Mereka Bilang Kebebasan Beragama Telah Dilanggar

                Beberapa tahun belakangan ini banyak sekali aliran menyimpang yang kita dapati di Indonesia seperti Ahmadiyah, Al-Qur’an Suci, Al-Haq, Ahmadiyah Al-Islamiyah, dsb. Sebenarnya bukanlah hal yang baru di Indonesia aliran-aliran kepercayaan yang divonis sesat dan menyesatkan ini muncul. Namun entah mengapa, seperti sedang tren, aliran-aliran ini terus bermunculan yang mungkin saja salah satu faktornya mengikuti jejak ‘kepopuleran’ aliran nyeleneh yang sudah ‘launching’ sebelumnya. Dulu kita sudah mengenal Ahmadiyah, LDII dan NII. Bahkan Ahmadiyah yang sempat ‘melempem’ sebelumnya seperti mengalami reinkarnasi kembali padahal sejak dulu pula Ahmadiyah telah dinyatakan sesat oleh kalangan atas umat Islam di Indonesia (MUI).

                Namun sayangnya, berbagai sanksi dan hukuman juga keputusan yang dikenakan kepada aliran-aliran sesat ini baik itu secara hukum atau tidak (tindakan protes dan demo warga langsung ke tempat kejadian) dianggap sebagai pelanggaran hukum atas kebebasan beragama yang ditetapkan di negeri ini. Penulis sudah dua kali mendengar program diskusi mengenai pelanggaran kebebasan beragama di salah satu radio swasta di bagian timur Jakarta. Lalu dalam salah satu media cetak dinyatakan pula bahwa sepanjang tahun ini telah marak terjadi pelanggaran terhadap kebebasan beragama. Adalah Setara Institute for Democracy and Peace yang meneliti dan mancatat hal ini. Dikatakan bahwa telah tercatat sebanyak 135  pelanggaran yang terjadi sepanjang Januari-November 2007 yang terdiri atas 92 pelanggaran yang dilakukan oleh Negara dalam bentuk pembatasan, penangkapan, penahanan dan vonis terhadap mereka yang dianggap sesat. Sementara ada 93 pelanggaran dikarenakan pembiaran atas tindakan kekerasan yang dilakukan warga atau kelompok. Adapun jumlah terbanyak kelompok korban yang dilanggar kebebasannya ialah, Al-Qiyadah Al-Islamiyah sebanyak 48 kasus pelanggaran, disusul oleh penganut Katolik yang mendapat 19 kasus pelanggaran dan yang terakhir Ahmadiyah dengan 15 kasus pelanggaran.

                Berbicara mengenai pelanggaran kebebasan beragama apalagi terhadap aliran-aliran yang dianggap sesat dan menyesatkan sepertinya hanya membuang-buang waktu. Sebab sudah jelas aliran-aliran seperti itu bukanlah agama yang resmi terdapat dalam agama resmi Negara Indonesia. Memang telah disebutkan dalam pasal 29 mengenai kebebasan beragama bahwa tiap-tiap penduduk dibolehkan untuk memeluk kepercayaan dan keyakinannya masing-masing. Namun kepercayaan dan keyakinan yang dimaksud ini ialah agama yang telah secara resmi menjadi agama Negara.

                Mengenai aliran sesat yang sedang nge-trend saat ini, yang kebetulan merupakan penyimpangan dari agama Islam, jika mendapat vonis sebagai aliran sesat dari MUI sebagai majelis tertinggi umat Islam Indonesia tidak menjadi masalah dan bisa di-sahkan secara hukum. Sebab pertama, yang mengerti soal ajaran agama Islam ialah umat Islam sendiri, sehingga mereka tidak akan salah menilai mana ajaran yang sesuai dengan ajaran agamanya dan mana yang tidak. Dan jika tidak ditindaklanjuti baik itu berupa penringatan ringan bahkan keras, berarti Islam tidak menjalani hak-nya sendiri dalam menjalani syariat yang telah ditetapkan dalam Islam. Dan bahkan dengan dibiarkannya aliran sesat bertumbuh seperti jamur, justru melanggar hukum karena Negara telah dirugikan dengan bertambahnya jumlah kepercayaan dan keyakinan yang illegal. Agama-agama resmi Indonesia akan mengalami kerancuan.

                Soal gereja yang ditutup dengan paksa, itu memang semata-mata karena masalah perizinan yang disalahgunakan. Banyak Rumah Toko (RUKO) yang disalahgunakan izinnya dengan digunakan sebagai gereja atau rumah ibadah umum. Dan ada pula gereja yang dibangun di area perkampungan Muslim yang lagi-lagi dengan penyalahgunaan izin. Jelas saja warga Muslim marah besar, ketika areanya yang jelas-jelas seluruhnya berpenduduk Muslim dibangun sebuah gereja di dalamnya. Lalu ditambah jika perizinan itu disalah gunakan. Warga yang marah ini terkadang menjadi kalap karena kesabarannya yang habis sebab peringatan-peringatan yang telah diberikan tidak diindahkan. Sehingga banyak juga yang menutup rumah ibadah illegal tersebut dengan paksa tanpa bantuan aparat hukum.

                Dan lalu sekarang mereka mengatakan kebebasan beragama telah dilanggar? Kebebasan beragama yang mana? Jelas-jelas kepercayaan dan keyakinan yang dianut para pengikut aliran sesat itu salah karena tidak menganut agama resmi Indonesia. Jika mau berbicara pelanggaran kebebasan beragama dan beribadah, justru umat Muslim yang lebih banyak dilanggar kebebasannya. Ingat peristiwa Tanjung Priok pada tahun 1984 ketika umat Muslim ditembaki saat berlangsungnya sholat shubuh di sebuah masjid. Itu salah satu pembantaian besar-besaran terhadap umat Muslim di negeri ini, lalu mana pembelaan untuk kami?

Iklan

One thought on “Mereka Bilang Kebebasan Beragama Telah Dilanggar

  1. Penanganan aliran sesat itu nggak boleh emosi. Makin diserang, makin kukuh mereka memeluk keyakinannya!

    Perkara gereja di tengah masyarakat yg mayoritas muslim adalah keniscayaan, karena umat katolik/kristen pastilah minoritas di tengah komunitas muslim. mìsal di kelurahan saya. mereka tersebar di seluruh RT/RW dan nggak sampai 10 keluarga di setiap RT. Lalu mereka mesti buat gereja dimana?
    Apakah gereja begitu menakutkan kita umat Islam?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s