Laki-Laki Silahkan Duduk, Perempuan Silahkan Berdiri

Transportasi merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi masyarakat khususnya warga Jakarta. Meskipun bus atau angkutan umum yang dioperasikan sudah tua, usang, tak layak, namun warga tetap bergantung pada keberadaan transportasi. Ditambah lagi situasi bus yang selalu penuh dan jalanan yang macet sehingga membuat suasana semakin tak nyaman. Dan lagi-lagi warga tak punya banyak pilihan.

Seperti yang saya ungkapkan diatas, suasana dalam angkutan umum selalu tidak nyaman, apalagi jika kondisinya sedang dalam keadaan penuh dan berdesak-desakkan. Jika hal ini sudah terjadi maka para penumpang hanya bisa pasrah menunggu hingga sampai ke tempat tujuan. Tetapi biasanya, kalau sudah begini ada beberapa tipe penumpang yang dirugikan; perempuan, lansia, ibu hamil, anak-anak. Biasanya, para penumpang menjadi lebih egois untuk urusan angkutan umum. Kebanyakan mereka memikirkan dirinya sendiri, apakah saya dapat tempat duduk, nyamankan kursinya untuk saya, dsb. Mereka jarang berpikir untuk menyerahkan tempat duduknya jika datang penumpang yang termasuk dalam daftar dipersilahkan duduk. Dan ternyata kebanyakan yang egois ini adalah laki-laki. No offense ya, alias bukan maksud menyalahkan atau menuduh atau menyudutkan, namun fakta yang sering saya lihat seperti itu. Bisa lihat foto yang saya ambil di transjakarta tadi sore (23/6) dibawah ini:

P23-06-10_17-11 Baca lebih lanjut

Sebuah Buku yang Tidak Menyenangkan

ada berapa banyak buku yang teman-teman punya? ada berapa banyak buku yang sudah teman-teman baca? adakah diantara buku yang dipunya dan telah dibaca termasuk kategori yang tidak menyenangkan? saya mengartikan ‘menyenangkan’ disini berbeda dengan kata ‘membosankan’ ya. ada buku bagus tetapi membosankan. dan juga ada buku yang tampak tidak membosankan, tetapi amat sangat tidak menyenangkan. hehe, bingung ya?

saat ini saya sedang membaca buku yang tidak menyenangkan itu. sebenarnya bukan sekali ini saya menghadapi literatur yang tidak menyenangkan, tetapi cukuplah saya membahas buku yang tengah saya baca saja. karena jika mau diceritakan bersama buku yang lain, akan jadi panjang artikel saya nantinya.

austere academy ada buku serial yang sepertinya cukup terkenal berjudul A Series of Unfortunate Events karya Lemony Snicket. buku ini terdiri atas lima judul yang kesemua judul dan episodenya melulu bercerita tentang hal-hal yang sangat tidak menyenangkan. dan buku yang sedang saya pegang sekarang adalah buku kelima; The Austere Academy.

kenapa saya bilang tidak menyenangkan? simple saja, karena buku ini mengisahkan tentang tiga orang anak kecil bernama Violet, Klaus dan Sunny Baudelaire yang selalu mendapat ketidakberuntungan di sepanjang seri. dikisahkan di awal bahwa orang tua mereka pergi meninggalkan mereka dan mereka pun diasuh oleh Count Olaf yang digambarkan sebagai laki-laki yang jahat. tidak ada happy ending disini. setiap kali mereka akan mendapatkan kebahagiaan, selalu saja Count Olaf muncul tiba-tiba dan menarik mereka dari kebahagiaan tersebut. waduh, cerita yang (menurut saya) kurang bagus untuk dibaca anak-anak. padahal buku ini sudahl dilabelkan ‘Children, it’s great deal’. hmm, mungkinkah mereka yang menjual buku ini tidak mengerti dengan isi yang ada di dalamnya? saya saja miris membacanya, apalagi anak-anak.

sejak awal, sebenarnya, Snicket sebagai pengarang sudah memperingatkan para pembacanya. di cover belakang akan kita temukan surat dari Snicket. saya tuliskan cuplikan di paragraf awal;

Dear Reader,

If you are looking for a story about cheerful youngsters spending a jolly time at boarding school, look elsewhere.

tuh kan denger kata Snicket, kalau kita berharap dengan cerita yang menyenangkan, cari saja buku yang lain. :mrgreen: tapi ya seperti yang saya bilang, buku ini bukan untuk anak-anak. sekali lagi, tidak direkomendasikan untuk anak-anak. karena anak-anak adalah manusia kecil yang masih tumbuh kembang dengan mimpi dan imajinasi mereka yang menakujubkan dan tentunya menyenangkan. kalau tiba-tiba disodorkan buku seperti ini, boleh jadi ada hal-hal traumatik yang akan timbul nantinya ( sok tau dhila :mrgreen: ).

tetapi, meskipun tidak menyenangkan, buku ini tetap bagus untuk dibaca dan dianalisa. Snicket adalah penulis yang baik (meskipun misterius). kata-katanya mudah dibaca. dan menurut saya, ada pesan terselubung yang ingin diberikan Snicket lewat buku-buku tidak menyenangkannya ini. bahwa tidak ada kemudahan dan tidak ada yang benar-benar menyenangkan dalam hidup ini. segala kebahagiaan yang kita rasakan di dunia ini hanya bersifat sementara. seperti yang dikatakannya dalam The Austere Academy; ‘Momento Mori’ atau jika diartikan dalam bahasa Inggris ‘Remember You Will Die’ dan jika diartikan dalam bahasa Indonesia ‘Ingat Kamu akan Mati’.

Everybody will die, of course, sooner or later. Circus performers will die, and clarinet experts will die, and you and I will die, and there might be a person who lives on your block, right now, who is not looking both ways before he crosses the street and who will die in just a few second, all because of a bus. Everybody will die, but very few want to be reminded of that fact. (The Austere Academy on page 14: Snicket 2001)

 

Selamat Datang Cinta

‘kau datang membawa segala rasa dan kata yang kau pikir itu cinta’

Ruang bioskop kosong. saya hampir tidak melihat satu orang pun yang duduk di awal permulaan kursi penonton. mungkin karena gelap, jadi saya agak sulit mendeteksi orang-orang yang sudah masuk dan duduk di Teater 6 untuk cinta1menonton film besutan Ikatan Alumni ITB, ‘BAHWA CINTA ITU ADA’. beruntung ketika saya mencoba meraih kursi saya yang terdapat di paling atas, saya melihat beberapa orang sudah menatap layar dan menonton cuplikan-cuplikan film coming soon. ada dua pasang lelaki-perempuan yang memilih duduk di pojok sekali (kenapa sih orang pacaran senangnya mojok? aneh!), sementara saya lebih suka berada di paling pinggir. namun ironinya, saya duduk di tengah mereka yang berpojok ria itu. ada seorang laki-laki yang tampaknya juga pengamat film abal-abal seperti saya. ada sepasang kakek-nenek yang duduk di baris tengah, sepertinya mereka alumni ITB dan sedang bernostalgia. dan beberapa orang lagi di baris bangku papan atas yang tidak terlalu saya perhatikan. hmm, tidak banyak yang menonton film ini di teater itu, padahal bukunya sudah best seller. kenapa ya? saya menimbang beberapa analisa, ah tapi sudahlah. inti sekarang ya nonton saja.

sepanjang film diputar, saya mencoba mencocokkannya dengan novel ‘GADING-GADING GANESHA’ yang sudah saya baca. seperti film hasil adaptasi sebuah novel lainnya, film ini pun tidak mengikuti alur cerita novel secara utuh. ada beberapa perubahan. namun yang sangat menarik perhatian saya, meski latar belakang film ini adalah ITB yang berada di Bandung, namun nuansa Sunda tidak terlalu terasa. yang kental justru nuansa dan budaya Jawa di sepanjang film. suara Sujiwo Tejo (sutradara film ini) yang menjadi dalang dengan replika wayangnya memenuhi setiap scene juga musik-musik Jawa, logat-logat Jawa dan tarian Jawa. maaf, bukan bermaksud SARA, tetapi itu yang saya rasakan. hmm. *senyum-senyum* 🙂

film selesai. dan saya mulai disorientasi tempat. saya lupa jalan pulang! ya Tuhan!! setelah keluar dari mall, saya melihat seluruhnya gelap. langit sudah gelap. yang ada hanya lampu-lampu yang menyinari malam dengan segala keramaian. sebanyak dua kali saya bolak-balik menyusuri jalanan, mencari pintu menuju terminal Bus Way Blok M. seketika saya merinding. benar kata sebuah hadis Muslim bahwa, " Janganlah engkau menjadi orang pertama yang masuk pasar jika engkau mampu dan jangan pula menjadi orang paling terakhir yang keluar darinya pasar karena pasar itu adalah tempat peperangan para syaitan dan disanalah ditancapkan benderanya."

mungkin ketika itu saya sedang disesatkan dari jalan pulang agar tidak bisa keluar dari keramaian. saya benar-benar bergidik dan ingin segera pulang. mencari sedikit udara dalam kungkungan mimpi yang belum sempurna saya niatkan. dan kembali mencari tahu, cinta seperti apa yang harus saya sebarkan di dunia ini. bukankan sebagai khalifah yang sedang bertugas di dunia kita sedang mengemban cinta untuk dibagi. tetapi kepada siapa saja cinta itu pantas diberikan, coba kita renungkan lagi.

cinta itu bukan sesuatu hal yang harus ditakutkan. dia bukan buto cakil pakek helm (seperti kata seorang teman blogger). bukan sesuatu yang harus dihindari. tetapi sesuatu yang harus disambut dan diperlakukan secara jujur. Selamat Datang Cinta!

kau datang membawa segala rasa dan kata yang kau pikir itu cinta. kau juga membawa segala janji dan mimpi yang kau kira itu cinta. kisah indah kita bagai dewa-dewi tak perlu alasan tuk saling cinta . tawa canda, sakit hati, hati rindu, air mata… semua nyata karena kita ketika cinta ada. makianku, cemburumu, ocehanku, amarahmu… nikmati dan katakan selamat datang cinta. (Theme Song ‘Bahwa Cinta itu Ada’ karya Sujiwo Tejo, sung by Ario Wahab & Sita Nursanti).