Memang Harus Cuma “5 cm”

Jika ada yang menyebut saya adalah orang awam dalam hal buku, sangat benarlah ia. Karena orang yang awam dalam dunia ke-buku-an ialah orang yang ketika ada testimony bagus tentang suatu buku, baru diburu dan dibacanya buku itu. dan itu adalah benar-benar saya. seperti yang terjadi dengan novel berjudul “5 cm” ini. Novel ini sudah ada sejak tahun 2005, dan saya pun sudah tahu sejak kelahirannya itu. saya sempat tergoda untuk membeli ketika itu, namun sayang saya berpikir “ah ga gitu penting.”

Tetapi sekarang, ketika ada sesuatu hal, dan ketika ada saran dari seorang teman demi sesuatu hal itu, akhirnya saya pun memburu novel yang ternyata sudah dicetak ulang sebanyak 10 kali dan sudah dilabeli ‘BEST SELLER’. Waduh, benar-benar orang awam. Tapi, meski awam, saya masih saja ingin mecoba menulis resensinya. Meski saya tau juga pasti sudah banyak orang yang menulis resensi dan ulasan ttg novel ini dan sudah banyak blog pula yang memuatnya.

Sebelumnya, saya ingin mengungkapkan kesan mengenai cara penulisan dan pengungkapan sang penulis dalam novel ini. Wuah benar-benar APA ADANYA jika tidak mau disebut agak vulgar. Yah, yang namanya novel metropolis pasti kebanyakan seperti ini. Saya jadi berpikir, ternyata naskah yang ditulis APA ADANYA dan bahkan cenderung BEREKSPRESI itu cukup diterima di kalangan penerbit dan cukup laku juga. Seperti dua buku yang sudah ditulis oleh teman sekelas saya di kampus, Nuril Basri, yang masing-masing berjudul BIJI KAKA (Bagai Jablay Kena Kamtib) dan BANCI KALAP. Dua buku itu, meski tidak best seller, naskahnya termasuk naskah yang APA ADANYA. Dan beruntung saya termasuk orang yang tidak terlalu mempermasalahkan tatanan APA ADANYA itu, meski sesekali risih juga. Tapi untuk “5 cm” ini tatanan APA ADANYA itu membungkus ke-intektual-an pesan yang disampaikan. Sehingga bagi orang yang tidak suka digurui, boleh jadi tersentuh dengan nilai-nilai intelek yang ditawarkan novel ini.

“5 cm”, pertama kali saya baca judulnya dengan sambil sekilas mendengar testimony orang lain, lantas saya membayangkan bahwa “5 cm” mengacu kepada kedekatan sahabat yang saking dekatnya maka jaraknya seperti 5 cm. Sempat juga saya membayangkan bahwa “5 cm” mengacu momen kecelakaan pendakian yang mungkin saja terjadi pada tokoh yang ada di novel itu. Dan ternyata, semua dugaan saya itu SALAH. Hehe. Ternyata “5 cm” itu ialah kesimpulan dari pesan yang ingin disampaikan novel ini. “5 cm” adalah jarak keyakinan tentang impian yang telah kita gantungkan di hati kita, di kening kita. “5 cm” adalah jarak yang harus diyakini bahwa kita pasti bisa meraih segala impian itu!!

“…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu… Cuma…”
“Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.”
“Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja….”
“Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya….”
“Serta mulut yang akan selalu berdoa….”
(Donny Dhirgantoro: 362-363)
Ya, inti dari novel ini ialah soal keyakinan kita untuk menggapai impian kita. Memang ada tema lain yang membungkus. Seperti indahnya persahabatan, cinta, filsafat, psikologi, dan bahkan tentang keyakinan akan adanya Tuhan. Inti dari tema besar novel ini memang dibawakan secara kocak, vulgar, dan agak nyeleneh meski ada yang serius juga oleh 5 tokoh novel ini yang digambarkan memiliki persahabatan yang cukup erat sejak SMA. Mereka adalah Genta, Arial, Riani (satu-satunya perempuan di kelompok ini), Zafran dan Ian.

Sumber:
Dhirgantoro, Donny. 5 cm. Jakarta: PT Grasindo, 2005.

PS.
Artikel ini ditulis ketika pikiran sedang penuh dan sakit akibat kepenatan akan LPJ humas kammi uin jkt 08-09 yang tengah saya kerjakan. Juga pikiran yang meronta-ronta karena isinya ingin ditumpahkan dalam tulisan-tulisan yang nantinya akan berjudul ‘DONA NOBIS PACEM’ dan tentang Indonesia yang sampe saat ini belum saya tulis juga. Juga pikiran yang merasa sedih dan bingung gara-gara s-k-r-i-p-s-i. memang benar, saya pun mengakui, bahwa membaca dan menulis adalah pelarian paling cerdas dan intelek ketika kita mengalami kepenatan.

Buat geng adab 04:
SEMANGAT! Mimpi itu kunci kita ke gerbang dunia yang kita inginkan.

2 thoughts on “Memang Harus Cuma “5 cm”

  1. Sebuah naskah resensi yang ringkas, akrab, dan bukan resensi mungkin, hehehe.. Salut buat Fadhil yang menghadirkan lagi 5 cm ke hadapan kita sekarang. Bikin keinget lagi nih waktu pertama kali saya disodorkan membaca novel ini oleh mantan pacar saya (waktu itu masih pedekate).

    Bahwa keyakinan kita akan cita-cita, niscaya bakal menggerakkan kaki kita melangkah menujunya. Tapi yang saya garis bawahi disini adalah, keyakinan itu juga mesti diimbangi dengan usaha, kerja keras, dan intensitas. Jadi bukan lantas cuma yakin saja tanpa bergerak apa-apa. Emangnya sulap.

    Itu sebabnya juga meski saya terpukau sama pemaparan the Secret akan hukum tarik-menarik dan kekuatan pikiran, tetap saja kita nggak bakal dapet apa-apa kalau kita nggak ngelakuin apa-apa (duh, serasa kayak iklan a-mild mirip-mirip).

    Ditunggu tulisan-tulisanmu berikutnya, kawan!!
    Salam hangat dari Baranangsiang

    NB: Soal LPJ dan sekeripsimu itu, Terus Berjuang yah.. Dunia di depan sana sedang menunggumu.

  2. Jika Dhila awam buku saya lebih awam lagi, karena setiap buku yang diresensi di sini saya belum pernah membacanya dengan seksama& tuntas🙂

    Aduh… ada geng Adab no.4 segala… emangnya ada berapa geng neng di Fak. Adab? hati-hati jangan kelamaan mimpi nanti gamalah ga bangun-bangun🙂😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s