satu suara menentang REKTOR [ini NOVEL GW]

Bab 1

Kampung Mahasiswa Pagi Itu…

Kampus Peradaban— Hari ini Senin pagi, tanggal di pertengahan bulan, dan bulan di perempatan tahun. Pagi yang cerah namun tanpa kicauan burung, karena –sekedar info ajha- pohon-pohon besar yang ada di sisi-sisi trotoar kampus sudah 60%nya dipangkas Dinas Pertahanan Kampus. Maka sebab itu anak-anak UKM –Unit Kegiatan Mahasiswa- Back to Nature (BtN) –UKM yang sejenis MAPALA gitu deh- protes habis-habisan dengan cara mereka yang unik namun cerdas. Mereka duduk menggelantung –pake alat bantu tali tambang- diatas pohon dan berdiri diatas tunggul (bekas batang pohon yang habis dipangkas) pohon sambil membawa poster berisi tulisan-tulisan protes. Juga ada spanduk yang berisi tulisan protes yang sangat bagus dan inspiratif;

Ketika pohon terakhir telah habis ditebang

Ketika tetesan air terakhir telah habis diminum

Ternyata uang tidak dapat dimakan

Kampung Mahasiswa –sebenarnya bernama Student Center- terletak di titik tengah kampus, diantara jajaran gedung-gedung perkuliahan dari A-Z, namun sayangnya agak jauh dari Gedung Rektorat. Seharusnya Student Center atau Kampung Mahasiswa bersebelahan dengan ‘Ge-Er’ alias Gedung Rektorat, biar mahasiswa dengan cepat dan mudah mengakses keberadaan pejabat tinggi kampus. Dan yang paling penting biar gampang ngambil ‘jatah’ untuk kegiatan mahasiswa dan gampang kalau demo, biar pejabat rektorat bisa langsung merespon. Sebenarnya sih yang paling penting –banget-banget penting-, biar rektor bisa melihat dengan mata kepala sendiri secara langsung apa saja kegiatan yang dilakukan oleh para mahasiswanya.

Balik ke Kampung Mahasiswa –KM- Senin pagi ini. Bangunan tingkat dua dengan dekoran cukup mewah ini masih sepi dari mahasiswa. Karena menurut tradisi, hari Senin Pagi memang merupakan jadwal wajib kuliah bagi para mahasiswa reguler. Kecuali memang bagi para penghuni wajib KM seperti para Ketua UKM, BEMU, KMU dan DPMU. Wah, sedang apa ya para ‘gacoan’ itu?? Pasti sedang nyapu-nyapu sekretariatnya masing-masing yang berdebu.

Kampung Mahasiswa terbagi dalam 14 sekat alias 14 bagian. Maksudnya 14 ruang dengan 14 aktifitas yang berbeda namun tetap satu tujuan; Hidup Mahasiswa! Di lantai paling bawah, di garda terdepan gedung bagian kanan terdapat kantor BEMU, Kongres Mahasiswa Universitas (KMU) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU). Kantor tiga badan elite mahasiswa ini sengaja dibuat berdekatan, supaya gampang berhubungan satu sama lain. Maksudnya kalau ada masalah, bisa langsung ditangani langsung tanpa perlu repot-repot bikin janji atau kirim-kiriman surat, wong kantornya bersebelahan kok.

Lalu di garda terdepan bagian kiri ada Pos –sebutan sekretariat UKM MENWA- dan Rumah Sakit –sebutan sekretariat UKM Korps Sukarela (KSR)-. Umm, rasa-rasanya repot juga ya jika harus menggambarkan Kampung Mahasiswa lewat kata-kata lebih baik buat denahnya saja deh.

 [maaf gambar tidak bisa di-display]…

Keterangan:

Lantai Satu

1. Sekretariat BEMU

2. Sekretariat KMU 3. Sekretariat DPMU

4. “POS” (Sekretariat UKM Rezimen Mahasiswa)

5. “Rumah Sakit” (Sekretariat UKM Korps Sukarela)

6. “Sanggar” (Sekretariat UKM Teater Mahasiswa)

7. “Dapur” (Sekretariat UKM M2M –Musik Mahasiswa-)

8. “Gazebo” (Sekretariat UKM Back to Nature)

9. Saung Kampung I (Aula Kampung Mahasiswa)

10. Saung Kampung II (Aula Kampung Mahasiswa)

11. Kantin

12. Toko Buku + ATK + Photocopy

13. Sekretariat UKM Koperasi Mahasiswa

Lantai Dua:

14. “GOBER” (Goedang Bersama. Ruangan ini berisi loker-loker yang berisi barang-barang para UKM)

15. “Studio” (Sekretariat UKM Photografie)

16. “Redaksi” (Sekretariat UKM Lembaga Pers Mahasiswa)

17. “BIRU” –Bilik Ruhani- (Sekretariat UKM RUMAH –Ruhani Mahasiswa-)

18. Toilet + Tempat wudhu

Masjid Kampoeng Mahasiswa –Masjid Al- Marhamah-

19. Toilet + Tempat wudhu

20. “Padepokan” (Sekretariat UKM Bela Diri Mahasiswa)

21. Sekretariat UKM GBO –Gabungan Olahraga-

22. “CAFÉ” (Sekretariat UKM Café Bahasa)

23. Sekretariat UKM Choir

24. “GAWANG” (Sekretariat UKM Sepak Bola)

 

 

Masih pagi nih di Kampus Peradaban. Para student dari berbagai jurusan terlihat sibuk menderapkan langkah kaki ke pijakan aspal hitam menuju fakultasnya masing-masing. Sedang di Kampung Mahasiswa –seperti yang sudah dikemukakan tadi- masih sepi dari kegiatan mahasiswa. Hanya Pak Oleh –tukang sapu kampus dengan spesialisasi tugas bagian Kampung Mahasiswa- saja yang terlihat tengah mengelilingi KM sambil bersih-bersih. Dalam pengembaraannya mengelilingi KM, Pak Oleh menyempatkan diri untuk menoleh dan melongok masing-masing sekretariat UKM dan 3 badan elite mahasiswa.

Pengembaraan pertama dimulai dari sekretariat BEMU. Pak Oleh meraba jendela BEMU sebelum kemudian mengetuk pintu; ‘tok-tok-tok!!’

“Emmhh!! … Eh, Pak Oleh! Kenapa Pak??” Itu suara Presiden BEMU, Primaditya namanya. Tinggi kurus berkacamata, dengan rambut masih berantakan.

Pak Oleh menatap mahasiswa semester 9 yang tengah mengucek mata bangun tidurnya.

“Ah, ndak kok De’ Pim (panggilan Primaditya). Cuma mau negelongok BEMU saja, ada orang ndak? De’ Pim sedang apa? Ngomong-ngomong sudah sholat shubuh belum?”

“Uh..eh…sholat shubuh ya?! Jam berapa sekarang Pak??! Saya belum sholat shubuh!!!” Ujar Pim gugup dan terburu-buru keluar dari sekretariat yang tengah berantakan dengan arsip-arsip penting.

“Pak, tolong kunciin kantor ya. Nih kuncinya! Saya mau ke Marhamah dulu!!” kata Presiden BEM yang baru terpilih itu.

Pak Oleh geleng-geleng kepala, “Aktivis teladan kok sholat shubuhnya kesiangan!”

“Oh ya Pak! Nanti tolong titipin kuncinya ke Pos ya!!” Sayup-sayup terdengar teriakan Pim yang sudah berada dalam posisi dua meter lebih maju dari Pak Oleh. Dan tukang sapu berumur 50 tahun itu makin geleng-geleng kepala.

Tiga langkah kemudian kemudian, Pak Oleh sampai didepan kantor KMU. Pak Oleh meraba jendela, namun tidak ada siapa-siapa di kantor majelis tertinggi mahasiswa itu. Kemana sih pengawas BEMU ini?? Lalu bagaimana dengan kantor wakil para mahasiswa alias DPMU? Pak Oleh melanjutkan lima langkah kesamping, dan tidak ada orang juga! Umm… Pak Oleh berpikir, bukankah para ketua dua organ ini menginap disini tadi malam? Oh, ya sudah kalau begitu Pak Oleh mampir ke Pos saja sekalian menitipkan kunci BEMU untuk Pim. Namun,

“Ayo!! Ada apa Bapak ngeraba-raba jendela kantor kita? Mau jadi mata-mata ya? Awas! Jangan berani coba-coba!” Ujar seseorang dari belakang tubuh Pak Oleh. Pak Oleh merasa sedikit merinding. Kemudian lelaki itu mencoba-coba menengok kearah belakangnya dan, “WHAAA!!”

Seorang gondrong mencoba mengagetkan Pak Oleh dengan menyodorkan mukanya yang penuh rambut ke arah muka Pak Oleh.

“De’ Wongso?! Aduh bapak kaget!!” Ujar Pak Oleh kepada seorang gondrong yang mengagetkannya tadi. Dia Wongso, Ketua KMU.

“Emang Bapak ada perlu apa ngelongok-longok kantor kita berdua sampe segitunya? Jangan sampai Bapak diwaspadai sebagai antek lho!” Kata Gema, mahasiswa beralis tebal yang juga ketua DPMU tersenyum-senyum.

“Ah, ndak ada apa-apa kok! Bapak Cuma mau lihat keadaan kalian aja. Habis Bapak pikir kan kalian berdua menginap disini. Udah ya De’ Wongso, De’ Gema, Bapak mau ke Pos dulu.” Kata Bapak dari lima anak ini berjalan terburu-buru menuju sekret UKM MENWA. Sementara Wongso dan Gema yang baru saja kembali dari warung nasi berkomentar kecil-kecilan tentang salah satu Office Boy terlama Kampus Peradaban itu.

“Pagi Pak Oleh! Ada apa kemari?” Sapa Benny, Komandan MENWA yang tengah berkutat dengan barbell besi dan handuk selembut moltonya.

“Ini De’ Ben, Pim nitip kunci kantor BEMU. Sudah ya De’, bapak mau ngecek lantai dua dulu.”

“Oh ya, kayaknya memang harus di-cek deh Pak. Karena tadi malam saya mendengar suara pecahan kaca dari lantai atas. Jangan-jangan suara pecahan kaca itu lagi-lagi berasal dari UKM Choir. Pasti deh, si-Heru kekerasan latihan nyanyinya, jadi barang-barang kaca di Choir pecah semua. Harus diamankan nih!”

“Aduh, De’ Ben. Tidak baik menuduh seperti itu. Ya sudah saya mau keatas dulu. Mari..”

 

Di lantai dua KM. Pak Oleh merasa tidak melihat pecahan barang pecah belah di UKM Choir seperti yang dibilang Benny. Malah Pak Oleh melihat Heru, sang Ketua Choir tengah bermain badminton bersama Juned, ketua UKM GBO –Gabungan Olahraga- di lapangan tengah KM. Jadi apa yang pecah?? Selidik punya selidik, ternyata suara pecahan kaca itu berasal dari Gawang –sebutan untuk sekretariat Sepak Bola-. Ceritanya tadi malam, Burhan iseng latihan tendangan pisang didalam sekretariatnya yang ukurannya tidak terlalu besar itu. Walhasil, bola hasil tendangan yang dipopulerkan oleh David Beckam itu malah membuat pecah salah satu aksesoris sekret. Kebetulan Gawang terletak bersebelahan dengan Choir. Jadi ada sedikit salah paham dengan pemikiran Benny sehingga ia mengira suara pecahan kaca itu berasal dari Choir.

“Woy, Pak Oleh! Ikutan maen yuk!!” Teriak Juned sambil mengacung-acungkan raket.

“Iya pak, ayo sini turun!” Tambah Heru.

“Iya ade-ade sekalian. Nanti saja ya, Bapak mau keliling dulu.” Dengan santun Pak Oleh menolak.

“Keliling terus Pak. Sekarang kan udah pagi, emangnya dari rektorat ada peraturan jam pagi ya sekarang?” Tanya Juned lagi.

“Woah, ndak ada tuh jam pagi. Ini inisiatif saya saja, sekalian silaturahim sama teman-teman mahasiswa saja.”

“OOhh, begitu!!” Kompak Heru-Juned menjawab.

“Yuk, mari!”

“Mari-kemari Pak!” Lagi-lagi suara kompak Heru-Juned menjawab.

Sekarang Pak Oleh melihat sekeliling. Dari pandangannya terlihat Pim sedang mengobrol dengan Ihsan, Ketua UKM RUMAH –Ruhani Mahasiswa- di dalam Masjid Al-Marhamah, masjidnya KM. Dari lantai dua ini segala aktivitas penghuni KM memang bisa jadi terlihat secara gamblang.

Di lantai dua sebelah kiri terlihat ketua UKM Pers Mahasiswa tengah sibuk dengan tumpukkan ber-rim-rim bulletinnya yang siap diedarkan ke segala penjuru kampus. Lalu sekret Photographie yang terlihat sepi dan gelap. Jangan-jangan Sapto belum kelar nyuci foto hasil jepretannya kemarin? Atau jangan-jangan Sapto belum sholat shubuh juga seperti Pim?? Pak Oleh kembali geleng-geleng kepala akibat pikirannya itu.

Setelah puas memandang segala aktifitas mahasiswa dari lantai 2 KM, Pak Oleh turun kembali, mencari sampah-sampah yang berserakan. Maklum, KM tahun ini berbeda dengan KM tahun kemari. Entah, mungkin sejak terjadinya puncak krisis antar mahasiswa tahun lalu, yang merupakan tahun tertegang sepanjang sejarah pergerakan mahasiswa di Kampus Peradaban. Kalau dulu KM sangat kotor tanpa ada kepedulian atau perhatian dari para penghuninya, sekarang berbeda. Para penghuni baru ini menanamkan kesadaran tersendiri untuk merawat KM lebih baik. Walhasil, sekarang mencari sampah cukup sulit bagi PakOleh yang memang ditugaskan merawat KM.

Langkah Pak Oleh sekarang berbelok ke arah samping kiri, tempat UKM M2M –Musik Mahasiswa-, Teater dan Back to Nature (BtN) berada. Ia berharap menemukan sampah disana. Sebab setahunya 3 UKM ini merupakan UKM paling banyak mengadakan acara kumpul-kumpul. Apalagi tadi malam, Bani –Ketua UKM BtN- yang memang doyan makan membawa banyak makanan untuk menemaninya mengerjakan spanduk baru promosi UKMnya di ajang Kampoeng UKM nanti saat OSPEK mahasiswa baru. Pasti, pikir Pak Oleh, akan ada banyak sampah disana.

Pak Oleh sekarang sudah berada di dekat area 3 UKM ‘seru’ itu. Sanggar –sebutan sekretariat Teater- dan Dapur –sebutan sekretariat M2M- terlihat masih tertutup, hanya Gazebo –sebutan sekretariat BtN- yang terlihat sudah terbuka. Kemudian Bapak bertubuh kecil ini melangkah menuju Gazebo.

“Eeh, Bapak! Kesini mau nyari sampah atau silaturrahmi Pak? Kalo sampah mah ga ada dong. Kan anak BtN resik-resik. Masa pecinta alam mengumbar sampah?” Suara khas Bani menggema kedalam telinga kiri-kanan Pak Oleh.

“Oh, kalau begitu ya bagus toh. Saya senang mahasiswa sadar akan kebersihan lingkungan. Tapi saya mau tanya, memangnya merokok itu bagian dari kampanye anak-anak pecinta alam ya??” Tanya Pak Oleh sedikit menyindir. Pasalnya, ketika Pak Oleh datang, mahasiswa bertubuh agak tambun itu tengah asyik menghisap rokok di teras Gazebo.

“Oh…eh.., iya Pak. Rokok sih bukan bagian kampanye lingkungan Pak. Tapi kesenangan hidup, khususnya buat saya. He-he..” Jawab Bani nyengir kuda menahan malu.

“Ya-ya-ya. Tapi apa kamu ndak takut kurus kalau ngerokok??” Tanya Pak Oleh sambil berlalu.

“Heh??”

Begitu kisah pengembaraan Pak Oleh –tukang sapu yang baik hati dan tidak sombong- dalam mengelilingi Kampung Mahasiswa. Jadi, pagi ini KM memang masih sepi. Tapi tunggu hingga jam 10 pagi, sedikit demi sedikit para mahasiswa pasti berdatangan ke pusat kegiatan mereka ini. Dan KM pasti akan kembali ramai dengan kesibukan mahasiswa dalam beraktivitas.

Iklan

One thought on “satu suara menentang REKTOR [ini NOVEL GW]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s