Rindu: Antara Sejarah, Kenangan dan Hikmah

Pernahkah anda memejamkan mata dan mengajak pikiran anda menelusuri kembali masa kecil anda yang telah lewat? Adakah kesan dari kenangan indah maupun sedih dari tiap masa yang telah anda lewati? Adakah kenangan yang ingin anda ulang atau ingin anda hidupkan kembali dalam hidup anda kini? Jawabannya: PASTI ada. Kalaupun anda merasa tidak memiliki, coba renungi sebentar hidup ini –hidup yang telah anda lalui-. Mungkin anda belum benar-benar menemukan hikmah dari segala kesusahan dan kesenangan itu.

Rindu—itulah yang saya rasakan sekarang. Pada awalnya (mungkin hingga kini masih ada sedikit tertanam) saya memiliki rasa rindu yang berlebihan terhadap masa kecil bahkan sangat terobsesi ingin kembali kesana. Namun semakin detik di dunia ini bertambah, semakin tidak pantas rasanya saya melakukan itu. Karena realita terus berjalan dan hidup tidak pernah boleh stagnan. Saya harus realistis! Akhirnya rindu itu berubah menjadi hikmah dan pelajaran yang harus saya ambil dan saya terapkan kembali di masa saya sekarang ini. Ya, ternyata banyak hal positif yang telah saya lupakan dari masa kecil yang saya rasa masih pantas untuk diterapkan di kedewasaan awal saya.

Berawal dari keisengan saya membuka koleksi perpustakaan sangat mini dan sederhana saya dan ketika itu saya menemukan buku ‘DUNIA KATA’ karya Fauzil Azhim yang merupakan penulis buku-buku best seller khususnya buku-buku yang bertemakan pernikahan. Saya buka beberapa halaman dan membaca sekilas tulisan Fauzil (khususnya pengalaman ia ketika kecil) mengenai kebiasaannya membaca dan melahap tulisan-tulisan yang tak hanya diperuntukkan anak-anak namun juga bacaan-bacaan berat untuk anak seusianya (sampai ia pernah melahap buku Psikologi Perkembangan milik budenya). Saya trenyuh dan merenung: prihatin dengan keadaan saya sendiri. Sebab dulu saya memiliki kebiasaan yang sama meski tidak ‘separah’ Fauzil Azhim. Namun seiring berjalannya waktu dan pengaruh lingkungan luar, saya mulai meninggalkan kebiasaan baik tersebut.

Ditambah ketika saya membaca buku Anis Matta yang berjudul ‘Model Manusia Muslim Abad XXI’ yang baru saja saya selesaikan. Disana Anis menulis, ‘sediakan lebih banyak waktu untuk membaca dan sediakanlah waktu 15 menit utuk memikirkan dan mengendapkan bacaan dalam pikiran anda.’ Saya makin ‘terpukul’ dan sedikit menyesal, mengapa tidak saya terapkan kembali budaya baca itu? Dan semakin ditambah lagi ketika saya menemukan buku lawas karya K.H. Abdurrahman Arroisi ’30 Kisah Teladan’ pada perpustakaan lawas bapak saya. Yakni buku yang sudah lama saya kenal dan sudah sejak kecil saya mencoba mengkhatamkannya tapi belum bisa hingga kini karena ada beberapa serial dari buku tsb yang hilang.

Ada dua hal yang saya dapat setelah perenungan tentang masa kecil saya; yakni hal yang saya sesali dan hal yang tidak pernah saya sesali dari hidup ini. Pertama, hal yang saya sesali ialah tentang pembelajaran saya terhadap ilmu agama yang jarang didapat langsung dari bapak saya. saya menyesal kenapa dulu saya tidak pernah belajar bahasa arab sejak kecil? Kenapa saya dulu tidak pernah di-pesantrenkan? Sehingga meski keluarga saya termasuk religius, namun saya terpaksa harus mengenal Islam baru-baru ini dengan melalui usaha saya sendiri yang bergabung dengan teman-teman dalam memelajari Islam. Memang, setiap orang dalam belajar butuh sebuah kesadaran dalam dirinya sehingga terasa lebih indah. Benar yang diungkapkan Raihan dalam judul lagunya Iman. Disana terdapat lirik bahwa ‘iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa. Ia tak dapat dijual beli.

Lalu kedua, hal yang tidak pernah saya sesali ialah, kebiasaan dan BUDAYA BACA TULIS yang diterapkan bapak saya. meski tidak pernah ada paksaan dalam kebiasaan membaca dan menulis, namun bapak saya selalu mencontohkannya dengan kebiasaan dirinya (membaca) yang tampak dari luar oleh kami sebagai keluarganya. Saya biasa diajak ke toko buku (khususnya toko-toko buku di bilangan Kwitang, Jakarta Pusat, seperti Walisongo, Gunung Agung, Menara Kudus, toko buku di gedung pertemuan NU, dll) sejak kecil hingga kebiasaan diajak itu berhenti sejak saya SMA yang kebetulan harus jauh dari rumah, yakni di daerah Sukabumi.

Sejak dikenalkannya dengan buku serta perangkat-perangkat yang mendukungnya, saya mulai terbiasa dengan buku. Saya melahap berbagai buku cerita hikmah (kebetulan saya sangat menyukai tema yang berbau fiksi dan sejarah) sejak usia balita meski sekedar dongeng dan gambar-gambar. Saya punya setumpuk majalah anak Islam (majalah favorit saya ketika kecil ialah AKU ANAK SHOLEH) dan setumpuk kisah nabi dan shahabat yang sekarang sudah entah kemana (meski masih ada beberapa, dan itupun hanya sekedar koleksi dan belum pernah saya baca detail). Namun kebiasaan baca semakin pudar ketika saya besar. Ketika SMP saya lebih suka baca majalah-majalah remaja, meski masih suka mengkoleksi SABILI. Ya, sejak usia 10 tahun saya sudah membaca SABILI, meski engga ngerti. Sebelumnya saya juga sudah mengenal majalah serupa seperti Ikhwanul Muslimin, dsb. Sehingga sejak itu saya sudah tahu konflik-konflik yang ada di Palestina, Afghanistan, juga konflik di Indonesia seperti Tanjung Priuk, Talang Sari, Malari, Kristenisasi, dsb. Namun sayangnya, seiring saya mengenal lingkungan luar yang memperkenalkan saya pada style barat (saya termasuk korban ghazwul fikri!!), saya mulai pikun dengan hal-hal tsb dan saya diingatkan kembali dengan itu semua ketika saya mulai mengenal tarbiyah pada saat memasuki jenjang perguruan tinggi.

Maka, dengan ini, saya sungguh ingin sekali menghidupkan kembali budaya yang telah saya miliki puluhan tahun ini. Ingin saya budayakan kembali semua ini. Karena saya sangat paham akan keuntungannya. Dengan membaca dan menulis kita akan terlatih untuk mendapat info-pengetahuan-ilmu dan terbiasa untuk menganalisa sebagai bentuk pelatihan terhadap otak kita. Meski memang sangat dibutuhkan disiplin tinggi dan rasa istiqomah yang kuat sehingga kebiasaan ini bisa istimror seumur hidup.

Sekarang cobalah dengan anda. Punyakah hikmah yang didapat dari kehidupan masa lalu anda? Jika merasa tidak punya, cobalah ajak pikiran anda mengarungi masa-masa itu. Meski misalnya terlalu banya yang pahit masa-masa yang anda miliki, tapi cobalah ambil hikmah dan pelajaran dari kepahitan tsb, dan coba terapkan kesimpulkan tentang apa-apa yang harus dihindari. Contoh anda sering tidak naik kelas dan sering mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari teman-teman sebaya anda ketika kecil. Coba ambil hikmah apa yang harus dilakukan agar menjadi pintar dan tidak lagi menjadi bahan cemoohan oleh orang-orang di sekitar anda. Misalnya, untuk menjadi orang pintar dan disegani, anda harus lebih banyak menyediakan waktu untuk belajar dan membaca dan berlatih berpikir dan menganalisa. Dan untuk menjadikan diri anda disegani atau tidak dipermainkan lagi, cobalah anda untuk melatih diri agar menjadi lebih dewasa dalam menghadapi tiap persoalan (dengan tidak terlalu menghiraukan segala ejekan) dan mengupgrade diri anda agar disegani.

Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat.

Iklan

2 thoughts on “Rindu: Antara Sejarah, Kenangan dan Hikmah

  1. Pernahkah anda memejamkan mata dan mengajak pikiran anda menelusuri kembali masa kecil anda yang telah lewat?

    Pernah Fadhila, banyak kesan yang muncul tapi sayang kadang-kadang pikiran ngelantur kemana-mana.

    tapi emang benar kok, kita musti mengingat sejarah hidup, apalagi diri kita sendiri. mencari hikmah dibalik sejarah=”pengalaman” hidup kita.

  2. yaa bnr la
    lumayan sering mikir saat kecil dlu
    byk pengalaman n petualangan
    kaya bolang aja
    serius deh
    sering main kemana2 sm temen2 menjelajahi tempat2 lain yg memang msh di daerah yg sama
    seru…
    tempat main kita dlu udah berubah
    sawah yg tanah merahnya sangat lapang
    berubah menjadi bangunan rumah2 baru
    ga da lg bunga jagoan neon, yg kalo dimakan lidahnya jd ungu.hehe
    gada lg pohon2 bambu kecil yg sering kita bw pulang utk dijadiin pletokan, sejenis tembakan yg pelurunya dr kertas basah

    masa kecil yg sangat indah jika dibandingkan masa yg dilalui anak2 kecil zaman sekarang, yg lebih byk berkutat pd alat2 modern. krg merasakan serunya bermain di lapangan. memang ga semuanya begitu

    didikan orgtua yg slalu kubanggakan krn bs jd anak mandiri yg biasa ngerjain pekerjaan2 rmh sendiri sejak SD. bersyukur bgt.
    mungkin bg sbagian org itu hal yg kecil

    Sy slalu terpana dgn skenario2 Allah. Subhanallah. slalu ada pesan di baliknya. termasuk apa yg tlh kita lalui dr masa kecil sampe detik ini.
    Truz semangat mendekatkan diri kepada-Nya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s