Bertandang Ke Ambon Manise

Ketika pilot memberi aba-aba menjelang landing di bandara Pattimura, hati saya sempat was-was. Sebab kata-kata ‘landing position’ diumumkan pilot ketika pesawat masih berada di atas laut. Saya berpikir, apakah kita akan melakukan pendaratan darurat di laut? Namun hey, ternyata tidak. Yang benar adalah posisi bandara Pattimura berdekatan dengan laut, jadi memang tidak usah diherankan jika penumpang dari dan menuju bandara Pattimura akan mendapat suguhan pemandangan bukit dan laut yang sangat indah.

Di hari pertama, saya sudah mulai berkeliling pusat kota Ambon. Bersama tukang becak kenalan saya yang bernama pak Tomi, saya diantar menuju Masjid Raya Al-Fattah, kota Ambon. Masjid tua yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu ini, pernah menjadi masjid terbesar dan termegah se-Indonesia timur. Masjid ini menjadi pusat pengungsian umat Muslim ketika kerusuhan antar agama terjadi di kota ini beberapa tahun lalu. Sekarang masjid besar ini tampak sangat lusuh. Tetapi sudah ada rencana pemugaran dari pemerintah terhadap masjid bersejarah ini. Baca lebih lanjut

Handicraft Buatan Indonesia

P13-06-10_15-40 It’s shopping time!! Setelah petualangan berkuda juga memandangi keindahan alam di komplek kavaleri, kami melanjutkan perjalanan menuju Ciwalk (Cihampelas Walk) yang terkenal sebagai pusat belanja oleh-oleh di kota Bandung. Seperti biasa, sebagai orang yang kurang suka belanja, saya hanya bisa bengong ketika bus berhasil mendapatkan tempat parkir di daerah macet ini. Kemudian ketika saya tersadar harus ikut turun, yang saya pikirkan pertama kali adalah pulsa. Saya ingin segera mencari counter untuk membeli pulsa salah satu GSM saya. Setelah berhasil mendapat pulsa, tiba-tiba saya kepikiran untuk mencari toilet. Akhirnya tempat pertama kali yang saya tuju adalah Ciwalk (Mall dan Kuliner). Lucu sekali ya saya ini, ketika kebanyakan orang menuju mall untuk mencari kesenangan, barang belanja, kuliner, dsb, saya malah mencari toilet yang nyaman. :mrgreen: Baca lebih lanjut

Panen Brokoli

P13-06-10_07-12 Libur pekanan di Lembang, Bandung (12-13/6) membawa kesan tersendiri bagi saya. Meski sebenarnya tujuan utama di awal adalah Rapat Kerja (RAKER), namun tidak mengurangi esensi liburan. Hawa yang dingin dan udara yang bersih membuat otak saya kembali menghijau dengan ide-ide segar yang mulai membuncah. Paru-paru saya seakan ikut bergejolak merayakan kesegaran ini. Dengan rakus saya berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum kembali ke kota penuh racun polusi. Huff, saya benar-benar ingin tinggal di desa, kalau perlu hutan sekalian. Baca lebih lanjut

Malang Bag. 7: Bromo-Tengger-Semeru

postingan terkait sebelumnya: Malang Bag.1: Keberangkatan, Malang Bag. 2: Tur Kampus, Malang Bag. 3: Workshop, Malang Bag. 4: Wisata, Malang Bag. 5: Sarang Aktivis, Malang Bag. 6: Ngarung.

***

P1150266 tidak pernah saya duga sebelumnya jika saya akan mendapat kesempatan untuk mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. saya memang sempat bermimpi pergi ke sana pada awal tahun ini, namun sekali lagi tidak saya duga saya akan menghampirinya pada bulan November ini di tahun yang sama ketika saya bermimpi. mungkin inilah yang disebut anugrah. alhamdulillah 🙂

di malam itu (6/11/08) entah mengapa cuaca begitu lebih dingin dari biasanya. apa karena AC kamar? umm, sepertinya tidak sebab suhu yang tertera sekitar 21derajat, suhu yang tidak terlalu dingin untuk udara AC. atau mungkin karena saya terjaga lebih larut dari biasanya? waktu menunjukkan lewat dari 23.00 ketika itu. dan saya belum beranjak tidur. teman sekamar sedang turun ke lobi mengantarkan teman SMA-nya yang tadi mampir ke kamar kami dan TV masih menyala. setelah packing tadi badan terasa menggigil dan lelah. saya pun ingat kalau saya harus tidur walau sebentar sebab jam 2 pagi buta saya beserta rombongan harus sudah berangkat menuju Bromo. akhirnya, buru-buru saya tarik selimut untuk menutupi seluruh badan yang terasa kedinginan dan mencoba memejamkan mata. berkali-kali saya pejamkan mata sampai akhirnya saya sadar kalau saya sulit tidur!

02.00 AM

semua barang sudah dimasukkan dalam bagasi travel yang akan membawa kami menuju wilayah gunung dan pegunungan yang ada di timur jawa itu. saya tak sabar ingin melanjutkan tidur. sebetulnya sih ingin melihat pemandangan di luar mobil. namun saya tak yakin kuat dengan mata yang masih mengantuk ditambah suasana diluar masih sangat gelap. jadi apa yang mau dilihat?

04.15

sudah sampai di Gunung Penanjakan, tempat yang didaulat sebagai view point untuk melihat matahari terbit. sudah banyak wisatawan ngumpul di tempat ini baik dari dalam negeri maupun luar negeri. meskipun banyak orang namun udara tampak menusuk-nusuk kulit hingga saya merasa mati rasa saking dinginnya. padahal saya sudah memakai kaos hangat yang di-lapisi dengan jaket dan switer hijau besar, namun tetap saja kalau orang kurus selalu mudah kedinginan.

04.30 (sekitar jam segini pokoknya… lupa :D)

matahari mulai terbit sempurna. para wisatawan berburu tempat terbaik untuk mengambil momen keluarnya matahari dari peraduannya itu. semua tampak bersorak, sibuk berfoto ria dan mengambil video. saya pun tak mau ketinggalan mengambil gambar meski kapasitas pixel kamera saya sangat pas-pasan. yang penting ada gambarnya. :mrgreen: berikut hasil gambar yang saya dapatkan ketika menjelang dan saat matahari terbit dan juga sesudahnya. untuk om tukang poto, mungkin bisa analisa betapa jeleknya gambar yang saya ambil. umm, boleh diberi saran bagaimana seharusnya saya ambil gambar. 😀

sunrises

foto pasca terbit

3 gunung

mendaki BROMO

P1150269 sampai kami di sebuah wilayah tanah berpasir di kaki bukit Gunung Bromo. disana saya sangat kagum dengan tekstur gunung-gunung yang ada seperti Gunung Batok misalnya. saya bisa melihat betapa Maha Telitinya Allah telah menciptakan tanah bumi dan gunung yang menyatu dengan lapisan-lapisan struktur yang berbeda. saya bisa melihat sendimen-sendimen tanah yang terekat kuat membentuk suatu gundukan. seperti ada lem yang melekatkannya. biasanya saya hanya bisa melihat sendimen berupa sketsa dalam buku pelajaran, kini saya bisa melihatnya secara langsung. meski saya tidak begitu mengerti dengan sendimen tersebut, namun saya kagum. umm, mungkin bisa tanya sama ahli Geologi kita yang lagi serius nyusun thesisnya. :mrgreen:

kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju puncak Bromo dengan berjalan kaki sebentar dilanjutkan naik kuda (tepatya anak kuda :grin:). oh iya, di kaki bukit Bromo ini ada Pura untuk tempat ibadah suku Tenger yang beragama Hindu dan untuk upacara rutinan yang bernama Kasodo. sayangnya ketika itu baterai kamera saya habis, jadi terpaksa tidak bisa foto pemandangan pasir di kaki bukit Bromo deh. tapi buat yang mau lihat bagaimana pemandangan disana, bisa klik disini. 🙂

saya sudah sampai di ujung tangga paling bawah dari Bromo. setelah sebelumnya berjuang diatas punggung kuda kecil. ngeri juga naik kuda, apalagi jalannya yang lumayan terjal begitu. hehe. setelah sampai anak tangga pertama, saya lantas langsung mendaki perlahan hingga dada saya sesak ketika berada di puncak. ya, sesuai teori, semakin tinggi tempat kita berpijak, oksigen di udara akan semakin menipis. eh, betul gak sih? 😀

sesampainya di puncak Bromo, saya melihat kawahnya yang tertutup kabut. wangi belerang sangat menyengat di puncak. saya pun membalikkan badan ke arah Gunung Batok. saya terduduk dan memejamkan mata sejenak (mau merenung ceritanya). namun apa yang terjadi? saya malah tertidur gara-gara hembusan angin di puncak. haha, parah banget ya. habis, kondisi disana sandy (berpasir) dan windy (berangin) sih. jadi enaknya tidur. :mrgreen:

Semeru

saya tidak pergi ke Gunung tertinggi di pulau Jawa ini. saya hanya mampu melihatnya dari jauh. tapi sebelumnya mau tanya dulu sama para pencinta alam dan jejaka petualang kita, mas alamendah dan mas morishige… pasti udah pernah ke puncak SEMERU kan? 😀 bisa dibayangkan betapa sulitnya mendaki gunung tersebut. saya naik Gunung Bromo saja (padahal itu pake tangga lho) sudah lelah sekali. apalagi jika saya harus mendaki Semeru, pastinya butuh olahraga secara rutin setidaknya sebulan sebelumnya. semoga suatu saat bisa kesampaian, saya ingin merasakan indahnya Ranu Pane dan Ranu Kumbolo, juga betapa mistisnya Arcopodo dan Kalimati dan betapa menegangkannya ketika kita mendaki puncak Semeru yang berbatu pasir. bisakah saya? mampukah saya? 🙂

Malang Bag. 6: Ngarung

postingan terkait sebelumnya: Malang Bag.1: Keberangkatan, Malang Bag. 2: Tur Kampus, Malang Bag. 3: Workshop, Malang Bag. 4: Wisata, Malang Bag. 5: Sarang Aktivis.

***

P1120077 kata ‘ngarung’ mungkin berasal dari ‘arung’ atau mengarungi. saya juga tak tahu yang tepat bagaimana. namun yang jelas kata ini saya rasa tepat untuk menggambarkan kegiatan saya ketika itu yang menyisiri kota Malang sendirian dan di malam hari pula. sebetulnya ini pun ada kaitannya dengan artikel Malang Bag. 5: Sarang Aktivis. boleh dibaca artikel sebelumnya yang dimaksud jika teman-teman ingin.

ya, seperti yang pernah saya tulis dalam Malang Bag. 5: Sarang Aktivis, saya nekad pergi menuju sekretariat KAMMI Daerah Malang di malam hari. sebenarnya buat saya belum terlalu malam, karena saya berangkat kesana sekitar pukul 18.30. padahal sebelumnya saya sudah diingatkan bahwa KAMMI memberlakukan jam malam bagi teman-teman akhwat (perempuan) yang ingin berkunjung kesana. jam malam yang dimaksud sekitar pukul 18.00 untuk kunjungan ke kantor sekretariat dan jam 20.00 untuk di luar sekretariat. tapi yang namanya nekad, ya tetap nekad. karena saya pikir saya belum punya waktu lagi selain malam itu. phuih, gara-gara workshop harus selesai setelah maghrib jadinya saya tidak jadi berkunjung kesana sore hari.

sebetulnya saya nekad berkunjung di malam hari, dikarenakan saya juga sudah dapat izin dari advisor kantor yang saya anggap sebagai ‘tetua’ di rombongan kami. maklum-lah saya ini anak bawang yang paling kecil dan paling muda diantara mereka yang jauh lebih tua daripada saya dengan jabatan yang juga tak bisa dianggap remeh. akhirnya setelah ‘dititipkan’ teman sekamar yang kebetulan juga ingin jalan-jalan di malam hari, saya di-drop di daerah MT Haryono, Malang. dari sana, setelah nanya arah ke tukang gorengan dekat indomaret MT Haryono, akhirnya saya naik angkot sekali hingga perempatan lampu merah. dari sana saya jalan kaki menuju daerah Gajayana, tepatnya Indomaret Gajayana. awalnya saya sempat bingung dan nyasar di daerah tersebut. namun berbekal alamat yang tersimpan di HP dan keberanian bertanya pada orang lain, akhirnya saya sampai juga di depan sekretariat KAMMI Daerah Malang. namun diluar dugaan saya, saya tidak dapat masuk ke dalam. yang saya dapat malah sms penolakan dari penghuni sekret. :mrgreen:

from andrik: afwan jiddan, sekret kamda ga bisa nrima tamu akhwat malam hari.

tuing-tuing. saya bengong bacanya. ternyata serius saya tidak diterima. tidak ada yang menyambut saya, sehingga saya hanya berdiri di luar pagar hingga saya mendapat sms lagi, yakni sebuah nomor HP milik Yoan, seorang akhwat KAMMI Malang. akhirnya saya pun menelepon Yoan dan kembali pulang menuju penginapan. sendirian! di malam hari! tumben sekali ya, biasanya saya tidak pernah berani jalan sendirian di kota asing yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. jangankan di kota orang lain, di kota saya sendiri saja saya takut banget nyasar kalau jalan sendirian. tapi entah kenapa di Malang saya berani jalan berbekal intuisi. saya merasa berani saja, bebas saja, dan merasa familiar dengan jalan-jalan dikota ini (*boong tuh, padahal kudu nanya jalan dulu sama tukang gorengan dan penjaga indomaret. :D)…

sepanjang perjalanan dari terminal Landongsari menuju University Inn, saya memandangi pinggir jalan dan sekitar saya dengan seksama. saya melihat banyak mahasiswa duduk lesehan di trotoar-trotoar pinggir jalan entah itu sekedar nongkrong, ngobrol atau bahkan main gaplek dan ngopi. waduh, di Jakarta udah jarang tempat untuk lesehan kayak gini. :mrgreen: tapi saya pikir-pikir lagi, kok kayak gak ada kerjaan ya para mahasiswa itu main gaple malem-malem di pinggir jalan, kenapa engga baca buku ajah? hehe,,,

lantas perjalanan saya berakhir di depan University Inn, menunggu Yoan menjemput saya untuk pergi ke kosan-nya malam itu. hanya satu jam di kosan Yoan sebelum saya kembali diantar pulang kembali ke penginapan. 🙂