Mencari Air Mata untuk Palestina

–tidak pernah ada alasan untuk mengumbar kisah pribadi kecuali untuk diambil hikmahnya. Karena ini hanyalah sekedar perjalanan seorang manusia-

 

Ketika saya mendapat 5 SMS mengenai aksi Solidaritas untuk Palestina (28/12), anehnya tidak ada perasaan mendalam terhadap itu semua. Tidak ada kegeraman untuk Israel, tidak ada rasa empati untuk Palestina. Semua berlangsung datar dalam hati saya. hingga akhirnya ketika pukul 16.30 WIB saya mendapat telepon dari Rico Candra (Ketum KAMMI UIN 08/09) dan saya ditugaskan untuk menghubungi wartawan agar meliput aksi di kampus kami besok pagi pada pukul 08.00 WIB. Ya, memang sebelum berkumpul di Bunderan HI pada pukul 10.00 WIB kami biasa mengadakan aksi terlebih dahulu di kampus. Seketika itu rasa tanggung jawab langsung timbul, meski sebelumnya sempat mengemukakan banyak alasan agar saya terbebas dari tugas tersebut. Namun tidak, hati baik saya mesih memompa niat-niat baik untuk membantu. Akhirnya saya coba membantu ala kadarnya, meski keesokan harinya ketika aksi dimulai di Kampus, saya tidak datang dan malah langsung menuju Bunderan HI, sebab saya memang berangkat dari rumah yang jaraknya cukup jauh dengan kampus.

 

Malam hari sebelum hari H aksi, saya masih mencoba mengumpulkan semangat itu. semangat untuk mendukung saudara-saudara seperjuangan di bumi Kan’an sana. Saya coba putar lagu-lagu haroki bertema Palestina. Saya coba mengutak-atik perasaan saya. namun rasa tangis itu belum ada, rasa cinta saya belum tinggi untuk Islam. ASTAGHFIRULLAH. Hingga akhirnya ketika pagi hari, saya masih sempat menonton ‘APA KABAR PAGI’ di TV One. Kebetulan ketika itu pembahasan utamanya adalah Serangan Israel Terhadap Palestina. Saya coba meresapi dan menggali informasi, namun belum cukup juga. Ya Allah, ternyata penyakit hati saya sudah sebegitu parahnya sehingga sulit menggali empati itu.

 

Dan dengan perasaan yang masih datar saya pun berangkat menuju Bunderan HI. Sesampainya disana massa yang datang ke Bunderan HI sudah cukup banyak. Beruntung ketika saya keluar dari busway dan berjalan sebentar, saya langsung bertemu dengan salah seorang teman, Budi Kurniawan (Ketum LDK Syahid 07-08) sehingga saya bisa dengan mudah mencari teman-teman UIN yang telah bergabung dengan massa. Namun sayang, ternyata tidak semudah itu mencari teman di antara orang banyak. Akhirnya kami berpisah dan saya pun bertemu dengan Ahmad Tabrizi (Staff Humas KAMMI UIN), sehingga dengan bantuannya saya bisa bertemu dengan segelintir teman-teman akhwat dari UIN. Cukup lama saya berada dalam barisan massa, namun belum tergugah juga rasa empati saya. hingga akhirnya ketika sholat ghaib dilangsungkan dan ketika Rico Candra (ketum KAMMI UIN 08-09) yang menemani imam sholat ghaib diatas mobil TV One mulai merobek bendera Israel sambil meneriakkan takbir, air mata saya mulai luruh. Namun sayangnya tak banyak. Allahu Akbar! Dimana air mata itu?? saya masih menunggu. Dan bersyukur empati saya masih berfungsi. Ketika pembacaan do’a penutup oleh Asep Saepul Amri (Ketum LDK Syahid 08-09) dilangsungkan diatas mobil sound, hati saya kembali bergetar. Saya mencoba khusyuk mendengar do’a dan sedikit prakata dari Asep soal Palestina. Dan akhirnya, air mata saya mulai mengalir lagi meski tidak banyak.

 

Saudara-saudaraku di Palestina, MAAF. Maafkan saya telah menjadi saudara yang kurang baik kepada antum semua. Maafkan saya yang jarang memikirkan antum sekalian. Entah kenapa saya begini. Padahal tanah itu adalah tanah suci dimana ketika ditaklukkan pertama kali, Umar Al-Faruq memasuki dengan sangat tawadhu dan sangat toleran kepada rakyatnya yang multi agama. Dan dimana ketika direbut kembali oleh Salahudin Al-Ayyubi, ia pun berlaku tawadhu. Dengan segala penuh hormat pada tanah suci dan tidak ingin mengotorinya dengan darah rakyat sipil yang tak berdosa. Mungkinkah saya terlalu terlena dengan ZONA NYAMAN sehingga lupa dengan penderitaan antum. Ah, tidak. Tidak usah dengan hanya tangisan. Namun empati yang akan saya berikan. Namun do’a tulus yang akan saya panjatkan untuk antum disana, wahai para pejuang sejati yang rindu syahid. Allahu Akbar!! Long Life Islam!! No compromise for everything!!

 

Ini Dia TEGAL –Perjalanan dan Pengamatan— (Part 3: Pengajian Pinggir Jalan)

Setelah menyaksikan akad nikah yang hikmat dan mengharukan dan membantu ala kadarnya, saya sempat berjalan-jalan sebentar menuju Masjid Agung Slawi yang belum jadi dan mampir ke Tugu Perjuangan –entah apa namanya dan juga background sejarahnya, dan saya hanya mendapat jawaban bahwa di tugu tsb ialah tempat perang melawan Jepang— yang ada di seberang Masjid Agung juga calon Bundaran Slawi yang belum jadi.

 

Kemudian keesokan harinya –Minggu (28/12)— saya bersama dua teman kembali ke Jakarta pagi-pagi sekali. Kami diantar menuju stasiun Tegal. Dan ketika melewati Jl. Raya Pagongan di Minggu pagi itu, saya diberitahu Ariyanti (teman saya yang baru saja jadi pengantin baru) bahwa di jalan ini ada pengajian unik. Saya bertanya, pengajian seperti apa itu? dia menjelaskan bahwa pengajian itu tidak dilaksanakan di dalam mesjid, rumah atau gedung seperti lazimnya, namun DI PINGGIR-PINGGIR JALAN. Saya bertanya lagi, lalu leader alias ustadznya ada dimana? Ketika itu saya membayangkan ini pasti seperti sholat ied yang juga biasa dilakukan di jalan besar. Dan berarti kita tidak bisa melalu jalan ini karena jalanan dipenuhi orang, pikir saya ketika itu.ternyata SAYA SALAH. Pengajian ini memang benar-benar dilangsungkan di pinggir-pinggir jalan. Jadi ustadz atau pemimpin pengajian ini berada di salah satu teras warung dengan banner yang bertuliskan MAJELIS TA’LIM “AL-HIKMAH” dan sound system-nya. Sang ustadz memulai bacaan ayat Al-qur’an memakai speaker. Sedangkan para jamaah berbondong-bondong berdatangan dari segala penjuru kota dengan menggunakan berbagai kendaraan atau sekedar jalan kaki. Mereka mulai mengambil tempat masing-masing (di setiap emperan toko atau ruko bahkan rumah yang ada di Jl. Raya Pengagongan itu). mereka duduk hanya dengan beralaskan tikar dan Koran dan lalu mulai ikut mengaji. Hmm, unik. Kata Ariyanti, ini hanya terjadi setiap hari Minggu pagi. Wah, serunya ada pengajian seperti itu. tanpa disadari ini menjadi salah satu bentuk syiar Islam.