METROPOLIS: yang te-resensi…

metropolis

Judul Buku : METROPOLIS: Demi ayahku yang sudah mati…

Pengarang : Windry Ramadhina

Penerbit : Grasindo, 2009

Jika dilihat dari judulnya saja yakni METROPOLIS dengan tanpa menggunakan sub judulnya yakni Demi ayahku yang sudah mati… saya mungkin akan menduga bahwa ini hanyalah novel sejenis chicklit biasa yang mengangkat tema cerita gaya hidup anak muda modern metropolitan yang kadang basi namun menggiurkan bagi kalangan masyarakat bawah. Namun ternyata tidak. Ada sub judul yang membuat calon pembaca menjadi penasaran ditambah performance buku (cover) yang cukup tak biasa yakni dengan design ala surat kabar yang ‘ternodai’ bercak darah merah kental yang menghitam. Dan lantas dengan dua petunjuk itu, para calon pembaca pun telah bisa menyimpulkan, bahwa ini bukan sekedar novel biasa.

METROPOLIS merupakan novel yang mengangkat isu kriminalitas (seperti yang dikatakan Sefryana Khairil dalam testimoni di back cover) yang terjadi di dunia kejahatan narkotika. Novel ini seolah-olah sedang mengungkapkan jaringan dari sindikat pengedar narkotika di Indonesia juga berbagai kasus pembunuhan yang ada di dalamnya. Dimulai dengan diceritakan terbunuhnya Leo Saada, pemimpin jaringan narkotika di wilayah 10, di awal bab pertama. Selanjutnya cerita terus merangkak dengan mengungkapkan kematian pemimpin jaringan narkotika di wilayah lain yakni Ambon Hepi. Kasus utama yang tengah diceritakan novel ini memang merupakan sebuah pembunuhan berantai yang terjadi pada 12 orang pemimpin jaringan narkotika yang ada di Jakarta. Setidaknya itulah ‘petunjuk’ pertama soal novel ini yang ada pada halaman 28 dan dimuat di back cover.

Bram, seorang polisi dari reserse narkotika mencoba mengusut kasus ini dibantu dengan asistennya, Erik. Dari upayanya mengusut kasus ini, pembaca menjadi paham bahwa kasus yang sedang ditangani Bram cukup rumit. Ada seseorang yang menjadi dalang dari upaya pembunuhan berantai ini. Dan dugaan inilah yang kemudian membawanya kepada kasus yang pernah terjadi sebelumnya, yakni pembakaran rumah seorang pengedar besar di Jakarta (Frans Al) sebelum ada 12 orang yang mengambil alih bisnis terlarang ini dan membaginya menjadi 12 wilayah jaringan. Alur terus mengalir maju dan mundur tanpa membuat bosan pembaca. Tokoh-tokoh seperti Miaa (polwan yang dipecat dari kesatuannya), Aretha (wanita yang dianggap rekan bisnis yang sempurna bagi para pengedar dan menjadi orang yang paling tahu segalanya), Johan Al (pria pesakitan yang dengan otak cerdasnya bisa menjadi dalang dari pembunuhan berantai ini), Indira (wanita cantik yang ternyata merupakan adik dari Johan) juga mengambil peran penting dari kasus yang dipaparkan novel ini. Tentunya tanpa mengabaikan kepentingan peran tokoh lain seperti Ferry Saada, Moris, Dunne dan juga para pemimpin dari sindikat 12 yang tersisa.

Dan akhirnya setelah melewati proses yang panjang seperti perang tak-tik, kematangan konsep, hingga memakan nyawa terbongkarlah siapa, apa dan bagaimana sebenarnya kasus itu terjadi. Namun tidak hanya itu, pada akhirnya novel ini pun memberikan kejutan bahwa ada keterlibatan dari pihak kepolisian dalam kasus ini. Terlebih lagi anggota kepolisian tersebut menjadi salah satu pion penting dari sindikat 12.

Novel ini luar biasa. Butuh riset yang matang untuk konsep cerita dalam novel ini, dan penulisnya sudah mengatakannya sekilas dalam kata pengantar yang saya anggap bahwa novel ini pun telah melalui proses riset dan diskusi yang cukup. Saya hanya butuh satu hari untuk membacanya, karena tidak ingin melewatkan sedetik pun untuk mengetahui kejutan atau petunjuk atau jejak yang akan dipaparkan novel ini. Meski kadang harus menahan napas dan ikut berpikir keras seolah-olah sedang ikut menangani kasus yang terjadi. Yang menarik ialah, penulisnya tidak berusaha atau ‘sok-sok-an’ misterius dalam menyembunyikan siapa yang menjadi dalang, otak, penghubung atau penyedia eksekutor dalam kasus ini. Penulisnya cukup terbuka kepada pembaca dalam memaparkan kasusnya hingga novel ini tuntas. Meski begitu, tidak mengurangi perasaan tegang atau keingintahuan pembaca untuk membaca novel ini hingga tuntas. Mungkin istilah lainnya ialah novel ini memiliki alur dan konsep cerita yang tidak mudah ditebak.

PS. resensi ini merupakan salah satu resensi yang dilombakan dalam LOMBA ULAS BUKU yang diselenggarakan oleh perkosakata.

4 thoughts on “METROPOLIS: yang te-resensi…

  1. yang lebih seru lagi novel ini release ketika kasus terbunuhnya Nasrudin Zulkarnain terungkap dan Antasari Azhar ditetapkan sebagai tersangka. sehingga ketika saya membaca dan meresensi novel ini seolah saya menganggapnya nyata. hmm.. ternyata konspirasi ada dimana2 dan tidak banyak orang yang tau. mungkin benar kata pakar intelegent yakni AC Manulang bahwa kasus Antasari ini telah dirancang sedemikian rupa… waduh, kok jadi ngomongin Antasari sih? hehehh

  2. boleh juga neh buat referensi novel apa yang mau saya beli bulan depan!?hee…

    tapi tetep, fokus pertama seh novel fiksi fantasi dulu!jiahh…

  3. PS. resensi ini merupakan salah satu resensi yang dilombakan dalam LOMBA ULAS BUKU yang diselenggarakan oleh perkosakata.

    Trimz infonya… kalau saya bikin bakal sebagus resensi diatas engga ya?… gudluck resensinya,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s