Nibiru dan Kesatria Atlantis dari Tasaro GK

Nibiru dan Kesatria Atlantis - Logo (manistebu.wordpress.com)

Akhirnya saya pun kembali menulis review sebuah novel. Novel yang kali ini akan saya bedah adalah novel yang diperkirakan akan menjadi ‘Novel Aksi Atlantis Pertama dan yang Pernah Ada di Indonesia’. Berlebihan tidak sih saya beri julukan seperti itu? Tidak lah ya. Cukup bagus malah. Tapi entah bagi penulisnya dan bagi para pengkritik sastra. 😀 Sebenarnya saya sudah membaca novel ini sejak dua minggu ia terbit di Desember 2010. Hanya saja saya baru sempat dan tidak malas menuliskannya sekarang.

Nibiru dan Kesatria Atlantis (tribunnews.com)

Nibiru dan Kesatria Atlantis berkisah tentang sebuah pulau yang tersembunyi dari pandangan kebanyakan penduduk bumi. Pulau tersebut bernama Kedhalu. Pulau Kedhalu terlindungi oleh selubung gaib yang membuatnya menjadi tersembunyi dari penglihatan penduduk bumi yang berada di luar pulau tersebut. Tidak ada orang luar Kedhalu yang memasuki pulau dan begitu juga sebaliknya, tidak ada penduduk Kedhalu yang bisa keluar dari pulau, kecuali pada saat selubung gaib sedang menipis.

Dhaca dan tiga orang temannya, Sothap, Nyithal dan Muwu adalah gerombolan 4 Keparat Kecil yang terkenal sering membuat keributan di seantero Kedhalu. Tapi semuanya berubah ketika ada berita akan datangnya Nibiru setelah lama tidak muncul. Nibiru dikabarkan adalah salah satu Raja Dunia yang berbahaya dan dapat membahayakan dunia. Sementara Dhaca dan tiga temannya pun ikut bersiap menghadapi kedatangan Nibiru. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?

Nibiru rencananya akan dijadikan novel pentalogi oleh penulisnya. Novel seperti ini menambah koleksi bacaan yang baik bagi masyarakat Indonesia, khususnya kalangan anak-anak. So, Bloggers, sampai saat ini ada komentar? Mungkin bagi yang sudah membacanya ingin berbagi.

Gelandangan Di Kampung Sendiri

Gelandangan Di Kampung Sendiri. Pustaka Pelajar. 1995.

Judul diatas adalah judul salah satu buku karya Emha Ainun Nadjib yang menjadi salah satu koleksi bapak saya di rumah. Buku ini termasuk buku lama, sebab sudah sejak saya umur 8 tahun diterbitkan. Dan ketika umur yang sama pula alias kelas 4 SD, saya sudah mulai tertarik dengannya. Saya mencoba membacanya halaman demi halaman. Ya, hasilnya tidak mudeng sangat memang. Namun entah, saya tetap tertarik pada buku itu dan bersabar untuk menanti usia saya dewasa untuk dapat membaca buku tsb dengan pemikiran yang terang dan jelas.

Gelandangan Di Kampung Sendiri terdiri atas kumpulan tulisan-tulisan Emha atas dasar respon hal-hal sosial, politik dan kemanusiaan. Kebanyakan tulisan ini merupakan tanggapan Emha kepada surat-surat banyak orang yang datang kepadanya, atau juga tentang kisah-kisah manusia yang bertandang langsung ke rumahnya. Secara subyektif saya senang dengan buku tersebut. Bagi saya sangat manusia. Sangat merakyat.

Namun sayang sekali, Gelandangan Di Kampung Sendiri harus menghilang dari dekapan saya 😦 . Beberapa hari yang lalu saya pergi ke Gorontalo dan pastinya membawa serta buku ini juga. Ketika harus pulang lagi ke Jakarta, saya terlupa dimana saya meletakkan buku itu setelah membacanya. Saya baru menyadari buku tak ada ketika menjelang boarding. Sungguh tragis. Apalagi buku itu milik bapak saya. Buku itu salah satu kesayangan saya.

Ketika di rumah, saya menyampaikan berita hilangnya buku itu dengan hati-hati kepada bapak.

D: Pak, buku punya bapak yang judulnya Gelandangan Di Kampung Sendiri yang ditulis Emha aku bawa ke Gorontalo dan hilang. 😦

B: Hmmm… yaudah, ngga apa-apa.

D: Emm… kira-kira masih ada yang jual ngga ya? Mau beli lagi.

B: Ngga tau masih ada atau engga. Hmm… buku itu kan bukan beli. Buku itu dia (Emha) sendiri yang ngasih ke bapak, waktu di masjid Al-Ikhwan dulu.

D: ….. (bengong. makin menyesal).

Begitulah ceritanya saya semakin menyesal. Dan semakin bertambah keinginan saya untuk mendapatkan buku itu kembali. Bagaimanapun caranya, entah harus membeli atau memesan, atau bagaimana dan bagaimana. Sebab buku itu ternyata pemberian Emha langsung untuk bapak saya. Entah ada hubungan apa diantara mereka berdua. Mungkin waktu itu bapak saya jadi marbot di Masjid Al-Ikhwan atau bagaimana saya kurang peduli juga. Yang saya sesalkan cuma fakta bahwa sekali lagi buku itu pemberian Emha! hikz..

Ya sudahlah, jika memang itu jodoh akan kembali kepada saya, maka benar-benar akan kembali. Itu kata adik saya. Ya, kalau jodoh pasti akan kembali. Buat bloggers yang punya link ke Pustaka Pelajar, atau punya alamat Emha, mohon kirim e-mail ke fadhilmu87[at]gmail.com ya. Saya ingin mencoba mengirimi Emha surat. Saya juga akan mencoba bertanya kepada Pustaka Pelajar, apa masih punya stok buku ini? Jika ada kemungkinan bisa saya jadikan hadiah untuk acara Bagi-Bagi Buku TASBIH 1433 H tahun depan. Aamiin. 😉

Layang-Layang Putus

Bloggers, kali ini saya akan mengulas novel yang baru saya baca. Novel yang bukan termasuk dalam hitungan best seller atau juga paling baru ini berjudul ‘Layang-Layang Putus’. Novel ini sudah terbit sejak Februari 2005, hanya saja sepertinya tidak terlalu menarik minat banyak pembeli. Sebab berkali-kali novel ini menjadi langganan dalam daftar obral dan diskon pada pameran buku. Meski begitu, isi yang disajikan dalam ceritanya tidak obralan alias cukup bermutu untuk menjadi sebuah bacaan.

Novel karya Masharto Alfathi ini bercerita tentang perjuangan orang-orang difabel (different abbilities) dalam menjalani hidup. Difabel lebih dikenal sebagai penyandang cacat oleh orang-orang umum yang dalam kehidupan berkemampuan ‘normal’. Novel ini memperjuangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kesetaraan orang-orang yang dianggap cacat. Seperti tentang penggunaan kata difabel yang lebih disukai daripada ‘penyandang cacat’ yang dianggap sangat mendiskriminasi. Orang-orang difabel selalu dianggap kelas dua atau bahkan kelas tiga (jika ditambah dengan predikat miskin) oleh kebanyakan masyarakat. Mereka selalu dianggap tidak memiliki kemampuan dan sangat menyusahkan orang lain. Pemikiran seperti inilah yang seharusnya diubah. Orang-orang difabel menjadi tidak mampu karena mereka seringkali tidak diberi kesempatan untuk berjuang secara mandiri. Mereka selalu dianggap kaum yang butuh bantuan terus menerus. Padahal jika diberi kesempatan untuk mandiri, jika tidak dicemooh dan dianggap lemah mereka mampu menjadi hidup bersama dengan orang-orang ‘normal’ tanpa harus dianggap sebelah mata. Contoh yang populer adalah Nick Vujicic, seorang motivator yang terlahir tanpa tangan dan kaki. Baca lebih lanjut

Chocolat

Pada kesempatan kali ini saya akan kembali mengulas buku setelah sekian lama hiatus dari dunia per-blog-an. Buku yang akan saya bedah kali ini adalah sebuah novel berjudul Chocolat karya Joanne Harris. Ada yang pernah membacanya? Atau mungkin kalau tidak membaca novelnya teman sekalian sudah pernah menonton filmnya? Ya, karena popular novel ini pun sempat di-remake dalam bentuk film pada tahun 2000 dengan judul yang sama dibintangi oleh Juliette Binoche dan Jhonny Deep. Film ini juga mengispirasi hadirnya film Brownies yang disutradarai Hanung Bramantyo pada tahun 2004.

Novel ini menceritakan tentang seorang pembuat cokelat bernama Vianne Rocher. Ia bersama anaknya, Anouk, menjadi pendatang baru di Lansquenet-sous-Tannes. Lansquenet-sous-Tannes digambarkan sebagai kota yang bernuansa muram dengan penduduk yang hampir semuanya berkarakter kaku. Rocher membawa warna baru yang lebih hidup bagi kota ini. Ia mendirikan toko cokelat La Céleste Praline di sebuah rumah hampir rapuh yang disewanya. Pada awalnya penduduk kota dengan dukungan Pastur Francis Reynaud sangat tidak begitu menyukai kehadiran Rocher karena dianggap membawa pengaruh buruk bagi mereka. Namun seiring dengan berjalannya waktu, cinta pun datang sendiri menghampiri Rocher dan toko cokelatnya.

Novel ini luar biasa. Berkisah tentang pergolakan-pergolakan yang sering terjadi dalam hati manusia. Juga tentang harapan dan cita-cita. Jika diharuskan memberi penilaian, saya akan memberi 4 dari 5 bintang. So, sudah mulai tertarik dengan novel ini? Saya sarankan untuk membacanya. Bahasa dalam novel terjemahannya bagus (apalagi bahasa dalam novel aslinya).

Akeelah

Laurence_Fishburne_in_Akeelah_and_the_Bee_Wallpaper_2_800 intermezzo: Alhamdulillah, akhirnya saya bisa nulis lagi. saya tahu tulisan ini cukup ditunggu-tunggu teman-teman blogger saya (hehe, sok penting gitu ya. :mrgreen:). terutama calon dokter kita yang tampaknya sangat menanti tulisan saya, yang katanya suka buat review buku yang aneh-aneh. saya jadi berpikir, benarkah postingan saya sering aneh? hehe.

*** Baca lebih lanjut