Sang Pemimpi Tidak Boleh Larut Dalam Kecewa

intermezo: hmm… pernah teman2 merasa kecewa? kecewa pada orang sekitar kita dan keadaan. merasa tidak dihargai dengan hal-hal yang sudah susah payah kita usahakan. bagaimana rasanya? saya pikir cukup sakit menonjok ulu hati. kemarin saya merasakan hal ini. wajar memang jika kecewa ada dalam hati-hati manusia, karena kita hanyalah makhluk yang memiliki hal serba kurang, bodoh juga keras kepala. kemarin saya berusaha memendam rasa kecewa hingga bernyanyi kecil ala BCL:

ingin kumarah melampiaskan // tapi ku hanyalah sendiri disini // ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada // bahwa hatiku // KECEWA…

kemudian saya berpikir ulang lagi, buat apa saya nyanyi lagu ini? gak penting dan malah marah menjadi2. sehingga saya tidak bisa bersyukur. payah. akhirnya saya mencoba menenangkan diri. meski tanpa terasa air mata mengalir menuju aliran bawah wajah. dan kini, saya semakin tenang, sudah mulai bisa melupakan hal2 tsb. mohon maaf utk teman-teman yang menjadi objek dan sebab kekecewaan saya (meski sebenarnya sikap kalian harus diperbaiki juga dan harus peka terhadap perasaan orang lain. 🙂 ).

salah satu sebab kecewa saya mereda ialah dengan menonton SANG PEMIMPI di 21 Bintaro Plaza kemarin (19/12). air mata saya kembali meleleh ketika nonton SANG PEMIMPI itu, bukan karena kembali kesal, namun karena terharu luar biasa. berikut ulasannya.

***

”Bangkitlah, wahai para Pelopor!!!, pekikkan padaku kata-kata yang menerangi gelap gulita rongga dadamu! Kata-kata yang memberimu inspirasi!!!” (Sang Pemimpi, Andrea Hirata)

dikisahkan ikal kecil tumbuh menjadi anak remaja dan harus merantau ke luar kampungnya untuk bersekolah di SMAN 1 Manggar. ikal bersama dua orang sahabatnya, arai (yang juga sepupu jauh ikal) dan jimbron menyewa satu rumah kecil untuk ditinggali selama mereka bersekolah disana. selain sekolah, mereka juga bekerja paruh waktu demi memenuhi kebutuhan hidup dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. mimpi-mimpi yang jika dilihat dan dibandingkan dengan kondisi mereka sangat jauh. dua orang anak kampung di antah berantah indonesia yang bermimpi untuk bersekolah di Sorbonne, Paris. tapi itulah kehebatan mereka, tak ada yang bisa mematikan mimpi yang mereka punya.

banyak tokoh hebat (tentunya) dalam film ini. namun biar saya hanya menyebut beberapa saja seperti pak balia (guru sma ikal, dkk), ayah ikal dan arai si sepupu ikal yang suka buat rusuh itu. pak balia, selalu menyebut siswa-siswanya dengan SANG PELOPOR. sebelum memulai dan menyudahi pelajaran, ia selalu meminta para siswanya untuk mengutip kata-kata dari orang-orang besar yang memberi mereka inspirasi. orang-orang besar yang dimaksud disini ialah tak terbatas pada tokoh dunia dan nasional namun siapapun orang yang berhasil memberi inspirasi pada diri mereka. dari sanalah mimpi-mimpi berhasil tumbuh tinggi dalam benak para siswa, tidak ada ketakutan mereka untuk bermimpi karena sudah ada kekuatan yang lebih besar yakni keyakinan.

disini, ayah ikal, ditonjolkan dengan perannya yang sangat sabar dalam menerima apapun yang menimpanya. tiada ada kata kecewa atau keluhan yang keluar dari bibirnya. ah tidak seperti saya yang selalu ekspresif dengan hal-hal yang sensitif. kesabarannya itulah yang membuat ikal selalu menyebut dirinya sebagai ayah juara satu sedunia.

arai, sepupu jauh ikal yang sebatang kara karena telah ditinggal mati ibu-ayahnya ialah orang yang paling tangguh di mata ikal. ia-lah sang pemimpi. ia membuat ikal berani menempuh mimpi-mimpinya. suatu ketika ia berkata, Kalau kita tak punya mimpi, orang-orang seperti kita akan mati, Kal!” Seperti ayah ikal, arai digambarkan tidak pernah mengeluh dengan keadaannya. ia selalu tampak riang dan terus mempertahankan mimpinya dengan berusaha sebaik mungkin. dan satu hal lagi yang menjadi keunggulannya, ia selalu punya cara dan tindakan yang tak bisa diduga orang lain.

ah, begitulah orang-orang yang yakin dengan mimpi-mimpinya. lalu bagaimana dengan kita? jangan menyerah yah. itulah kenapa saya buat kontes dengan meminta teman2 menuliskan impian, biar diingat kembali dan dicoba diwujudkan. itu kalo impiannya gak ngayal yah, hehe.

oia, satu lagi yang saya perhatikan dalam film ini, make-up artistnya bagus lho. soalnya penampilan wajah ayah dan ibu ikal sejak zaman ke zaman bisa berubah dan meyakinkan. maksud saya ketika ikal kecil, rieke diyah pitaloka dan mathias muchus yang memerankan ayah-ibu ikal terlihat tampak muda, lalu ketika ikal remaja, penampilan setengah baya mereka meyakinkan dan ketika ikal dewasa, mereka tampak sangat tua dan lemah dengan make up yang didominasi warna gelap. luar biasa. two thumbs up untuk petugas make up SANG PEMIMPI. :mrgreen:

oke dicukupkan untuk ulasan SANG PEMIMPI kali ini. baik Para Pelopor, sebelum kita akhiri ulasan kita, pekikkan padaku kata-kata yang menerangi gelap gulita rongga dadamu! kata-kata yang memberimu inspirasi! :mrgreen: