Merenungi Kemakmuran Kita

“Barangsiapa yang berada dalam keadaan aman di tengah kaumnya, sehat tubuhnya, ada yang akan dimakan hari itu, maka sepertinya dunia telah digiring kepadanya dengan segala isinya.” (HR Tirmidzi)

Saya agak trenyuh membaca hadis diatas. Hadis tersebut membuat saya berpikir dan merenung. “Barangsiapa yang berada dalam keadaan aman di tengah kaumnya…” saya pikir saya aman hidup di Indonesia. Dan mungkin juga (pasti) jutaan penduduk muslim lain di Indonesia ini, meski kita hidup sederhana tentunya.

Lalu, “… sehat tubuhnya.” Alhamdulillah saya termasuk sehat, meski jarang berolahraga (itu tandanya kurang bersyukur ya?). dan, “… ada yang akan dimakan hari itu…” setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, saya bisa memakan apapun yang saya mau. Dan saya selalu menemukan makanan yang bisa dimakan di meja makan. Meski bukan orang kaya, namun alhamdulillah selalu merasa cukup dan lebih dari cukup.

“… maka sepertinya dunia telah digiring kepadanya dengan segala isinya.”
Ingin menangis rasanya membaca kalimat terakhir dari hadist ini. Saya AMAN-SEHAT-MAKAN berarti SAYA TELAH DIBERI DUNIA OLEH ALLAH. Namun mengapa, terkadang hati ini selalu merasa kurang puas. Selalu ingin lebih-lebih-lebih. Padahal, masih banyak orang kurang beruntung. Mereka tidak aman—tidak sehat—kurang makan.

Muslim di Indonesia ini masih tergolong makmur. Sangat-sangat makmur. Meski memang tidak semakmur bangsa arab. Namun kita hanya kurang mensyukuri segala hal. Tanpa sadar orientasi kita terlalu duniawi, padahal jika kita membaca dan merenungkan hadist tadi sebenarnya seisi dunia sudah ada di tangan kita dan kita tinggal menjalankan segala orientasi akhirat. Mungkin itulah hikmahnya mengapa Allah memberi kita segala kekayaan itu, yakni supaya memudahkan kita untuk menjalankan segala perintahnya agar bahagia di akhirat tadi. Namun sayang, kebanyakan kita tidak menangkap pesan itu. Kita malah menjadi ambisius dan selalu ingin dan berlomba-lomba menjadi yang pertama dalam orientasi keduniaan. Keinginan itu terkadang membuat hati dan jiwa social kita tertutup. Kita lupa dengan saudara di sekitar kita yang tidak berkecukupan dan selalu merasa kekurangan. Mereka menunggu bagian mereka diberikan. Bagian mereka yang tersimpan dalam harta kita. Bagian mereka yang dititipkan Allah. Semoga kita menjadi sadar atasnya. Dan semoga jiwa-jiwa ambisius kita atas keduniaan perlahan-lahan terhapuskan dan tergantikan dengan semangat akhirat! Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s