Obrolan dari Tukang Becak

Seperti biasa setiap kali sampai di Pangkalan angkot Taman Harapan Baru, saya memanggil becak untuk melanjutkan perjalanan ke rumah. Sebenarnya rumah tidak begitu jauh, namun setiap kali pulang saya merasa lelah dan ingin sekali dibonceng becak, angkutan kesukaan saya.

Ketika duduk, seperti biasa juga, ada perasaan lelah yang terhempas dari bangku yang saya duduki. Dan ketika itu tukang becak yang sudah tampak tua mulai menggayuh pedalnya. Dia mulai membuka obrolan singkat kami.

“Wah, Neng. Nanti kalo Neng nikah dan punya anak, bakalan tambah banyak manusia. Makin padet aja neh.” Ujarnya pada saya yang tengah menatapi gelap malam yang ramai dan padat dengan sepeda motor, angkot, mobil dan pejalan kaki yang menuju arah yang sama yakni perumahan.

Apa pak?” Tanya saya meminta penegasan ulang pertanyaannya.

“Iya, nanti kalo Neng kawin kan punya anak tuh, nanti makin padet (daerah ini) deh. Dulu taun tujuh puluh belum sepadet ini, Neng. Motor juga cuma ada satu-dua.” Saya tersenyum. Ya iya-lah, ujar saya dalam hati.

Sekarang manusia makin tambah banyak ajah. Yang lahir serebu yang mati cuman dua ratus. Yang namanya manusia kan maunya nambah terus. Saya aja di rumah anaknya udah banyak noh.” Ujarnya lagi dengan aksen betawi yang kental.

Bapak asli sini ya.” Tanya saya.

Iya Neng. Dulu mah yak, disini masih sepi.” Ujarnya mengulangi pernyataan tadi. Saya tersenyum lagi, sambil melihat ramainya malam.

Sekarang mah kalo malem pada keluar semua, usaha. Kalo dulu pada ta’lim, pada ngaji. Beda.” Ujar tukang becak itu lagi mengomentari keramaian ketika memasuki perumahan yang cukup penuh dengan ruko dan manusia.

Saya terdiam. Benar, lain dulu lain sekarang. Cepat sekali perubahan itu datang. Sehingga tanpa sadar pun saya sudah memasuki tahapan dewasa awal dan akan segera memiliki dan membentuk sebuah keluarga (suatu hal yang tidak terlalu saya pikirkan selama ini). Saya masih terdiam, mendengar ocehan tukang becak mengenai kehidupan sehari-hari dan realita dulu dan sekarang. Sampai-sampai kacamata yang pernah dibagi-bagikan Soekarno kepada tukang becak dulu pada zamannya pun dibahas. Saya cuma diam dan tersenyum (lagi-lagi). Saya ini memang bukan orang yang pandai mengembangkan topik pembicaraan dengan orang yang baru dikenal.

Alhamdulillah, nyampe Neng.” Akhirnya tanpa sadar kami sudah sampai depan rumah saya. Terkadang saya ingin tertawa sendiri, ternyata hampir semua tukang becak di pangkalan sudah tau rumah keluarga saya ini. Memangnya seberapa sering ya saya naik becak dari pangkalan itu (jadi mikir sendiri). Hmm, tukang becak yang baik. Semoga Allah merahmatinya. Amin.

One thought on “Obrolan dari Tukang Becak

  1. Ping balik: ber-KENANG-KENANG « thePOWER ofWORDS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s