikit banyak saya ingin mengucapkan terima kasih karena telah merepotkan teman-teman sekalian dalam menjamu saya. lain kali main-main ke KAMMI Tangerang Selatan ya. ditunggu sowannya. 😀

Special Thx to:

Andrik Prastiyono (Ketua Departemen HUMAS KAMMI MALANG), Ika Yoan (Staff Departemen HUMAS KAMMI MALANG), dan Novi Fajaryanti (Staff Departemen HUMAS KAMMI MALANG). juga beserta teman-teman KAMMI MALANG yang bersedia menerima saya. 🙂

Be Creative, Be Indonesian!

Tanah airku Indonesia… Negeri elok amat kucinta.

Tanah tumpah darahku yang mulia… Yang kupuja sepanjang masa.

Tanah airku aman dan makmur… Pulau Kelapa nan amat subur.

Pulau Melati pujaan bangsa… Sejak dulu kala. (Rayuan Pulau Kelapa)

indonesiakreatif Lagu Rayuan Pulau Kelapa diatas begitu menggugah. Ah, jadi ingat masa SMP dulu ketika saya menyanyikan lagu ini bersama teman-teman lainnya yang tergabung dalam tim Aubade (tim paduan suara yang khusus menyanyikan lagu-lagu kebangsaan ketika upacara perayaan kemerdekaan di Istana Negara). Wow… dila pernah ikutan paduan suara untuk upacara di istana? Heheh, iya pernah, dulu waktu SMP (sekitar taun 2001, waktu presidennya masih Megawati, waktu itu kelas 3 SMP cawu I). Maklum, beberapa SMP dan SMA Negeri yang cukup ternama di DKI Jakarta (khususnya Jakarta Pusat) pasti diminta mengirimkan kelompok siswa untuk menjadi tim paduan suara pada upacara perayaan kemerdekaan Indonesia (17 Agustus) di istana. Eh, tapi tenang ajah, saya tidak akan bercerita soal bagaimana proses saya masuk seleksi tim paduan suara tsb juga bagaimana latihannya atau gladi resiknya atau juga lamanya kami menunggu dimulainya upacara (upacara mulai jam 9, sementara kita udah nyampe jam 6.30) bersama para satuan ABRI dan polisi. Namun lagi-lagi tulisan kali ini dibuat dalam rangka memenuhi tema yang telah disepakati creative theme day di tiap awal bulannya.

Dan tema awal bulan Agustus ini ialah, 100 % Indonesia Kreatif! Wow, Indonesia Kreatif? Yup, kreatif. Menurut teman-teman bangsa kita ini udah kreatif blum? Kalo menurut saya kita kreatif, meski belum sempurna dalam segala bidang. Mungkin sekarang kita ngomongin prestasi-prestasi kita aja kali ya. Daripada ngomongin kekurangan bangsa kita terus, capek! Hehehh….

Bangsa Indonesia ialah bangsa yang kreatif 100%! Siswa Indonesia selalu mendapat juara dunia untuk olimpiade Sains baik Matematika, Biologi atau Fisika. Olahraga Bulutangkis Indonesia pun sangat diperhitungkan, juga olahraga catur, tinju atau angkat besi. Apalagi untuk urusan internet, dinyatakan Indonesia termasuk dalam 15 besar Negara di dunia untuk pengguna internet paling aktif. Ya, ternyata meskipun termasuk Negara berkembang, untuk urusan internet bangsa kita udah canggih betul. Pengguna facebook atau blog di Indonesia pun bisa jadi merupakan jumlah pengguna terbesar di dunia. Dan percaya gak, bangsa Indonesia lebih melek teknologi informasi daripada bangsa Amerika. Ini fakta kecil-kecilan yang saya temui di lapangan lho. Hehe, padahal Cuma beberapa bule yang saya temui dan ternyata mereka memang tidak cukup kenal dengan TI. Bayangkan saya pernah diminta mengajarkan salah seorang warga USA soal bagaimana membuat slide show power point di laptopnya untuk terus berputar ter-limit waktu. Dan bayangkan juga ketika saya bicara soal facebook dengan teman USA saya dan tampaknya ia tidak begitu mengerti dengan aplikasi facebook yang ‘aneh-aneh’. Atau soal wordpress (fasilitas blog lainnya), teman saya itu pun tidak tahu tentang itu dan malah meminta saya untuk membuatkannya. Enak ajaaaa,,, bikin sendiri ah. Hehe, tentu saya tidak menjawab begitu kepadanya, namun begini: “I know you can do it!” heheh….

Saya pernah juga menonton nuansa berita di salah satu tv swasta tentang bangsa Indonesia yang memanfaatkan ilmunya sebagai IT dan komikus untuk menjual hasil karyanya di USA via internet. Yang pertama, yang saya ketahui, kalo saya tidak lupa ya, ialah mahasiswa USU *Universitas Sumatra Utara* (mungkin sekarang udah lulus kali ya) jurusan Ilmu Komputer yang memang cukup berprestasi. Ia melakukan bisnis design melalui internet dengan perusahaan di USA. Caranya ia mengirimkan karyanya lalu mungkin ada beberapa appointment dan semacamnya dan lalu deal, dan jadilah ilmunya menghasilkan uang yang lumayan. Lalu yang kedua, ialah dua orang komikus yang ternyata menjadi designer dan creator untuk sebuah komik bersambung di USA. Cara dealnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan mahasiswa USU tadi, yakni via internet. Wah, keren kan! Bangsa kita memang kreatif euy, Cuma kadang malesnya gede benerrr!

Seperti kata pak Arif, director PT. Petakumpet inc. yang juga penulis buku ‘JUALAN IDE SEGAR’, “nothing is impossible”. Yup, betul. Kita punya segalanya. Kita punya ide dan kreatifitas. Jadi apa yang harus ditakutkan. Apa yang harus di-rendahkan?? Apa yang harus diminderkan? Jadilah Indonesia yang kreatif 100% bahkan kalo bisa 1,000,000,000 %! Takut gak bisa?? Ah, payah deh. Pasti bisa kokk! Don’t worry… we know that we can make it!

Semangat bangsaku, semangat negeriku!

Lewat Teater, Kami Bicara Soal Indonesia

*saat latihan* adegan pembuka: para warga Desa Miskin tengah beraktivitas. terlihat sang pembawa prolog tengah mengelilingi panggung sambil membaca puisi.

*saat latihan* adegan pembuka: para warga Desa Miskin tengah beraktivitas. terlihat sang pembawa prolog tengah mengelilingi panggung sambil membaca puisi.

Akhirnya, alhamdulillah, saya punya ide baru lagi untuk menulis. Dengan mood yang baik dan inspirasi yang telah menunggu mampir beserta kata-kata yang siap diluncurkan di pikiran brilian ini.

Pemilihan-pemilihan umum-disingkat sebagai PEMILU. Kabarnya pemilu merupakan wujud nyata demokrasi, sehingga banyak yang menyambut baik pemilihan umum model begini yakni yang dengan cara langsung dipilih dari rakyat. Tapi ternyata dengan pemilu pun pemimpin yang lahir tidak bisa menghasilkan apa-apa, malah terkadang rakyat merasa sengsara dengan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan kondisi mereka. Lalu mengapa pemilu harus dipe

*saat latihan* masih dalam adegan aktivitas warga

rtahankan? Hmm….

Soal pemilu yang carut marut ini, kami dari mahasiswa hanya bisa mengkritisi dengan berbagai cara terbaik kami. Entah itu dengan menulis blog seperti yang saya lakukan sekarang ini, atau dengan aksi turun ke jalan, atau dengan aksi teaterikal, dll. Nah, dengan begitu kami berharap suara-suara kritis kami bisa didengar dan dipertimbangkan dan ditindaklanjuti oleh mereka yang merasa berwenang.

100_0087

*saat latihan* adegan debat kandidat

Soal aksi teaterikal, saya pun pernah melakukannya dengan teman-teman sekelas. Meski sebenarnya aksi yang kami lakukan bukan sebenar-benarnya aksi. Melainkan kami tengah melakukan ujian akhir semester (final test) kami untuk mata kuliah DRAMA. Ketika itu kami sekelas diminta untuk melakukan pementasan drama dengan tema bebas dan karya bebas juga. Akhirnya kami mengambil kesempatan ini untuk benar-benar mementaskan naskah drama buatan kami sendiri (buatan sutradara kami, Waode Fadhilah Fitriah). Waode memilih tema yang tidak biasa, yakni soal situasi pemilu di Indonesia yang carut marut. Kebetulan ketika itu sedang ramai-ramainya berbagai pilkada (pemilihan kepala daerah) di berbagai kota dan kabupaten dan provinsi di Indonesia yang ternyata (lucu dan miris) selalu berakhir dengan sedikit (kalo gak mau dibilang banyak) kericuhan. Maka kami bersegera menuangkan konsep itu ke dalam teater yang akan kami pentaskan untuk UAS kelas kami.

Ceritanya berlatar belakang sebuah desa miskin dan kumuh yang sudah sampai saatnya melangsungkan pemilihan kepala desa yang baru. Penduduk di desa miskin itu benar-benar terdiri da

*saat latihan* adegan mengantri nyoblos

*saat latihan* adegan mengantri nyoblos

ri orang miskin yang gajinya dibawah UMR. Sehari-harinya mereka hanya memikirkan bagaimana mereka harus makan dan tidak familiar sama sekali dengan pilkada yang akan berlangsung di desa mereka. Hingga suatu saat panitia pilkada datang berkunjung untuk memberitahu soal pilkada secara umum berikut calon-calonnya. Para penduduk cukup antusias mendengarnya dan berharap mereka bisa mendapatkan pemimpin baru yang adil dan sejahtera.

Kemudian saat kampanye tiba. Kebetulan untuk pilkada di desa kumuh ini hanya ada dua calon, yang pertama calon perempuan (Mrs. Ratu stared by Nurhayati) dan yang kedua calon laki-laki (Mr. Sudarisman stared by Yoga Sudarisman). Mrs. Ratu mendapat giliran kampanye pada hari pertama, sedangkan Mr. Sudarisman mendapat giliran pada hari kedua. Kampanye mereka dihadiri warga dengan cukup antusias. Mereka, para calon tersebut, selain membawa a

saat break latihan... huah, lumayan serius lho kita evaluasi...

saat break latihan... huah, lumayan serius lho kita evaluasi...

sisten pribadi dan ajudan mereka, juga membawa janji-janji untuk perubahan di desa miskin tersebut. Sehingga warga semakin antusias.

Sebelum diadakan pilkada, panitia pilkada inisiatif bersama warga desa miskin yang terdiri dari pemulung, pengemis, tukang dagang, pengamen, dan juga preman mengadakan debat kandidat pada H-1. Pada momen tersebut terlihat para calon saling beradu argument dan saling pamer janji. Sementara para warga terbagi atas dua kubu yang mendukung Mrs. Ratu dan Mr. Sudarisman.

Dan akhirnya, tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yakni pemilihan pilkada di desa miskin itu. Ketika para warga tengah sibuk berbaris, ternyata ajudan dari masing-masing kandidat tengah berusaha memberi uang kepada para warga secara diam-diam. Uang yang diberikan itu dimaksudkan untuk agar supaya (halaahh, mubazir kata dech) para warga bisa memberikan suaranya di bilik suara. Dan merupakan konsep yang brilian, ketika di panggung bilik suara di-setting menghadap penonton dengan tanpa penutup dan penghalang apapun di pintu depan. Sehingga penonton bisa melihat calon mana yang dipilih warga.

ini dia sutradara kelas kami, Waode Fadhilah Fitriah...

ini dia sutradara kelas kami, Waode Fadhilah Fitriah...

Oke, tiba ke perhitungan suara, ternyata hasil suara seri untuk masing-masing kandidat. Dan ini sangat mengherankan (ternyata kedua kandidat melakukan money politic dan penggelembungan suara). Akhirnya kedua kandidat tidak menerima dan saling menuduh. Panitia pilkada pun tidak bisa berbuat banyak. Sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan. Perkelahian antar kedua kubu pun tidak bisa dielakkan. Dan kericuhan pun terjadi. Semua berkelahi. Semua berteriak dan berlari. Juga menangis. Dan akhirnya, lampu panggung mati. GELAP. Semua mati. Tidak ada kehidupan. Kemudian lampu panggung menyala lagi, sutradara maju ke depan panggung. Dan disanalah para penonton baru sadar jika pentas telah usai. Tepuk tangan pun MERIAH. Dan kami mendapat nilai A+ untuk UAS DRAMA ini. Alhamdulillah….

Phhuiiihhh…. Panjang betul ceritanya yup. Baik teman, jadi intinya begini, lewat pentas drama tadi kami mencoba memberi pesan kepada para penonton soal apa yang tengah terjadi di Negara kita ini. Sungguh menngerikan. Saya menulis ini karena saya pikir momennya tengah tepat, yakni di saat hari-hari menuju pilpres di Juni 2009 nanti. Semoga bermanfaat dan ada hikmahnya.

Thx to:

  • Allah SWT
  • Rasulullah SAW
  • Momen PILKADA DKI JAKARTA pada Juli 2007. Mungkin ini adalah salah satu inspirasi bagi kami dalam berteater.
  • Mrs. Ina (Dosen DRAMA yang udah ngasih nilai “excellent” buat kita, tapi sayangnya karena nilai UTS kita jelek-jelek, nilai akhirnya jarang yang dapet A. hehehhh)
  • Teman-teman di kelas B jurusan Sastra Inggris 04 UIN Syahid; Ode (sutradara
    ini foto beberapa pemain dgn pengamen2 cilik yg berhasil masuk kampus tanpa ketauan satpam. ada Mika, si-wartawan yg lagi megang mic. trus Nuril yg berperan sebagai banci. dan Dila (penulis blog ini) dgn peran sebagai pemulung. hehehhh

    ini foto beberapa pemain dgn pengamen2 cilik yg berhasil masuk kampus tanpa ketauan satpam. ada Mika, si-wartawan yg lagi megang mic. trus Nuril yg berperan sebagai banci. dan Dila (penulis blog ini) dgn peran sebagai pemulung. hehehhh

    ), Nova (pembawa prolog), Edy (penata musik), Wulan (make-up), Nur (Mrs. Ratu), Yoga (Mr. Sudarisman), Habibi (Ajudan Mr. Sudarisman), Adrian (Ajudan Mrs. Ratu), Risa (Asisten Mrs. Ratu), Devi (Asisten Mr. Sudarisman), Iqbal (ketua panitia pilkada), Bayu (staff penitia pilkada), Ipeh (staff panitia pilkada), Lisa (pengemis), Yanti (preman pasar), Nuril (banci pasar), Meiva (tukang sayur), Aya (tukang ikan), Dening (tukang jamu), Ida (pembeli 1), Kiki (pembeli 2), Mela (pembeli 3), Mika (wartawan TV), Ede (kameramen), Toriq (anak dari Mrs. Ratu yang berpacaran dengan anak Mr. Sudarisman), Nufus (anak dari Mr. Sudarisman yang berpacaran dengan anak Mrs. Ratu), dan dila alias diriku sendiri (sebagai pemulung).

  • Teman-teman yang udah nonton.
  • Juga semua pribadi yang tak bisa kami sebutkan satu per satu.

Fadhilatul Muharram for Indonesia President in 2029 (Please Support me, Dude!)

Fadhilatul Muharram

 

This title above, ah I don’t know, I just dream of it. Between conscious and unconscious. Between dream and not. Between doubting and undoubting.  Above all, I have dream for my country, INDONESIA.

 

Indonesia is a big country. It has so rich nature resources. It is the place for the biggest Muslim population in the world. But it’s so sad if you realize that Indonesia still stay on the poor rank. It never leaves that poor place. Indonesia is the worth country but why it still steered by other countries who act as the power country in this world? You have an honor, Indonesia. Let your self to be free and independent!!

 

As Indonesian people *and if I get my dream to be a future president*, I want to nationalize all Indonesia companies. No foreigners sit on there. No foreigners gain profit from my country. We the people never enjoy the rich directly. We stay inside with the poorness. But they gain all rich and enjoy it with innocent. Return them to us. Nationalize ours!

 

Then, I want human resources in Indonesia get their privilege of schooling and educate themselves. Many people here still are in illiterate case. As the next golden generation I want force-FORCE-force my people to educate themselves. To encourage them making creativity and be brave to stand independent.

 

Third, I want to grow up the economics. No loan anymore. See IMF, NO LOAN ANYMORE for INDONESIA! Because your loan ruin us. If you want to help us, JUST HELP but don’t take our resources. Get it? We are the honor nation. Don’t make us poor anymore.

 

Fourth-fifth-sixth-etc are UPHOLD the JUSTICE, SHARE the LOVE, once again BE INDEPENDENT and BRAVE, etc. We need them to make Indonesia be a worth country. The golden nation shall overcome. Wait, we still prepare it for now. No doubt anymore, because we shall overcome.

 

PS. To get Indonesian version article click here.