Brick Lane on the Novel and the Movie

Akhirnya kerinduan bersambut juga setelah sekian lama saya tidak mengulas buku dan film di blog ini. Sebenarnya bukan saya tak ingin mengulas buku yang sudah saya baca atau film yang telah saya tonton di blog yang full curhatan kosong ini. Namun semata-mata hal ini disebabkan sudah dua bulan ini saya tidak membaca buku apapun. Ah payah juga saya ini, padahal saya berjanji dan mentargetkan pada diri saya sendiri untuk membaca minimal dua buku dalam sebulan, namun sayangnya saya mengingkari hal tsb. Buku-buku yang sudah saya beli dan saya pinjam, harus bersabar menanti dibaca oleh penulis bodoh ini. Sebenarnya pun bukan karena tidak ada waktu, namun lebih karena rasa malas yang menggunung. Tapi yang lebih benar sih karena dalam dua bulan ini saya kesulitan menamatkan sebuah novel special yang saya beli dengan harga special juga yakni Rp. 225.000,-. Novel tersebut ialah novel berbahasa Inggris berjudul ‘BRICK LANE’.

51320ZiTg6L._SL500_AA240_ Brick Lane

Saya pun sebenarnya juga telah membaca buku ini sejak Januari 2009, karena saya memang membelinya pada bulan tsb pula. Niat awalnya sih karena ingin membantu teman yang tengah mencari bahan untuk skripsi. Dan saya berniat novel ini agar dibahas teman saya itu untuk skripsi, namun akhirnya tidak jadi karena ternyata telah ada teman saya yang lain yang lebih dulu membahas novel ini. buat teman-teman yang udah baca novelnya, yuk kita bahas bareng novel ini. dan buat yang belum, bisa baca artikel dibawah ini sebagai referensi.

Novel karya Monica Ali ini sangat menarik. Sampai-sampai novel ini menjadi nominasi untuk beberapa penghargaan seperti ‘the National Book Critics Circle Award’ dan ‘the Los Angeles Times Book Prize Shortlisted for the the Man Booker Prize’. Novel ini pun juga di-filmkan dengan judul yang sama.

Brick Lane menceritakan tentang seorang wanita Muslim Bangladesh bernama Nazneen yang dijodohi dengan seorang laki-laki (Chanu) yang 20 tahun lebih tua darinya. Setelah menikah ia diboyong suaminya ke London. Ia pun ikut suaminya dan meninggalkan kampung halamannya dan orang-orang yang dicintainya termasuk adik semata wayangnya yang bernama Hasina. Sebagai seorang Muslimah yang baik, ia mencoba untuk tidak bertanya apapun tentang takdir dan hidup yang dijalaninya. Namun suatu ketika ia terlibat affair dengan seorang pemuda tampan (Karim) yang radikal dan lebih muda darinya.

Begitulah singkat cerita novel tsb. Meski sebenarnya isinya lebih rumit dari itu karena banyak isu yang ditawarkan sang penulis disini. Sampai-sampai saya bingung ingin menuliskan hal yang mana dulu, hoho. Karena saya ingin membahas novel dan filmnya sekaligus. Moga-moga teman-teman blogger gak bosen baca ulasan saya ini yah. Soalnya kayaknya bakalan panjang kali lebar nih.:mrgreen:

  • Isu Ke-Islaman

Oke, yang pertama ialah mengenai Islam itu sendiri. Nah, ini pun dijabarkan dengan masalah yang tidak sederhana dalam novel ini. Pertama tentang takdir. Nazneen dilahirkan dari seorang ibu yang bersifat dan bersikap pasrah terhadap takdir Tuhan. Contoh kecil ketika Nazneen lahir, ia tidak menangis sama sekali dan terlihat seperti mengalami gangguan kesehatan, namun ibunya yang dipanggil ‘Amma’ itu tidak berusaha untuk membawanya ke dokter meski sudah disarankan oleh keluarganya yang lain. Ia memiliki motto, ‘whatever I did, only God decided’. Dan hal inilah yang menurun pada Nazneen. Dalam novel ini pun dinyatakan bahwa seorang manusia itu tidak boleh sepenuhnya pasrah tanpa berbuat apapun. Hal ini disampaikan lewat karakter sang bibi Nazneen yang bernama Mumtaz ketika ia berbicara pada Amma, “Sister, but until He reveals them we have to get on by ourselves”.

Kedua tentang refleksi ummat Muslim yang belum menjalankan ibadahnya dengan baik. Disini hampir semua karakter merefleksikan hal ini. Pertama, Nazneen, yang meski sangat taat dalam sholat namun ia hampir tidak pernah membaca Al-Quran (krn memang ia kurang pandai membaca huruf arab). Al-Quran hanya disimpan saja di tempat yang baik. Dan ia pun terpeleset melakukan hubungan gelap dengan Karim.

Lalu, tokoh Chanu yang merupakan suami Nazneen. Bisa dibilang ia merefleksikan seseorang yang beragama ‘Islam KTP’. Ya, hanya seorang Islam yang cuma memenuhi data statistik kepndudukan saja. Ia seorang yang berpendidikan dan sangat mencintai buku-buku miliknya. Namun untuk urusan Islam, ia menyimpannya dalam hati dan menganggap Islam ada dalam hatinya. “Islam is in here, in my heart.” Begitu katanya dalam film.

Kemudian tokoh Karim yang menjadi pacar gelap Nazneen. Ia merupakan gambaran seorang pemuda Muslim yang peduli dengan isu-isu umat Islam di seluruh dunia. Ia yang memberikan informasi pada Nazneen tentang kondisi umat Islam di dunia, mulai dari Palestina hingga Muslim di Afrika dan belahan bumi lainnya. Ia mendirikan gerakan komunitas Muslim yang dianggap radikal (Bengal Tigers) oleh pemerintah London. Namun ironisnya meski ilmu keislamannya cukup memadai (hadist, dsb) namun ia tidak cukup dalam mengaplikasikannya. Ia sendiri yang memulai hubungan gelapnya dengan Nazneen.

Lalu ada tokoh yang bernama Mrs. Islam. Ia adalah seorang wanita tua yang dikenal Nazneen di London. Ia pun berasal dari Bangladesh. Pada awalnya ia terlihat sangat baik dengan menasehati Nazneen akan banyak hal khususnya soal Islam. Namun dibalik itu ternyata ia adalah seorang lintah darat atau kasarnya pemakan riba.

Memang jarang ada Muslim yang menjalankan ibadahnya dengan sempurna. Apalagi yang nulis artikel ini.:mrgreen:

  • Isu Immigrant (Cultural Identity)

Karena novel ini bercerita tentang immigrant yang menetap di London, isu-isu immigrant pun tak lepas dari novel ini. seperti ketika misalnya Bengal Tigers mengadakan rapat perdana, terlihat dari cara mereka rapat mereka terikat sangat kuat dengan identitas asal Negara mereka yang pastinya melingkupi identitas Muslim mereka pula.

  • Isu Gender

Nah ini yang menarik. Tokoh utama dalam novel dan film Brick Lane ini ialah perempuan bernama Nazneen. Disini dijabarkan tentang berbagai karakter perempuan. Seperti perempuan yang pasrah dan hanya diam ketika ia menghadapi hidup yang diwakili oleh karakter Nazneen. Nazneen pun digambarkan sebagai perempuan yang sangat menghargai dan menghormati suaminya meski sebenarnya ia tidak mencintainya. Kemudian karakter perempuan yang pemberontak dan menentang aturan yang diwakili oleh karakter Hasina, adik kandung Nazneen. Ia diceritakan kawin lari oleh seorang lelaki yang dicintainya hingga akhirnya ia dikucilkan ayahnya sendiri. Ia menganggap hidup ini tidak harus selamanya pasrah dan harus berbuat sesuatu. Sangat kontras dengan Nazneen yang tidak pernah menyatakan keinginannya dan hanya diam dan diam. Namun justru inilah yang disukai Chanu dan Karim. Mereka menganggap perempuan seperti ini ialah perempuan yang ideal yang harus dimiliki laki-laki. Chanu dan Karim berkata tentang Nazneen, ‘the real thing’ dan ‘girl from the village’.

Satu lagi yakni mengenai masalah wanita karir, ada pernyataan dari tokoh Chanu ketika ia menanggapi permintaan istrinya untuk bekerja sebagai tukang jahit di rumah, “Some of uneducated ones, they say that if the wife is working it is only because the husband cannot feed them. Lucky for you I am an educated man” (Monica Ali, 2007:147)

Yaa, begitulah setidaknya permasalahan yang bisa saya tangkap setelah membaca novel ini. Andai saja novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pastilah dijadikan referensi untuk bacaan senggang yang wajib. Sayang, saya belum mampu menerjemahkan berlembar-lembar novel ini karena bahasa Inggris saya yang pas-pasan.

Oke, sekarang kita lanjut ke film Brick Lane yah. Monica Ali sebagai penulis novel ini berkata bahwa dalam ini adalah film yang cukup membuat heboh dan kontroversial. Berkali-kali pembuatan film ini mendapat protes dari kalangan tertentu. Namun Monica menganggap bahwa kebanyakan orang yang protes tsb ialah orang yang belum membaca novel Brick Lane ini. ya saya pun berpikir begitu. Namun mungkin ya memang wajar jadi kontroversial karena isu yang diangkat dalam novel ini cukup sensitive.

Ketika selesai menonton filmnya via internet secara online (bukan download) saya langsung mengambil kesimpulan, ‘wow, cerita yang diangkat tidak serumit dalam novel’. banyak yang bertanya-tanya termasuk saya, bagaimana caranya sang sutradara memasukkan lembaran-lembaran novel yang masalahnya sungguh kompleks ke dalam sebuah film yang cuma berdurasi 100 menit. Sarah Gravon, sang sutradara pun menjawab ketika pertanyaan ini mampir pada dirinya, “That’s the kind of question I like”.

ya karena memang yang difokuskan disini ialah karakter Nazneen dengan kisah cinta segitiganya. Ya, sekilas memang kisah cinta segitiga. Namun jika mau dianalisa, sesungguhnya ini ialah pergulatan batin seorang perempuan dalam pilihan yang begitu menguras pikiran. Antara kepatuhan dan keinginan hatinya. Antara Chanu dan Karim. Antara kembali ke Bangladesh dan tetap tinggal di London. Pada akhirnya ia dengan brilliant mencoba memadukan kepatuhan dan keinginannya. Ia memutuskan hubungannya dengan Karim dengan alasan ia memiliki tanggung jawab yang cukup besar sebagai seorang ibu dan istri. Namun ia pun memutuskan untuk tetap tinggal di London bersama dua putrinya ketika Chanu mengajaknya kembali pulang ke Bangladesh. Menetap di London ialah keinginan hatinya memenuhi permintaan putri pertamanya untuk tetap tinggal.

Berikut ialah sutradara dan pemain yang terlibat dalam Brick Lane the Movie:

sarah Sarah Gavron (sutradara)

tannishta Tannishtha Chatterjee (Nazneen)

satish Satish Kaushik (Chanu)

christopher_simpson Christopher Simpson (Karim)

Untuk menonton filmnya, bisa klik di http://www.movie25.com/brick-lane_531.html

Dan untuk mengunjungi official website Brick Lane the Movie bisa klik http://www.bricklanemovie.co.uk/.

lb0905_brick_2_09-05-08_2JBERS2

56 thoughts on “Brick Lane on the Novel and the Movie

    • di Gramedia ada kok. coba ajah kesana. tapi saya sarankan di Gramedia yang cukup besar yah. seperti di Gramedia Matraman. atau coba ke TB Kinokuniya yang ada di mal-mal besar seperti pondok indah dan senayan city atay plaza indonesia. disana pusat buku2 berbahasa asing.😉

  1. hohoho…
    kesan pertama, mahal yak. bisa dapat tiga bukunya pram🙂

    Karim. Wah, banyak temen kuliah dulu yang kayak karim, sangat sensitif dengan isu2 islam internasional, terutama isu2 di timur tengah. Sayang, ini membuat mereka membabi buta dalam berpikir.

    Memang jarang ada Muslim yang menjalankan ibadahnya dengan sempurna. Apalagi yang nulis artikel ini << setuju banget😀

    Kalau masalah imigrant, saya malah ingat film Goal, yang imigran meksiko, dikejar2 sama polisi perbatasan. Terus di amrik (kalo nggak salah) malah jadi pemain bola, terus ketemu sama scout Newcastle United. Sekarang kayaknya sudah mau keluar Goal 3.

    Some of uneducated ones, they say that if the wife is working it is only because the husband cannot feed him. Lucky for you I am an educated man . Koq bukan her yah? bahasa inggris jeblog😀

    the last, saya selalu kecewa setiap nonton film yang diadaptasi dari buku, kecuali dua film. God Father dan Lord of the Ring. Dan sepertinya, film ini bisa menambah kekecewaan tersebut jika sudah membaca novelnya😀

    BTW, koq saya tidak pernah bisa meresensi buku dengan baik yah?

    • eh, sorry. soal kalimat “Some of uneducated ones, they say that if the wife is working it is only because the husband cannot feed him. Lucky for you I am an educated man . ”

      saya typo, seharusnya, them. maklum yah, nulisnya udah malem… hoho

      • Oh, berarti saya bisa tersenyum sebelum tidur, bahasa inggris saya ada kemajuan🙂

        (harusnya saya dapat award neh, komeng terpanjang << hallah)

      • yaya, sekarang gimana ketika bangun? nyenyak tak tidurnya?? hoho, award utk komen terpanjang yah? telat nih Den, udah diambil duluan sama kang Arhsa. komen dia lebih panjang dari posting saya tau. hoho.. tapi tenang. soal award, pasti dila kasih.:mrgreen:

  2. Tp tunggu, ini msh dlm bahasa Inggris?
    Hff, tdk jadi deh. Tunggu saja yang versi INA. Spy tdk ada salah interpretasi makna.

    Yang menarik dibahas dlm novel ini adalah ironi. Hebat sekali menampilkan ironi keberagamaan sprt itu.

    Salut buat peresensi yang bisa menemukan dan menganalisanya.😀

  3. Mau komen apa yah?… malem-malem begini jadi ngedadak ga punya ide buat komen…🙂

    Catatan aja ah,
    – saya belum pernah punya novel semahal ini
    – Kalaupun dikasih pinjem ga akan dibaca😀 (faktor bahasa)
    – Sepertinya Monica Ali menggambarkan realitas ke dalam novelnya, perempuan pasrah, islam KTP, terpelesat, cinta segitiga. Kalau keimigrasian cuma untuk memperpanjang cerita…
    – Resensinya kurang panjang Nenk…😀

    • heheh…. klo saya terpaksa beli karena ada kekuatan yg memaksa dalam hati gituh. lagian ketika itu kan dalam rangka ingin membantu seseorang, kang.
      kalo saya, lagi2 terpaksa harus membacanya. lagi2 karena terpaksa dan dipaksa hati harus baca.:mrgreen:

      soal isi novel, memang Monica Ali membahas realitas yg ada. soal analisa2 itu semata2 milik saya. jadi ini smua make bahasa saya (faktor2 itu).:mrgreen:

      resensi kurang panjang?? yang bener kang? hoho

      • Iyah Nenk, dua paragraf lagi, selesai baca langsung tidur…:mrgreen:

        engga ding, udah cukup panjang kali lebar… resensi yg bagus, cukup sekali baca kerekam semuanya…

      • ummm… cukup sekali baca kerekam smuanya yah? sebenarnya saya mengulas sekilas saja. tidak semua cerita full saya masukkan. dan tidak semua karakter saya ceritakan perannya disini. tapi syukur deh klo kerekam smua, setidaknya sedikit banyak bisa mewakilkan isi novel dan filmya.

    • Gaya pisan kang Cas, baru baca segitu aja kpala kang Cas langsung migrain, apalagi kl resensinya dtambahin😆

      • wah-wah… berarti klo om Saka gak migrain baca yg buku2 berat2 yah? klo aku sama kayak kang Cas, suka migrain baca yg berat2.. hoho.

        wah, kayaknya kudu belajar nih dari om Saka gimana biar baca dengan hati fun dan riang meski referensinya luar biasa musingin.:mrgreen:

  4. Jeng dhilla ini emang selalu selangkah lebih maju dari saya. Kalo sy lihat novel berbahasa inggris,belum2 langsung puyeng ni kepala. apalagi suruh baca sampai habis, mungkin sampai muntah2 saya. hi.hi.
    salut deh jeng dhilla… segera saya pengin bisa seperti jenengan. he.he.
    –kunjungan pagi buta dalam perjalanan ke tempat kerja–

      • wah..kalo novel bahasa indonesia yang bagus kan gak usah mikir2 lagi kalo beli…
        biarpun mahal kan bisa terbaca….
        nah kalo yg inggris, minjem aja saya mikir,,gimana ya bacanya..
        hehehehe…

  5. Novel B.Inggris yg mnarik spertinya..tp knp b.ing ya???haha..bs ga klar2 btaun kali ya aq bcanya??!Bgus dhila sering2 aja critain novel b.ing biar aq tw isinya mski ga baca ups..😀

  6. mauw. . .mauw. . .mauw. . . . penasaran bgt neh… beneran baguz kan mbk ?? klo dari 5 bintang, mbk dila kaseh brp bintang ??? **wah,gaji pertama q bwt beli ni buku atow hape y ?? Ada saran, mbk ?**

    • iya, bagus kok dek.:mrgreen:
      klo aku disuruh ngasih bintang, aku kasih bintang 4 deh. umm, soal gaji pertama yak. kamu udah kerja toh? hebat. umm, aku saranin beli yg paling urgent ajah. hp urgen tak? kamu udah punya hp kan sebelumnya? klo memang mau beli hp krn hp-mu rusak ya silahkan aja. toh urgent kan?😉

      • wuih… berarti bener2 high recommended..
        emm…
        kalo diskala prioritas mending beli bukuny ae lah.😀
        maturnuwun mbk buat sarannya,😉

  7. Artikelnya mantap-surantap!
    Gimana kalo Mbak Dhila buat novel dengan, judul :
    “Dhila13”. Pasti seru dech ceritanya!

  8. nice review Dhill. deskripsinya juga oke, ada isu islam, multikultur, sama gender. ini film festival yah? bikin gw penasaran ah. tapi ending tulisannya kok gitu aja.. salam ah..

  9. hadddiirrrrrrrr….

    Apa kabar sobatku sayang…???
    malem2 gini jalan2 mengunjungi rumah teman.. sapa tau ada kopi nyang dihidangkan🙂 silahkan dikeluarkan kupinya…
    cu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s