Peran Dakwah ADK UIN Syahid di Dunia Virtual: Analisa dan Taksiran

Didekasikan untuk dakwah kampus di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Ikhwah, bersemangatlah dalam juang. Karena antum adalah bagian dari proses kemenangan itu.

Dunia dakwah merupakan dunia yang tidak pernah lepas dari seorang manusia beriman yang pada diri-dirinya melekat predikat da’i. Banyak jenis dakwah yang bisa dipilih da’I sebagai tempat dalam merangkul objek dakwahnya, dan dari sekian jenis itu terdapat dakwah virtual. Dakwah virtual merupakan ranah baru dalam era modern ini, dimana teknologi berkembang sedemikian pesatnya. Namun sayangnya tidak banyak da’I yang menggeluti dakwah virtual ini secara massive.

Suatu ketika saya tidak sengaja membaca sebuah komen pada sebuah note tentang dakwah. Komen itu ditulis oleh seorang ikhwah yang berasal dari salah satu kampus teknologi terbesar di Indonesia yang berlokasi di barat Jawa. Saya tidak hapal persis komennya namun saya dapat menangkap maksudnya,kurang lebih begini, “…di kampus kita itu persenan antara dakwah dunia nyata dan dunia maya itu 50% : 50%. Sementara di kampus lain 90% : 10%.”

Ketika membaca komen tersebut, saya jadi berpikir sendiri tentang peran dakwah ADK UIN di ranah virtual. Kurang lebih analisa seorang ikhwah tersebut bisa dibenarkan, mengingat kampus kita yang mungkin belum terlalu hi-tech. lantas, jika mau mengambil sample-nya yakni 90% (dunia nyata) : 10% (dunia virtual), bagaimana peran dakwah yang 10% ini?

Begini, saya mencoba membagi dakwah 10% tersebut kepada beberapa bagian di dunia virtual. Bagian ini saya sebut sebagai alat atau sarana atau senjata. Coba lihat bagan berikut di bawah.

clip_image001[9]

Ya, kira-kira seperti itu pembagian dakwah di dunia virtual. Menurut pengamatan saya, yang paling sering digunakan ADK UIN ialah email dan chatting, milis dan situs jejaring sosial seperti FS, FB, Tagged, Hi5, Twitter, dll. Sementara Blog dan Website masih kalah popular dibandingkan situs jejaring sosial itu. meskipun sebenarnya lembaga-lembaga dakwah kampus baik intra maupun ekstra yang ada di UIN telah memiliki websitenya sendiri, namun ternyata ADK lebih suka mengunjungi FS atau FB atau malah lebih senang chatting. Meski sebenarnya juga tidak ada yang salah dalam memilih sarana dakwah virtual ini selama itu masih ada unsur kepada dakwah dan menyeru kepada kebaikan.

Begitu juga dengan blog. Masih banyak ADK UIN yang belum kenal dengan blog, dalam artian membuat dan me-maintenance-nya. Padahal jika mau di-massive-kan, blog bisa menjadi sarana yang ampuh untuk merangkul objek dakwah secara menyeluruh. Di beberapa kampus besar Indonesia, hampir seluruh ikhwahnya memiliki blog. Sehingga mereka terbiasa saling blogwalking (berkunjung ke blog orang lain), atau mempromosikan blog mereka kepada objek dakwah yang tersebar baik di kampus mereka sendiri ataupun di luar kampus.

Sekali lagi tidak masalah memilih jenis sarana dakwah yang akan digunakan di dunia virtual. Namun ketika kita berbicara dunia virtual, pasti kita akan berbicara mengenai cara kita berdakwah disana. Caranya tidak lain tidak bukan ialah dengan menggunakan tulisan. Nah ini berarti kembali lagi kepada sarana yang belum terlalu dijamah dengan massive oleh ADK UIN, yakni website dan blog.

Dunia Virtual = Dunia Komunikasi Tulis dan Baca

Email dan milis (mailing list) juga merupakan sarana yang baik dalam menyebarkan pemikiran kita lewat tulisan. Namun lebih baik jika mem-posting tulisan yang telah kita pada website dan blog milik lembaga (organisasi) dakwah atau pribadi. Sehingga ketika orang lain membutuhkan tulisan tersebut, akan lebih mudah dicari.

Baik, kembali ke topik tulis dan baca sebagai senjata ampuh di dunia virtual (begitu juga video dan musik dan animasi). Tulisan merupakan alat yang paling tajam dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita. Ia menjadi alat propaganda yang selalu menjadi pilihan pertama dalam mempublikasikan pemikiran brilliant. Maka tidak heran jika banyak orang pintar yang menggunakan tulisan sebagai penyampaian ide-ide mereka. Bahkan syarat yang harus dimiliki untuk menjadi seorang professor ialah berapa banyaknya buku yang telah ditulis si calon professor tersebut.

Namun sayangnya, ternyata menulis belum menjadi tradisi yang baik di kalangan ADK UIN. Ikhwah UIN secara umum *menurut pengamatan saya* jarang menjadikan menulis sebagai hobby yang harus ditekuninya. Mereka menulis jika hanya disuruh mengisi rubric tertentu dalam bulletin dakwah kampus. Itu pun terkadang yang menjadi isi bulletin adalah saduran dari tulisan orang lain yang telah dimuat di media tertentu yang terkadang sumbernya pun tidak dicantumkan!!

Cukup miris sebenarnya. Pernah saya mendapat kiriman balasan email dari seorang akh tentang tulisan yang cukup bagus. Ketika itu saya tertarik untuk mempublikasikannya dalam blog saya. saya pun meminta izin sebelum memuat artikelnya pada akh tersebut dan diperbolehkan. Selanjutnya ada artikel lagi darinya dan isinya cukup bagus, maka saya kembali tertarik untuk mempublikasikannya. Namun kali itu saya mencoba kembali bertanya bahwa apa benar ia yang menulis artikel tersebut? Dan ia pun menjawab, “Bukan. Itu gabungan beberapa artikel yang ane punya,”

Seketika saya terhenyak dan agak menyesal dengan pengakuan itu. dan kembali menyesal mengingat saya pernah mempublikasikan artikel darinya. Memang, di bagian akhir artikel terdapat keterangan ma’roji. Namun tetap saja membuat saya rancu jika itu benar merupakan gabungan artikel orang lain yang dimilikinya. Kecuali jika ia membuat tulisan itu sendiri dengan menggunakan artikel lain sebagai sumber pendukung. Jika artikelnya hanyalah gabungan dari beberapa artikel orang lain, alangkah baiknya diberi keterangan pada awal tulisan. Misalnya “artikel ini merupakan gabungan dari beberapa artikel karya si fulan dan fulanah yang telah dimuat di majalah/website/buku….”

Berdakwahlah dengan Menulis

Maka berdakwahlah dengan menulis, ikhwah. Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa menulis ialah salah satu cara ampuh berdakwah di dunia virtual. Menulislah setiap hari walau sekali, walau satu kalimat, walau satu paragraph.

Keluarkanlah ide-ide brilian itu walau hanya satu falsafah, walau satu bait, walau satu pasal, walau satu ayat. Manfaatkanlah fasilitas elektronik yang kita punya demi mempermudah lahirnya tulisan kita. Kerena banyak juga ikhwah yang jago menulis namun sulit mem-publikasi-kannya di dunia virtual karena kekurangan sarana.

Dan ingat, JANGAN PLAGIAT!! Jika menggunakan sumber lain sebagai penguat dalam artikel kita, cantumkanlah darimana sumber asalnya. Jika hilang atau lupa akan asal sumber tersebut, cukup tuliskan begini, “kalimat ini saya ambil dari salah satu artikel yang sayangnya tidak terdapat nama penulisnya” atau penggalan kalimat lain yang menyatakan bahwa ada sumber lain yang kita gunakan untuk artikel kita.

Sekali lagi semangat. Semoga tulisan ini menjadi bermanfaat.

Wallahua’lam

13 thoughts on “Peran Dakwah ADK UIN Syahid di Dunia Virtual: Analisa dan Taksiran

  1. assalamualaikum

    peranan dunia tekhno khususnya internet, dan perangkat maya lainnya sangat di perlukan… terlepas dari itu ciftaan yahudi ato bukan… akan tetapi dakwah melalui media internet ato maya seperti saat ini menurut ana kurang efektiv menambah jaringan dakwah…. kenapa??? hem… karena… orang-orang yang masuk didalam lingkaran dakwah itu adalah orang yang tertarbiah….

    coba sekarang kita kembang kan dakwah yang mencakup seluruh lapisan… jdi dakwah bisa di terima semua pihak dan pihak lain pun gak mengira-ngira kalo dakwah itu otoriter… caranya… ayo kita temani teman-teman yang belum trerdakwah… buka hatinya… bahwa dakwah itu indah… !!!

    dakwah bukan hanya untuk sesama kaum… tapi milik semua umat manusia…

    assalamualaikum

  2. bangkitlah … negeriku

    harapan itu masih ada

    bermimpilah karena mimpi di hari ini adalah kenyataan esok hari…!!!

  3. Diawal tulisan saya menangkap Dhila seperti ingin menawarkan satu terobosan baru, ternyata balik lagi ke citizen jurnalism ya? Dari pengamatan Dhila sebenarnya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa perlu ada cara baru agar resource yang kita miliki dapat mengalahkan popularitas situs jejaring sosial milik pihak asing. Jawabannya buatlah situs jejaring sosial yang lebih unik dan kreatif sehingga dapat menyedot animo orang-orang untuk mengunjungi situs kita. Hehe, ini sekedar pendapat saja, belum bisa merealisasikan.

    @rioardi
    Efektif tidaknya tergantung kebutuhan, kalau kebutuhannya untuk komunikasi dakwah justru sangat efektif. Baiknya memang dakwah masuk ke semua bidang. Kan ente sendiri yang bilang kalo dakwah ga boleh eksklusif, kok jadi seperti pendapat yang kontradiktif ya.

  4. @ari:
    sy pikir menulis ialah pekerjaan yg pasti dilakukan oleh setiap orang, hatta org tsb suka/tdk suka. di dunia akademik, setiap org pasti dipaksa menulis, khususnya ketika mereka mendapat tugas bikin paper/makalah. jd bukannya tdk suka menulis, tetapi malas menulis. itulah fenomena bangsa kita. malas menulis, maka wajar jumlah produksi buku di Indonesia ini termasuk yg paling rendah di asia.

    @rioardi:
    betul kata dwi. dunia maya justru efektif buat komunikasi dakwah. kalau dibilang tdk massive dalam menambah jaringan dakwah, umm mungkin sedikit benar. krn yg make dunia virtual itu kan org2 tertentu. makanya objek dakwah di dunia virtual ialah para pengguna virtual. dan objek dunia dakwah di dunia nyata ialah bisa mencakup keseluruhan baik para pengguna dunia virtual ataupun yg gagap teknologi sekalipun.

    @dwi:
    heheh. iya akh, kita harus buat cara unik gmn agar mereka mau masuk ke situs dakwah kita. btw, sebenarnya di tulisan ini ane juga ingin menyindir dan menyadarkan kpd teman2 ikhwah akan pentingnya aktif menulis. ga hanya saling komen ga jelas di situs jejaring sosial.

  5. seorang ikhwah yang berasal dari salah satu kampus teknologi terbesar di Indonesia yang berlokasi di barat Jawa

    semoga bukan saya orang yg dimaksud membuat pernyataan itu. hehe,, pernah disampaikan di beberapa forum soale tapi lupa

    paling nambahin isi diagram itu dengan media FORUM seperti kaskus, rileks (khusus ITB), dan sejenisnya. tapi itu berlaku kalo emang ada forum khusus untuk komunitas tertentu.

    wallahualam

  6. @dhimas:

    hmm,, karena saya tidak menyebut siapa nama dari ikhwah tsb, jd bebaslah mengira-ngira. ^_^

    dan kenapa saya tdk menambah kaskus sbg bagian dari diagram, krn memang di UIN belum banyak yg mengenal media jenis tsb dengan baik. jikapun ada yg kenal dan sering berinteraksi, mungkin hanya segelintir mahasiswa UIN atau beberapa ADK. seperti yg antum katakan “tapi itu berlaku kalo emang ada forum khusus u/ komunitas tertentu”.

    untuk FB saja, baru akhir2 ini marak di kalangan ADK. jadi memang media interaksi yg efektif buat ADK UIN itu *menurut pengamatan saya*, email, chatting, situs jejaring sosial, milis (u/ milis pun harus disosialisasikan panjang lebar mulai dari definisi, fungsi sampai cara gabungnya).

    wallahualam

  7. Dunia Virtual = Dunia Komunikasi Tulis dan Baca
    nggak semua dunia virtual adalah dunia komunikasi tulis dan baca.

    Tanya kenapa kok lebih banyak yang mengunjungi FS, FB, Tagged, Hi5, Twitter? bukan memetakan berapa banyak mengunjungi FS, FB, Tagged, Hi5, Twitter?

    Setiap bergulirnya masa dunia informasi kian cepat berubah, dan disitulah manusia akan mengikuti perubahan itu. website, blog,FS, FB, Tagged, Hi5, Twitter, memiliki peran yang sama, tinggal bagaimana mengemas hal itu dan seberapa jauh kecanggihan engine tersebut membuat kenyamanan, enak dipandang, banyak mendapatkan hal yang menarik, informasi yang update. contohnya: http://unik77.blogspot.com/

  8. @sst:

    anda bilang bahwa “ngga semua dunia virtual adalah dunia komunikasi tulis dan baca.”

    memang benar hal itu. mungkin anda luput dengan kalimat berikut “Baik, kembali ke topik tulis dan baca sebagai senjata ampuh di dunia virtual (begitu juga video dan musik dan animasi).” yang ada pada paragraph kedua pada sub judul “Dunia Virtual = Dunia Komunikasi Tulis dan Baca”

    hanya saja, yg saya tekankan kali ini ialah MENULIS. selalu identik dengan menulis. apakah itu menulis sesuatu yg serius ataukah yg sekedar iseng, seperti menulis komen di status orang lain di situs jejaring sosial.

    dan utk menarik perhatian pengunjung/objek, yg mungkin harus dilakukan ialah mengemas hal menjadi lebih menarik (seperti yg anda katakan).
    wallahualam

    oke, makasih komennya.

  9. salam.
    setuju.
    …ngeblog lebih menarik dari FB wa akhwatuha…
    di blog, kita bisa menuliskan ide, kritik, saran, opini atau apapun dengan leluasa. membaca, menulis dan berfikir kritis. membaca, menimba ilmu yang dengannya kita membangun pondasi peradaban. menulis, mentransfer ilmu yang dengannya menjaga peradaban, agar ide besar, ilmu dan pengalaman tidak terkubur bersama terkuburnya jasad. berfikir kritis mematangkan hasil baca mengantarkan menuju kwalitas, bahasa sederhananya hari ini lebih baik dari kemarin begitu juga esok, dinamis. just begin ! waktu akan menempa kita menjadi penulis handal. go dhila go…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s