Nurdin Halid Bertahan: Yes for GENTA, NO for Rakyat Indonesia!

Spanduk GENTA untuk Nurdin Halid Bertahan
Spanduk GENTA untuk Nurdin Halid Bertahan

Selamat pagi bloggers! Cuaca Rabu (5/1) pagi di Jakarta ini cukup dingin ya, karena memang hujan telah menyambangi JADEBOTABEK sejak pagi-pagi sekali. Makanya ngga heran tadi banyak warga Jakarta yang berseliweran mengenakan jaket dan switter sebagai pakaian tambahan sebagai penghangat tubuh. Tapi ketika hati terasa panas dingin ketika saya tiba di Shelter Busway Patra Kuningan. Badan yang sudah saya balut dengan jaket semakin terasa dingin. Bagaimana tidak dingin, begitu turun saya tak sengaja melihat sebuah spanduk merah terpampang yang mengatasnamakan GENTA (Gerakan Pendukung Timnas Indonesia). Spanduk tersebut berisi dukungan agar Nurdin Halid terus maju memimpin PSSI demi supremasi sepak bola Indonesia di mata bangsa lain.

Wow, apa-apaan ini? Batin saya terus teriak begitu. Baru pagi tadi saya menonton acara dialog di Metro TV soal pelarangan PSSI terhadap adanya Liga Primer Indonesia (LPI) yang kabarnya sampai diadukan ke pihak yang berwajib. Dan disana terdapat banyak penelpon yang masuk ke Metro TV untuk meminta Nurdin mundur karena kerja dia yang tidak becus. Ya jelas tidak becus. Bagaimana bisa kebijakan-kebijakan yang dia buat menjadikan kualitas PSSI semakin bobrok. Dan ternyata protesnya rakyat membuat dia berusaha bertahan dengan tameng-tamengnya. Salah satu contoh yang dijadikan tamengnya adalah spanduk tadi. Bisa dilihat gambarnya dengan jelas dibawah ini:

 

Nurdin Maju dari GENTA.
Spanduk dari dekat
Spanduk dari arah kiri
Spanduk dari arah kiri
Spanduk dari kiri bawah jembatan

Spanduk diatas yang mengatasnamakan GENTA sangat tidak mewakili suara dan hati rakyat Indonesia. Jelas-jelas rakyat semakin cerdas mengamati perkembangan kondisi sosial politik negaranya. Mungkin pejabat lupa bahwa rakyat sudah tak bisa lagi dibohongi. Rakyat Indonesia, dalam khususnya untuk bidang Sepak Bola semakin rindu manajemen liga yang fair dan tanpa tipu daya. Itulah salah satu alasan kenapa Liga Primer Indonesia didirikan. Anjas Asmara, mantan pemain Timnas, berkata dalam Dialog Metro TV yang tadi pagi saya tonton: “Saya mantan tapi saya sudah muak dengan ini semua.”

Jadi makin yakin dengan dukungan yang akan Nurdin peroleh dari rakyat Indonesia? Jawabannya: TIDAK MUNGKIN 3x (supporter Indonesia mode: on). Coba lihat spanduk-spanduk di bawah ini:

Ganyang Nurdin. Sumber: fajarhartono.co.cc
Ganyang Nurdin. Sumber: fajarhartono.co.cc
Thanks to Alfred But Not to Nurdin Halid (Sumber; fajarhartono.co.cc)

Thanks to Alfred But Not to Nurdin Halid (Sumber; fajarhartono.co.cc)

Tabloid untuk Tabok Nurdin Halid (Sumber: forum.detik.com)
Tabloid untuk Tabok Nurdin Halid (Sumber: forum.detik.com)
Ganyang Nurdin (Sumber: forum.detik.com)
Ganyang Nurdin (Sumber: forum.detik.com)

Ya, begitulah ceritanya. Rakyat Indonesia semakin cerdas dan tahu kemana mereka akan memberikan dukungan. Namun, tentu bukan tidak mungkin pintu perbaikan tertutup. Intinya, jika Nurdin Halid mencoba menjadi lebih baik, barangkali rakyat Indonesia akan dengan senang hati PSSI-nya dipimpin oleh dia. Itu jika dia tidak lagi bobrok lho ya.. Ingat Nurdin, PSSI milik Rakyat Indonesia. Timnas Indonesia pun milik rakyat Indonesia, bukan milik PSSI atau politisi atau mungkin perorangan apalagi yang namanya Bakrie itu. Blah. Uupss, sopan dong dila. :mrgreen:

Gamang…

ini hanyalah ungkapan perasaan saya mengenai politik dan pemilu dan regenerasi bangsa ini. dari lubuk hati yang paling dalam, saya hanya ingin damai, tanpa keributan, tanpa perebutan perhatian (caper). terkadang saya berpikir, pentingkah hal ini. lalu jika penting, kenapa banyak orang yang mempermainkan ini? politik hanya digunakan untuk pencarian kekuasaan. sehingga ada kesan politik ialah kotor. saya memang bukan Soe Hok Gie yang begitu cinta dengan idealisme-nya. saya pun bukan orang partai dan tidak mau disebut orang partai A, B atau C. saya bukan orang yang golput karena alasan khilafah atau salafiyah atau karena memang tergabung dalam persatuan golput nasional. saya hanya orang yang bertanya-tanya keheranan dan berpikir dalam kebingungan, seharusnya diapakan bangsa ini? namun, dalam kebingungan, saya masih terhibur dengan adanya video Cokbun dibawah ini. ini video animasi favorit saya. pembuatnya bernama Cokbun. saya kopi video ini dari youtube.com. dulu ketika April 2009 saya sempat mempublikasikannya. dan buat teman-teman yang belum sempat lihat, silahkan lihat saat ini. dijamin, anda akan tertawa sambil mengurut dada kemirisan. m029

Janjiku Kepadamu

banner_ctd125_02Wow, tulisan yang akan saya buat kali ini ialah untuk memenuhi tema menulis yang terjadwal tiap awal bulannya dari creative theme day. Tema awal bulan Juli ini ialah, ‘STOP OBRAL JANJI’. Itulah kenapa saya memilih judul ‘Janjiku Kepadamu…’ kali ini. kayak judul lagu yah? Heheh…. (sebenernya tulisan ini harus di-posting tanggal 1 Juli, tapi koneksi internet di rumah DC terus pada tanggal itu, padahal saya harus bergadang nungguin koneksi-nya internet, tapi sayang koneksinya down terus. maap yah. moga bisa dimaklumi)

Kita sebagai warga Negara Indonesia yang baik, pastinya sudah tahu bahwa tanggal 8 Juli 2009 nanti akan diadakan pesta demokrasi lagi, yakni pemilihan presiden dan wakil presiden 2009-2014. sayangnya saya belum bisa ikut jadi kandidat dalam pemilihan ini. umm, mungkin tahun 2024 atau 2029 nanti saya bisa ikut serta jadi salah satu peserta yg dipilih sebagai presiden RI. Doakan yah. Heheh *nyari dukungan dari sekarang :mrgreen:*

Aneh bin lucu ketika ada orang-orang yang menebar janji pada hanya waktu tertentu seperti menjelang pemilu begini. Janji yang terkadang muluk-muluk sehingga bisa membuat orang bermimpi dan melambung terlalu jauuuhhh hingga terlempar ke luar galaksi Bima Sakti. Janji yang membuat orang tidak lagi percaya pada orang lain bahkan hingga ke tahap benci. Waduh, bahaya kan?

Saya pun sebenarnya pernah merasakan bagaimana berjanji muluk-muluk dan akhirnya harus mengingkari. Untungnya tidak ada yang menuntut saya, namun saya tetap masih dan akan selalu ngeri dan berpikir, bagaimana nanti di akhirat?? Bagaimana?? Bagaimana di akhirat nasib saya yg sering ingkar janji?? Aduuuhhh! Dan itu baru seorang dila yang Cuma berperan sebagai rakyat biasa di dunia ini lho. Bagaimana dengan mereka yang memegang peranan penting itu ya??

Mungkin jika saya boleh memberikan saran. *wah si dila munafik bener mau ngasih saran. Padahal dia sendiri kadang suka ingkar janji gituh* yaa, boleh dunk ya sedikit ngasih saran. Begini, buat kakek dan nenek kami yang sekarang menjadi peserta pemilihan capres-cawapres, rancanglah perencanaan yang real sesuai dengan masalah yang tengah dihadapi bangsa kita saat ini. utak-atik sesuai kemampuan bangsa kita juga. Jangan sampai mengiyakan dan mengadakan kontrak dengan berbagai pihak namun tak bisa menjalankan. Yang jelas jangan kayak saya yang ketika diangkat jadi capres BEM fakultas tidak bisa membuat visi-misi. Karena memang tidak mempelajari keadaan fakultas terlebih dahulu.

Lalu buat blue print dan selalu adakan transparansi program kerja. Maksudnya publikasikan kepada masyarakat mengenai kejelasan proker yang akan dan telah dijalankan. Terkadang masyarakat suka suudzon kepada pemerintah gara-gara pemerintah yang tidak mau terbuka.

Trus apalagi yah?? Yang jelas STOP OBRAL JANJI. Jangan asal umbar janji. *aduh, kehabisan ide nulis nih dila*.. pokoknya begitu ya nenek Mega dan kakek Prabowo, kakek SBY dan Budiyono dan kakek JK-Win. Baca lagi shiroh tentang kepemimpinan Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, Umar bin Khatab RA, Usman bin Affan RA, Ali bin Abi Thalib RA dan Umar bin Abdul Aziz RA. Dan intinya “gigit” terus Qur’an dan sunnah agar selamat dan bisa berkah kepemimpinannya.

PS. Tulisan ini dibuat dengan kondisi saya yang cukup ‘gado-gado’ saat ini. antara penat dan lelah, sedih campur riang gembira dan juga semangat dan harapan. Setelah dua minggu kebelakang ketegangan dan kepenatan memenuhi nuansa pribadi saya. bertahan selama berhari-hari di kampus, engga pulang-pulang demi urusan revisi skripsi dan proses pendaftaran wisuda yang melelahkan. Belum lagi harus diikuti orang gila berjenis kelamin laki-laki, hiiiiiyyyy!! Dan dua minggu sekarang ini, saya kembali dibuat lelah karena harus masuk kantor hampir tiap hari. Padahal biasanya Cuma sekali dalam seminggu.. Woa,,, ternyata cari uang itu capek yah?! Padahal saya ngantor itu Cuma iseng karena mau belajar dan nyari uang saku tambahan aja lho, tapi penatnya luar biasa juga. Padahal baru segitu yah. Namun senang juga sih sering masuk kantor akhir2 ini. karena pastinya uang yang akan saya tabung akan bertambah dan saya akan bertemu dengan student volunteer dari Hawaii yang lagi magang di kantor saya itu. meski dia cukup merepotkan di kantor, namun senang bisa practice English sama dia tiap hari, meski akhirnya omongan kita sering gak nyambung karena saya tidak mengerti bahasa inggris yang ia gunakan dan begitu juga sebaliknya. Hehe, aneh! Belum lagi sedikit upset gara2 koneksi internet di rumah disconnect terus. Makanya jarang OL akhir2 ini. *sekalian curhat nih :mrgreen:*

Lewat Teater, Kami Bicara Soal Indonesia

*saat latihan* adegan pembuka: para warga Desa Miskin tengah beraktivitas. terlihat sang pembawa prolog tengah mengelilingi panggung sambil membaca puisi.

*saat latihan* adegan pembuka: para warga Desa Miskin tengah beraktivitas. terlihat sang pembawa prolog tengah mengelilingi panggung sambil membaca puisi.

Akhirnya, alhamdulillah, saya punya ide baru lagi untuk menulis. Dengan mood yang baik dan inspirasi yang telah menunggu mampir beserta kata-kata yang siap diluncurkan di pikiran brilian ini.

Pemilihan-pemilihan umum-disingkat sebagai PEMILU. Kabarnya pemilu merupakan wujud nyata demokrasi, sehingga banyak yang menyambut baik pemilihan umum model begini yakni yang dengan cara langsung dipilih dari rakyat. Tapi ternyata dengan pemilu pun pemimpin yang lahir tidak bisa menghasilkan apa-apa, malah terkadang rakyat merasa sengsara dengan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan kondisi mereka. Lalu mengapa pemilu harus dipe

*saat latihan* masih dalam adegan aktivitas warga

rtahankan? Hmm….

Soal pemilu yang carut marut ini, kami dari mahasiswa hanya bisa mengkritisi dengan berbagai cara terbaik kami. Entah itu dengan menulis blog seperti yang saya lakukan sekarang ini, atau dengan aksi turun ke jalan, atau dengan aksi teaterikal, dll. Nah, dengan begitu kami berharap suara-suara kritis kami bisa didengar dan dipertimbangkan dan ditindaklanjuti oleh mereka yang merasa berwenang.

100_0087

*saat latihan* adegan debat kandidat

Soal aksi teaterikal, saya pun pernah melakukannya dengan teman-teman sekelas. Meski sebenarnya aksi yang kami lakukan bukan sebenar-benarnya aksi. Melainkan kami tengah melakukan ujian akhir semester (final test) kami untuk mata kuliah DRAMA. Ketika itu kami sekelas diminta untuk melakukan pementasan drama dengan tema bebas dan karya bebas juga. Akhirnya kami mengambil kesempatan ini untuk benar-benar mementaskan naskah drama buatan kami sendiri (buatan sutradara kami, Waode Fadhilah Fitriah). Waode memilih tema yang tidak biasa, yakni soal situasi pemilu di Indonesia yang carut marut. Kebetulan ketika itu sedang ramai-ramainya berbagai pilkada (pemilihan kepala daerah) di berbagai kota dan kabupaten dan provinsi di Indonesia yang ternyata (lucu dan miris) selalu berakhir dengan sedikit (kalo gak mau dibilang banyak) kericuhan. Maka kami bersegera menuangkan konsep itu ke dalam teater yang akan kami pentaskan untuk UAS kelas kami.

Ceritanya berlatar belakang sebuah desa miskin dan kumuh yang sudah sampai saatnya melangsungkan pemilihan kepala desa yang baru. Penduduk di desa miskin itu benar-benar terdiri da

*saat latihan* adegan mengantri nyoblos

*saat latihan* adegan mengantri nyoblos

ri orang miskin yang gajinya dibawah UMR. Sehari-harinya mereka hanya memikirkan bagaimana mereka harus makan dan tidak familiar sama sekali dengan pilkada yang akan berlangsung di desa mereka. Hingga suatu saat panitia pilkada datang berkunjung untuk memberitahu soal pilkada secara umum berikut calon-calonnya. Para penduduk cukup antusias mendengarnya dan berharap mereka bisa mendapatkan pemimpin baru yang adil dan sejahtera.

Kemudian saat kampanye tiba. Kebetulan untuk pilkada di desa kumuh ini hanya ada dua calon, yang pertama calon perempuan (Mrs. Ratu stared by Nurhayati) dan yang kedua calon laki-laki (Mr. Sudarisman stared by Yoga Sudarisman). Mrs. Ratu mendapat giliran kampanye pada hari pertama, sedangkan Mr. Sudarisman mendapat giliran pada hari kedua. Kampanye mereka dihadiri warga dengan cukup antusias. Mereka, para calon tersebut, selain membawa a

saat break latihan... huah, lumayan serius lho kita evaluasi...

saat break latihan... huah, lumayan serius lho kita evaluasi...

sisten pribadi dan ajudan mereka, juga membawa janji-janji untuk perubahan di desa miskin tersebut. Sehingga warga semakin antusias.

Sebelum diadakan pilkada, panitia pilkada inisiatif bersama warga desa miskin yang terdiri dari pemulung, pengemis, tukang dagang, pengamen, dan juga preman mengadakan debat kandidat pada H-1. Pada momen tersebut terlihat para calon saling beradu argument dan saling pamer janji. Sementara para warga terbagi atas dua kubu yang mendukung Mrs. Ratu dan Mr. Sudarisman.

Dan akhirnya, tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yakni pemilihan pilkada di desa miskin itu. Ketika para warga tengah sibuk berbaris, ternyata ajudan dari masing-masing kandidat tengah berusaha memberi uang kepada para warga secara diam-diam. Uang yang diberikan itu dimaksudkan untuk agar supaya (halaahh, mubazir kata dech) para warga bisa memberikan suaranya di bilik suara. Dan merupakan konsep yang brilian, ketika di panggung bilik suara di-setting menghadap penonton dengan tanpa penutup dan penghalang apapun di pintu depan. Sehingga penonton bisa melihat calon mana yang dipilih warga.

ini dia sutradara kelas kami, Waode Fadhilah Fitriah...

ini dia sutradara kelas kami, Waode Fadhilah Fitriah...

Oke, tiba ke perhitungan suara, ternyata hasil suara seri untuk masing-masing kandidat. Dan ini sangat mengherankan (ternyata kedua kandidat melakukan money politic dan penggelembungan suara). Akhirnya kedua kandidat tidak menerima dan saling menuduh. Panitia pilkada pun tidak bisa berbuat banyak. Sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan. Perkelahian antar kedua kubu pun tidak bisa dielakkan. Dan kericuhan pun terjadi. Semua berkelahi. Semua berteriak dan berlari. Juga menangis. Dan akhirnya, lampu panggung mati. GELAP. Semua mati. Tidak ada kehidupan. Kemudian lampu panggung menyala lagi, sutradara maju ke depan panggung. Dan disanalah para penonton baru sadar jika pentas telah usai. Tepuk tangan pun MERIAH. Dan kami mendapat nilai A+ untuk UAS DRAMA ini. Alhamdulillah….

Phhuiiihhh…. Panjang betul ceritanya yup. Baik teman, jadi intinya begini, lewat pentas drama tadi kami mencoba memberi pesan kepada para penonton soal apa yang tengah terjadi di Negara kita ini. Sungguh menngerikan. Saya menulis ini karena saya pikir momennya tengah tepat, yakni di saat hari-hari menuju pilpres di Juni 2009 nanti. Semoga bermanfaat dan ada hikmahnya.

Thx to:

  • Allah SWT
  • Rasulullah SAW
  • Momen PILKADA DKI JAKARTA pada Juli 2007. Mungkin ini adalah salah satu inspirasi bagi kami dalam berteater.
  • Mrs. Ina (Dosen DRAMA yang udah ngasih nilai “excellent” buat kita, tapi sayangnya karena nilai UTS kita jelek-jelek, nilai akhirnya jarang yang dapet A. hehehhh)
  • Teman-teman di kelas B jurusan Sastra Inggris 04 UIN Syahid; Ode (sutradara
    ini foto beberapa pemain dgn pengamen2 cilik yg berhasil masuk kampus tanpa ketauan satpam. ada Mika, si-wartawan yg lagi megang mic. trus Nuril yg berperan sebagai banci. dan Dila (penulis blog ini) dgn peran sebagai pemulung. hehehhh

    ini foto beberapa pemain dgn pengamen2 cilik yg berhasil masuk kampus tanpa ketauan satpam. ada Mika, si-wartawan yg lagi megang mic. trus Nuril yg berperan sebagai banci. dan Dila (penulis blog ini) dgn peran sebagai pemulung. hehehhh

    ), Nova (pembawa prolog), Edy (penata musik), Wulan (make-up), Nur (Mrs. Ratu), Yoga (Mr. Sudarisman), Habibi (Ajudan Mr. Sudarisman), Adrian (Ajudan Mrs. Ratu), Risa (Asisten Mrs. Ratu), Devi (Asisten Mr. Sudarisman), Iqbal (ketua panitia pilkada), Bayu (staff penitia pilkada), Ipeh (staff panitia pilkada), Lisa (pengemis), Yanti (preman pasar), Nuril (banci pasar), Meiva (tukang sayur), Aya (tukang ikan), Dening (tukang jamu), Ida (pembeli 1), Kiki (pembeli 2), Mela (pembeli 3), Mika (wartawan TV), Ede (kameramen), Toriq (anak dari Mrs. Ratu yang berpacaran dengan anak Mr. Sudarisman), Nufus (anak dari Mr. Sudarisman yang berpacaran dengan anak Mrs. Ratu), dan dila alias diriku sendiri (sebagai pemulung).

  • Teman-teman yang udah nonton.
  • Juga semua pribadi yang tak bisa kami sebutkan satu per satu.

Dari TPS 13 Kami Meletakkan Harapan

tps13

Prolog: akhirnya, saya menggunakan hak pilih saya setelah 4 kali berturut-turut saya tidak mendapat hak itu. senang, cukup senang perasaan ini. Sebab saya bisa memilih siapa wakil bagi rakyat yang sesuai dengan hati. Dan saya tidak mendapat dosa label dari MUI, karena saya tidak golput.

 

Pada hari kamis ini saya berharap cemas bersama adik saya yang juga menunaikan hak perdananya untuk memilih calon wakil rakyat yang berhak duduk di kursi dewan. Kami mencoba menenangkan diri dengan melihat contoh kertas suara dan melihat calon yang akan dipilih dari dekat. Siapa yang mau dipilih ya? Bingung, terlalu banyak! Tapi kami berdua lekas tersenyum ketika mengingat perkataan ayah kami soal siapa yang harus dipilih, “Pilih partai yang gak menang aja. Kasian gak ada yang milih. Udah keluar modal banyak, eh gak ada suaranya. Entar stress lagi.”

 

Ketegangan makin bertambah ketika nomor urut kami dipanggil. Kami pun bergegas maju menuju panitia dan menerinma 3 kertas suara untuk kemudian mengantri menunggu kosongnya bilik suara. Dan tibalah kami harus menuju bilik dan menunaikan hak kami. Gemetar kami memegang kertas suara, seperti sedang ujian rasanya. Sebab saya dan adik betul-betul tidak tahu dan tidak kenal siapa calon-calon yang namanya tertera disana. Makin bingung! Tapi saya tetap harus memilih, tidak boleh tidak. Dan ini harus cepat usai, karena masih banyak pemilih yang tengah mengantri di luar bilik. Dan beberapa menit kemudian, akhirnya kami telah menentukan pilihan. Ahh, PLONG rasanya!

 

Para kalian yang terpilih nanti, yang menjadi dewan terhormat nanti, yang menjadi wakil kami nanti,

 

Kami telah memilih sesuai HATI NURANI kami. Dan pilihan kami adalah anda, tidak mungkin salah. Karena kalian adalah orang-orang yang termasuk dalam GOLONGAN KARYA dan ber-SARIKAT INDONESIA yang selalu ber-KARYA PEDULI BANGSA.

 

Kalian adalah orang-orang yang PEDULI RAKYAT NASIONAL, yang tidak hanya mementingkan PENGUSAHA DAN PEKERJA INDONESIA saja, namun juga BURUH.

Kalian adalah PEMUDA INDONESIA yang PATRIOT dan PELOPOR di REPUBLIKA NUSANTARA ini.

 

Maka jika memang kalian ditetapkan menjadi perwakilan kami, jangan pernah lagi mengkhianati kami. Tetaplah dalam BARISAN NASIONAL ini. Sebab tetap rakyat yang memiliki KEDAULATAN, bukan kalian atau mereka yang secara prestise memiliki embel-embel lebih. Ingat, ini bukan mandat biasa, ini AMANAT NASIONAL, amanat dari rakyat.

 

Para kalian yang nanti terpilih,

Demi BULAN BINTANG dan MATAHARI BANGSA ini, wujudkanlah apa itu definisi KEADILAN SEJAHTERA dan apa itu KEADILAN DAN PERSATUAN INDONESIA kepada aksi yang lebih nyata. Rakyat tidak mengerti sesuatu yang absurd, tidak mengerti sesuatu yang abstrak. Yang kami hanya tahu ialah kenyataan yang diwujudkan dengan bukti dalam DAMAI SEJAHTERA.

 

Para kalian yang menjadi BINTANG REFORMASI di hati kami, kami hanya minta agar hidupkanlah kembali PERSATUAN PEMBANGUNAN ini. Dan wujudkanlah PERSATUAN DAERAH agar terwujud GERAKAN INDONESIA RAYA yang konsisten.

 

Sebab meski beragam suku, bahasa, agama hingga pemikiran kita mengenai NASIONAL INDONESIA MARHAENISME, DEMOKRASI PEMBARUAN, DEMOKRASI KEBANGSAAN, DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN, atau tentang makna DEMOKRAT. Kita tetaplah PENEGAK DEMOKRASI INDONESIA ini yang bersatu dalam padu. Satu darah dan satu tulang yang tentunya selalu bermesraan dalam KASIH DEMOKRASI INDONESIA. Ah, lagi-lagi Indonesia, ya jelas, karena kita tinggal di Negara yang makmur ini.

 

Para kalian yang terpilih nanti, meski berbeda partai, namun susunlah kembali PERJUANGAN INDONESIA BARU bersama. Karena yang kalian lakukan ialah sebuah KARYA PERJUANGAN bagi bangsa ini. Sebab sesungguhnya bangsa ini telah bangkit dan sadar, namun sayangnya terkesan berjuang sendiri-sendiri. Satukanlah KEBANGKITAN NASIONAL ULAMA dalam PERSATUAN NAHDLATUL ULAMA INDONESIA sehingga akan memperkuat KEBANGKITAN BANGSA ini. Agar bangsa ini lebih tegar dan kuat daripada NASIONAL BANTENG KEMERDEKAAN *sebab kita kan manusia, bukan banteng*. Kalau banteng saja bisa di-nasionalkan untuk kemerdekaan, apalagi manusia yang notabene lebih cerdas.

 

Above all, para kalian yang terpilih nanti,

Kami sepakat untuk satu tujuan Negara kami, yakni agar Indonesia ini menjadi lebih MERDEKA. Merdeka dari intervensi apapun! Merdeka mengembangkan negaranya sendiri, mengurus bangsanya sendiri tanpa campur tangan bangsa lain. INDONESIA SEJAHTERA, itulah benar-benar harapan kami.

 

Thx to:

Nama-nama dari 44 partai yang saya gunakan untuk coretan ini. Jazakumullah…