Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu

Tau judul buku diatas? Judul buku diatas ialah karya Anis Matta, LC yang akan saya ulas kali ini. Buku ini termasuk buku yang tidak baru dan kabarnya tidak diterbitkan lagi (padahal banyak yang nyari, saya saja pinjam buku versi palsunya (hasil potokopian) dari teman). Temanya menarik, tentang PERNIKAHAN, meski tidak best seller dan sepopuler buku pernikahan karya Faudhil Azhim.

Menikah, meski memang menyempurnakan setengah agama, namun tidak mudah menuju ke gerbang tersebut. Bagi saya menikah adalah salah satu momen penting (selain terlahir ke muka bumi dan ketika sekarat menjelang mati) yang dilalui setiap manusia di dunia ini. Menikah tidak hanya butuh kata-kata “Ya, saya siap ustadz/ustadzah.” Namun butuh juga pemikiran ke depan. Bagaimana kesiapan kita secara utuh dan ‘proker-proker’ apa yang akan dilaksanakan ketika kita resmi menjabat dalam sebuah organisasi yang bernama ‘RUMAH TANGGA’. Baik, saya langsung mulai ulasannya.

Buku dengan 76 halaman ini berisi dua bagian. Yang pertama mengenai persiapan menuju pernikahan. Bagian pertama ini berisi 5 bab, yakni tentang kesiapan pemikiran, kesiapan psikologis, kesiapan fisik, kesiapan financial dan Tanya jawab seputar persiapan menuju pernikahan. Bagian kedua berbicara mengenai mahligai rumah tangga islami dengan dua bab yakni meraih kebahagiaan dan menjalin keharmonisan. Namun yang akan saya ulas cukup bagian pertama saja. Karena saya sendiri pun masih belajar dalam mempersiapkan diri menuju gerbang pernikahan.

Seluruh persiapan yang dikemukakan ini ialah persiapan fundamental yang harus disediakan para pemuda sebelum menikah. Jangan kira hanya dengan kata-kata ‘iya’ dan diikuti tindakan ‘pencarian objek yg akan dinikahi’ lalu ditambah ‘semangat’ sudah cukup. Tidak, itu belum cukup. Masih butuh hal yang lebih dasar. Yakni bagaimana kita mengenal pribadi kita. Karena jika kita sudah memahami pribadi kita dengan baik, tentunya kita pun akan memahami pribadi orang lain dengan baik pula. Lalu bagaimana dengan pemikiran kita, apakah sudah baik. Maksudnya, diperjelas apa yang menjadi visi dan misi kita hidup di dunia ini. Semua itu harus matang. Matta menjelaskan kita harus punya kematangan visi keislaman, kematangan visi kepribadian, dan kematangan visi pekerjaan.

Contoh matangnya kepribadian atau konsep diri ialah ketika kita mencari calon pasangan. Kebanyakan orang mencari calon pasangan yang ideal. Padahal yang benar ialah pasangan yang TEPAT bukan IDEAL. Banyak orang yang sudah membuat daftar yang harus dimiliki calon pasangannya sedangkan ia sendiri tidak berkaca dulu siapa dirinya. padahal orang hebat tidak selalu berpasangan dengan orang hebat. Tidak semua lelaki tampan berpasangan dengan perempuan cantik.

“Sekali lagi, orang hebat tidak membutuhkan orang hebat. Konsep diri yang jelas membuat kita mengerti siapa yang kita butuhkan. Bukan istri atau suami yang unggul. Tapi istri atau suami yang tepat. Mungkin dari segi criteria, juga segi fisik. Tidak semua laki-laki yang tampan mengharapkan wanita cantik, atau sebaliknya. Pada kasus tertentu pernah ada seorang suami yang tampan. Ia tumbuh dalam keluarga yang sanagat tidak menghargai ketampanan. Ia biasa dilecehkan, sehingga cenderung membutuhkan orang yang tidak setingkat dengannya. ia membutuhkan orang yang lebih rendah levelnya. Unutk apa? Untuk memuaskan kebutuhannya terhadap penghargaan. Dengan dihargai ia akan memberikan segalanya pada anda. Demikian juga wanita.” (Matta, 2003: 12)

Lalu kesiapan psikologis. “kesiapan psikologi yang saya maksud ialah kematangan tertentu secara psikis untuk menghadapi berbagai tantangan besar dalam hidup. Untuk menghadapi berbagai tantangan besar dalam hidup. Untuk menghadapi tanggung jawab, untuk menghadapi masa-masa kemandirian.” (Matta, 2003: 17)

Jadi, kita harus SIAP. kita pun harus memiliki pandangan visioner kedepan. Bagaimana rumah tangga kita nantinya. Kita ini calon bapak yang akan bekerja memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kita ini calon ibu yang akan kerepotan mengurusi suami-anak-rumah setiap harinya. Perlu diketahui, “situasi jiwa antara sebelum dan sesudah menikah akan berbeda secara sangat mencolok. Sejumlah kebebasan anda otomatis akan dibatasi. Anda tidak lagi memiliki waktu sebanyak seperti pada saat anda masih lajang.” (Matta, 2003: 17)

Lalu kesiapan fisik dan financial. Soal fisik, masing-masing calon pasangan disarankan untuk mengechek kesehatan pribadi. Apakah ada sakit dan penyakit bawaan atau keturunan atau bahkan kronis. Apakah ada cacat fisik yang dimiliki.

“Ukuran fisik harus dipertimbangkan dengan baik. Saya mengusulkan, ketika anda sudah memilih calon, pada saat proses perkenalan, usahakan untuk mengetahui juga masalah fisiknya. Lalu kalau bisa, bukan hanya fisik si calon, tapi juga keturunannya. Kesehatan umum pada keluarganya. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan kesehatan, karena menyangkut bukan hanya masalah kita. Ini memang hal yang sanagat perlu untuk dipertimbangkan.” (Matta, 2003: 23)

Dan kesiapan financial. Banyak orang bilang bahwa, “bagi yang baru menikah jangan khawatir akan rizki. Karena itu Allah yang mengatur.” Ya, kita pasti sangat percaya dengan itu. “Tetapi juga harus kita ketahui, bagaimana cara Allah membuat orang kaya. Prosedur itu manusiawi. Walaupun ada ayang tidak manusiawi. Allah mengatakan, waman yattaqillaha yajal lahu makhraja, barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Ia akan memberikan jalan dari arah yang tidak disangka-sangka. Tapi sebagian besarnya kerja-kerja manusiawi. Langit tidak akan menurunkan emas, seperti yang dikatakan oleh Umar bin Khatab. Masalah financial perlu dipertimbangkan sebelumnya.” (Matta, 2003: 28-29)

Namun begitu juga, jangan terlalu mementingkan masalah financial. Suami sering berpikir, “yang penting gue cari uang dan keluarga tercukupi.” Ingat unsur harmonis dan romantis juga diperlukan. “Saya mengetahui banyak wanita menuntut perceraian dari suaminya. Bukan karena suami tidak baik atau tidak memenuhi kewajiban. Suami sangat baik. Hanya satu masalah. Dia tidak pernah mengatakan, ‘Aku cinta kepadamu’. Saya juga sering mendengar, banyak wanita yang minta cerai, karena suami tidak bisa memberikan nafkah.” (Matta, 2003: 30)

Begitulah sedikit ulasan dan resensi yang saya buat. Semoga sedikit banyaknya bermanfaat.

Sumber:
Matta, Anis. Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu. Bandung: Syamil Cipta Media, 2003.

Anak Kecil itu Mau Kemana ya?

p1130009Mungkin saya termasuk tipe orang yang iseng dalam segala hal. Iseng melakukan hal yang mungkin tidak penting dan tidak sesuai dengan fiqh awliyat. Tapi saya yakin ke-isengan ini bisa bermanfaat. Soal iseng, macam-macam yang saya lakukan, salah satunya ialah meng-capture apa saja yang terlihat dalam pandangan saya. tapi jangan harap saya bersedia meng-capture orang-orang narsis yang memang ingin dipoto, karena buat saya tidak ada seninya. ha-ha…

Lanjut kepada hal yang akan saya bahas. Kemarin ketika saya pulang kerumah dalam keadaan hujan, saya duduk di angkot dengan keadaan dingin dan terciprat air hujan dari luar pintu angkot. Ketika sudah 20 menit saya duduk, angkot melewati jalan baru di daerah Cakung dan berhenti sebentar karena akan ada penumpang yang naik. Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang basah kuyup kedinginan berusia sekitar 9-10 tahun naik dan duduk di paling pinggir. Awalnya saya pikir dia adalah pengamen, namun saya curiga karena anak ini karena tidak ada gitar kecil atau botol aqua atau kayu kecil dengan tutup botol cocacola, dsj yang biasa dijadikan alat utama untuk mengamen. Juga tidak ada amplop kecil yang biasa dibagikan kepada para penumpang angkot. Ya saya menunggu itu, namun tidak ada. Hingga pada akhirnya saya berubah pikiran, karena anak itu memang bukan pengamen. Anak tsb berstatus sama dengan kami, yakni penumpang.

Saya terus amati anak tsb, krn jarak kami memang cukup dekat. Bajunya dan badannya yang basah kuyup membuat saya bertanya. Mau kemana anak ini? Tanpa orang dewasa yang menemaninya. Dulu ketika saya masih seusia dengannya saya takut sekali bepergian sendirian dengan jarak yang cukup jauh. Kecuali ketika saya kelas 1 SMP di usia 10 tahun, saya harus terpaksa pergi sendiri ke sekolah yg jaraknya cukup jauh dengan takut-takut. Ah, memang berbeda saya dengan dirinya.

Saya terus memandangi anak tersebut. Dia kedinginan. Saya jadi cukup iba dengannya. hingga ketika angkot tsb kembali berhenti karena ada penumpang yang akan naik. Kebetulan tempat duduk sudah penuh, sedangkan supir angkot menyuruh calon penumpang itu naik. Dan pada akhirnya supir bertanya pada anak kecil itu (ternyata supir juga mengira ia adalah pengamen) kemana ia akan pergi. Dengan suara gemetar ia menjawab tujuannya “Jembatan Sentra Bisnis, Bang.” Saya lega dalam hati, “ooh disana.” Akhirnya calon penumpang tersebut mengalah untuk tidak duduk, namun menggelantung di pintu dengan guyuran air hujan yang cukup deras.

Angkot terus berjalan hingga akhirnya berhenti di Sentra Bisnis Harapan Indah, tempat tujuan anak itu. seluruh mata penumpang tertuju pada anak tsb ketika ia turun. Saya yakin kami pun memiliki pertanyaan yang sama. Mau kemana ia? Berani sekali bepergian tanpa orang dewasa yang menemaninya. Sambil membuat senyum datar saya mencoba mengingat momen ketika kelas 1 SMP dulu. saya bersama dua orang teman ketika itu sedang makan di dunkin donut di area Gramedia Matraman. Ketika tengah asyik makan, kami mendapat julukan “Anak Hilang” dari seorang bapak. Wahaha, memang anak kecil itu harus diwaspadai. Banyak yang mengkhawatirkan anak kecil, dimanapun dan kapanpun.