AWAL Sejarah Cinta Kita

Oleh Farhan Fahmi*

*Teruntuk sahabatku yang garis hidupnya selalu “keras” dan untuk seluruh ikhwan yang masih menjaga idealisme cinta

Dimalam yang dingin itu Fulan duduk diteras mushola dekat rumahnya. Secara sengaja ia keluar malam untuk menyendiri dan merenung, dipangkuannya buku agenda kesayangan, beberapa lembar kertas putih dan hape esia. Perlahan ia menelaah lembar demi lembar buku agendanya tertulis disitu sebuah azzam dan rencana menikah. Halaman yang tertulis dua digit tanggal setahun yang lalu itu menjelaskan secara rinci langkah demi langkah yang harus ditempuh Fulan sebelum menikah ia menyebutnya Indikator Kesiapan Menikah ( IKM ).

Pada halaman berikutnya Fulan menuliskan IKM dalam empat kategori ; Ruhiyah, Fikriyah, Jasadiyah dan Finansial. Sambil memegang bibir sebagai tanda konsentrasi ia mencoba me-review pelaksanaan indikator – indikator yang ia buat. Dari sisi Ruhiyah telah ada peningkatan antara lain Sholat berjamaah, qiyammulail, shaum sunnah dan ibadah – ibadah lain yang telah ia targetkan setahun yang lalu itu. Kemudian dari aspek fikriyah lebih dari sepuluh buku seputar pernikahan dan rumah tangga sudah ia baca lalu dari segi Jasadiyah Fulan terbilang aman setahun belakangan tak pernah dirawat atau masuk rumah sakit maklum dari kecil ia sudah terbiasa susah, dan kini ia mulai rutin berolah raga. Tinggal aspek yang terakhir yang membuatnya sedikit pusing yaitu kesiapan finansial.

Berat bagi Fulan untuk mencapai indikator yang terakhir ini, separuh dari gajinya bekerja digunakan untuk ibunda dan biaya kuliah kedua adiknya. Gaji itupun ia peroleh karena ia memutuskan bekerja dan meninggalkan bangku kuliah demi keluarga. Belum lagi keperluan sehari – harinya seperti ongkos, makan, sumbangan ini dan itu dan pengeluaran lainnya. Alhasil sebulan ia hanya bisa saving dua ratus ribu.

Semakin tenggelam Fulan dalam renungannya, apakah dana yang ada cukup untuknya menikah. Kembali ia perhatikan targetan – targetan yang telah dilaluinya, “sudah waktunya menikah” gumamnya. Namun dana yang ada belum mencukupi berarti ia harus bersabar, berpuasa seperti yang Rasulullah SAW ajarkan akan tetapi shaum sunnah sudah rutin ia kerjakan “apalagi yang mesti ditunggu” protes Fulan dalam hati.

Saat kebanyakan lelaki sudah tidak bisa lagi menjaga idealisme cintanya. Saat kebanyakan wanita sudah tidak punya iffah (harga diri). Saat kenakalan remaja merajalela, Fulan tak ingin tergolong salah satunya. Fulan bertanya dalam hati inikah perasaan yang dirasakan oleh kebanyakan lelaki beriman? inikah keinginan menjaga kehormatan yang dirasakan oleh kebanyakan lelaki beriman? rasa khawatir akan kekurangan dan takut melangkah, apakah juga dirasakan oleh kebanyakan lelaki yang pas – pasan? apakah hanya aku sendiri yang merasakan?

Tetapi yang lebih dikhawarirkan oleh si Fulan adalah adakah akhwat (wanita) yang mau diajak pas – pasan? adakah akhwat masa kini yang menerima hidup serba kekurangan? adakah akhwat modern yang mau menerima nafkah dua lembar ratus ribuan bahkan kurang dari itu?

Ah, itu hanya ketakutan pribadi !! lirihnya. Fulan percaya Allah SWT-lah yang menjadi tempat bergantung apalagi dalam salah satu firmanNya yang ia catat dalam buku agenda “Dan nikahkanlah orang – orang yang masih membujang diantara kamu, dan juga orang – orang yang layak (menikah) dari hamba – hamba sahaya yang laki – laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya. Dan Alah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” ( Qs : An Nur [24] : 32 )

Diangkatnya selembar kertas putih tadi, digenggamnya hape esia lalu ia tekan nomor salah satu orang kepercayaannya setelah tersambung ia katakan “ustadz bismillah ana siap….”

===============================================

* Farhan Fahmi adalah mahasiswa dengan pendidikan S1 Ilmu Perpustakaan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia adalah salah satu teman pemilik blog ini yang cerdas dan berwawasan luas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s