Memang Harus Cuma “5 cm”

Jika ada yang menyebut saya adalah orang awam dalam hal buku, sangat benarlah ia. Karena orang yang awam dalam dunia ke-buku-an ialah orang yang ketika ada testimony bagus tentang suatu buku, baru diburu dan dibacanya buku itu. dan itu adalah benar-benar saya. seperti yang terjadi dengan novel berjudul “5 cm” ini. Novel ini sudah ada sejak tahun 2005, dan saya pun sudah tahu sejak kelahirannya itu. saya sempat tergoda untuk membeli ketika itu, namun sayang saya berpikir “ah ga gitu penting.”

Tetapi sekarang, ketika ada sesuatu hal, dan ketika ada saran dari seorang teman demi sesuatu hal itu, akhirnya saya pun memburu novel yang ternyata sudah dicetak ulang sebanyak 10 kali dan sudah dilabeli ‘BEST SELLER’. Waduh, benar-benar orang awam. Tapi, meski awam, saya masih saja ingin mecoba menulis resensinya. Meski saya tau juga pasti sudah banyak orang yang menulis resensi dan ulasan ttg novel ini dan sudah banyak blog pula yang memuatnya.

Sebelumnya, saya ingin mengungkapkan kesan mengenai cara penulisan dan pengungkapan sang penulis dalam novel ini. Wuah benar-benar APA ADANYA jika tidak mau disebut agak vulgar. Yah, yang namanya novel metropolis pasti kebanyakan seperti ini. Saya jadi berpikir, ternyata naskah yang ditulis APA ADANYA dan bahkan cenderung BEREKSPRESI itu cukup diterima di kalangan penerbit dan cukup laku juga. Seperti dua buku yang sudah ditulis oleh teman sekelas saya di kampus, Nuril Basri, yang masing-masing berjudul BIJI KAKA (Bagai Jablay Kena Kamtib) dan BANCI KALAP. Dua buku itu, meski tidak best seller, naskahnya termasuk naskah yang APA ADANYA. Dan beruntung saya termasuk orang yang tidak terlalu mempermasalahkan tatanan APA ADANYA itu, meski sesekali risih juga. Tapi untuk “5 cm” ini tatanan APA ADANYA itu membungkus ke-intektual-an pesan yang disampaikan. Sehingga bagi orang yang tidak suka digurui, boleh jadi tersentuh dengan nilai-nilai intelek yang ditawarkan novel ini.

“5 cm”, pertama kali saya baca judulnya dengan sambil sekilas mendengar testimony orang lain, lantas saya membayangkan bahwa “5 cm” mengacu kepada kedekatan sahabat yang saking dekatnya maka jaraknya seperti 5 cm. Sempat juga saya membayangkan bahwa “5 cm” mengacu momen kecelakaan pendakian yang mungkin saja terjadi pada tokoh yang ada di novel itu. Dan ternyata, semua dugaan saya itu SALAH. Hehe. Ternyata “5 cm” itu ialah kesimpulan dari pesan yang ingin disampaikan novel ini. “5 cm” adalah jarak keyakinan tentang impian yang telah kita gantungkan di hati kita, di kening kita. “5 cm” adalah jarak yang harus diyakini bahwa kita pasti bisa meraih segala impian itu!!

“…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu… Cuma…”
“Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.”
“Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja….”
“Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya….”
“Serta mulut yang akan selalu berdoa….”
(Donny Dhirgantoro: 362-363)
Ya, inti dari novel ini ialah soal keyakinan kita untuk menggapai impian kita. Memang ada tema lain yang membungkus. Seperti indahnya persahabatan, cinta, filsafat, psikologi, dan bahkan tentang keyakinan akan adanya Tuhan. Inti dari tema besar novel ini memang dibawakan secara kocak, vulgar, dan agak nyeleneh meski ada yang serius juga oleh 5 tokoh novel ini yang digambarkan memiliki persahabatan yang cukup erat sejak SMA. Mereka adalah Genta, Arial, Riani (satu-satunya perempuan di kelompok ini), Zafran dan Ian.

Sumber:
Dhirgantoro, Donny. 5 cm. Jakarta: PT Grasindo, 2005.

PS.
Artikel ini ditulis ketika pikiran sedang penuh dan sakit akibat kepenatan akan LPJ humas kammi uin jkt 08-09 yang tengah saya kerjakan. Juga pikiran yang meronta-ronta karena isinya ingin ditumpahkan dalam tulisan-tulisan yang nantinya akan berjudul ‘DONA NOBIS PACEM’ dan tentang Indonesia yang sampe saat ini belum saya tulis juga. Juga pikiran yang merasa sedih dan bingung gara-gara s-k-r-i-p-s-i. memang benar, saya pun mengakui, bahwa membaca dan menulis adalah pelarian paling cerdas dan intelek ketika kita mengalami kepenatan.

Buat geng adab 04:
SEMANGAT! Mimpi itu kunci kita ke gerbang dunia yang kita inginkan.

Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu

Tau judul buku diatas? Judul buku diatas ialah karya Anis Matta, LC yang akan saya ulas kali ini. Buku ini termasuk buku yang tidak baru dan kabarnya tidak diterbitkan lagi (padahal banyak yang nyari, saya saja pinjam buku versi palsunya (hasil potokopian) dari teman). Temanya menarik, tentang PERNIKAHAN, meski tidak best seller dan sepopuler buku pernikahan karya Faudhil Azhim.

Menikah, meski memang menyempurnakan setengah agama, namun tidak mudah menuju ke gerbang tersebut. Bagi saya menikah adalah salah satu momen penting (selain terlahir ke muka bumi dan ketika sekarat menjelang mati) yang dilalui setiap manusia di dunia ini. Menikah tidak hanya butuh kata-kata “Ya, saya siap ustadz/ustadzah.” Namun butuh juga pemikiran ke depan. Bagaimana kesiapan kita secara utuh dan ‘proker-proker’ apa yang akan dilaksanakan ketika kita resmi menjabat dalam sebuah organisasi yang bernama ‘RUMAH TANGGA’. Baik, saya langsung mulai ulasannya.

Buku dengan 76 halaman ini berisi dua bagian. Yang pertama mengenai persiapan menuju pernikahan. Bagian pertama ini berisi 5 bab, yakni tentang kesiapan pemikiran, kesiapan psikologis, kesiapan fisik, kesiapan financial dan Tanya jawab seputar persiapan menuju pernikahan. Bagian kedua berbicara mengenai mahligai rumah tangga islami dengan dua bab yakni meraih kebahagiaan dan menjalin keharmonisan. Namun yang akan saya ulas cukup bagian pertama saja. Karena saya sendiri pun masih belajar dalam mempersiapkan diri menuju gerbang pernikahan.

Seluruh persiapan yang dikemukakan ini ialah persiapan fundamental yang harus disediakan para pemuda sebelum menikah. Jangan kira hanya dengan kata-kata ‘iya’ dan diikuti tindakan ‘pencarian objek yg akan dinikahi’ lalu ditambah ‘semangat’ sudah cukup. Tidak, itu belum cukup. Masih butuh hal yang lebih dasar. Yakni bagaimana kita mengenal pribadi kita. Karena jika kita sudah memahami pribadi kita dengan baik, tentunya kita pun akan memahami pribadi orang lain dengan baik pula. Lalu bagaimana dengan pemikiran kita, apakah sudah baik. Maksudnya, diperjelas apa yang menjadi visi dan misi kita hidup di dunia ini. Semua itu harus matang. Matta menjelaskan kita harus punya kematangan visi keislaman, kematangan visi kepribadian, dan kematangan visi pekerjaan.

Contoh matangnya kepribadian atau konsep diri ialah ketika kita mencari calon pasangan. Kebanyakan orang mencari calon pasangan yang ideal. Padahal yang benar ialah pasangan yang TEPAT bukan IDEAL. Banyak orang yang sudah membuat daftar yang harus dimiliki calon pasangannya sedangkan ia sendiri tidak berkaca dulu siapa dirinya. padahal orang hebat tidak selalu berpasangan dengan orang hebat. Tidak semua lelaki tampan berpasangan dengan perempuan cantik.

“Sekali lagi, orang hebat tidak membutuhkan orang hebat. Konsep diri yang jelas membuat kita mengerti siapa yang kita butuhkan. Bukan istri atau suami yang unggul. Tapi istri atau suami yang tepat. Mungkin dari segi criteria, juga segi fisik. Tidak semua laki-laki yang tampan mengharapkan wanita cantik, atau sebaliknya. Pada kasus tertentu pernah ada seorang suami yang tampan. Ia tumbuh dalam keluarga yang sanagat tidak menghargai ketampanan. Ia biasa dilecehkan, sehingga cenderung membutuhkan orang yang tidak setingkat dengannya. ia membutuhkan orang yang lebih rendah levelnya. Unutk apa? Untuk memuaskan kebutuhannya terhadap penghargaan. Dengan dihargai ia akan memberikan segalanya pada anda. Demikian juga wanita.” (Matta, 2003: 12)

Lalu kesiapan psikologis. “kesiapan psikologi yang saya maksud ialah kematangan tertentu secara psikis untuk menghadapi berbagai tantangan besar dalam hidup. Untuk menghadapi berbagai tantangan besar dalam hidup. Untuk menghadapi tanggung jawab, untuk menghadapi masa-masa kemandirian.” (Matta, 2003: 17)

Jadi, kita harus SIAP. kita pun harus memiliki pandangan visioner kedepan. Bagaimana rumah tangga kita nantinya. Kita ini calon bapak yang akan bekerja memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kita ini calon ibu yang akan kerepotan mengurusi suami-anak-rumah setiap harinya. Perlu diketahui, “situasi jiwa antara sebelum dan sesudah menikah akan berbeda secara sangat mencolok. Sejumlah kebebasan anda otomatis akan dibatasi. Anda tidak lagi memiliki waktu sebanyak seperti pada saat anda masih lajang.” (Matta, 2003: 17)

Lalu kesiapan fisik dan financial. Soal fisik, masing-masing calon pasangan disarankan untuk mengechek kesehatan pribadi. Apakah ada sakit dan penyakit bawaan atau keturunan atau bahkan kronis. Apakah ada cacat fisik yang dimiliki.

“Ukuran fisik harus dipertimbangkan dengan baik. Saya mengusulkan, ketika anda sudah memilih calon, pada saat proses perkenalan, usahakan untuk mengetahui juga masalah fisiknya. Lalu kalau bisa, bukan hanya fisik si calon, tapi juga keturunannya. Kesehatan umum pada keluarganya. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan kesehatan, karena menyangkut bukan hanya masalah kita. Ini memang hal yang sanagat perlu untuk dipertimbangkan.” (Matta, 2003: 23)

Dan kesiapan financial. Banyak orang bilang bahwa, “bagi yang baru menikah jangan khawatir akan rizki. Karena itu Allah yang mengatur.” Ya, kita pasti sangat percaya dengan itu. “Tetapi juga harus kita ketahui, bagaimana cara Allah membuat orang kaya. Prosedur itu manusiawi. Walaupun ada ayang tidak manusiawi. Allah mengatakan, waman yattaqillaha yajal lahu makhraja, barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Ia akan memberikan jalan dari arah yang tidak disangka-sangka. Tapi sebagian besarnya kerja-kerja manusiawi. Langit tidak akan menurunkan emas, seperti yang dikatakan oleh Umar bin Khatab. Masalah financial perlu dipertimbangkan sebelumnya.” (Matta, 2003: 28-29)

Namun begitu juga, jangan terlalu mementingkan masalah financial. Suami sering berpikir, “yang penting gue cari uang dan keluarga tercukupi.” Ingat unsur harmonis dan romantis juga diperlukan. “Saya mengetahui banyak wanita menuntut perceraian dari suaminya. Bukan karena suami tidak baik atau tidak memenuhi kewajiban. Suami sangat baik. Hanya satu masalah. Dia tidak pernah mengatakan, ‘Aku cinta kepadamu’. Saya juga sering mendengar, banyak wanita yang minta cerai, karena suami tidak bisa memberikan nafkah.” (Matta, 2003: 30)

Begitulah sedikit ulasan dan resensi yang saya buat. Semoga sedikit banyaknya bermanfaat.

Sumber:
Matta, Anis. Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu. Bandung: Syamil Cipta Media, 2003.

Anak Kecil itu Mau Kemana ya?

p1130009Mungkin saya termasuk tipe orang yang iseng dalam segala hal. Iseng melakukan hal yang mungkin tidak penting dan tidak sesuai dengan fiqh awliyat. Tapi saya yakin ke-isengan ini bisa bermanfaat. Soal iseng, macam-macam yang saya lakukan, salah satunya ialah meng-capture apa saja yang terlihat dalam pandangan saya. tapi jangan harap saya bersedia meng-capture orang-orang narsis yang memang ingin dipoto, karena buat saya tidak ada seninya. ha-ha…

Lanjut kepada hal yang akan saya bahas. Kemarin ketika saya pulang kerumah dalam keadaan hujan, saya duduk di angkot dengan keadaan dingin dan terciprat air hujan dari luar pintu angkot. Ketika sudah 20 menit saya duduk, angkot melewati jalan baru di daerah Cakung dan berhenti sebentar karena akan ada penumpang yang naik. Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang basah kuyup kedinginan berusia sekitar 9-10 tahun naik dan duduk di paling pinggir. Awalnya saya pikir dia adalah pengamen, namun saya curiga karena anak ini karena tidak ada gitar kecil atau botol aqua atau kayu kecil dengan tutup botol cocacola, dsj yang biasa dijadikan alat utama untuk mengamen. Juga tidak ada amplop kecil yang biasa dibagikan kepada para penumpang angkot. Ya saya menunggu itu, namun tidak ada. Hingga pada akhirnya saya berubah pikiran, karena anak itu memang bukan pengamen. Anak tsb berstatus sama dengan kami, yakni penumpang.

Saya terus amati anak tsb, krn jarak kami memang cukup dekat. Bajunya dan badannya yang basah kuyup membuat saya bertanya. Mau kemana anak ini? Tanpa orang dewasa yang menemaninya. Dulu ketika saya masih seusia dengannya saya takut sekali bepergian sendirian dengan jarak yang cukup jauh. Kecuali ketika saya kelas 1 SMP di usia 10 tahun, saya harus terpaksa pergi sendiri ke sekolah yg jaraknya cukup jauh dengan takut-takut. Ah, memang berbeda saya dengan dirinya.

Saya terus memandangi anak tersebut. Dia kedinginan. Saya jadi cukup iba dengannya. hingga ketika angkot tsb kembali berhenti karena ada penumpang yang akan naik. Kebetulan tempat duduk sudah penuh, sedangkan supir angkot menyuruh calon penumpang itu naik. Dan pada akhirnya supir bertanya pada anak kecil itu (ternyata supir juga mengira ia adalah pengamen) kemana ia akan pergi. Dengan suara gemetar ia menjawab tujuannya “Jembatan Sentra Bisnis, Bang.” Saya lega dalam hati, “ooh disana.” Akhirnya calon penumpang tersebut mengalah untuk tidak duduk, namun menggelantung di pintu dengan guyuran air hujan yang cukup deras.

Angkot terus berjalan hingga akhirnya berhenti di Sentra Bisnis Harapan Indah, tempat tujuan anak itu. seluruh mata penumpang tertuju pada anak tsb ketika ia turun. Saya yakin kami pun memiliki pertanyaan yang sama. Mau kemana ia? Berani sekali bepergian tanpa orang dewasa yang menemaninya. Sambil membuat senyum datar saya mencoba mengingat momen ketika kelas 1 SMP dulu. saya bersama dua orang teman ketika itu sedang makan di dunkin donut di area Gramedia Matraman. Ketika tengah asyik makan, kami mendapat julukan “Anak Hilang” dari seorang bapak. Wahaha, memang anak kecil itu harus diwaspadai. Banyak yang mengkhawatirkan anak kecil, dimanapun dan kapanpun.

Menyiapkan Momentum: Karena Kita adalah Bagian dari Momentum itu

cover_2_muka1

 

Sebelum saya memulai ulasan, saya ingin berbagi perasaan dulu dengan teman-teman. Begini, kenapa ya setiap kali ketika dan setelah membaca buku ada perasaan senang, ‘bungah’, melayang (meski ga mentok hingga khayangan), dan perasaan suka yang melebihi perasaan manusia yang tengah jatuh cinta. Apakah ini adalah efek dari ilmu yang tengah dan sudah kita dapat dari membaca buku? Ya, mungkin ini adalah fakta dari pernyataan bahwa ilmu menentramkan jiwa-jiwa yang mendapatkan dan memilikinya. Ah, sungguh beruntung memang orang-orang yang merasakan hal ini. Dan sungguh beruntung pula orang-orang yang termasuk dalam golongan orang yang berilmu.

 

“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

 

Ya, kembali ke topik utama. Buku yang akan saya ulas ini ialah ‘Menyiapkan Momentum’ karya Rijalul Imam (ketua 5 KAMMI Pusat). Kesan pertama setelah membacanya ialah, buku ini tengah mencari pemuda unggul yang hilang. Kenapa pemuda? Dan kenapa hilang? Ya, Pemuda karena untuk perubahan suatu Negara dan ummat tidak membutuhkan balita atau manula, melainkan pemuda. Dan hilang, karena pemuda unggulan yang diharapkan belum terlihat batang hidungnya. Kalaupun ada, belum banyak yang tampak. Ia masih malu-malu, masih sembunyi-sembunyi. Pertanyaan yang wajib direnungkan dan ditindaklanjuti: ‘apakah kita termasuk pemuda unggulan itu?’.

 

Dalam buku ini (seperti yang ditulis penulisnya pada kata pengantar) terdapat tiga bagian. Saya simpulkan, bagian pertama lebih pada penganalisaan masalah. Apa yang tengah dihadapi ummat saat ini dan pencarian kemana ‘sang pemuda’. Penulisnya dengan lugas membahas ini dengan sudut pandang Al-Qur’an. Seperti analisa QS. Al-Kahfi yang dikaitkan dengan fenomena saat ini. Lalu analisa beberapa surat dan ayat (seperti An-Naba, Al-Fath, Muhammad) untuk fenomena pergantian generasi dan indikator kemenangan ummat.

 

Bagian kedua penulis membahas langkah dalam menyiapkan momentum kemenangan. Disini kita diajak mentadabburi QS. Al-Ashr dan diajak menyimpulkan suatu temuan yang luar biasa yakni ‘fisika gerakan’ dan juga ‘rumus gerakan sosial’ yang merupakan hasil analisa dari rumus momentum.

 

Momentum=  M (massa) x V (kecepatan)

 

Jika dikaitkan dengan percepatan perubahan gerakan sosial menjadi:

 

Momentum Gerakan=  M (aktivis dan basis massa) x V (kecepatan / akselerasi diri dan gerakan)

Selain itu pada bagian kedua ini juga disebutkan hal apa saja yang dibutuhkan dalam membentuk suatu momentum.

 

Bagian ketiga penulis membahas masalah kepemimpinan. Ia menganalisa dari sejarah para nabi (seperti nabi Ibrahim as, nabi Musa as dan nabi yusuf as). Disebutkan bahwa para nabi tersebut sudah memiliki jiwa pemimpin dan bahkan menjadi pemimpin sejak muda. Lalu dianalisa pula mengenai hal-hal yang dibutuhkan dalam kepemimpinan. Yang dijadikan contoh ialah kisah kepemimpinan nabi Sulaiman as. Lalu dianalisa juga bagaimana humas dan seorang PR bergerak yang diambil analisanya dari kisah nabi Yusuf as.

 

Begitulah sekilas ulasan buku kedua karya Rijalul Imam yang saya baca. Tidak terlalu dalam dan mungkin jauh dari ringkasan yang sempurna. Namun hanya ingin me-review apa-apa yang telah saya baca. Seperti kata Anis Matta dalam bukunya,

 

“Setiap kali anda selesai membaca, itu berarti anda telah menyerap suatu informasi dan akan meningkat ke tahap selanjutnya, yaitu seleksi. Oleh karena itu, sisakanlah waktu 15 menit untuk memikirkan kembali apa yang barusan and abaca dan endapkan. Ingat-ingatlah bacaan yang pernah and abaca sebelumnya dan hubungkanlah dengan yang barusan and abaca hari ini. Begitulah selalu; mengingat-ingat.” (Matta, Model Manusia Muslim Abad XXI: 158 )

 

Ya, seperti kata Anis Matta, saya hanya mencoba belajar mengingat – ingat. Dan beginilah cara saya, mengingat segala seuatu dengan menulis.

 

PS.

Thx to:

Rijalul Imam dan buku karangannya (Menyiapkan Momentum: Maret 2008 )

Bety Wijayanti (Wiwit) yang telah menghadiahkan buku ini pada 5 hari menjelang hari lahir saya di 10 Muharram.

Memurnikan Cinta

Oleh Rizki Romdhoni * (Penulis merupakan salah satu teman pemilik blog ini. beliau cukup aktif di bidang kaderisasi beberapa organisasi dakwah di Jakarta)

Rasulullah Saw bersabda, “ada tiga hal, jika ketiganya ini ada padadiri seorang maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu (1) menjadikan Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari apapun juga (2) mencintai seorang hanya karena Allah (3) membenci untuk kembali kepadakekafiran setelah sebelumnya Allah menyelamatkannya, sebagaimana iamembenci jika dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhori, Muslim,Ahmad, Tirmidzi, Nasa’I dan ibn majah dari Anas)

Ada fenomena hijrah yang tersirat dari hadits di atas, yang selalumembutuhkan siraman dan pemeliharaan. Hijrah yang memindahkankehidupan kelam menjadi kehidupan yang lebih bersih, lebih cerah danlebih menjanjikan. Sahabat Rasulullah adalah orang yang paling mampumerasakan manisnya iman itu, setelah sebelumnya bergelimang dengankehiruk pikukan kehidupan jahiliyah, yang kemudian mereka tutup denganhijrah tersebut.Namun pada akhirnya sekedar rasa itu saja ternyata belum cukup,terbukti dengan taujih Rasulullah ini yang memotivasi mereka untukselalu memelihara, menyirami dan memupuki tanaman iman ini. Karenakeimanan, sebesar apapun dan semanis apapun, ternyata masih rentanterhadap godaan-godaan dan badai topan yang selalu menerjang.

Sebagaimana juga rentannya hati manusia dari noda-noda hitam yangmengkelamkannya. Tidak pandang bulu siapakah manusia itu, ustadz,mahasiswa, da’I atau para sahabat Rasul sekalipun. Mungkin inilahhikmahnya mengapa Rasulullah mengatakan hal ini langsung di hadapanpara sahabatnya.

Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur, Rasulullah pernah memberikanwarning akan pentingnya menjaga motif dalam berhijrah. Ketika itu beliau mengatakan, “bahwasanya segala perbuatan itu tergantung dariniatnya dan bahwasanya seorang itu akan mendapatkan (ganjaran dariAllah) sebagaimana yang diniatkannya. Maka barang siapa yang berhijrah karena mengharapkan Ridho Allah dan RasulNya, maka ia akanmendapatkannya. Namun barang siapa yang berhijrah karena mengharapkan hal-hal yang bersifat keduniawian atau karena ada seorang yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu akan mendapatkan sebagaimana yangdiniatkannya.”

Sesungguhnya sangat tragis, seseorang yang sudah mengahbiskan waktu,biaya, tenaga dan usaha untuk sebuah aktivitas yang secara dzohir adalah aktivitas da’wah, namun ternyata didalamnya terdapatkegersangan dan kerapuhan yang memotivasi aktivitas tersebut. Apalagi hanya karena faktor “lawan jenis” yang diharapkan dapat hidupbersamanya kelak. Walaupun mungkin dimata manusia, kerapuhan itu tidaknampak, namun dimata Allah, hal sekecil apapun tidak akan ada yang tertutupi.

Untuk itulah Rasulullah tidak bosan untuk mentaujih sahabatnya denganketiga hal ini.
1. Pertama untuk mencintai Allah dan RasulNya diatas segala-galanya, yang sekaligus juga memberikan nuansa untuk meluruskanniat-niat dari bisikan syaitan dan manusia yang akan mengotorinya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah juga mengingatkan “sesungguhnya Syaitan itu berjalan dalam tubuh anak cucu adam sebagaimana perjalanannya darah”.
Sebuah ungkapan yang memberikan suatu rasa bahayanya bisikandan godaan syaitan. Oleh karena itulah, niat yang lurus tetap harusdijaga kelurusannya sampai waktu yang tak terbatas, karena tidakmustahil, yang lurus bias menjadi bengkok di tengah jalan. Dan jikasudah bengkok, itu merupakan pertanda musnahnya amalan-amalan yangtelah dengan lelah diusahakannya.

2. Kedua, Rasulullah mentaujih untuk mencintai seseorang hanya karenaAllah.
“warning” yang kedua ini, meskipun bernuansa ukhuwah, namunlagi-lagi kembalinya kepada niat yang bersih. Ukhuwah dengan segalakeutamaan yang dimilikinya. Jangan sampai keinginan-keinginan duniawimenyelinap lalu menggerogot habis nilai-nilai keukhuwahan itu sendiri.Ketiga, adalah hal yang sangat kental nuansa keterkaitannya denganhijrah. Setelah kenikmatan hijrah itu terasa manisnya dalam hati,dalam gerakan dan dalam segenap aktivitas, maka jangan sampaikenikmatan ini pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada si pemiliknya. Namun terkadang, hal ini pulalah yang sering banyakdilupakan oleh kita semua.

Ada sebuah fenomena yang terasa berbeda ketika seseorang melangkahkan kakinya ke dalam dunia islam yanghakiki. Ada derai air mata yang membasahi pipi ketika teringat betapadahulu ia bergelimang dosa. Ada pula tetesan air mata lain ketikamenikmati lantunan ayat suci al qur’an dibacakan dalam sholat malam. Dan ada berbagai kenikmatan lain yang teramat sukar digambarkan dengankata-kata…Mungkin itulah halawatul iman, yang memang tak sebanding dengankenikmatan dunia yang fana. Karena kenikmatan manisnya iman ini adalahkenikmatan abadi yang tiada pernah akan diketahui kecuali oleh merekayang pernah merasakannya. Namun entah mengapa, ketika ia harus bergesekan dengan waktu, kegiatan-kegiatan da’wah dan setumpuk agenda lainnya yang secara formal menggambarkan keiltizaman terhadap islam, justru kenikmatanmanisnya iman ini terasa kian lama kian pudar. Diakui atau tidak,demikianlah kenyataannya.

Terasa dalam sanubari,kelonggaran-kelonggaran praktis dengan berbagai alasan, yang seolahmemaksa kita untuk melegalkan berbagai tindakan yang sebenarnya tidak syar’I. marilah kita jujur kepada diri kita sendiri dan tentunyakepada Allah, tentang seberapa jauh sudah kita tinggalkan Dia? Betapaternyata dalam formalitas kedekatan kita kepadaNya ada jurang yang kita buat sendiri yang justru memisahkan kita dengan Allah. Seorang da’I memang memerlukan perenungan kembali tentanglangkah–langkahnya sendiri. Tadabur yang dapat membenahi kembali langkah-langkah kaki menggapai ridho ilahi. Kalau dahulu kita bisa hijrah meninggalkan kemaksiatan, seharusnya semakin lama kita semakinjauh dengan dengan kemaksiatan tersebut, bukan malah mencoba bermainapi dengan ‘sesama aktivis da’wah’ dalam kemaksiatan yang sama.

Syaitan tetaplah syaitan, yang selalu berupaya menjebloskan langkah kaki kita dalam lobang-lobangnya. Syaitan akan bergembira karena bisa menjebloskan kita ke jalannya setelah kita hijrah, padahal dulu merekakecewa melihat kita hijrah. Ada benang merah yang sukar dipisahkan baik ketika kita berada dalamkejahiliyahan maupun setelah kita berhijrah, yaitu ketika kita jugaterperdaya oleh makar-makarnya. Benang merah itu adalah bahwa kitasama-sama masih terjerat dalam tipuan syaitan.Begitulah memang salah satu dimensi kehidupan manusia yang sangatlemah, manusia yang tiada daya dan selalu terperdaya. Maka sudah jelasbagi kita, bahwa tidak ada jalan lain, kecuali untuk merajutjalanmenuju RidhoNya. Marilah kita mentajdid (memperbaharui kembali)kehijrahan kita, untuk merasakan kembali manisnya iman yang sempatmenghilang dari sanubari kita yang paling dalam. Jangan biarkan iahilang untuk selamanya, jangan pula kita mencerai beraikan lagibenag-benag yang sudah kita pintal sendiri.

Allah SWT mengatakan dalamAl Qur’an “dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatankeji atau menganiaya diri sendiri, mereka langsung ingat kepada Allahlalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yangdapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidakmeneruskan perbuatan kejinya sedangkan mereka mengetahui. Mereka itubalasannya adalah ampunan dari Rabb mereka dan syurga yang didalamnyamengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulahsebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S 3:135-136)

Bersihkan Hati Wahai Da’iManusia diciptakan Allah SWT dengan memiliki dua komponen pentingdalam dirinya: pertama komponen materiil, yang berupa jasadiyah dengansegala kesempurnaannya. Kedua, komponen ruhiyahnya berupa ruh yangAllah tiupkan ke dalam tubuh manusiaKomponen kedua inilah sebenarnya yang memiliki kekuatan besar dalamdiri manusia, karena lebih dapat menangkap dan memahami tentanghakekat keberadaan alam semesta ini. Kekuatan ruhiyah ini adalahkekuatan yang tiada batas, yang dapat menembus dinding-dinding batuanyang kua, dan dapat menerjang dan bertahan di tengah-tengah goncanganbadai yang teramat dahsyat sekalipun.

Muhammad Qutub mengatakan,”bahwa kekuatan ruhiyah tidak mengenal batasan ikatan, dan tidak pulamengenal keterbatasan waktu dan tempat…”

Atas dasar urgensitas inilah, maka para aktivis da’wah seyogyanyaadalah mereka-mereka yang menitikberatkan tarbiyah nafsiyahnya padasector ruhiyah ini. Karena sector ini menunjukkan secara dzohiritentang kadar kebersihan jiwa seorang al akh ataupun ukht. Melalaikanhal ini merupakan salah satu bentuk membiarkan diri terbawa aruskehancuran.

Padahal Allah mengatakan: walaa tulqu biaydikum ilattahlukah “dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalamkebinasaan” (2:195)

Dapat kita bayangkan, bagaimana kadar keimanan orang-orang yang menjadi mad’u kita, masyarakat sekitar kita, jika para da’iyahnya sendiri hanya memiliki kadar ruhiyah sekitar misalnya 5% saja? Apakahkadar sekecil ini mampu mengantarkan mereka untuk memikul beban da’wahyang teramat berat ini?

Benar sekali apa yang dikemukakan Ustadz fathiyakan, bahwa “tanggung jawab seorang da’I terhadap dirinya sendirijauh lebih besar dibandingkan dengan tanggung jawab mereka kepadamasyarakatnya.”

Karena kecacatan pada ruhiyah seorang da’I,berimplikasi besar pada langkah-langkah da’wahnya, yang berakibat pulapada kecacatan dalam menyampaikan amanat-amanat da’wah.

Mengenali penyakit-penyakit pribadi da’i Ustadz fathi yakan dalam musykilat ad da’wah wa al da’iyah menjabarkantentang penyakit-penyakit yang harus dituntaskan dalam diri aktifisda’wah. Ada empat hal yang beliau utarakan, yaitu:

A. Du’atul islam ahwaajunnas litta’arufi ila ‘uyubihim (aktifis da’wahadalah orang yang paling berkepentingan untuk mengenali”penyakit-penyakit pribadinya sendiri”)
Sebagaimana yang terkandung dalam muqodimah, seorang aktifis da’wah adalah orang yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadappengisian ruhiyah pribadinya. Bahkan tanggung jawabnya terhadap dirisendiri lebih besar dibandingkan dengan tanggung jawabnya terhadapmasyarakatnya. Oleh karena itulah, mengenali aib (penyakit-penyakithati) nya adalah komponen dasar dalam mentarbiyah pribadinya. Penyakit sekecil apapun, tidak boleh luput dari perhatian da’I, apalagi dianggap remeh.

Karena yang kecil merupakan pintu menuju kepada yanglebih besar, ada beberapa cara untuk mengenali penyakit-penyakit hati:
1) Pro aktif mencari majelis-majelis ulama yang memiliki banyakpengalaman di jalan da’wah, untuk mendengar taujih, nasehat, bahkanjika ada kesempatan bertanya langsung kepada mereka, tentang”panyakit” yang kita miliki

2) Memiliki seseorang akh atau ukht yang dianggap memiliki nilai plusdalam ruhiyah dan da’wa, kemudian mengakrabinya. Dari keakraban iniakan muncul tanasuh dan tawashi. Umar bin khottob sendiri yang sudahmendapatkan berita gembira mendapatkan surga, berkata rohimallahuimraan ahda ila ‘uyuubi “semoga Allah memberi rahmat kepada orang yangmau menunjukkan aib-aibku”. Suatu katika beliau bertanya kepadakhuzaifah ibn yaman, engkau adalah sahabat yang menyimpanrahasia-rahasia Rasulullah tentang kaum munafik, apakah engkau melihatpada diriku cirri-ciri kemunafikan?

3) Mengetahui penyakit pribadi dengan bercermin dari penyakit oranglain. Ketika kita melihat orang lain memiliki penyakit tertentu, makaketika itu pula kita berusaha menjauhi penyakit yang sama dalam dirikita.

B. Du’atul islam wa daa al kibr (aktifis da’wah dan kesombongan)
Pada hakekatnya, aktifis da’wah adalah orang yang rentan terhadappenyakit “al kibr”. Karena segala sector yang dimasuki da’I, merupakansector-sektor yang tumbuh dengan suburnya bermacam-macam penyakit ini.Oleh karena itu Rasulullah SAW sendiri dalam do’anya selalumengucapkan:”Allahuma inni a’udzu bika min nafkhotu al kibriya”Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari tiupan (buaian) kesombongan’.

Ada beberapa penyebab yang menimbulkan penyakit al kibr ini dalamhatipara aktifis da’wah:
1) Ghurur al Ilm (ghurur/perdayaan ilmu)
Seseorang yang dilebihkan Allah SWT dalam hal keilmuan, rentan dengantipuan ghurur ilmu ini. Seorang ustadz, yang biasa dihormati orangkarena memberikan ceramah, taujih, seringkali terbiasa oleh sikap”merasa paling benar, paling tahu dalam masalah agama,”,dsb. Sehinggaterkadang sulit baginya untuk menerima suatu nasehat, kritik dansebagainya dari orang lain. Terlebih-lebih jika orang yangmenasehatinya itu berada dibawahnya dalam keilmuannya. Maka tidakheran jika Rasulullah mengatakan; afatul ‘ilm al khilaa “penyakit ilmuadalah kesombongan”

2) Ghurur at tadayyun (Ghurur tadayun)
Yang dimaksud dengan ghurur tadayun ini adalah sikap ghurur yangditimbulkan oleh sikap merasa yang paling sempurna dalam menjalankan syari’at-syari’at islam. Dari sikap seperti ini, berimplikasimenganggap orang lain tidak memiliki kesempurnaan, kecuali denganmelakukan seperti yang dilakukannya. Aktifis da’wah juga sangat rentanterhadap penyakit ini.

3) Ghurur asy Syakhshiyyah (Ghurur kepribadian)
Ghurur ini adalah akibat dari rasa bangga seorang dengan dirnyasendiri, baik dari segi fisik, wajah, pakaian, kekayaan, keluarga,dsb. Bentuk yang elok sebagai aktifis da’wah seperti jenggot yangterpelihara rapi, baju koko, jubah panjang, jilbab yangberkibar-kibar, dsb. Bias menjadikan seseorang terjerumus dalam ghururini. Apalagi jika “atribut-atribut” seperti itu mendapatkan pujiandari aktifis lain. Maka hendaknya seorang aktifis merasa bahwa yangterpenting adalah sesuatu yang terdapat dalam relung hatinya.

Rasulullah SAW bersabda;Innallaha laa yandzuru ila ajsadikum wa laa ila suwarikum wa lakinyandzuru ila qulubikum wa a’malikum “sesungguhnya Allah itu tidakmelihat pada fisik-fisik dan bentuk-bentuk kamu, melainkan Allahmelihat pada hati-hati kamu dan ‘amal-‘amal kamu”

C. Du’atul islam fi tho’atillah (aktifis da’wah dalam ketaatannya kepada Allah)Aktifis da’wah tertuntut untuk melakukan mutaba’ah terhadap dirinyaguna meningkatkan kadar keimanan yang dimilikinya, karena da’I selalu berinteraksi dengan mereka-mereka yang banyak melalaikanperintah-perintah Allah.

Oleh karena itu, da’I tertuntut untukmemiliki perhatian khusyu’ terhadap masalah-masalah ubudiyah kepadaAllah.
Di antara yang terpentingnya adalah;
• Qiyamulail
• Sholat jama’ah
• Tilawatul Qur’an
• Merenungi kenikmatan-kanikmatan yang Allah berikan, seperti dalam makanan.
• Itqon (bersungguh-sungguh) dalam beramal dan berusaha
• Muroqobatullah (merasa diawasi Allah) dimanapun kita berada
• Silaturahmi/ziarah
• Menambah tsaqofah (wawasan/ilmu)
• Kesiapan jiwa untuk berkorban dalam islam
• Memberikan hak kepada seluruh jasad kita.

D. Du’atul Islam wal huduudu asy syar’iyah lil alaqotu al ukhuwwah(aktifis da’wah dan batasan-batasan syar’I dalam hubungan ukhuwahislamiyah)
Ukhuwah merupakan salah satu pondasi dalam harokah islamiyah. Ukhuwah merupakan ikatan persaudaraan antara seorang akh dengan yang lainnya,antara seorang ukht dengan yang lainnya juga. Ukhuwah dalam sejarahnyatercatat sebagai hal yang Rasulullah SAW bangun, sebelum beliaumembangun masyarakat islam madinah pada waktu itu. Bahkan ukhuwah jugadijadikan standar kesempurnaan iman seseorang.

La tadkhulu al jannah hatta tu’minu walaa tu’minu hattaa tahaabu “kamutidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan kamu tidak dikatakanberiman hingga kamu saling mancintai”
Ukhuwah sangat membantu kerja da’wah dalam bentuk apapun, sangat cepatmengobati kesedihan hati seorang akh atau ukht, ketika menghadapiganjalan dalam da’wah.namun tidak jarang, ketika tujuan-tujuan Robbanidari ukhuwah itu sedikit bergeser, bergeser pula pola ukhuwah menjadi”hubungan lain” yang justru jauh dari sifat-sifat ke ukhuwahan.Ukhuwah tidak boleh berlebihan, seperti hubungan orang yang bermesraandan tidak boleh pula ‘kekurangan’, hingga terasa keringdan salingacuh. Namun ukhuwah adalah ukhuwah, yang terdiri di atas tonggakkeimanan kepada Allah yang maha penyayang, dan berjalan diatas rel alQur’an dan Sunnah.

Jika ukhuwah sudah keluar dari bingkai aslinya,maka akan hilang pula dhowabit syar’iyah yang tidak mustahil akanmenjerumuskan keduanya dalam hal-hal yang tidak terduga sebelumnya.Aktifis da’wah lagi-lagi dituntut untuk memahami benar hal ini.Hendaknya mereka waspada akan segala fikiran yang terlintas dalambenaknya. Mereka juga harus mendudukkan “saudaranya” sebagaimana yangdipersepsikan islam. Hati seorang da’I harus tetapsuci, bersih dantidak pernah ada yang kekal dalam memori hatinya, kecuali Allah danAllah… tidakkah teringat oleh kita semua, ketika Rasulullah memiliki nilai ukhuwah yang teramat tinggi kepada abu bakar,
beliau mengatakan;Lau kuntu muttakhidza min ahli al ardhi kholiila, liattakhidzati ababakrin kholiila “sekiranya aku boleh mengambil seorang kekasihdiantara penduduk bumi ini, sungguh aku akan menjadikan abu bakersebagai kekasihku”

Ada juga keteladanan lain yang di contohkan salafuna soleh dalamsebuah ungkapannya;Wuqifat ‘ala baabi qolbi arba’iina ‘aaman hatta laa yadkhulatihghairullah “aku menjaga pada pintu hatiku selama empat puluh tahun,hingga tak satupun yang dapat memasukunyya selain Allah.”

KHOTIMAH Hati seorang da’I adalah sebagaimana yang Rasulullah gambarkan; “hatiitu terpampar dengan fitnah-fitnah, seperti tikar yang terurai-urai.Hati mana saja yang menerima fitnah-fitnah tersebut, akan berbintikhatinya dengan bintik-bintik hitam. Dan hati mana saja yang menolak fitnah-fitnah tersebut, maka akan berbintik hatinya denganbintik-bintik putih, hingga akan menjadi dua hati. Hati yang putih seperti sesuatu yang jernih yang tidak akan terusakkan dengan fitnahapapun selama ada langit dan bumi. Atau hati hitam seperti debu yangtidak mengenal kebaikan dan tidak pula mengingkari kemungkaran.”Sudah seharusnya aktifis da’wah menjaga kesucian niatnya dari apapunyang dapat merusak kesucian hatinya. Agar amanat da’wah yangdiembannya benar-benar dapat dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Jangan sampai kita menjadi penyeru kepada kebaikan, namun kita sendiriterbuai dalam kemaksiatan.

Mengenai hal ini ibn samak mengatakan: “betapa banyak orang yang mengajak untuk mengingat Allah, namun diasendiri melupakan Allah… betapa banyak orang yang mengajak untuk takutkepada Allah, namun ia sendiri berani terhadapnya… betapa banyak orangyang mengajak untuk mendekatkan diri kepada Allah namun ia sendiri jauh dari Allah… lari dariNya… dan betapa banyak orang yang membaca ayat-ayat Allah, namun ia sendiri melepaskan diri dari ayat-ayatAllah. Para sahabat Rasul pun ketika menjaga hati mereka, sampai –sampaimereka takut untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka dihadapanAllah;Abu bakar berkata; laitanii matsaluka thooir walam akhluqu basyar “sekiranya aku sepertimu wahai burung, dan aku tidak diciptakan sebagaiseorang manusia…” abu dzar al Ghiffari juga berkata; wudidtu anniisyajaratan ta’dhid “betapa inginnya aku jika aku seperti sebatangpohon yang ditebang…”

utsman ra. Juga mengatakan; wudidtu annii laumuttu lam ab’ats “betapa inginnya aku jika aku mati tidak dibangkitkankembali…”

Jika mereka yang sudah mendapatkan pujian langsung dari Allah danRasulNya saja memiliki rasa kekhawatiran yang sedemikian rupa, maka kita seharusnya 100% lebih takut dibandingkan mereka.
Wallahu a’lam wa illallahi qashdusabil.

Maroji’:
Qowarib al najah fi hayat al du’at Utz Fathi Yakan
Musykilat al Da’wah wa al Da’iyah utz Fathi YakanHayatuna Al Ruhiyah, abd al Hamid al balaly, majalah al mujtama’