Situ Gintung: Antara MITOS Dulu dan KENYATAAN Sekarang

Malam Sabtu kemarin saya menginap di kosan adik saya seperti biasanya. Hal ini memang sering saya lakukan jika memang ada keperluan di kampus selama beberapa hari. Beruntung saya memang sudah cukup kenal dengan dua orang teman kosan adik saya, sehingga dengan mudah saya bisa tinggal bermalam jika ada perlu meski adik tidak ada di kosannya.

 

Seperti biasa pula, jika saya bermalam disana, kondisi kekeluargaan selalu menyeruak dalam tiap obrolan yang kami adakan. Kebetulan ketika itu obrolan kami masih seputar Situ Gintung yang seminggu kemarin diberitakan jebol dan menelan korban ratusan jiwa. Salah seorang teman kosan adik saya mulai bercerita tentang mitos Situ Gintung yang kerap dibicarakan orang sebelum adanya musibah sekarang ini.

 

Teman adik (T): kak, tau ga dosen cerita gini, lucu deh.

Saya (S): apa? (dengan tampang antusias)

T: iya dosen di kelas bilang gini ‘ibu saya bilang dulu tuh ya ada mitos kalo di Situ Gintung ada buayanya. Makanya kenapa orang ga boleh mancing sampe ke tengah-tengah. Soalnya sering banget tiba-tiba orang tenggelem disana dan ga pernah ditemuin mayatnya kecuali bajunya aja.’. gitu kak.

S: terus-terus… gimana??

T: iya terus dosen bilang, sekarang kan Situ Gintung udah kering ya, udah ga ada airnya. Dia mikir, mana buayanya? Katanya banyak buaya, kok ga ada?? Yang ada malah ikan segede-gede meja.

S: (sambil tertawa)… ya ampun, aneh-aneh aja orang. Dasar orang-orang zaman dulu. sekarang baru kebukti deh kenyataannya klo mitos itu ga bener.

 

Sebenarnya percakapan saya dengan teman adik itu masih berlanjut, namun saya singkat sampai situ saja. Dan sekarang yang ingin saya kemukakan ialah, ternyata begitulah mitos yang berkembang pada masyarakat, selalu berbeda jauh dengan kenyataan. Hal ini terjadi pada objek mana saja, termasuk Situ Gintung. Kata ahli Geologi, hilangnya orang yang memancing di tengah itu bukan karena buaya atau mahluk halus melainkan struktur lumpur dalam situ yang mungkin tebal sehingga membuat orang yang memancing di area tengah tersebut terhisap lumpur dan tenggelam.

 

Situ Gintung memang sudah lama ada di daerah Cireundeu. Menurut info, waduk ini memang sudah lama dibangun oleh Belanda sebagai tempat penampungan air hujan. Jadi wajar jika ketika tanggulnya jebol, air langsung habis dan waduk pun mengering. Karena Situ Gintung memang bukan sungai melainkan hanya waduk yang berfungsi mengaliri air hujan yang tertampung ke sawah-sawah yang terletak dibawahnya. Sawah-sawah itu saat ini memang sudah beralih fungsi menjadi pemukiman warga, sehingga wajar jika perumahan wargalah yang dialiri air. Karena sifat air itu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah dan memang air tetap harus mengalir. Kalau kata Gesang dalam syair ‘Bengawan Solo’nya, “air mengalir sampai jaaauuuhhh. Akhirnya ke lauuutt…”. Tapi sayangnya di area Cireundeu ini, air Situ Gintung tidak sampai menuju laut, namun menerjang rumah-rumah dan mengendap pada lapisan tanah merah atau berkumpul dengan air di kali Pesanggrahan.

 

Kondisi terbaru korban Situ Gintung

 

Mengenai hal ini, tidak banyak perubahan yang terjadi sebenarnya. Korban masih banyak yang hilang. Rumah semi-permanen yang sedang dibangun untuk para pengungsi belum jadi sehingga pengungsi masih harus tinggal di tenda. Para pejabat masih mencari kambing hitam soal siapa yang salah mengenai IMB dan jebolnya tanggul, yang jelas warga tidak bisa disalahkan sepenuhnya dalam hal ini. Ahh… rumit!

 

Makanya pemerintah dan para pejabat, besok-besok jika menerapkan peraturan, diharapkan lebih tegas! Juga kacung-kacung pejabat yang ada dibawahnya, jangan asal mau nerima duit demi proyek yang merugikan. Atau jangan asal jualin harta dan proyek milik Negara-lah demi duit yang engga seberapa. Kayak kasus Situ Gintung nantinya, dulu para warga yang tinggal di bawah tanggul mengaku mereka membeli tanah dan rumah tersebut dari seorang tuan tanah *padahal ga ada sertifikatnya*. Dan ketika mereka mengurus izin tanah tersebut, dikatakan bahwa tanah itu milik Negara sehingga tidak bisa mendapat sertifikat serta IMB.

 

Juga untuk para warga, jika ada peraturan dari pemerintah demi kebaikan bersama, tolonglah dipatuhi. Jangan ngeyel kalo dibilangin!! Terkadang karena kesalahan sendiri, langsung menyalahkan pemerintah. Contoh kecil, warga senang sekali buang sampah tidak pada tempatnya. Kali menjadi tempat favorit untuk tempat sampah. Akibatnya, banjir kan tiap hujan. Atau mungkin merokok, kebiasaan ngetem para supir angkot, dll. Bangsaku-bangsaku, kepribadiannya masih harus diatur. *mungkin termasuk kepribadian yang nulis artikel ini*

3 thoughts on “Situ Gintung: Antara MITOS Dulu dan KENYATAAN Sekarang

  1. iya,, aku jg pernah dgr soal buaya itu
    kata na seh buaya putih.. nyahahahaha.

    baru2 ini malah.. dapet dr mama loren. Kata na Situ Gintung itu…
    “siang jd tmp wisata, malam jd tmp mesum”
    jadi penunggu na itu ga suka, kata na seh gtuu.. jd manusia2 mesti introspeksi diri..

    lagian jugaaa.. manusia..eh maksudna warga situ.. ya ampun kalo ngeliat Situ na yg waktu msh utuh.. serem bgt ga seh..masa perumahanna itu d bawah bgt..parah bgt..ya jelas ajaa kena.

    kalo kata slh satu artis di INSERT tv.. ini jauh dr pantai..jauh dr gunung.. lho kok malah kena musibah kya tsunami kecil gtu..

    bener juga.. klalaian manusia juga dehh
    saya juga manusia..hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s