Gelandangan Di Kampung Sendiri

Gelandangan Di Kampung Sendiri. Pustaka Pelajar. 1995.

Judul diatas adalah judul salah satu buku karya Emha Ainun Nadjib yang menjadi salah satu koleksi bapak saya di rumah. Buku ini termasuk buku lama, sebab sudah sejak saya umur 8 tahun diterbitkan. Dan ketika umur yang sama pula alias kelas 4 SD, saya sudah mulai tertarik dengannya. Saya mencoba membacanya halaman demi halaman. Ya, hasilnya tidak mudeng sangat memang. Namun entah, saya tetap tertarik pada buku itu dan bersabar untuk menanti usia saya dewasa untuk dapat membaca buku tsb dengan pemikiran yang terang dan jelas.

Gelandangan Di Kampung Sendiri terdiri atas kumpulan tulisan-tulisan Emha atas dasar respon hal-hal sosial, politik dan kemanusiaan. Kebanyakan tulisan ini merupakan tanggapan Emha kepada surat-surat banyak orang yang datang kepadanya, atau juga tentang kisah-kisah manusia yang bertandang langsung ke rumahnya. Secara subyektif saya senang dengan buku tersebut. Bagi saya sangat manusia. Sangat merakyat.

Namun sayang sekali, Gelandangan Di Kampung Sendiri harus menghilang dari dekapan saya ๐Ÿ˜ฆ . Beberapa hari yang lalu saya pergi ke Gorontalo dan pastinya membawa serta buku ini juga. Ketika harus pulang lagi ke Jakarta, saya terlupa dimana saya meletakkan buku itu setelah membacanya. Saya baru menyadari buku tak ada ketika menjelang boarding. Sungguh tragis. Apalagi buku itu milik bapak saya. Buku itu salah satu kesayangan saya.

Ketika di rumah, saya menyampaikan berita hilangnya buku itu dengan hati-hati kepada bapak.

D: Pak, buku punya bapak yang judulnya Gelandangan Di Kampung Sendiri yang ditulis Emha aku bawa ke Gorontalo dan hilang. ๐Ÿ˜ฆ

B: Hmmm… yaudah, ngga apa-apa.

D: Emm… kira-kira masih ada yang jual ngga ya? Mau beli lagi.

B: Ngga tau masih ada atau engga. Hmm… buku itu kan bukan beli. Buku itu dia (Emha) sendiri yang ngasih ke bapak, waktu di masjid Al-Ikhwan dulu.

D: ….. (bengong. makin menyesal).

Begitulah ceritanya saya semakin menyesal. Dan semakin bertambah keinginan saya untuk mendapatkan buku itu kembali. Bagaimanapun caranya, entah harus membeli atau memesan, atau bagaimana dan bagaimana. Sebab buku itu ternyata pemberian Emha langsung untuk bapak saya. Entah ada hubungan apa diantara mereka berdua. Mungkin waktu itu bapak saya jadi marbot di Masjid Al-Ikhwan atau bagaimana saya kurang peduli juga. Yang saya sesalkan cuma fakta bahwa sekali lagi buku itu pemberian Emha! hikz..

Ya sudahlah, jika memang itu jodoh akan kembali kepada saya, maka benar-benar akan kembali. Itu kata adik saya. Ya, kalau jodoh pasti akan kembali. Buat bloggers yang punya link ke Pustaka Pelajar, atau punya alamat Emha, mohon kirim e-mail ke fadhilmu87[at]gmail.com ya. Saya ingin mencoba mengirimi Emha surat. Saya juga akan mencoba bertanya kepada Pustaka Pelajar, apa masih punya stok buku ini? Jika ada kemungkinan bisa saya jadikan hadiah untuk acara Bagi-Bagi Buku TASBIH 1433 H tahun depan. Aamiin. ๐Ÿ˜‰

Iklan

14 thoughts on “Gelandangan Di Kampung Sendiri

  1. yah, sayang banget dil.. kalo jodoh ketemu lagi, kalo ga ketemu cari jodoh lagi, hahahahaha..

    btw gw juga pencinta tulisan cak nun, kalo ada buku cak nun lain boleh pinjem donk non ๐Ÿ™‚

  2. Sorry to know that….
    Tapi gak bisa membantu juga,
    gak tau alamat Emha,
    dan gak punya juga link ke pustaka pelajar…

    Sepakat, untuk taon depan even tasbihnya ini aja… :mrgreen:

  3. semoga yng nemu baca tulisan ini,
    atau tau itu puny mba dhila *bapak nya mba dhila dink*
    trus bersedia memberikan kemabali ke mbk dhila…
    Amiin ya Alloh…
    ๐Ÿ™‚

  4. wah sayang sekali ya buku yang bagus itu hilang. Saya pernah membaca salah satu tulisan yagn ada di buku itu, benar-benar bagus.
    Kalau di tempat kumpulnya kiai kanjeng ada gak ya, di kadipiro itu ?

  5. sudah lama tidak berkunjung ke sini, ternyata mbak dhila lagi sedih

    waahh….sayang banget ya bukunya
    mudah2an bisa mendapatkan kembali bukunya mbak
    ku cuma bisa mendoakan

  6. Ping balik: Book Review: Folklore Madura | thePOWER ofWORDS

  7. search aja di google tentang alamat emha di Jogja. biasanya di buku2 terbitan “Progres” di bagian belakangnya tertulis alamat emha/Progres. karena Progres beralamat di rumah emha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s