Kura-Kura Pun Bisa Terbang

Turtles Can Fly (egyptz.net)

Ini bukan penjelasan tentang fauna jenis kura-kura yang punya sayap dan bisa terbang ke angkasa. Bukan juga tentang cerita fiksi dengan karakter utama kura-kura pendekar yang bisa terbang macam burung. Namun ini adalah sebuah judul review dari sebuah film ‘Lakposhtha Parvaz Mikonand’ atau dalam bahasa Inggris ‘Turtles Can Fly’ atau dalam bahasa Indonesianya ‘Kura-Kura Bisa Terbang’ karya Bahman Ghobadi.

Secara umum dan luas, film ini menggambarkan kondisi warga di sebuah pengungsian di perbatasan Turki dan Irak pada akhir kekuasaan Saddam Hussein dan awal mula invasi George Bush ke Irak. Terlihat bagaimana kondisi mereka sebagai korban perang dengan kesulitan dan ancaman-ancaman yang mereka harus hadapi setiap harinya. Tidak ada Air bersih, listrik, makanan bahkan udara yang bersih sekalipun. Yang ada hanyalah lahan yang dipenuhi ranjau-ranjau yang mereka sebut dengan ‘America’. Yang menjadi fokus dalam film ini adalah pengungsi anak-anak yang sudah menjadi yatim piatu. Disini anak-anak harus bertahan hidup setiap harinya tanpa bimbingan dan lindungan dari orang tua. Bahkan pekerjaan mereka setiap harinya adalah membersihkan lahan dari ranjau darat dan menjualnya di pasar senjata demi mendapatkan sejumlah uang dan makanan. Sungguh miris!

Satellite tengah memberikan intruksi kepada teman-temannya

Ada 3 karakter yang menjadi sorotan utama dalam film ini, yakni Sorran atau Satellite (Soran Ebrahim), seorang pemimpin bocah dari kelompok pengungsi anak-anak yang bertugas mengatur pekerjaan mereka dan juru bicara dalam setiap transaksi yang berhubungan dengan ranjau darat yang mereka perdagangkan. Pemimpin cilik ini biasa dipanggil Satellite karena selain terbiasa menerima panggilan untuk pembersihan ranjau darat ia juga terbiasa menerima panggilan untuk pekerjaan pemasangan antena, satelit radio dan tv bahkan sebagai penerjemah untuk setiap berita berbahasa asing yang seringkali dilakukan Satellite dengan asal karena ia memang belum begitu fasih berbahasa Inggris.

Hengov, Agrin dan Rega (kurdishcinema.com)

Kemudian, Hengov (Hirs Feyssal), seorang anak laki-laki yang kedua lengannya putus akibat ranjau darat. Ia memiliki adik perempuan yang berumur sekitar 12 tahun bernama Agrin (Avaz Latif) yang pernah diperkosa tentara Irak secara beramai-ramai. Dan akibat hal itu ia pun memiliki seorang balita yang dinamai Rega (Abdol Rahman Karim) yang disangka oleh para pengungsi lain sebagai adik bungsunya. Hengov dan Agrin harus mengungsi ke sebuah pengungsian karena perkampungan tempat rumah keluarganya berada diserang ketika perang saudara di Irak berlangsung dan kedua orang tua mereka pun terbunuh saat itu. Di tempat pengungsian inilah mereka bertemu dengan Satellite yang pada awalnya merasa terganggu dengan keberadaan Hengov namun sangat menyukai Agrin.

Banyak yang saya perhatikan dalam film ini. Tentang para pengungsi cilik yang sudah menjadi yatim piatu karena orang tua mereka terbunuh dalam peperangan. Kemudian anak-anak itu menjadi dewasa sebelum usia yang seharusnya. Mereka harus mampu mandiri sejak dini. Namun beruntung kesadaran mereka bekerja sama menjadikan mereka lebih kuat dan peka. Seperti Satellite yang seperti sudah menjadi takdirnya untuk terlahir menjadi seorang pemimpin dan bertugas mengatur dan mengayomi teman-temannya. Kemudian Hengov yang dengan usianya baru saja 13 tahun mencoba belajar kesabaran dari segala kejadian yang menimpanya, lengannya yang putus, orang tuanya yang terbunuh, serta adik perempuan satu-satunya yang menjadi korban pemerkosaan.

Sementara itu, tidak semua anak bisa menerima kenyataan dengan cukup kuat. Disini Agrin, adik perempuan Hengov menjadi representatif karakter tersebut. Setelah peristiwa biadab yang dilakukan tentara Irak terhadap dirinya, Agrin menjadi lebih pendiam. Terlebih ketika gadis cilik tersebut hamil dan melahirkan anak yang tak pernah disangkanya. Ia menjadi sangat tidak suka terhadap Rega karena balita tersebut mengingatkannya para memori buruk masa lalu. Ia pun berkali-kali mencoba bunuh diri akibat depresi yang dideritanya.

Sementara itu keadaan berubah. Saddam Hussein berhasil digulingkan dan para pengungsi yang kebanyakan pro dengan hal tersebut bersorak sorai. Terlebih lagi ketika helikopter Amerika Serikat menghampiri mereka dan menyebarkan leaflets yang bertuliskan informasi:

“We are here to take away your sorrows! Those against us are our enemies. We will make this country a paradise. We are the best!”

“Kami ada disini untuk melenyapkan kesedihan kalian! Mereka yang menentang kita adalah musuh bersama. Kami akan menjadikan negara ini sebagai surga dunia. Kami yang terbaik!”

Informasi yang diberikan negara adidaya Amerika Serikat tadi ternyata hanyalah harapan semu. Ia hanyalah propaganda perang yang dibuat sehalus mungkin. Banyak pengungsi yang mungkin termakan dengan propaganda tersebut. Tapi berbeda dengan pengungsi kebanyakan, Hengov yang kepekaannya sangat tinggi justru merasa jatuhnya Saddam Hussein dan adanya harapan dari Amerika Serikat bukanlah akhir dari penderitaan rakyat Irak akan perang, justru ia akan menjadi awal perang yang berkepanjangan.

Film berbahasa Kurdistan ini merupakan film lama yang diproduksi oleh 3 negara Iran-Irak-Perancis, Mij Film Co. dan Bac Films (CMIIW) dan terbit di tahun 2004. Film ini cukup sering menjadi ulasan para kritikus film dan berhasil mendapat banyak penghargaan. Merupakan sebuah prestasi yang baik bagi film-film terbitan Iran yang kebanyakan menggugah para kritikus seperti ‘Children of Heaven’ salah satunya. Maka saya sangat senang sekali bisa menonton film baik semacam ‘Turtles Can Fly’ ini.

Satu hal lagi yang menarik dari film ini, yakni munculnya Red Fish (Ikan Hias Merah) yang menurut kritikus film menjadi simbol dalam film ini. Red Fish adalah salah satu dari 7 simbol dari Nouruz atau Tahun Baru Iran yang sudah dilaksanakan sejak 3000 tahun lalu. Red Fish juga menjadi simbol akan adanya kehidupan dalam kehidupan. Nouruz biasa diperingati pada 20, 21, 22, 23 Maret (CMIIW). Namun sayangnya invasi Amerika Serikat ke Irak terjadi pada 20 Maret 2003 yang kurang lebih bertepatan dengan perayaan Nouruz.

Credits: Downloadfilem.com, imdb.com, apakabar.ws, rogerebert.suntimes.com, bbc.co.uk

P.S. Review tentang ‘Turtles Can Fly’ juga ditulis oleh seorang teman blogger di link berikut: http://arifn.wordpress.com/2011/07/03/ketika-kura-kura-terbang/

47 thoughts on “Kura-Kura Pun Bisa Terbang

  1. Hmm.. saya agak kurang paham tentang ikan merah itu.,
    Ada adegan ketika tiba-tiba air dalam kantung ikan merah berwarna merah seolah darah. Kira-kira maksudnya apa ya?

    • karena based on history-nya.. invasi amrik ke irak tepat pada saat 20 maret atau salah satu tanggal dimana nouruz dirayakan. mungkin gitu. hehe. sy jg belum terlalu paham sola nouruz. CMIIW.

  2. Ping balik: Ketika Kura-kura Terbang | radical[]rêveur

  3. “We are here to take away your sorrows!”
    fi suka banget kalau ada yang selalu mampu bilang “I’m here to wipe out your grief”..

    >.< btw makasih kak dah mampir..
    huhu..
    naskah yang ga lolos itu.. hehe

  4. ini film yg penuh metafora….

    hanya orang yang py latar belakang pengetahuan kearaban dan konflik timur tengah yg bisa memahami film ini.

  5. Dhila, saya sampe merinding baca posting ini.
    Betapa buramnya masa kecil Sorran, Hengov dan Agrin…ditambah lagi dengan bayi yang dilahirkannya di usia 12 tahun…duh😦

    Perang memang kejam, smoga kisah ini tidak pernah terulang lagi sampai akhir dunia…

  6. Jadi kebawa saya membaca reviw film ini, membayangkan betapa menderitanya saudara2 saya disanan akibat kekejian & penjahat perang,,, berapa banyak orang yang tak berdosa yang harus dikorbankan, begitu mahal sepertinya kata kedamaian & kesejahteraan…..

  7. Assalaamu’alaikum wr.wb, Dhila…

    Membaca review filem di atas membuat hati jadi pilu mengenangkan betapa payahnya anak-anak di dunia peperangan hidup tanpa orang tua yang menjadi tunjang kehidupan berkeluarga. Tambah lagi dunia kanak-kanak mereka sudah hilang di ranah kesedihan dan kesengsaraan. tidak memungkin mereka menikmatinya lagi.

    Tiada keceriaan bersama-sama teman sebaya dalam permainan yang biasa kita lakukan secara bersama-sama. Semua itu tinggal kenangan. Kehilangan anggota badan akibat peperangan pasti meninggalkan kesan psikologi yang dalam kepada anak-anak. Jika tidak mampu bertahan, pasti mereka bisa membunuh diri. kasihan ya.

    Sungguh menyayat hati bagi anak sekecil Agrin sudah diperkosa dan mempunyai anak hasil perbuatan terkutuk tersebut. Pantas sekali dia mengalami gangguan jiwa yang parah kerana harus menghidupi anak yang menjadi kenangan buruk dalam hidupnya. Sungguh bunda tidak terbayang bagaimana anak-anak gadis di sana mampu hidup menyara diri dan berjuang untuk mencari kebahagiaan di kemudian hari.

    Review filem yang memenangi banyak anugerah ini telah membawa kita ke dalam dunia yang jauh penuh dengan penderitaan yang berpanjangan dan entah bila akan ada penghujungnya menuju kedamaian juga kemerdekaan.

    Banyak pengajaran yang kita perolehi dari review filem ini. Maka, negara kita yang aman damai, janganlah diporak perandakan dengan huru hara yang bisa meruntuh keamaan dalam negara kita sehingga musuh luar mengambil kesempatan untuk mencampuri urusan negara kita.

    Terima kasih Dhila atas perkongsian yang bermanfaat ini.
    Salam manis dan sayang selalu dari bunda di Sarikei, Sarawak.😀

    • Wa alaikumsalam Wr Wb..
      Iya bunda. ini film pilihan yang menjadi wajib tonton sebab hikmah dari kisah yang diberikan.🙂
      salam dari Jakarta😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s