Grandfather and Grandson

saya suka berjalan sendirian. apalagi jika daerah tersebut saya ketahui dengan baik. karena dengan begitu saya bisa dengan mudah melihat sekitar dan sedikit merenung tentang apa-apa yang saya lihat.

salah satu daerah yang sering saya lewati dengan berjalan adalah daerah Senen (Pasar Senen). seperti biasa banyak fenomena yang saya dapat. salah satu yang sering saya lihat adalah seorang kakek yang selalu mendorong kereta bayi yang ditempati cucu laki-lakinya yang sepertinya terkena sindrom autis. saya selalu melihat mereka setiap sore atau setelah pulang dari kantor.

berikut gambar mereka yang berhasil saya dapat:

P06-04-10_16-52 P08-04-10_16-42 P19-04-10_16-56

saya jadi malu sendiri. karena saya hanya bisa memotret mereka tanpa bisa membantu. semoga suatu saat saya bisa melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. aamin.🙂

** bisa baca juga artikel saya sebelumnya yang berjudul Father and Son. isinya kurang lebih sama dengan artikel ini.

49 thoughts on “Grandfather and Grandson

  1. Hmm.. gak pernah nyoba ngobrol sama kakeknya mbak ? Ya misalnya kenapa mereka selalu lewat situ ? Kadang saya merasa bingung, kasihan. Soalnya ya itu.. gak bisa berbuat apa-apa ke orang-orang seperti itu😦

    Pengen sekali berbuat lebih, tapi rasanya belum bisa😐

  2. kadang hal-hal yang sudah di depan mata itu malah membaut canggung. Sekedar ingin menyapa malah takut dan bingung mau ngomong apa. Harus benar-benar mempersiapka diri sebelum mengajak bicara.

  3. dua ponakan hebat ku pun seperti itu dil….saya banyak belajar dari mereka, ayah dan mamahnya…..

    *tapi kelak ada keajaiban dibalik keterbatasan itu….

  4. selamat pagi.

    mantab nih, fotografinya bertema human interest.

    katanya orang2 yg jago foto, si pak tua dan cucunya setidaknya diajak ngobrol. yah, anggap aja sebagai balas jasa sebagai model🙂

    terima kasih dan mohon maaf😮

  5. hello hello
    kak dhila

    itu berhenti karena kakeknya capek atau adayg rusak..

    hmm.. knapa cucunya di bawa ke pingir jalan,,, kalau mau jalan jaalan… kan pinggir jalan itu penuh polusi.. kalau mau jalan jalan…. kan bisa ke taman…

    atau mungkin ada alasan lain kali yah😛

  6. Saya mo ngasih usul plus spirit buat membuka percakapan, gradually. Misal: dimulai dengan put a smile when he takes a look at you, trus berikutnya mulai dengan saying hi/salam or sumlike that, trus kalo masih ketemu lagi you can start a lil conversation.

    Hmm… teoritis sekali, tapi layak untuk dipertimbangkan:mrgreen:

  7. nice post, la.

    jadi inget sama almh. nenek saya, yang ngelakuin banyak hal buat saya dulu :,(

    jadi inget pula kisah kakek-cucu dan keledai, tapi ini kisah yang berbeda.

  8. gw juga suka jalan kaki dari sekolah ke Yogya Department Store (Bogor). tapi bedanya gw lebih suka bareng-bareng teman?

    kenapa? karena trotoarnya sering dilewatin motor. jadi kalau sendiri sering diklakson motor. kalau bareng-bareng… bisa nutupin motor yang lewat trotoar:mrgreen:

    bahkan sering juga jatuhin orang yang naik motor lewat trotoar…

    NB: jangan ditiru😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s