Tau Gak Dimana?

Lagi-lagi saya membuat tulisan berdasarkan pertanyaan2 menggelitik dari beberapa teman ‘dumay’. emang mereka nanya apa? oke, dibawah ada beberapa cases, silahkan diperhatikan dulu 🙂 :

case 1

  • Dila: Emang kuliah dimana?
  • Teman: di UNHAS. tau gak?
  • Dila: Universitas Hassanudin, Makasar kan?
  • Teman: Kirain gak tau. *saya geleng2 kepala. sebegitu kupernya jika saya sampai tidak tau hihi*

case 2

  • Dila: Emang pulang kemana?
  • Teman: ke Bone. tau gak dimana?
  • Dila: Ya taulah, di Sulawesi kan? sekarang tau Bekasi gak?
  • Teman: Ya tau donk, teman2 kuliahku kan banyak yang dari Bekasi.

case 3

  • Dila: Gak Mudik?
  • Teman: Mungkin Senin.
  • Dila: Kemana?
  • Teman: ke Rembang. Tau gak?
  • Dila: Karena saya pernah belajar peta dan sejarah jadi tau :mrgreen:

Saya heran, kenapa ada teman-teman yang menanyakan hal ini pada saya. apakah karena saya ‘teranggap’ kuper, gak tau pemetaan daerah di Indonesia? atau mereka yang menganggap daerah tempat mereka tidak terlalu terkenal atau bagaimana? sekarang saya tanya apakah teman-teman tau dimana itu Salemba, Rawasari, Cempaka Putih, Kwitang, Kwini, Kramat Sentiong, Matraman, Gunung Sahari, Rawamangun berada? saya yakin pasti tau, karena banyak sudah orang daerah yang merantau di beberapa bilangan di Jakarta ini. kebetulan daerah yang saya sebutkan ialah merupakan daerah yang akrab dengan saya sejak kecil hingga sekarang, mulai dari lahir hingga saya bekerja freelance di salah satu tempat yg saya sebutkan tadi.

Dan teman tau dimana daerah Gubug, Grobogan? sebuah kota (kampung deh) keciiilll banget yang didampingi beberapa kota seperti Purwodadi, Demak dan Semarang. disana tempat keluarga ayah saya berada. sebuah desa yang masih agak jauh dari modernitas. sehingga atas dasar apa saya tidak tahu nama2 kota yang lebih besar dari kampung ayah saya itu? 🙂

Lalu apakah teman tau dimana daerah Kunciran, Larangan, Balaraja, Tambun, Kaliabang Tengah, Kampung Cerewet? daerah-daerah yang saya sebutkan itu ada di daerah Tangerang dan Bekasi. kebetulan saya pernah menulis sebuah artikel yang berjudul “Daerah Jepitan, Ada Gak Ya??”. isinya menggelitik, soal keingintahuan saya tentang sebuah daerah. Gara2 hal ini saya jadi mencari tau soal sejarah beberapa nama daerah di Jakarta seperti Kwitang, Kemayoran, Jatinegara, Kebagusan, Pasar Minggu, Pasar Rumput, Bangka dll. dan ternyata, sejarah-sejarah nama kota dan daerah itu cukup unik lho. seperti halnya daerah Poltangan yang ada di bilangan Pasar Minggu, Jak-Sel. Kabarnya, daerah tersebut dinamakan Poltangan ialah karena dulu ditemukan sebuah potongan jempol tangan orang yang tidak dikenal. hiiiiy… mengerikan! :mrgreen:

kebetulan saya cukup suka sejarah, meski gak bisa dibilang fanatik. rasanya senang saja jika mengetahui latar belakang yang menjadi sebab sebuah akibat. 😉 jadi ingat, dulu mungkin karena nilai sejarah saya lumayan keren (pas UAN SMA dapet A+ hehe. tapi sekarang gak bisa dipercaya lagi. coz udah jarang baca dan belajar ssiiihh!), saya sempat diterima di jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang. cuma karena diterima juga di universitas negeri yang jaraknya lebih dekat dari rumah, jadi jurusan itu tidak saya ambil.

Balik lagi ke topik Makassar, Bone, Rembang. Jelas teman, saya tau daerah2 itu. Tiga kota ini ialah daerah bersejarah. tidak perlu saya jabarkan bagaimana sejarah kota tersebut dan orang-orang hebat yang lahir di tanah itu. karena jika dijelaskan, bisa jadi tulisan ini makin panjang. Jadi begini, jangan anggap orang yang tinggal di pusat kota tidak peduli dengan daerah. meski saya belum pernah ke sana (tapi suatu saat pasti main! ;)), saya bisa mengikuti bagaimana perkembangannya juga perkembangan daerah2 lain di Indonesia. sekarang kan udah ada TV, Radio, Internet. Teknologi udah canggih-lah. Soal kasus Talang Sari di Lampung taun 1984 aja saya tau, padahal kejadiannya sebelum saya lahir. ya itu tadi seperti yang saya bilang, ada banyak alat untuk mendapatkan informasi. *meski sebenarnya saya pun masih cukup kuper ;)*

begitu teman, sekedar suara hati dari saya. 🙂

RALAT:

Kasus talangsari Lampung ternyata bukan terjadi tahun 1984, seperti yang pernah saya baca sebelumnya. jangan-jangan saya yang salah mengingat (saya gak mau nyalahin sumber, takut dituntut balik hehe). ketika saya check lagi di mbah Google, kasus itu terjadi tahun 1989 di bulan Februari. berarti saya sudah berumur sekitar 1,5 tahun pada tahun itu. namun kalau kasus Tanjung Priok, memang terjadi di tahun 1984. ah, sungguh kasus-kasus yang mengerikan.