Diomelin Pemulung

intermezo: sebelumnya dalam memperingati hari anti korupsi sedunia tanggal 9 Desember, mari bersama merenung dan berdoa sejenak agar bangsa Indonesia memiliki kepribadian yang lebih baik dan lebih bersih. pada awalnya, saya ingin menulis liputan  demo di Jakarta, namun sayang terbentur jadwal kantor.  padahal perintah tugas tak langsung dari pimred tim media KAMMI PUSAT sudah saya kantongi untuk meliput aksi hari ini. lagipula kangen juga udah lama gak turun ke jalan. :mrgreen: namun ya sudah, tugas saya itu sudah diganti dengan tugas lain, yakni menulis features aksi anti korupsi secara nasional (untuk artikel features-nya bisa dilihat di sini dan di sini. ya, apapun bentuk tugasnya, tetap menjalani perintah atasan, siapapun itu. 🙂

***

waduh, kayaknya yg namanya dila selalu apes yak, gak dimana-dimana diomelin orang. udah gitu gak tanggung-tanggung dari semua kalangan pernah ngomelin dila, mulai dari kalangan bos sampe kalangan pemulung dan pengemis. apa karena wajah dila polos dan innocent, jadi kayaknya enak buat dijadikan sasaran tumbal kemarahan. jiaahhh… well, great experience i had that may people never feel this one.

hal ini terjadi ketika sekitar taun 2006, ketika saya masih semester 4 di perkuliahan. ketika itu seperti biasa saya menyempatkan diri magang di kantor tempat saya freelance sekarang. berangkat pagi-pagi dari kosan membuat saya harus sampai di kantor pagi hari pula. sebelum mencapai gedung kantor, saya harus melewati trotoar di sebuah perempatan lampu merah. disana terdapat pemandangan yang tak asing lagi buat orang-orang yang terbiasa melewati daerah tsb. tau apa pemandangan yang tidak asing itu? yakni terbiasanya para penyapu jalanan dan pemulung masih asyik terlentang menghabiskan mimpi tidurnya. terkadang saya sampai harus mengusapkan wajah ketika melihat salah satu penyapu jalanan tidur menghadap samping dengan sapu sebagai guling-nya. trenyuh saya.

nah di pagi itu, kebetulan sekali saya tidak melihat para penyapu jalanan seperti biasanya, mungkin sudah bangun dan menjalankan dinasnya. tapi mata saya tetap mendapatkan seorang pemulung, tepatnya seorang ibu-ibu pemulung, yang tengah asyik berkutat dengan barang-barang bekas dan gerobak karatannya. saya terus menatap ibu tersebut dan pada awalnya ingin tersenyum menyapa. namun tiba-tiba ibu pemulung tersebut mencak-mencak dan membalas tatapan saya dengan sinis dan galak. saya bingung bertanya-tanya, wuih kenapa nih ibu? kok tiba-tiba saya kena omel?

ternyata, usut punya usut, ketika melewati ibu pemulung tersebut, saya tengah menutup hidung. mungkin ibu tsb menyangka saya tengah menyindirnya karena bau badan dan bau sampah ibu tsb. padahal bukan itu maksud saya, sama sekali tidak ada niatan ingin menghina atau perlakuan tidak menyenangkan lainnya. saya menutup hidung karena memang saya terganggu dengan asap-asap knalpot yang dikeluarkan kendaraan umum dan pribadi yang lewat lampu merah itu. ya ampun, salah lagi deh saya. well, dalam hati saya sungguh amat menyesal dengan perbuatan yang tidak disengaja itu.

hikmah yang bisa diambil ialah segala perbuatan dan perkataan yang kita lakukan belum tentu menyenangkan orang lain. barangkali hal-hal tersebut sangat menyakiti orang lain tanpa pernah kita sadari. intropeksi diri tanpa henti. semoga kita selalu bisa sadar diri dengan segala kesalahan yang kita lakukan sekecil apapun. 🙂

sumber gambar: http://www.chip.co.id/gallery/data//507/pemulung1.jpg