Muthia

MuthiaWow, rasanya ga percaya saya kembali menulis di dhila13 setelah hiatus ga bilang-bilang. Entah ada kekuatan apa yang membuat saya kembali memamerkan kata-kata di sini. Atau mungkin ini disebabkan Muthia, gadis cilik yang tanpa sengaja saya temui pada suatu kesempatan.

Ketika itu saya diminta menghadiri sebuah kompetisi lomba menghafal Al-Qur’an juz 29 dan 30 di suatu masjid di Lebak Bulus. Bukan hanya menghadiri dan menonton lomba, saya pun juga diminta menjadi peserta untuk hafalan juz 30. Ya, meski saya lemah soal ini (karena surat dan ayat pada juz 30 yang pernah saya hafal, sudah agak memudar) namun saya meyakinkan diri untuk ikut bersama dengan beberapa teman. Tentu bukan hadiah dan juara yang kami targetkan, namun hafalan-hafalan itu.

Kompetisi dibagi dua sesi sesuai kategori. Yang pertama juz 30 dengan 3 babak penyisihan dan 1 final. Dan yang kedua juz 29 dengan hanya 1 babak. Alhamdulillah saya beserta teman-teman berhasil lolos babak penyisihan dan kembali ikut pada babak final, meski tidak keluar sebagai pemenang. Yang penting kan proses muroja’ahnya, bukan hadiah dan prestise-nya. Ya kan?:mrgreen:

Kembali ke soal Muthia. Gadis kecil ini menarik perhatian saya dan teman-teman ketika kategori untuk juz 29 diadakan. Ketika itu ia duduk sejajar dengan juri sambil sesekali mengintip soal yang dibacakan. Dengan takjub saya memperhatikan gadis menggemaskan itu yang selalu berkomat-kamit membaca ayat-ayat yang ada pada juz 29. wow, gadis kecil yang berumur sekitar 8 tahun itu sudah hapal juz 29? Wah, ini namanya sekali lagi saya dikalahkan anak-anak.😀

Tidak bertahan lama Muthia berada di depan bersama para juri. Naluri anak-anaknya membuat ia tergoda untuk melakukan hal yang sama dengan anak-anak lain yang sedang asyik bermain. Namun sebelum ia berjalan menghampiri kami. Ternyata handphone milik saya yang sedang dipinjam teman yang membuatnya ia datang menghampiri. Dengan celoteh dan rayuan khas anak kecil, ia berusaha meminjam hp saya. Ia bilang ingin melakukan kegiatan fotografi kecil-kecilan di sekitar masjid. Tidak ingin mengecewakannya akhirnya saya pun meminjamkannya dan membiarkannya sejenak-jenak bersenang-senang dengan hp saya.

Tidak sampai 10 menit, Muthia pun kembali menghampiri kami dan mengembalikan hp. Rupanya itu karena kompetisi juz 29 sudah selesai (ternyata ibunya menjadi peserta dalam kategori juz 29 ini). Saya masih tersenyum ketika Muthia sudah menghilang dari masjid. Anak-anak memang menakjubkan. Mereka adalah kertas putih yang bebas dibentuk orang tuanya. Salah satu yang terbentuk dengan baik sejak kecil adalah Muthia. Ia merupakan hasil binaan yang intensif dari orang tuanya. Sejak kecil sudah menghafal Al-Qur’an. Bukankah itu hal yang positif? Mengingat Muthia, saya kembali mengingat cita-cita saya untuk menjadi ibu yang baik dari anak-anak yang terlahir dan terdidik dengan bak juga nantinya. Amin.😉

4 thoughts on “Muthia

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Akhirnya saya menjumpai update blog ini sehingga dapat mengamankan pertamax di sini.
    Hafal juz 29?. Wah, saya juz 30 aja hanya hafal beberapa surat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s