Orang Tua = Murobbi Bagi Anak

Sungguh suatu kebahagiaan bagi orang tua jika mendapati anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Namun, untuk mendapatkan anak yang sperti itu tidak bisa diperoleh dengan instant saja dan berharap pada keajaiban yang tumbuh dengan sendirinya pada diri sang anak. Dibutuhkan kerja keras dan usaha lebih dari orang tua untuk mendidik anaknya agar bisa menjadi seperti yang diimpikan.

Kenapa butuh pendidikan yang secara langsung ditangani oleh orang tua? Karena memang orang tualah yang menjadi contoh pertama dalam kehidupan anak semasa kecilnya. Mari coba kita tela’ah dulu pengertian pendidikan.

Dari segi bahasa, kata tarbiyah (pendidikan) bisa dikembalikan pada 3 unsur bahasa, yaitu:
Rabaa-yarubuu, yang berarti: bertambah dan berkembang.
Allah berfirman: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah (QS 2:276). Dikatakan: Rabbaituhu fatarabbaa (aku mengembangkannya; maka berkembanglah ia), dan ar-rabwah adalah tempat yang tinggi.

Rabiya-yarbaa: menurut wajan khafiya-yakhfaa, yang berarti: tumbuh (nasya’a) dan berkembang (tara’ra’a). dalam syairnya, Ibn ‘Arabii berkata:
“Barang siapa bertanya di mana aku,
Sungguh, aku ada di Makkah, rumahku.
Di sana aku tumbuh dan berkembang.”
Maka, patut dikatakan jika Islam ialah agama yang sangat concern dengan pendidikan, bahkan sejak anak itu berada di dalam kandungan dan ketika ia lahir ke dunia. Di dalam kandungan, ayah atau ibu tidak hanya melakukan ritual yang memperhatikan kesehatan tubuh sang ibu dan jabang bayi, namun juga rohani. Seperti misalnya, jika waktu senggang, ayah dan ibu berusaha memperkenalkan sang anak yang masih di dalam perut kepada agamanya dengan bertilawah dan membaca buku yang menambah wawasan ke-Islaman dan pengingat kepada Allah.

Rabba-yarubbu: menurut madda-yamuddu, yang bermakna: perbaikan, siasat, dan penjagaan. Dalam syairnya, Hasan bin Tsabit berkata:
“Engkau benar-benar lebih baik ketika muncul di depan kami sewaktu keluar di halaman istana
Daripada mutiara putih murni yang diperbaiki dari kerang di bawah laut.”

Ar-Raaghib al-Ishfahaanii mengatakan, “Pendidikan (tarbiyyah) adalah mengembangkan sesuatu setahap demi setahap menuju kesempurnaan.” (Ash-Shawwaf,2003:47-48)

Maka, sudah cukup jelas jika orang tua ialah merupakan Murobbi (pendidik) sekaligus Qudwah (teladan) bagi anak-anaknya. Orang tualah yang mengamati perkembangan anak-anaknya. Pendidikan yang diberikan bagi orang tua tidak hanya soal pengetahuan umum, namun juga soal moral dan agama.

 

Lalu ketika lahir, sang ayah dengan sigap dan segera mengumandangkan adzan dan iqomah ke telinga putra/putrinya. Sehingga adzan-lah sebagai materi awal bagi pendidikan pertama mereka. Telinga generasi cilik tsb bergerak-gerak seolah memahami akan apa yang dibisikkan dalam telinganya.

Seperti apa yang Allah firmankan dalam QS 51:56 bahwa: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.”
Para mufasir menyebutkan makna al-‘ibadah dalam ayat ini dalam beberapa pendapat; pertama, tauhid; kedua, melaksanakan ibadah dan menjaga ketaatan; ketiga, mengenal Allah (ma’rifatullah). (Tafsir al-Qurtuubi, Juz. 17/55)

Sebagaimana tujuan utama pernikahan dalam Islam adalah membina generasi imani yang mempunyai keimanan kuat dalam hatinya dan terlihat pengaruhnya pada akhlak dan perbuatannya. (Ash-Showwaf,2003:59)

Dalam sabdanya Rasulullah pun bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Maka, semakin jelas pemikiran kita bahwa orang tua merupakan guru pertama bagi anaknya. Dan dasar-dasar akidah yang paling penting yang wajib diajarkan kepada anak-anak adalah: a) mengesakan Allah (tauhidullah), b) Allah menaklukkan semua makhluk untuk berkhidmat kepada manusia, c) beriman kepada qadha’ dan qadar serta bertawakal kepada Allah, d) menanamkan kecintaan kepada Nabi saw. (Ash-Showwaf,2003:60)

Semoga kita menjadi orang tua yang budiman lagi berbudi luhur dan menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita nantinya. Amin!!
Wallahu a’lam bish showab

Sumber:
Al-Qur’an Al-Kariim
As-Sunnah

Ash-Showwaf, Muhammad Syarif. ABG Islami (Tarbiyyah al-abnaa wa al-muraahiqiin min manzhar asy-syari’ah al-islamiyyah). Terjemahan. Bandung: Pustaka Hidayah, 2003.
Iklan

One thought on “Orang Tua = Murobbi Bagi Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s