Jogja Kembali

well, selama sepuluh hari (20-28 Feb) ini saya keliling lagi (Surabaya-Medan-Jogjakarta-Bandung-Jakarta). ini bukan agenda travelling biasa, tapi demi kerjaan. jadinya kita udah kayak orang dikejar-kejar polisi. bayangkan aja, singgah di satu kota cuma semalam atau dua malam. dan err, ketika saya menulis curcol ini, sedang jatuh hari Rabu, 24 Februari 2010. dan saat ini (sejak tanggal 23 Feb kemarin) saya ada di Jogjakarta, sebuah kota kecil yang sepertinya makin lama makin bertambah sibuk. wah, jadi inget Jakarta. aduh, gak kemana-mana ketemunya keramaian terus. umm, tapi pokoknya impian tinggal di Bandung masih jadi mimpi paling pertama-lah. :mrgreen:

tidak seperti di Surabaya dan Medan, di Jogja saya sempat mampir ke tempat shopping, meski lagi-lagi ke Mirota Batik dan makan malamnya harus nyasar sampe Sleman. ini sih gara-gara supir mobil travello aja nih yang malu bertanya. phuih!

P2150010dan, oh iya, gak nyangka juga sempet ikutan siaran (jadi suporter) di Swaragama FM, radionya UGM. yaa, lumayan lah… akhirnya bisa menepati janji seorang teman blogger untuk mampir ke UGM, meski tanpa teman saya itu jadi guide-nya. dan meski kedatangan saya ke UGM cuma stuck di radio Swaragama aja. gapapa deh, yang penting judulnya mampir kan. :mrgreen: oh iya, buat anak2 UGM khususnya nih, siaran kita yg tanggal 23 Feb itu didengerin gak? padahal penyiarnya udah ganteng gitu juga (wew)… umm, siapa ya namanya… umm… kata Gandabhaskara sih namanya Taufik. oke, padahal mas taufik udah ganteng dan suaranya bagus gitu. masa gak ada yang dengerin. heheh…

P2160029 well, sekarang2 ini saya gak motret banyak momen… cuma sedikit yang saya ambil gambarnya. kayak gambar studio swaragama diatas. atau kayak gambar saya dan Gandabhaskara ini yang lagi aneh mengangin tangan wayang, haha, ada-ada aja. udah malem, udah capek tapi masih aja narsis. FYI, foto yang saya tampilkan full foto si ganda aja, foto saya di-crop banyak dengan alasan yang dirahasiakan. heheh…

dan umm, sekarang sudah pukul 12.24 di tanggal 24 Feb 10. besok pagi2 udah kudu berangkat ke adisutjipto, kita mau terbang lagi ke Jakarta dan lalu ke Bandung dengan bus. well, semoga turbulensi di pesawat nanti lebih sedikit deh. biar gak ngeri … soalnya pas ke Medan kemarin, turbulensi pesawat benar-benar sangat mengerikan. awannya banyak dan sedang menebal mungkin.. hmm. oke, teman-teman blogger, semangat yah. maaf saya belum bisa blogwalking, nanti insya Allah akan saya sempatkan blogwalking. kanegn juga dengan teman-teman. 🙂

Tentang JD Salinger

intermezzo: akhir2 ini saya merasa tidak punya waktu untuk sendiri. blog saya tinggalkan terlalu lama. padahal setiap kali usai membaca buku atau artikel, saya berjanji akan mengulasnya. tapi nyatanya, saya bohong pada diri saya sendiri. 😦 well, kini pun saya paksakan untuk menulis sebuah artikel tentang seorang penulis besar. sebenarnya sih saya nulis ini atas dasar gak enak juga sama seorang teman blogger. Bro, ini artikel miskin yang saya janjikan tempo hari. LOL.

***

"I love to write, and I assure you I write regularly. But I write for myself and I want to be left absolutely alone to do it." (JD. Salinger)

apakah teman-teman sekalian tahu novel berjudul THE CATHER IN THE RYE? novel luar biasa ini dibuat sekitar tahun 1950-an. Berkisah tentang seorang remaja bernama Holden Caulfield dengan karakter pemberontak. remaja dengan usia 17 tahun ini dikisahkan baru saja dipecat dari sekolah barunya. Holden, meskipun berasal dari keluarga kaya dan terpandang serta aritokratis, namun ia tidak bisa mencapai prestasi yang bagus di sekolah. sehingga ia memiliki banyak kasus yang sama, yakni dikeluarkan dari sekolah karena nilai-nilai yang buruk dan sikap yang kurang sopan.

novel ini sangat populer di seluruh dunia, karena tercatat penjualan 250,000 kopi setiap tahunnya. ditambah lagi novel ini semakin populer karena tindakan seorang fans John Lennon *the beatles* bernama Mark Chapman yang berhasil membunuh Lennon. kabarnya Chapman mengakui kalau ia termotivasi dari novel ini untuk membunuh Lennon yang diidolakannya itu. akhirnya novel ini pun menuai julukan sebagai novel kontroversial.

lalu siapakah pengarang THE CATCHER IN THE RYE tsb? jawabannya adalah pemilik quotation yang saya kutip setelah intermezzo: JD Salinger. JD salinger baru saja tutup usia tahun ini di usia 91 tahun. ia adalah seorang penulis brilliant yang lahir pada tahun 1919. meski karya yang dipublikasikan tidak banyak, namun ia tak pernah berhenti menulis sedikit pun. bahkan masa tuanya dihabiskan di kota kecil New Hampshire hanya untuk menulis. seperti yang dikatakannya ia sangat cinta dunia tulis menulis. ia tak senang memiliki ketenaran jika itu harus menjauhkannya dari hobi menulisnya. Ah, JD Salinger, selamat jalan. saya senang bisa mengenalmu walau hanya lewat THE CATHER IN THE RYE saja. 🙂

credit: Jakarta Globe, the end of January 2010