ABDULLAH BIN UMMI MAKTUM

Seorang lelaki tunanetra, Allah telah menurunkan
tentang dirinya 16 ayat yang dibaca dan akan tetap
dibaca selama siang dan malam masih berputar (Mufassirin)

Abdullah bin Ummi Maktum adalah orang Makkah golongan Quraisy. Ia memiliki ikatan keluarga dengan Rasulullah karena ia adalah putra dari bibi Khadijah binti Khuwailid dari pihak ibu. Ayahnya bernama Qais bin Zaid, ibunya bernama Atikah binti Abdullah dan dikenal dengan “Ummi Maktum” karena melahirkan seorang bayi dalam keadaan buta.
Ibnu Ummi Maktum termasuk orang yang terdahulu memeluk Islam. Ia hidup ketika kaum muslimin Makkah sedang dalam keadaan tertindas. Dia juga turut mengalami berbagai penderitaan yang menuntut pengorbanan, ketabahan, dan keteguhan luar biasa. Namun semua itu tidak melemahkan semangat, iman, dan kesabarannya sama sekali. Justru hatinya semakin teguh terpaut pada agama dan kitab Allah. Dia rajin sekali mengkaji syariat-syariat Allah kepada Rasulullah.
Semangat Ibnu Ummi Maktum sangat mengagumkan. Tidak ada waktu luang kecuali dipergunakanya untuk menimba ilmu agama kepada Nabi saw. Bahkan karena bersemangatnya, seringkali ia mengikuti juga pelajaran bagian orang lain.
Pada masa itu Rasulullah sedang giat berdiplomasi dengan tokoh-tokoh terkemuka Quraisy untuk menarik mereka kedalam Islam. Suatu hari beliau bejumpa dengan Utbah bin Rabi’ah dan saudaranya, Syaibah bin Rabi’ah, beserta Abu Jahal, Ummayah bin Khalaf, serta Al-Walid bin Mughirah, ayahanda Saifullah Khalid. Rasulullah mulai berbicara tentang tugasnya sebagai Rasul dan mengajak mereka masuk Islam. Beliau sangat mengharapkan keislaman mereka, atau minimal mereka mau menghentikan gangguan-gangguannya terhadap para sahabat.
Saat Rasulullah sedang sibuk-sibuknya, dating Abdullah bin Ummi Maktum. Katanya, “Ya Rasulullah, ajarilah saya apa yang Allah ajarkan kepada anda.”
Rasulullah yang merasa terganggu, membuang muka dengan masam. Beliau kembali memusatkan perhatiannya kepada orang-orang Qurais dan berharap mereka mau memeluk Islam. Dengan keislaman tokoh-tokoh Quraisy itu, agama Allah akan mulia dan jaya, disamping dakwah Rasulullah pun semakin kokoh.
Setelah Rasulullah selesai bicara dengan mereka dan beranjak pulang, Allah menahan mata beliau kemudian turunlah QS. Abasa: 1-6.
Enam ayat dibawa oleh JIbril dan diturunkan ke dalam kalbu Nabi berkenaan dengan urusan Abdullah bin Ummi Maktum. Sejak itu Rasulullah makin menghormati Abdullah bin Ummi Maktum. Apabila ia datang dan duduk di sisi beliau, beliau menanyakan hal ihwal keperluannya.
Ketika gangguang kafir Quraisy semakin keras, Rasulullah mengizinkan kaum muslimin berhijrah. Abdullah bin Ummi Maktum termasuk muslim yang paling cepat meninggalkan negerinya demi menyelamatkan agamanya. Bersama Mush’ab bin Umair, Abdullah bin Ummi Maktum termasuk rombongan sahabat yang pertama kali dating ke Madinah. Disana keduanya tanpa kenal lelah mendatangi rumah-rumah penduduk mengajarkan Al-Qur’an.
Setelah Rasulullah tiba di Madinah, beliau mengangkat Abdullah bin Ummi Maktum dan Bilal bin Rabah sebagai muadzdzin. Mereka bertugas mengumandangkan kalimat tauhid lima kali sehari untuk mengajak manusia mengerjakan amal kebaikan dan mendorong pada kebahagiaan. Terkadang Bilal yang menyerukan adzan sedangkan Ibnu Ummi Maktum menyerukan iqamat, dan terkadang sebaliknya.
Penghormatan Nabi saw terhadap Abdullah bin Ummi Maktum mencapai tingkatan tertinggi dengan diangkatnya dia sebagai pemimpin pengganti atas Madinah ketika Rasulullah keluar kota.
Usai perang Badar, Allah menurunkan ayat Al-Qur’an yang menjunjung tinggi kedudukan para mujahidin dan mengutamakan mereka diatas orang-orang lain. Ini memberikan dorongan semangat dalam jihad, sementara orang yang tidak ikut berjihad menjadi resah.
Ayat-ayat tersebut menyentuh nurani Ibnu Ummi Maktum. Dia khawatir tak mampu meraih keutamaan semacam itu. Kepada Allah ia melakukan munajat dengan khusyu’ agar Dia menurunkan ayat tentang orang-orang seperti dirinya, orang-orang yang terhalang dari jihad karena cacat tubuh. Dan Allah pun mengabulkan dengan turunnya QS. An-Nisa:95.
Namun demikian Ibnu Ummi Maktum tak bisa duduk berpangku tangan saja di rumah. Dengan tekad kuat ia turut berangkat berjihad di jalan Allah. Sejak hari itu Abdullah bin Ummi Maktum selalu siaga agar jangan sampai tertinggal dari perang-perang Nabi saw. Dia menetapkan tugas bagi dirinya sendiri. Katanya, “Tuntunlah aku diantara dua barisan, lalu beri aku panji-panji. Aku akan membawa dan menjaganya. Sebagai orang buta, aku tidak bisa lari.”
Pada tahun ke-14 Hijriah, Umar bin Kahatab merencanakan untuk menaklukkan kekaisaran Persia. Ia mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai panglima pasukan, ia mengantar keberangkatan pasukan sambil memberikan pesan-pesan.
Sesampainya pasukan di Qadisiyah, Abdullah bin Ummi Maktum muncul dengan baju zirah (baju perisai perang) dan persenjataan lengkap. Seperti biasa ia menentukan tugas bagi dirinya sendiri, memegang panji-panji muslimin dan mempertahankannya sekuat tenaga hingga mencapai syahidnya.
Kemenangan pun berada di pihak muslimin yang dibayar dengan gugurnya ratusan syuhada’ yang didalamnya termasuk Abdullah bin Ummi Maktum. Dia ditemukan bersimbah darah dengan menggenggam panji-panji Islam erat-erat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s