Di dalam Rutan

di tengah rutan diam sesaat. napi-napi patuh memberi hormat. namun entah mengapa polisi kurang cermat. sebab beberapa jam kemudian banyak peluru nyasar melompat. semua napi jadi kutu loncat. kabur dari jeruji besi yang mengikat. polisi-polisi berhamburan mengejar dengan cepat. tanpa peduli di dalam ada salak-salak berasa sepat. mereka terus berlari mencegat dan mencegat. hingga akhirnya hanya seorang napi yang didapat. ialah seorang kakek tua berkulit hitam pekat. para polisi menghembus nafas kuat-kuat. mereka tercekat …

Sukabumi, 17 Januari 2004 @ 7.26 WIB

PS. ini merupakan puisi yg saya buat ketika masih berumur 16 tahun atau ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 3. sebenarnya bentuk puisi ini berbait-bait. namun kini saya mengubahnya dalam bentuk prosa saja. biar seperti cerita. saya memang suka sekali membuat puisi beralur dongeng atau kisah ketika itu. sampai2 tidak terasa sudah ada lebih dari 200 puisi yang saya ungkapkan dalam 5 buku tulis kosong. sekarang entah kemana buku-buku itu. saya memang tidak berbakat menjadi seorang penyair, sebab menjaga karya sendiri saja tidak bisa. salam semangat untuk semua.