Serunya Ngantri Minyak Tanah

Akhirnya saya kembali mengunjungi antrian minyak tanah di seberang kampus saya tercinta UIN Syahid (Jumat, 11/4) setelah seminggu sebelumnya saya berada di tempat yang sama. Dengan kamera tertenteng, saya PEDE menyelipkan badan di tengah-tengah antrian yang cukup panjang. Saya melihat jeringen minyak yang tertata berdempetan dengan pegangan tangannya dimasukkan tali kabel warna hitam. Saya lihat jerigen-jerigen tersebut banyak yang ditandai dengan nama pemiliknya atau dengan warna-warna cat.
Saya pikir ini cukup menarik. Akhirnya saya flash-kan kamera saya ke arah jerigen dan warga yang tengah mengantri. Di sela-sela itu, saya juga mewawancarai salah seorang warga yang ikut mengantri di antrian paling depan. Ibu Nensi, katanya ketika saya tanya namanya. Dia bertanya apakah saya ikut mengantri? Dengan tersenyum saya bilang tidak. Saya hanya ingin tahu keadaan antrian minyak tanah atau lebih tepatnya ISENG. Saya tersenyum-senyum sendiri akan kegilaan saya ini, ISENG. Ya, saya memang suka mengabadikan hal-hal sepele-kecil-dan mungkin tidak penting lewat kamera. Tapi itulah seninya, daripada mengabadikan pose orang-orang yang memang suka difoto, BASI.
Kembali ke sosok ibu Nensi dan minyak tanah yang sedang ditunggunya. Ibu Nensi bilang kepada saya bahwa minyak tanah yang akan dibelinya di pangkalan ini cukup terjangkau harganya. Hanya dengan Rp. 5000,- sudah bisa mendapat minyak dengan porsi 2 liter. Berbeda jika kita membeli di warung, katanya lagi, 1 liter dihargai dengan Rp. 6000,-. Kalau dipikir-pikir cukup mahal juga. Apalagi pada Jumat seminggu yang lalu saya bertanya dengan warga soal harga di warung, ternyata bisa mencapai Rp. 7000,- untuk 1 liter. Berarti untuk 2 liter saja, warga harus membayar 12-14 ribu rupiah!
Soal kebiasaan mengantri, Bu Nensi mengaku bahwa di pangkalan tempat ia mengantri sekarang cukup cepat jika dilihat dari soal waktu daripada mengantri di tempat lain seperti di kelurahan dan Ciputat Molek. Disana, ujarnya lagi, minyak tanah baru diisi sekitar pukul 12 siang. Berbeda dengan di pangkalan ini yang sekitar pukul 10-11 sudah mendapat jatah minyak. Katanya, jika mobil pengisi minyak tanah datang, yang pertama diisi ialah tong-tong tukang minyak tanah yang juga menjadi pengecer minyak ke rumah-rumah warga. Setelah itu jerigen-jerigen warga yang diisi.
Soal kelangkaan minyak tanah, ibu Nensi mengaku tidak terlalu merasakan karena menurutnya selama minyak tanah masih bisa didapat dengan harga murah walau harus mengantri, itu tidak menjadi masalah. Maka pengaturan urusan dapur yang tepat juga penting. Ketika saya tanya soal gas, ia menjawab kalau ia tidak berani menggunakan gas. “takut.” Jawabnya singkat sambil tersenyum malu-malu.
Begitulah warga kita, warga Indonesia. Sepertinya minyak tanah bukannya langka, namun memang ada sedikit unsur kesengajaan dari pemerintah untuk membatasi minyak tanah di kalangan masyarakat dan diganti dengan gas. Padahal kata beberapa tokoh (waktu itu saya sempat menonton TODAY’S DIALOG di Metro TV), warga Indonesia belum siap dan mampu menggunakan gas. Saya pikir juga begitu. Dari segi pembiayaan juga agak mahal apalagi untuk keluarga menengah ke bawah. Lalu bagaimana? Padahal mungkin kata pemerintah ada benarnya juga, minyak tanah akan semakin jika sering digunakan, maka mereka berinisiatif mengganti dengan gas. Atau, kenapa tidak masak pakai listrik saja? Energi listrik kan tidak pernah habis seperti energi matahari.

One thought on “Serunya Ngantri Minyak Tanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s