Rujak Halte UIN Lebih Enak Daripada Rujak Pantai Natsepa

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Buat bloggers yang sudah pernah ke Ambon saya punya satu pertanyaan, pernahkah teman-teman mengunjungi Pantai Natsepa? Kalau sudah pernah, berarti teman-teman pun sudah menyipi rujak Natsepa, ya kan? Kata salah satu teman yang tinggal di Ambon, kalau belum pernah nyobain rujak Natsepa belum afdhol rasanya. Hmm.. ketika itu saya menjadi penasaran bagaimana rasanya. Tetapi ketika sampai sana dan mencoba mencicipi rujak buatan salah satu pedagang rujak disana, rasanya biasa saja buat saya.:mrgreen: Emm, enak sih, tetapi tidak se-enak yang saya harapkan. Sebab lidah saya sudah merasakan rujak yang lebih enak sebelumnya.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kini memiliki 2 halte, ada halte lama (depan Wisma Usaha UIN JKT) dan ada halte baru (depan kampus 1 UIN JKT). Nah, di halte lama itu biasanya mangkal-lah seorang tukang rujak sejak lama, sepertinya sudah bertahun-tahun atau mungkin malah berabad-abad (ngasal! :mrgreen:). Rujak yang dibuat si bapak ini terkenal se-seantero kampus hingga luar kampus. Enak banget soalnya. Kalau mau beli harus merubung dulu seperti semut. Berdesak-desakan seperti ketika ngantri di halte bus way. Entah hujan atau panas, tetap saja selalu ada pelanggan yang membeli rujaknya. Saya kurang tahu apa rahasia si bapak rujak depan halte UIN ini. Bahan-bahan yang digunakan untuk bumbunya biasa saja kok. Tidak ada bahan aneh dari planet antah berantah atau lainnya. Yang digunakan hanya cabe, gula jawa, kacang, garam, terasi, sedikit buah-buahan sebagai bahan tambahan cair. Mungkin takarannya pas, jadi ketika dicicipi rasanya enak, tanpa kurang atau lebih.

Rujak di Pantai Natsepa pun enak. Hanya saja bagi saya tidak pas di lidah. Hmm, sepertinya ketika itu saya merasa pedasnya kurang greget dan terlalu banyak kacang. Tapi tetap exciting kok nyobain rujak dengan bumbu kental yang dicampur dengan buahnya di pinggir pantai sambil minum kelapa muda. Eh iya, bedanya tuh rujak Natsepa buah dan bumbunya dicampur macam gado-gado, karedok atau asinan gitu. Dan bumbunya pun kental, jadi bisa merasakan komposisi gula merah dan kacangnya yang ditumbuk kasar. Dan satu lagi, ketika membuat bumbu, para tukang rujak di Pantai Natsepa (biasanya ibu-ibu) menggunakan buah lobi-lobi sebagai penambah rasa (cair dan asam). Tapi tetap rasanya tak terasa asam atau gurih gimana gitu, hehe. ups.. Mungkin karena sudah merasakan enaknya rujak UIN jadinya menuntut rujak yang lebih enak lagi.:mrgreen:

Trus sekarang gimana? Mau nyobain rujak halte UIN juga?:mrgreen:

47 thoughts on “Rujak Halte UIN Lebih Enak Daripada Rujak Pantai Natsepa

  1. juarang makan rujak. Seneng sama lotis ketimbang rujak,,:mrgreen:
    tapi boleh dah kalo ke UIN *kapan ya ?* mampir ke tempat bapak yg jual rujak ini…*itu kalo masih jualan😛 *

  2. Halte UIN ? naik busway kesana gimana ya mbak jalurnya ? hehe. Mungkin nanti pas jalan2 lagi disana bisa mampir ke rujak situ.

  3. Haiyaaaaa …
    ini di seberangnya Rumah Sakit dan Mesjid bukan … ?
    Perasaan saya kenal deh …

    Jadi ser … ser gitu …
    hehehe

    salam saya

    • iyaaaa ooomm… ah, om NH mah perasaan2 kenal terus deh. pasti om tau-lah.. wong deket gitu sama rumah & sekolah anaknya om … ayo om, coba beliiii… serius, enak lho. klo ngantri beneran bisa panjang&lama, bener kt tmn2 sy diatas…

  4. Dhila bilang rujak dan asam itu, di gigi saya langsung ngilu, duh. Ternyata alam bawah sadar saya mengindikasikan kalau rujaknya dhila memang pedes asem gimana gitu.

  5. bagaimana dengan rujakkata mbak dhila? setidaknya itu representasi dari alumni rujak UIN hehe..masih stay aja si abang di halte..kenapa gak migrasi ke halte yg depan RS Syahid..tapi malah milih depan Ruko BNI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s