Kopdar Plesiran Boplo

Well, ini kopdar tak terduga alias yang direncanakan dalam waktu singkat saja. Awalnya saya dan kak Putri janjian bersama bunda Monda untuk ikutan Plesiran Tempoe Dulu edisi Bouwploeg dan sebagian kawasan Menteng, Gondang Dia dan Cikini. Tapi sayang kak Putri mendadak ada urusan yang tidak bisa ditinggal. Akhirnya saya pun berdua saja kopdarnya di acara yang diadakan oleh Sahabat Museum tersebut.

Nah, kick start dimulai dari halaman parkir Masjid Cut Meutia. Disana kami, para peserta plesiran, mendapatkan penjelasan dari mbak narasumber, Nadia, yang bekerja untuk Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA). Banyak penjelasan dari mbak Nadia yang menarik hati saya sehingga saya pun berdesis, “History is really amazing!” . Dari sana saya pun baru tahu kalau ternyata Masjid Cut Meutia adalah salah satu bangunan tua yang menjadi heritage sejarah di Jakarta. Bangunan tuanya pun bukan bangunan sembarangan. Awalnya bangunan yang didirikan tahun 1912 ini bernama N.V. de Bouwploeg (Boplo) yang merupakan kantor pengembang kawasan perumahan Menteng. Proyek perumahan Menteng ini pun dinamakan Nieuw Gondangdia dengan PAJ Mooijen sebagai arsiteknya. Jadi teman, pada zaman Belanda dulu, kawasan Menteng adalah kawasan perumahan pertama di Jakarta yang dirancang serba komplit dengan segala fasilitas seperti sekolah dan tempat ibadah.

Gedung Boplo pun berubah fungsi setelah perusahaan tersebut bangkrut. Setelah berganti-ganti menjadi fungsi dari berbagai instansi di berbagai zaman, akhirnya sejak 1985 gedung ini pun dialihfungsikan sebagai Masjid Cut Meutia Gondangdia. Ada sedikit yang berubah dari bangunan ini sejak difungsikan sebagai masjid, salah satunya ada bagian tangga yang dipotong dengan tujuan dapat menampung banyak jama’ah.

Langit-langit Masjid Cut Meutia. Lihat betapa tua dan kokohnya atap bangunan ini.

Kemudian kami pun berjalan beriringan menuju Bistro Boulevard (sempat bernama Buddha Bar), sebuah cafe bergaya klasik. Dan lagi-lagi saya pun baru tahu jika dulunya cafe ini merupakan bangunan peninggalan zaman Belanda yang dibangun tahun 1913 dan diresmikan tahun 1914. Dulunya gedung ini bernama Bataviaasche Kunstkring atau Perkumpulan Kesenian Batavia  yang seringkali digunakan sebagai ajang dan pagelaran seni seperti pameran lukisan-lukisan karya seniman terkenal dari Eropa seperti Van Gogh dan Pablo Picasso. Gedung yang juga merupakan gedung pertama yang menggunakan beton sebagain bahan bangunannya ini memiliki 2 pintu yakni pintu depan dan pintu samping karena memang ditujukan untuk 2 fungsi yaitu pagelaran seni dan restoran. Sepeninggal kompeni Belanda, gedung ini sempat digunakan oleh Jepang, lalu berganti fungsi sebagai kantor Madjlis Islam Alaa Indonesia (MIAI). MIAI adalah bentuk persatuan warga NU dan Muhammadiyah ketika itu, sebab menurut artikel-artikel yang saya baca, para pendukung utama Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia, yang dibentuk oleh MIAI) berasal dari Muhammadiyah dan NU. Setelah itu, gedung ini berubah fungsi sebagai Kantor Ditjen Imigrasi sebelum sempat terlantar beberapa waktu lamanya. Dan kini setelah diambil alih oleh Pemda DKI, gedung ini pun disewakan kepada mereka yang ingin menggunakannya. Maka sejak itu Bistro Boulevard pun eksis di Jakarta.

Gedung Kunstkring masa kini

Perjalanan dilanjutkan menuju Gedung Bank Mandiri di Jl. RP Soeroso. Lagi-lagi ini pun gedung jadul yang punya banyak nilai sejarah. Hihi, saya benar-benar katrok ah.😀 Gedung yang dibangun pada 1952 ini dulunya merupakan gedung BIN (Bank Industri Negara). Di sebelah gedung ini (masih satu halaman parkir) ada sebuah gedung karya F. Silaban yang merupakan arsitek Masjid Istiqlal. Gedung-gedung karya Silaban sangat mementingkan atap dan tiang sebagai pokok utama sebuah bangunan. Jadi tak heran kawan, jika kalian masuk ke Istiqlal, dapat dilihat dinding-dinding masjid tersebut lebih merupakan suatu pelengkap (citra rasa seni) dan bukan pokok utama bangunan. Berbeda dengan tiang dan atap masjid Istiqlal yang kokoh.

Gedung BIN Masa Kini

Gedung bagian langit-langit dan dinding. Semua masih asli, kecuali kaca-kaca yang melapisi dinding yang merupakan fasilitas tambahan.

Di seberang kedua gedung ini, ada Kantor Pos Cikini yang lagi-lagi-lagi adalah kantor tua. Ya ampun sekilas lalu orang-orang awam pasti tak menyangka kalau kantor pos ini merupakan gedung peninggalan zaman Belanda juga!:mrgreen: Ya, Kantor Pos Cikini memang sudah berfungsi sejak zaman Belanda. Wah.. Menarik ya teman jika kita tahu tentang sejarah suatu daerah dan tempat, apalagi jika daerah itu adalah daerah tempat kita lahir dan tumbuh besar. Saya ini lahir dan tumbuh di Jakarta Pusat namun benar-benar buta sejarah kota ini. Hikz😦

Kantor Pos Cikini masa kini

Ini Bunda Monda, Cantik kaan... hehe

Plesiran pun berakhir di kantor pos ini. Kami pun kembali beriringan ke halaman parkir Masjid Cut Meutia. Sementara para peserta lain sibuk dengan urusan masing-masing (pulang, makan, dll). Saya dan Bunda Monda pun melanjutkan acara kopdar dengan makan bersama. Ah indahnya kopdar.:mrgreen:

30 thoughts on “Kopdar Plesiran Boplo

  1. Kopdarrr lagi, yang bikin ngiler lagi lokasinya penuh dengan sejarah,,Oh ya fotonya Mbak Dhilla kok gak ada, yang ada hanya fotonya Bunda Monda,,

  2. Ping balik: Kopdar Boplo Menelusuri Gedung Bersejarah « Kisahku

  3. wahh gedung gedung tua jaman jaman belanda emang keren dan bagus klo difoto. Hmm kapan ya saya kopdar sama rekan blogger ahhaha maklum tinggal di udik :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s