Antara (baca: Jalan Kaki) Sudirman – Manggarai

Komuter jalan kaki beramai-ramai dari St. Sudirman ke St. Manggarai (foto by Muhammad Aminudin di page fans fb Solidaritas Jabodetabek untuk KRL yang Lebih Baik)

Lihat gambar disamping? Orang-orang sedang berjalan di tengah rel kereta api Stasiun Sudirman. Mereka nakal? Melanggar aturan? Tidak ada maksud begitu dalam diri mereka. Mereka melakukan ini bukan tanpa sebab. Kemarin sore (11/10) tepat di jam pulang kantor stasiun Tanah Abang mengalami gangguan listrik atas. Sehingga tidak bisa memberi sinyal bagi kereta yang akan masuk ataupun keluar st. Tanah Abang. Walhasil, para penumpang yang berada di st. Sudirman pun terlantar. Banyak yang mencari alternatif kendaraan lain ataupun menuju stasiun lain untuk mengejar kereta. Tetapi ada juga orang-orang (termasuk saya) yang memilih jalan kaki menuju stasiun Manggarai beramai-ramai.

Awalnya saya ingin menggunakan Trans Jakarta yang haltenya tidak terlalu jauh dari st. Sudirman. Hanya saja saya mempertimbangkan kepadatan dan lain sebagainya. Sehingga atas dasar penasaran dan mencari pengalaman, saya pun ikut rombongan long march menuju st. Manggarai. Ah, lelah dan sakit juga jalan di tengah rel kereta api itu. Soalnya batu-batu di rel kereta itu tajam-tajam lho. Ditambah banyak ranjau seperti beling, pecahan kaca atau hal-hal lain yang tidak mau saya sebutkan disini hehe.

Menurut perhitungan jam tangan saya, jarak tempuh dari st. Sudirman ke st. Manggarai dengan berjalan kaki hanya 45 menit. Wuih, lumayan jauh juga yah!! Ahaha… ini sih belum seberapa. Saya pernah merasakan yang lebih parah dari ini. Ketika banjir bandang melanda Jakarta di Februari 2007, saya termasuk yang menjadi korban. Bukan korban yang rumahnya kebanjiran. Tetapi korban ga dapat angkutan umum dari terminal Pulogadung menuju Bekasi gara-gara terhalang banjir. Alhasil saya pun berjalan kaki dengan air sebatas dada saya bersama-sama orang lain yang tidak saya kenal. Karena berjalan di dalam air sangat susah karena cemas dan khawatir terbawa arus banjir atau terkena sengatan listrik dadakan karena banyak tiang listrik yang harus kami lewati, maka kami orang-orang yang baru saling mengenal gara-gara kondisi banjir bandang Jakarta pun berpegangan tangan sepanjang jalan. Bayangkan saja teman, kami berjalan dengan badan terendam air (jenis air yang bermacam-macam, termasuk air yang sudah terkena minyak hitam) dari Pulogadung hingga Cakung. Wuih, sangat lumayan itu. Belum lagi kami sempat naik truk besar tanpa bak. Kemudian turun lagi dan melanjutkan jalan kaki hingga hampir mendekati perbatasan Jakarta – Bekasi. Hehe.. Menderita memang tapi seru!:mrgreen:

Lanjut ke cerita jalan kaki ke st. Manggarai. Ketika kami hampir sampai, kami tidak lagi melewati rel kereta api, namun mulai memasuki pemukiman warga yang ada di samping rel kereta. Banyak komentar dari para warga yang kami lewati:
“Ini semua yang dari Dukuh atas ya? Aduh, jauh juga ya? Hehe.” Seorang ibu tersenyum ramah.
“Owh, kereta lagi macet ya pak?” Bapak-bapak nanya.
“Gimana sih nih kereta ini.” Komentar bapak yang lagi ngaso di depan rumah.
“Pada Olahraga sore ini yak.” Salah satu anak muda yang lagi kongkow komentar.
“Bu, abis demo ya bu?” Sapa anak kecil yang lagi main sepeda.
“Biarin dah sekali-kali. Biar pada tau kampung.” Komentar seorang ibu sambil megang sapu lidi.
“Sini mampir-mampir dulu.” Seorang ibu mengajak mampir ke rumahnya.

hehe.. begitulah komen para warga yang kami lewati. Mungkin mereka bingung dengan banyaknya orang yang melewati perkampungan mereka dari arah Dukuh atas. Dan sesampainya di Manggarai sudah lewat waktu Maghrib. Sudah gelap. Ditambah hujan mulai turun. Saya pun langsung berdiri di peron menunggu kereta Bekasi lewat dengan nafas terengah-engah. Sekitar 15 menit kemudian pun kereta yang saya tunggu-tunggu tiba. Ternyata kereta Bekasi yang saya tumpangi malam ini adalah kereta 17.11 dari Tanah Abang. Ternyata masalah listrik di st. Tanah Abang sudah rampung. O-ow, kalau tahu begitu, saya menunggu saja di st. Sudirman sambil makan-makan di Food Court. Well, tak apalah. Saya jadi bisa jalan kaki bareng-bareng ke Manggarai, melewati rel kereta api dan masuk perkampungan. Kapan lagi saya bisa begini?😉

61 thoughts on “Antara (baca: Jalan Kaki) Sudirman – Manggarai

  1. 45 menit? hadeuuuuh kebayang ngos2annya Dhil hihihi… Tapi yg banjir 2007 itu, sempet ngalamin jg, parah bgt emang ya jalanan pulogadung-cakung itu kalo banjir😦

  2. ya ampun ternyata naik kereta banyak penderitaannya yachh……kuat juga jalan kaki di rel hampir 1 jam….trs nyampe rumah jam brp?

    ehh aku juga ngalamin yg waktu banjir th 2007…..aku naik gerobak hampir kebawa arus di daerah santa….trs ngga berani pulang krna gak dapat bus…akhirnya nginep di rumah temen……

    penderitaan itulah yg bikin sy males kerja jauh2 mbak….akhir bulan kantor sy yg udah deket ini mau pindah lagi…tp blm tau pindah kemana…jadi bete bangett….

  3. Sini-sini, ngopi dulu. Ntar dilanjutin jalan sehatnya, ya… Hehehe, sekali-sekali ngga apa-apa, Mbak. Pas sampe rumah tinggal dibalur balsem tuh kaki.🙂

  4. waahhh..selamat yach dik🙂, semoga dapat rekor muri😉
    saya juga pernah mengalami hal ini, sewakrtu masih SMP dan SMA,
    dimana para sopir angkut tidak beroperasi karena sedang demo BBM dan kenaikan tarif angkut, dimana kita mengandalkan mobil atau sapa sj yang lewat tuk mengasihani kita yang sedang berjalan kaki, tapi asyik juga jika beramai-ramai
    seru, dan fantastic🙂😉

  5. Walau mau semaju apapun media transportasi negara berkembang, romantisme kayak begini masih akan tetap terjadi, nggak apa-apa jadi lebih manusiawi ..🙂

  6. Salam kenal Mbak Dilla…. saya ngga terlalu tau sih daerah jakarta… tapi kalo jalan 45 menit mah jauh banget… palagi panas2 gitu juga ya :D… tapi banyak pengalaman yang diambil juga kan?

  7. pengalaman Mbak Dila aneh2….

    mungkin Tuhan sengaja menimpakan semua pengalaman itu pada Mbak Dila supaya bisa diceritakan di blog.

    sedangkan padaku, Tuhan selalu memberikan pengalaman yang ordinary….krn Dia tahu, saya ndak suka nulis pengalaman😀

  8. he..he hanya terjadi di jakarta ya ,bak dhilla…. untung hari itu saya masih diberi kesempatan pulang agak sorean jadi ga ngalamin jalan rame2 ke manggarai….. tapi asyik juga kok….

  9. jadi rindu Jakarta dengan segala pernak-perniknya mba…
    btw, pengalaman menderitanya antara bekasi jakarta boleh juga tuh..hehehe..lengkap kayaknya….
    udah jalan kaki sudirman-manggarai, jalan kaki di tengah banjir pulo gadung-cakung (gak salah tuh??….)
    kalo saya paling banter juga banjir-banjiran dengan air sebatas dada juga di PuloMas, nyelametin gudang tempat bapak kerja dulu….

  10. saya juga sering kepikiran, daripada bingung nae apa selain kereta, mending nyusurin aja rel, ntr pasti nyampe kan?? *tapi belum kesampean… ntr dicoba aahh..hahaaaa

  11. 45 menit, lelah tapi mengasikkan..
    ““Biarin dah sekali-kali. Biar pada tau kampung.” Komentar seorang ibu sambil megang sapu lid” hehe..terus gimana respon Dhila? 🙂

  12. pengalaman luar biasa lho mbak dhilla😀. yg berendam di banjir sambil kenalan ma org2 itu juga menarik hehehe. tp itung2 olahraga, bener tuh, sambil kenal kampung, jakarta yg kota juga msh ada kampung *eh*😀. keep spirit!

  13. Hekeke,, sore hari yang luar biasa mbak!:mrgreen:
    Semoga capeknya benar-benar terbayarkan dengan pengalaman ini ya😀

  14. Workshop Bisnis Online. Malang, 29-30 Oktober 2011. Peserta terbatas 30 orang. Tempat LAB Statistik FE UIN Malang.

    Materi UTAMA : Membangun TOKO ONLINE, Riset PRODUK, Teknik JITU Promosi dan Marketing INTERNET.

    Materi TAMBAHAN : Optimasi Blackberry+Facebook+Twitter Untuk BISNIS Online.

    Garansi 1 BULAN Jualan.

    Info Lengkap: http://www.GuruBisnisOnline.com | PIN BB 2310BF87 | 0856 4960 8915.

  15. sore mbak, hehehe… ini kunjungan pertama saya, terimakasih sudah berkunjung juga ke rumah (blog) sederhana saya..
    kok bacanya jadi geli n bikin saya cengangas-cengenges yah,hehhee.. ngebayangin long march dan singgah di perkampungan warga dengan semua komentarnya.. tapi pas menyusuri rel, g ada kereta yg lwat toh mbak?

  16. Gak jauh kan nduk,apalagi kalau di kota, pasti gak terasa karena ramai. Lha saya pernah jalan kaki di Monas sampai 5x putaran ha ha ha ha.
    Biar sehat sambil menyerap aspirasi rakyat kecil tho.
    sampai rumah, makan habis berapa piring ??

    Salam hangat dari Surabaya

  17. alhamdulillah ternyata saat saya tinggalkan Jakarta, saya tidak merasakan nya ikut prihatin ya dhilla. Btw, pengalaman saya kalau ada maslah dengan perkeretaan, selama ada tanda2 sedang dikerjakan lebih baik nunggu aja deh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s