Ini Dia TEGAL –Perjalanan dan Pengamatan— (Part 2: Eksplorasi Tenaga Anak)

Ketika kereta kelas ekonomi TEGAL ARUM jurusan Kota—Tegal transit sebentar di Cikampek, saya mengamati sekelompok anak-anak kecil laki-laki yang tengah berjongkok di peron luar stasiun. Mereka menanti kedatangan kereta yang akan transit di stasiun itu, seperti kereta ini. Penantian mereka terhadap setiap kereta yang datang bukan tanpa maksud. Ya, mereka menanti untuk mengambil kesempatan emas meminta sekedar uang receh kepada para penumpang kereta dari luar jendela. Dengan memelas penuh mereka memohon untuk dikasihani dan diberi uang receh barang seribu. Saya tidak memberinya, melainkan mengambil gambarnya. Sampai teman saya berkomentar,”Urusin tuh Bekasi, masih banyak orang yang harus diurus. Jangan moto-moto aja.” Saya tertawa. Benar komentarnya. Saya berpikir, ternyata selama ini saya telah salah jalan juga mengambil foto rakyat kecil yang malang tanpa banyak membantunya. Tapi saya berpikir ulang, bahwa saya tidak hanya ingin menjadi sekedar pemberi receh tanpa mampu mengubah ini semua menjadi lebih baik. SAYA INGIN SEKALI MENIADAKAN HAL INI. Karena menurut saya recehan yang dinanti anak-anak itu hanya akan menambah ketergantungan mereka. Mereka tidak boleh memiliki paradigma begitu. Memang sih bukan mereka, namun orang tua yang memberi isu panas kepada mereka. Dan tanpa sadar orang tua telah mengeksplor tenaga anaknya sendiri kepada hal-hal yang berakibat tidak baik kepada anak itu sendiri. Anak dipekerjakan, padahal bukan itu hak mereka. Aduhh, bagaimana ini ya?? Ayo Dila, pikir-pikir-pikir!!! Jangan Cuma bisa nuntut, tapi berikan apa yang dituntut.

Ini Dia TEGAL –Perjalanan dan Pengamatan— (Part 1: Di Kereta)

Tanggal 27 Desember 2008 kemarin, salah satu teman baik saya menikah. Karena asli Tegal, jadi saya pun harus menghadiri akad dan perayaan nikahnya di daerah asalnya itu. inilah kali pertama saya bepergian jauh dengan menggunakan kereta tanpa orang tua. Kereta yang saya dan teman-teman tumpangi adalah kereta dengan kelas ekonomi. Terbayang sekali bagaimana sesak, panas, dan kotornya berada di dalam kereta tersebut. Padahal kapasitas dalam satu gerbong hanya untuk 106 orang, namun yang ada di dalamnya LEBIH dari itu! saya jadi merenung, betapa kita harus prihatin dan paham dengan keadaan bangsa kita sebenarnya. Coba lihat dari dekat. Beginilah rakyat kecil berbuat. Beginilah mereka menjalani hidup. Selama ini kita hanya tau gambaran-gambaran tentang keadaan masyarakat DI ATAS KERTAS. Sehingga solusi yang ditawarkan dan dilaksanakan kurang maksimal dan tidak menyeluruh. Saya jadi punya ide, BAGAIMANA KALAU DIADAKAN SYARAT BAGI PARA CALEG UNTUK MENUMPANGI KERETA EKONOMI SEHARI SEMALAM, PURA2 JADI PENGAMEN DIATAS BUS, PURA2 JADI PEMULUNG, MENJADI PEDAGANG ASONGAN (khususnya di kereta ekonomi, yang WUIH, panasnya luar biasa. Sempitnya juga luar biasa. Duduknya harus berbagi. Di koridor yg sempit pun dijejali penumpang yg berdiri krn tdk dpt duduk. Herannya para pedagang itu SURVIVE betul, bolak-balik menjajakan dagangannya di sepanjang koridor sempit yang jika kita amati tidak akan mungkin berjalan melewatinya), DLL. Hal ini dimaksudkan agar para CALEG tsb bisa merasakan langsung bagaimana penduduk kecil itu menjalani hidup mereka. Sehingga ada perasaan empati yang timbul dan bisa dengan maksimal memperjuangkan aspirasi rakyat banyak. Jadi, GAK HANYA SEKEDAR NGOMONG, TAPI BUKTI BENERAN BRO (mentahnya juga boleh.. halah apaan sih. He-he…)!