Kenapa Susah Tertib?

tulisan semi-curhat ini saya dedikasikan untuk temaP3190025n-teman FM (bukan Fadhilatul Muharram :mrgreen:) yakni kependekan dari FOCUS MANAGEMENT, calon perusahaan besar dari angkatan 2004 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (aamin). disamping ini saya pampang gambar mereka ah, lumayan, biar kerennya kelihatan (yang gambarnya gak ikut dipampang, jangan marah ya 😉 ) Baca lebih lanjut

Hati-Hati Provokasi dari Hatimu, Teman

Lagi-lagi didedikasikan untuk ikhwah, teman-teman yang berkecimpung di dunia Dakwah Kampus UIN SyaHid. Kalian pejuang, tetaplah menahan gelombang lunturnya semangat. Juga untuk teman-teman blogger yang baca artikel ini, tetap menjaga hati.

GeNing loBA eCeng

Akhirnya di penghujung bulan Mei 2009 ini saya “dipaksa” oleh diri saya sendiri untuk menulis tentang sesuatu yang tengah RISKAN dan MENGKHAWATIRKAN bagi saya dan bagi kebanyakan manusia yang peduli dengan kekotoran hati. Saya menulis ini pada hal yang sangat mendasar, ialah untuk MENGINGATKAN diri saya sendiri juga teman-teman seperjuangan saya dan bagi mereka yang kebetulan tengah membaca blog saya ini.

Masih soal DUNIA MAYA dan konco-konconya. Akhir-akhir ini kita semua tahu bahwa manusia dunia tengah kena SINDROM FACEBOOK atau situs jejaring social lain yang terkadang membuat para penggunanya terlena luar biasa. Setiap saat yang dibicarakan hanya facebook. Bahkan ketika ada rapat penting pun, terkadang facebook dibawa-bawa. Bukan sesuatu yang baru sebenarnya, karena hal ini telah lama ada. Ya, virus facebook pun telah menjangkiti ikhwah UIN yang kurang waspada dengan hatinya *termasuk saya sepertinya*.

Situs jejaring social seperti facebook dan konco-konconya, tidak bermasalah sebenarnya. Namun yang menjadi penyakit ialah para pengguna situs jejaring social tersebut. Seringkali mereka menggunakan situs itu dengan segala hal yang kurang penting. Khususnya bagi ikhwah atau bagi mereka yang mengaku berseru kepada kebaikan, namun ternyata mereka sendiri lalai. Dari situs itu, yang pada awalnya berniat ingin menjalin silaturahim, eh malah kelempar ke jurang-jurang VMJ. Yeeeaaa,, lagi-lagi virus merah ini, aduh!!! Mungkin teman-teman bilang, “ah engga kok. Engga mungkin ane kena beginian. Engga mungkin saya begituan. Dll.” Tapi ingat teman-teman, ikhwahfillah, terkadang VIRUS telah menjalar dalam aliran darah kalian dengan TANPA DISADARI.

Bukan saya mengatakan bahwa FB tidak baik, sama sekali bukan. Tapi yang ingin saya tekankan disini ialah, ketika kalian berurusan dengan FB sambil membawa NIAT yang tidak-tidak. Yang pada awalnya ke internet hanya untuk urusan kuliah dan dakwah, sekarang jadi ditambah timingnya untuk urusan FB dan mengomentari status orang lain dengan komen-komen yang tidak penting. Masih mending jika komentar itu terjadi dengan sejenis, namun jika komentar itu terjadi antar lawan jenis?? Luruskan niat, bapak2 dan ibu2…. Ayo luruskan!

Jadi, hati-hati dengan provokasi hatimu, teman! Jangan pancing-pancing lawan jenis dengan komentar yang TIDAK PENTING. Kuatkan, puasakan nafsu kita. Dan saya sarankan buat teman-teman yang lagi addict sama FB (jadi inget saya dulu, kecanduan beberapa bulan lamanya), cobalah beralih ke BLOG apakah itu untuk selamanya atau untuk sementara. Karena menurut saya, dengan menjadi blogger, kita tidak hanya sekedar nge-net, tapi juga belajar; BELAJAR MEMBACA dan BELAJAR MENULIS. Untuk hal ini pernah saya jelaskan dalam tulisan saya yang berjudul PERAN DAKWAH ADK UIN SYAHID DI DUNIA VIRTUAL: ANALISA DAN TAKSIRAN. Oke teman, tetap semangat! 😉

Lanjutan, bisa buka artikel Budaya nge-Blog = Budaya MENULIS.

Peran Dakwah ADK UIN Syahid di Dunia Virtual: Analisa dan Taksiran

Didekasikan untuk dakwah kampus di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Ikhwah, bersemangatlah dalam juang. Karena antum adalah bagian dari proses kemenangan itu.

Dunia dakwah merupakan dunia yang tidak pernah lepas dari seorang manusia beriman yang pada diri-dirinya melekat predikat da’i. Banyak jenis dakwah yang bisa dipilih da’I sebagai tempat dalam merangkul objek dakwahnya, dan dari sekian jenis itu terdapat dakwah virtual. Dakwah virtual merupakan ranah baru dalam era modern ini, dimana teknologi berkembang sedemikian pesatnya. Namun sayangnya tidak banyak da’I yang menggeluti dakwah virtual ini secara massive.

Suatu ketika saya tidak sengaja membaca sebuah komen pada sebuah note tentang dakwah. Komen itu ditulis oleh seorang ikhwah yang berasal dari salah satu kampus teknologi terbesar di Indonesia yang berlokasi di barat Jawa. Saya tidak hapal persis komennya namun saya dapat menangkap maksudnya,kurang lebih begini, “…di kampus kita itu persenan antara dakwah dunia nyata dan dunia maya itu 50% : 50%. Sementara di kampus lain 90% : 10%.”

Ketika membaca komen tersebut, saya jadi berpikir sendiri tentang peran dakwah ADK UIN di ranah virtual. Kurang lebih analisa seorang ikhwah tersebut bisa dibenarkan, mengingat kampus kita yang mungkin belum terlalu hi-tech. lantas, jika mau mengambil sample-nya yakni 90% (dunia nyata) : 10% (dunia virtual), bagaimana peran dakwah yang 10% ini?

Begini, saya mencoba membagi dakwah 10% tersebut kepada beberapa bagian di dunia virtual. Bagian ini saya sebut sebagai alat atau sarana atau senjata. Coba lihat bagan berikut di bawah.

clip_image001[9]

Ya, kira-kira seperti itu pembagian dakwah di dunia virtual. Menurut pengamatan saya, yang paling sering digunakan ADK UIN ialah email dan chatting, milis dan situs jejaring sosial seperti FS, FB, Tagged, Hi5, Twitter, dll. Sementara Blog dan Website masih kalah popular dibandingkan situs jejaring sosial itu. meskipun sebenarnya lembaga-lembaga dakwah kampus baik intra maupun ekstra yang ada di UIN telah memiliki websitenya sendiri, namun ternyata ADK lebih suka mengunjungi FS atau FB atau malah lebih senang chatting. Meski sebenarnya juga tidak ada yang salah dalam memilih sarana dakwah virtual ini selama itu masih ada unsur kepada dakwah dan menyeru kepada kebaikan.

Begitu juga dengan blog. Masih banyak ADK UIN yang belum kenal dengan blog, dalam artian membuat dan me-maintenance-nya. Padahal jika mau di-massive-kan, blog bisa menjadi sarana yang ampuh untuk merangkul objek dakwah secara menyeluruh. Di beberapa kampus besar Indonesia, hampir seluruh ikhwahnya memiliki blog. Sehingga mereka terbiasa saling blogwalking (berkunjung ke blog orang lain), atau mempromosikan blog mereka kepada objek dakwah yang tersebar baik di kampus mereka sendiri ataupun di luar kampus.

Sekali lagi tidak masalah memilih jenis sarana dakwah yang akan digunakan di dunia virtual. Namun ketika kita berbicara dunia virtual, pasti kita akan berbicara mengenai cara kita berdakwah disana. Caranya tidak lain tidak bukan ialah dengan menggunakan tulisan. Nah ini berarti kembali lagi kepada sarana yang belum terlalu dijamah dengan massive oleh ADK UIN, yakni website dan blog.

Dunia Virtual = Dunia Komunikasi Tulis dan Baca

Email dan milis (mailing list) juga merupakan sarana yang baik dalam menyebarkan pemikiran kita lewat tulisan. Namun lebih baik jika mem-posting tulisan yang telah kita pada website dan blog milik lembaga (organisasi) dakwah atau pribadi. Sehingga ketika orang lain membutuhkan tulisan tersebut, akan lebih mudah dicari.

Baik, kembali ke topik tulis dan baca sebagai senjata ampuh di dunia virtual (begitu juga video dan musik dan animasi). Tulisan merupakan alat yang paling tajam dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita. Ia menjadi alat propaganda yang selalu menjadi pilihan pertama dalam mempublikasikan pemikiran brilliant. Maka tidak heran jika banyak orang pintar yang menggunakan tulisan sebagai penyampaian ide-ide mereka. Bahkan syarat yang harus dimiliki untuk menjadi seorang professor ialah berapa banyaknya buku yang telah ditulis si calon professor tersebut.

Namun sayangnya, ternyata menulis belum menjadi tradisi yang baik di kalangan ADK UIN. Ikhwah UIN secara umum *menurut pengamatan saya* jarang menjadikan menulis sebagai hobby yang harus ditekuninya. Mereka menulis jika hanya disuruh mengisi rubric tertentu dalam bulletin dakwah kampus. Itu pun terkadang yang menjadi isi bulletin adalah saduran dari tulisan orang lain yang telah dimuat di media tertentu yang terkadang sumbernya pun tidak dicantumkan!!

Cukup miris sebenarnya. Pernah saya mendapat kiriman balasan email dari seorang akh tentang tulisan yang cukup bagus. Ketika itu saya tertarik untuk mempublikasikannya dalam blog saya. saya pun meminta izin sebelum memuat artikelnya pada akh tersebut dan diperbolehkan. Selanjutnya ada artikel lagi darinya dan isinya cukup bagus, maka saya kembali tertarik untuk mempublikasikannya. Namun kali itu saya mencoba kembali bertanya bahwa apa benar ia yang menulis artikel tersebut? Dan ia pun menjawab, “Bukan. Itu gabungan beberapa artikel yang ane punya,”

Seketika saya terhenyak dan agak menyesal dengan pengakuan itu. dan kembali menyesal mengingat saya pernah mempublikasikan artikel darinya. Memang, di bagian akhir artikel terdapat keterangan ma’roji. Namun tetap saja membuat saya rancu jika itu benar merupakan gabungan artikel orang lain yang dimilikinya. Kecuali jika ia membuat tulisan itu sendiri dengan menggunakan artikel lain sebagai sumber pendukung. Jika artikelnya hanyalah gabungan dari beberapa artikel orang lain, alangkah baiknya diberi keterangan pada awal tulisan. Misalnya “artikel ini merupakan gabungan dari beberapa artikel karya si fulan dan fulanah yang telah dimuat di majalah/website/buku….”

Berdakwahlah dengan Menulis

Maka berdakwahlah dengan menulis, ikhwah. Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa menulis ialah salah satu cara ampuh berdakwah di dunia virtual. Menulislah setiap hari walau sekali, walau satu kalimat, walau satu paragraph.

Keluarkanlah ide-ide brilian itu walau hanya satu falsafah, walau satu bait, walau satu pasal, walau satu ayat. Manfaatkanlah fasilitas elektronik yang kita punya demi mempermudah lahirnya tulisan kita. Kerena banyak juga ikhwah yang jago menulis namun sulit mem-publikasi-kannya di dunia virtual karena kekurangan sarana.

Dan ingat, JANGAN PLAGIAT!! Jika menggunakan sumber lain sebagai penguat dalam artikel kita, cantumkanlah darimana sumber asalnya. Jika hilang atau lupa akan asal sumber tersebut, cukup tuliskan begini, “kalimat ini saya ambil dari salah satu artikel yang sayangnya tidak terdapat nama penulisnya” atau penggalan kalimat lain yang menyatakan bahwa ada sumber lain yang kita gunakan untuk artikel kita.

Sekali lagi semangat. Semoga tulisan ini menjadi bermanfaat.

Wallahua’lam