Di dalam Rutan

di tengah rutan diam sesaat. napi-napi patuh memberi hormat. namun entah mengapa polisi kurang cermat. sebab beberapa jam kemudian banyak peluru nyasar melompat. semua napi jadi kutu loncat. kabur dari jeruji besi yang mengikat. polisi-polisi berhamburan mengejar dengan cepat. tanpa peduli di dalam ada salak-salak berasa sepat. mereka terus berlari mencegat dan mencegat. hingga akhirnya hanya seorang napi yang didapat. ialah seorang kakek tua berkulit hitam pekat. para polisi menghembus nafas kuat-kuat. mereka tercekat …

Sukabumi, 17 Januari 2004 @ 7.26 WIB

PS. ini merupakan puisi yg saya buat ketika masih berumur 16 tahun atau ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 3. sebenarnya bentuk puisi ini berbait-bait. namun kini saya mengubahnya dalam bentuk prosa saja. biar seperti cerita. saya memang suka sekali membuat puisi beralur dongeng atau kisah ketika itu. sampai2 tidak terasa sudah ada lebih dari 200 puisi yang saya ungkapkan dalam 5 buku tulis kosong. sekarang entah kemana buku-buku itu. saya memang tidak berbakat menjadi seorang penyair, sebab menjaga karya sendiri saja tidak bisa. salam semangat untuk semua.

84 thoughts on “Di dalam Rutan

  1. Rimanya mantap. Akhiran -t.

    Prosa terdengar lebih jujur dibanding syair. Dalam prosa, ungkapan perasaan penulis lebih dapat tertangkap jelas dibanding syair. Kalau mau menyembunyikan rasa, syair ambigu jawabnya.

    Tapi syair napi yang kabur, terasa realistis. Pengalaman pribadi?πŸ˜€

  2. ah, sepertinya baru kemarin saya dari sini, membaca resensi Brick Lane. Sekarang ke sini sudah update lagi.
    hilang tak mengapa asal masih bisa terus berkaryaπŸ™‚
    salam semangat juga dari ujung indonesia.
    MERDEKA!!!

    (tujuh belasan jengπŸ˜€ )

    • saya memang punya kebiasaan klo posting tuh sekali beberapa artikel. jadi saya pun sering posting artikel yg dijadwalkan untuk seminggu atau sebulan kemudian misalnya. jadi gak usah repot2 posting lagi, kan udah direncanakan sebelumnya.πŸ™‚

  3. di dalam rutan
    tempat jiwa-jiwa yang telah berbuat dosa ditahan
    dan entah sejak kapan mereka merindu kekebasan
    dalam lingkaran keterkungkungan mereka merantai jiwa mereka terhadap jiwa yang lain sesuatu persaudaraan
    menunggu dan menunggu datangnya hari kemerdekaan
    hari dimana mereka bisa lagi menghirup udara kebebasan
    hari dimana mereka akan dilepaskan

    btw, selamat tujuh belasanπŸ˜‰

  4. wah..hebat mba…
    bener tuh kata bunda…kenapa gak dibikin buku?
    atau sebelumnya bisa diposting nih dalam blog…
    ditunggu yah prosa-prosa yang lain, siapa tau bisa menyaingi dee…
    hehehe…

  5. salam.
    waw 200 puisi, hebat. untuk membuat satu puisi saja, hmmm… pening.

    kalo saya bukan bikin, tapi sejak SD kerjaan ngumpulin Puisi dari Majalah jadul Suara Pembaharuan, agak gede dikit ngliping koran ma majalah (hobi yang terlupakan). tapi sekarang gak tau kemana, raib he…

    bikin buku neng, ditunggu, atau kita bikin antologi puisi para bloger, gimana?

    • kawan lama kakakku, ketika SMA saya tingga di asrama. jadi tidak pernah nonton tv. tolong dicatat itu. ini murni imajinasi saya. mungkin kebanyakan orang bilang saya aneh, ya memang saya aneh. sering berimajinasi hal2 yg tdk pernah saya sentuh sekalipun.πŸ˜‰

  6. wah de bagus imajinasinya. tidak semua penulis mampu de. karena ketika imajinasi itu terbangun biasanya ketidak beraniannya untuk mengungkap dalam sebuah tulisan. Saya salut teruskan ya.

  7. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang β€˜tuk Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

  8. waaah…dhila pinter bikin puisi jg rupanya?mengingatkanku pada puisi2qu saat SMA.. dlu aq jg suka bikin puisi pake perumpamaan gtu… hhe..jd curhat deh!πŸ˜€

  9. tuh kan mbaa..masih SMP aja udah berbakat…
    udah langsung dibikin buku kumpulan prosa aja mba..
    saya juga lebih memilih prosa ketimbang syair yang bahasanya cenderung lebih melangit…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s