Layang-Layang Putus

Bloggers, kali ini saya akan mengulas novel yang baru saya baca. Novel yang bukan termasuk dalam hitungan best seller atau juga paling baru ini berjudul ‘Layang-Layang Putus’. Novel ini sudah terbit sejak Februari 2005, hanya saja sepertinya tidak terlalu menarik minat banyak pembeli. Sebab berkali-kali novel ini menjadi langganan dalam daftar obral dan diskon pada pameran buku. Meski begitu, isi yang disajikan dalam ceritanya tidak obralan alias cukup bermutu untuk menjadi sebuah bacaan.

Novel karya Masharto Alfathi ini bercerita tentang perjuangan orang-orang difabel (different abbilities) dalam menjalani hidup. Difabel lebih dikenal sebagai penyandang cacat oleh orang-orang umum yang dalam kehidupan berkemampuan ‘normal’. Novel ini memperjuangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kesetaraan orang-orang yang dianggap cacat. Seperti tentang penggunaan kata difabel yang lebih disukai daripada ‘penyandang cacat’ yang dianggap sangat mendiskriminasi. Orang-orang difabel selalu dianggap kelas dua atau bahkan kelas tiga (jika ditambah dengan predikat miskin) oleh kebanyakan masyarakat. Mereka selalu dianggap tidak memiliki kemampuan dan sangat menyusahkan orang lain. Pemikiran seperti inilah yang seharusnya diubah. Orang-orang difabel menjadi tidak mampu karena mereka seringkali tidak diberi kesempatan untuk berjuang secara mandiri. Mereka selalu dianggap kaum yang butuh bantuan terus menerus. Padahal jika diberi kesempatan untuk mandiri, jika tidak dicemooh dan dianggap lemah mereka mampu menjadi hidup bersama dengan orang-orang ‘normal’ tanpa harus dianggap sebelah mata. Contoh yang populer adalah Nick Vujicic, seorang motivator yang terlahir tanpa tangan dan kaki.

Novel ini semakin menarik karena mendapat bumbu-bumbu dramatis dan kisah percintaan yang semi-tragis. Saya katakan semi-tragis karena tokoh utama dalam novel ini, Yoyok, mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari ayah perempuan yang dicintainya hanya karena dirinya bermata juling dan dianggap cacat. Yoyok diusir saat hujan badai ketika tengah bertandang ke rumah pujaan hatinya di malam minggu. Kisah percintaan Yoyok semakin menarik ketika cintanya bertransformasi menjadi cinta segitiga. Entah siapa yang akan Yoyok pilih untuk menjadi pendamping hidupnya di kemudian hari.

Jika teman-teman sudah pernah membaca novel ‘Para Priyayi’ karya Umar Kayam, novel yang tidak terlalu tebal ini hampir mirip dengannya. Bukan dari cerita tentunya, namun dari segi penceritaan dan karakter. Setidaknya itulah yang menjadi komentar dari Akademi Kebudayaan Yogyakarta mengenai novel ini. Jadi, tertarik untuk membacanya?

Iklan

13 thoughts on “Layang-Layang Putus

  1. di akhir diceritakan mirip novelnya Para Priyayi jadi wajib dibaca kelihatannya.
    Saaya betul2 suka novel Umar Khayam itu sama terusannya Jalan Menikung
    Trims sekali infonya …

  2. Aduh… saya suka gak tahan kalo baca novel romantis dan percintaan… 😥
    Entah kenapa.. hati saya gak kuat…
    Saya sukanya novel thriller dan sci-fi, seperti serial detektif dan serial yang fiksi yang mampu membuat saya takjub akan dunia lain tsb. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s