Chocolat

Pada kesempatan kali ini saya akan kembali mengulas buku setelah sekian lama hiatus dari dunia per-blog-an. Buku yang akan saya bedah kali ini adalah sebuah novel berjudul Chocolat karya Joanne Harris. Ada yang pernah membacanya? Atau mungkin kalau tidak membaca novelnya teman sekalian sudah pernah menonton filmnya? Ya, karena popular novel ini pun sempat di-remake dalam bentuk film pada tahun 2000 dengan judul yang sama dibintangi oleh Juliette Binoche dan Jhonny Deep. Film ini juga mengispirasi hadirnya film Brownies yang disutradarai Hanung Bramantyo pada tahun 2004.

Novel ini menceritakan tentang seorang pembuat cokelat bernama Vianne Rocher. Ia bersama anaknya, Anouk, menjadi pendatang baru di Lansquenet-sous-Tannes. Lansquenet-sous-Tannes digambarkan sebagai kota yang bernuansa muram dengan penduduk yang hampir semuanya berkarakter kaku. Rocher membawa warna baru yang lebih hidup bagi kota ini. Ia mendirikan toko cokelat La Céleste Praline di sebuah rumah hampir rapuh yang disewanya. Pada awalnya penduduk kota dengan dukungan Pastur Francis Reynaud sangat tidak begitu menyukai kehadiran Rocher karena dianggap membawa pengaruh buruk bagi mereka. Namun seiring dengan berjalannya waktu, cinta pun datang sendiri menghampiri Rocher dan toko cokelatnya.

Novel ini luar biasa. Berkisah tentang pergolakan-pergolakan yang sering terjadi dalam hati manusia. Juga tentang harapan dan cita-cita. Jika diharuskan memberi penilaian, saya akan memberi 4 dari 5 bintang. So, sudah mulai tertarik dengan novel ini? Saya sarankan untuk membacanya. Bahasa dalam novel terjemahannya bagus (apalagi bahasa dalam novel aslinya).

22 thoughts on “Chocolat

  1. terkadang film tidak mampu menerjemahkan dengan baik apa yang ada dalam novelnya. tapi.. film chocolate (prancis) mampu dengan baik memvisualisasikan apa yg dimaksud penulis.

  2. resensi buku yg menarik Dhila 🙂
    film kadang kurang tepat utk mnerjemahkan isi dr sebuah buku, makanya baca bukunya pasti lebih menarik dr pada nonton filmnya.
    filmnya aja bagus, apalagi bukunya ya Dhila🙂
    salam

  3. saya baru nonton filmnya aja🙂 itu juga karena Jhonny Depp nya hehe🙂

    saya biasanya kalo udah terlanjur nonton filmnya, jadi males baca novelnya, tapi gak berlaku sebaliknya🙂 hehe

  4. For a very long time liberal “arguments” were part of the mainstream discussion only because conservatives (and moderates) actually took them seriously, as if unable to believe someone would put forward a national “narrative” composed solely of nonsensical and pathetic balderdash. But rather than taking advantage of that the liberals just kept piling on more nonsense fully expecting that, with the aid of extreme left wing media, they will continue on the same road. nBy now, with the election of a totally unqualified person as a president of the country, a person who run his entire campaign and subsequent term in office, entirely on the premise of this nonsensical liberal narrative, this has reached a critical mass and is increasingly no longer treated as a serious argument by all, except the most gullible, conservatives and moderates. You can see this in many forms, from the total rejection of Obama’s childishly naive and destructive agenda by non-liberal legislators, to large outpouring of support for the wrongly accused and virtually lynched, “white Hispanic” George Zimmerman, to widespread ridicule of Cherokee Woman “Stands with a Pout” Warren claims that she did not use affirmative action pretense to advance her career.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s