Ditembak

Matematika, elu mati gue nikah
Datang Belanda, ditembak jatuh cinta

Hehe, Bloggers, tahu pepatah main-mainan ini? Pantun jadi-jadian ini sempat sering kami lafalkan saat masih kecil. Entah apa maksudnya, hanya saja kami senang melafalkan begitu. Entah deh untuk anak-anak jaman sekarang, mungkin udah lain versinya ya, coz udah jaman ‘galau’, ‘ting-ting’, ‘alay’ dan ‘sesuatu bangget’ sih. :mrgreen:

Dan sekarang, demi mbak Una, saya akan menceritakan pengalaman pertama saya ‘ditembak’ oleh seorang teman ketika saya duduk di kelas 2 SMP. Ahh mbak Una, demi dirimu ini saya bercerita. Rela muka badak guee demi loh.. hehe. *peluk-peluk mbak Una. 😀

Sebenarnya saya ini termasuk anak yang polos, enggak ngerti istilah-istilah yang ada di kalangan teman-teman sebaya. Ya mungkin memang sering dengar, namun saya ndak ngerti maksud tujuan istilah tersebut apa. Termasuk istilah ‘menembak-ditembak’ ini. Maksudnya, ya bukan berarti ditembak beneran dengan senapan, tapi, emm maksudnya adalah ‘menyatakan-dinyatakan cinta’. Oalaahh.. 😀

Ketika kelas 2 SMP di SMPN 216 Salemba, Jakarta (ada bloggers yang SMP disini? :D), ada beberapa teman berjenis kelamin laki-laki yang senang main dengan saya. Ada yang sudah punya pacar, sampai-sampai saya diikuti dan diawasi pacarnya seharian gara-gara sang pacar cemburu dengan saya. *aduh saya ini tidak cantik, kenapa dicemburui, heran deh! 😛
Dan banyak juga teman-teman yang emang tidak punya pacar sehingga saya aman-aman saja bermain dengan mereka. Hingga suatu ketika, salah satu teman sepermainan saya datang pada saya. Ketika itu bel pulang baru saja berdering riang dan kami pun sudah siap sedia menuju rumah. Sementara saya masih di dalam kelas untuk membereskan kursi (karena keesokan harinya saya piket, jadi sejak siang hari sebelumnya harus membereskan kursi terlebih dahulu). Saya sendirian di kelas dan teman saya itu menghampiri saya begitu saja. O-ow, ada apa ini??

Si teman menggenggam kedua jemarinya sendiri yang ia letakkan didepan dadanya. Posisinya seperti orang memuja. Saya semakin bingung. Hingga ia pun menyatakan sesuatu. *hiyaaaaaa…
“Dila, gue suka sama elo…….”
Saya bengong. APPPAAAA… TIDAAKKK…. plak-plak-plak. Tampar gue, tampar gue. ini mimpi kan? ini orang ngapain sih?
Karena saya bingung tak tahu harus bagaimana, maka saya pun meninggalkan teman saya begitu saja. KABUUURR.. kepada seorang sahabat saya berkata, “Gue takut banget nih, takut banget. Ayuk kita pulang sekarang!”
Si sahabat bingung. Akhirnya tanpa bertanya, sahabat pun menuruti keinginan saya untuk pulang saat itu juga.

Keesokan harinya, saya mendiamkan teman yang sudah ‘menembak’ saya itu selama 3 hari. Tapi yang bikin saya semakin tidak suka dengannya adalah setelah 3 hari saya diamkan tanpa ada jawaban apapun dari saya, dia semakin nakal. Kenakalannya ditujukan hanya untuk saya. Setiap hari ada saja ulah yang dibuatnya kepada saya. Aduh, saya jadi bingung. Kalau dia suka sama saya, kenapa saya dijahatin ya. *cinta itu aneh ya teman-teman. sulit dimengerti. padahal saya hanya ingin berteman biasa saja. soalnya kalau udah ‘ditembak-menembak’ saya merasa seperti kehilangan teman sepermainan. Enakan main bareng kan daripada pacaran.

Begitulah ceritanya. Sekarang saya dan teman saya itu benar-benar jadi teman biasa.  Dan kami sudah akur lagi. Alhamdulillah 😉

Photobucket

Artikel ini diikutsertakan dalam acara My First Giveaway ~Pengalaman Pertama yang dselenggarakan di Blog Mbak Una.

Apa Kabar Rumah Pohon

SELAMAT HARI BLOGGER, narablog yang saya kagumi. 😉

Dalam rangka Hari Blogger ini saya ingin bercerita tentang impian saya yang pernah saya posting 2 tahun lalu. Sebuah komen dari pak citromduro tiba-tiba mengingatkan saya pada suatu hal:

Pak citromduro berkata: gimana kabar rumah pohonnya?

Well, ya, akhir November 2009, saya pernah menulis tentang impian saya yang ingin memiliki rumah pohon dan kebun tulip. Saya senang dengan bunga tulip, makanya akun twitter saya bernama @fadhilatulip. Saat itu, di tahun yang sama pada, selang sebulan, saya mengadakan Tasyakuran pertama saya. Tasyakuran, bukan kontes. Maka saya namakan TASBIH: Bukan Kontes Biasa. TASBIH adalah kependekan dari Tasyakuran Berbagi Kasih. Saya bagi-bagikan buku pada momen tsb. Ya, hanya sekedar ingin berbagi rizki. Dan TASBIH pun terulang lagi pada tahun berikutnya di tahun 2010. Lalu apakah TASBIH akan terulang lagi tahun ini? Insya Allah. Kapan? Seperti biasa, pada akhir tahun Masehi dan pada peringatan hari lahir saya untuk tahun hijriah (10 Muharram). Semoga tasyakuran ini dinanti teman2. 😉

Lalu apa kabar Rumah Pohon? Well, meski saya belum memilikinya secara nyata, tapi rumah pohon itu tetap terjaga keasriannya dalam dunia khayal saya. Dan Kebun Tulip? Saya memang belum pernah melihat secara langsung, namun tetap saya rindukan. Berikut postingan Rumah Pohon dan Kebun Tulip. cekidot gan! :mrgreen:

Sekali Merengkuh Dayung, Dua Tiga Kopdar Terlampaui

Woaa.. Sabtu (22/11) dan Minggu (23/11) adalah bukan sekedar wiken biasa bagi saya. Karena biasanya saya hanya molor di setiap wiken, tapi kali ini tidak. Banyak kegiatan yang saya lampaui dengan berkumpul dengan teman-teman. Bukan teman-teman biasa, tapi adalah teman-teman spesial saya di dunia maya alias para blogger.. uuuu.. sini-sini semuanya dila peluukk :mrgreen:

Langsung aja deh cekidot kegiatan ane sabtu-minggu kemarin disini. 😛

Bekasi, Sabtu, 22/10/11: Terperangkap Panas
hampir pukul 14:00 WIB, di Pizza Hut Bekasi Square
Kopdar bareng Mama Cal – Vin, Teh Orin, Kak Putri dan Mamin beserta Istri

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Institut Francais Jakarta, Salemba, 18:00 WIB
Kopdar sama Adek Fi :mrgreen:

tangan adek fi lagi buka bungkusan

Ciputat, Minggu, 23/10/11: Terpeluk Hujan
XXI Pondok Indah Mall 1 @ 09:00 WIB, Menghadiri pemutaran khusus film Sang Penari. Saya kopdar dengan @koskoy, seorang teman twitter&FB yang sekaligus pembaca setia blog saya 😀 dan juga yang sepesial adalah ketemuan sama Oka Antara disini. hohoho

Bukan penulis blog ini foto bareng Oka Antara :mrgreen:

Kampus UIN dan Sekitarnya, @ 12:00 – 17:00 WIB
12:00 WIB: Bertemu dengan teman kampus yang sekarang jadi Ketua Karang Taruna dan memberikan titipan baju layak pakai kepadanya.

12:00 – 14.30 WIB: Menghadiri wisuda teman se-genk di kampus tercinta saya, UIN Jakarta. Kemudian hujan pun turun dengan sangat deras dan kami terperangkap hujan. Basah kuyup! 😀

14:30 WIB: Kopdar dengan Saidi Alhady untuk memberikan titipan buku-buku dari teh orin, ulfa (adik saya yang juga seorang blogger), teman kampus dan saya sendiri untuk program Blogger Hibah Sejuta Buku.

Saidi Alhady berdiri dengan sekantong buku

16.00 – 17.00 WIB: Sholat ashar di fathullah dan saya pun kembali ke Bekasi untuk pulang memeluk panas. 😉

Misi terselesaikan dan dhila13 pun pulang kembali ke Bekasi untuk memeluk panas. 😉

Sang Penari Dukuh Paruk

Sang Penari (The Dancer)

Akhirnya, minggu (22/10) kemarin saya dapat menonton film Sang Penari lebih awal daripada jadwal tayang perdana di 10 November 2011 nanti. Kemarin di XXI PIM 1 memang ada pemutaran khusus film Sang Penari di Jakarta. Sang Penari merupakan sebuah film yang diadaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) karya Ahmad Tohari. RDP merupakan sebuah novel yang dibuat dengan latar belakang sebuah dukuh miskin pada era 50-60an. Dukuh Paruk hanyalah kampung miskin dengan tanah yang gersang dan masyarakat yang amat sangat polos. Tidak ada kebanggaan yang mereka miliki kecuali Ronggeng. Ronggeng bukanlah sekedar penari, tapi ia adalah kebanggaan bagi semua warga yang tinggal di Dukuh Paruk. Dan Srintil adalah seorang Ronggeng. Sementara Rasus adalah teman kecil Srintil yang bekerja sebagai tentara. Srintil dan Rasus adalah sepasang kekasih yang cintanya terbentur oleh hambatan-hambatan bernama idealisme, politis yang semuanya bersumber dari ego manusia. Untuk lanjutan cerita dalam novelnya bisa dibaca disini.

Banyak orang yang bilang bahwa film yang berasal dari adaptasi sebuah novel tidak dapat memuaskan harapan para pembaca novel yang bersangkutan. Karena jalan cerita yang disajikan film seringkali berbeda dengan apa yang ada dalam novel. Bahkan ada juga film yang malah pesan yang disampaikan jauh melenceng dari apa yang ada dalam novel (FYI, RDP juga pernah diremake dalam sebuah film yang berjudul Darah dan Mahkota Ronggeng di tahun 80an, namun film ybs sama sekali jauh panggang dari api). Film Sang Penari pun juga begitu, tidak menyajikan cerita yang sama persis dengan novel asalnya, Ronggeng Dukuh Paruk. Tapi yang saya appreciate disini bahwa Sang Penari bisa memenuhi harapan para penggemar Ronggeng Dukuh Paruk. Saya adalah salah satu penggemar RDP (trims buat teman blogger yang sudah memberi info soal novel keren ini). Saya cinta detail isi ceritanya, paragraf demi paragraf dan bahkan kalimat demi kalimat. Namun saya cukup puas dengan Sang Penari. Meskipun sedikit berbeda dari RDP, Sang Penari tetap ‘berdiri sendiri’. Ifa Isfansyah, sang sutradara, berhasil mengeksekusi RDP dengan cukup baik dalam filmnya. Para penonton yang belum membaca RDP pun dapat mengikuti cerita film dengan mudah tanpa harus membaca novelnya terlebih dahulu. Namun tetap saja saya sangat merekomendasikan Ronggeng Dukuh Paruk untuk dibaca! Karena Ahmad Tohari tidak hanya menyajikan bagusnya cerita yang ia buat, namun juga cara dan gaya penulisan.

So, bloggers, please jangan lupa nonton Sang Penari ya. Film ini akan tayang serentak di seluruh Indonesia pada 10 November 2011.

PS. Ulasan Sang Penari juga disampaikan oleh seorang teman blogger disini. 😉

Mengajak Anak Berkreasi dengan Melukis T-Shirt: Salah Satu Mainan Kreatif Anak

Terkadang orang tua bingung bagaimana mengajak anak bermain tanpa harus ke luar rumah. Karena biasanya orang tua ingin menemani anak bermain tetapi ingin juga melakukan pekerjaan rumah yang harus mereka kerjakan. Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan anak agar dapat bermain di dalam rumah tanpa membuat mereka merasa bosan. Sehingga orang tua pun bisa menyambi pekerjaannya sambil mengawasi anak bermain. Lalu, mainan apa yang bisa dilakukan oleh anak-anak di dalam rumah? Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mewarnai atau menggambar. Tapi hal itu sepertinya sudah cukup sering dilakukan anak, maka mungkin bisa sedikit dimodifikasi dengan mengajaknya membuat lukisan (mewarnai lukisan) pada t-shirt polos. Seperti yang dilakukan adik-adik dhila13 (Lu’lu dan Hilma) beberapa waktu lalu. Ibu saya memiliki sepasang t-shirt yang sudah siap diwarnai. 2 t-shirt ukuran anak-anak itu sudah ada lukisan barbie polos yang belum diwarnai. T-shirt seperti ini bisa didapatkan dengan cara membeli. Biasanya dalam satu paket t-shirt sudah ada cat air beserta kuas dan wadahnya. Atau jika anda punya t-shirt polos, bisa saja meminta anak anda untuk melukis t-shirt mereka sendiri. Berikut foto-foto yang saya ambil ketika Lu’lu dan Hilma sedang mewarnai t-shirt. 🙂

P19-06-11_08-14[1]
P19-06-11_06-51
P19-06-11_06-53
P19-06-11_06-55[1]
P19-06-11_06-58
P19-06-11_07-06
P19-06-11_08-14
P19-06-11_07-19
P19-06-11_07-39
P19-06-11_08-13[1]

Aktivitas diatas hanyalah salah satu contoh saja. Banyak mainan kreatif yang bisa dilakukan anak selain melukis. Bisa dengan melakukan origami. Beri anak kertas warna dan ajarkan kepada mereka bagaimana cara membuat origami. Ajarkan contoh-contoh yang simpel saja agar mudah dimengerti dan dipelajari dengan cepat oleh anak.

Sekian artikel simpel tentang mainan yang kreatif dari saya. Jadi, daripada anak seharian menonton televisi di rumah, lebih baik biarkan mereka bermain dan berkreasi. Karena hal itu dapat membuat mereka tumbuh menjadi anak yang kreatif, insya Allah. Semoga bermanfaat. Salam pagi semua. 😉

Artikel ini diikutsertakan pada Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak.