Yang Berkesan Saat Wisuda

heheh, wisuda udah beberapa minggu yang lalu, tapi saya baru bisa posting kesan-kesan wisuda hari ini. :mrgreen:

  • Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

PB100002beliau keren ya. senyumnya itu lho, nampak tulus pas di panggung wisuda kemarin. foto ini diambil setahun lalu (2008) di auditorium utama. dan sebenarnya beliau tidak sendirian di foto ini. ada saya di samping kanannya dan teman saya di samping kirinya. tapi sengaja saya crop. hehe

  • Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Dr. Abdul Khoir, MA

S4025285foto ini saya ambil sekitar dua tahun lalu (2007) ketika saya dan seorang teman mewawancarai beliau di ruang kerjanya untuk kepentingan buletin LDK Komda Fakultas Adab dan Humaniora (FAH). beliau ramah dan baik hati. :)

  • Lagu ‘Jangan Menyerah’-nya D’Massiv yang dinyanyikan salah satu wisudawati
  • WALI

sebenarnya saya gak terlalu excited. cuma kaget ajah si- Apoy ikut diwisuda satu angkatan sama saya. hoohooo.

WaliBand-OrangBilang2008

  • Prasetya Sarjana

berikut ialah 3 point prasetya sarjana UIN SyaHid yang selalu dibacakan tiap wisuda:

Bismillahi al-Rahman al-Rahim

Asyahadu An la ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan Rasul Allah

Kami Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berprasetya:

  1. Sebagai alumni UIN, kami akan selalu menjaga nama baik almamater, berusaha mengembangkan pengetahuan Islam dan mengabdikannya kepada kepentingan bangsa, negara, dan perikemanusiaan.
  2. Sebagai Sarjana Muslim, kami akan patuh dan setia melaksanakan ajaran-ajaran Islam dan selalu sadar akan tanggung jawab kami terhadap kesejahteraan umat dan masa depan bangsa dan negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
  3. Sebagai warga negara Republik Indonesia yang baik, kami akan menjalankan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya, dan mengutamakan kepentingan agama, bangsa, dan negara di atas segala kepentingan lain-lainnya demi terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur di bawah lindungan Allah SWT.
  • Hymne UIN

UIN harumlah namamu Islam pusat kajianmu | Menjadi lambang keagungan bangsa berasaskan Pancasila | Pembangun jiwa serta penggali api Islam yang hak dan sejati | Pengembangan jiwa patriot nusa tanah air baktimu | Jayalah negara Jayalah Bangsa UIN Bakti nyata

Wisuda Bareng WALI BAND

‘Committed to Better Indonesia’

motto diatas merupakan tema sentral dari Wisuda ke-76 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Sabtu, 25 Juli 2009 M / 3 Sya’ban 1430 H. ya, karena akhir-akhir ini Indonesia sering dapat musibah mulai dari kecelakaan pesawat sampai Bom Mega Kuningan, maka tema diatas tadi dirasa pantas. ya, sebagai warga negara Indonesia yang baik, mari kita berkomitmen untuk menjadikan Indonesia lebih baik!

shubuh datang di 25 Juli 2009, hari wisuda ini. sementara saya belum mampu bangkit dari tidur. bukan kantuk yang saya rasa sebenarnya. namun keringat dingin dan ngilunya tulang yang membuat saya lemas seluruh badan menyebabkan rasa enggan bangun ini. mungkin juga ini akibat obat dokter yang semalam saya minum, efek biusnya belum hilang kali ya. namun saya tetap mencoba menyadarkan diri, sebab hari ini hari bersejarah buat saya dan tidak mungkin saya harus bolos wisuda cuma gara-gara sakit ringan begini.

S4021574 akhirnya, kami berada di Auditorium Utama UIN SyaHid. sebuah ruangan paling besar yang hanya digunakan  untuk acara-acara istimewa seperti wisuda. ruangan ini terasa sesak dan panas, padahal gede banget lho. ya maklum ajah sekarang UIN telah memecahkan rekor dengan meluluskan 933 wisudawan-wisudawati. keringat dingin masih bertahan di pori-pori. sementara suhu badan saya yang kadang panas dan dingin berebut menguasai kulit. dalam hati saya berkata, ”jangan pingsan… jangan pingsan!” dan beruntung saya tidak pingsan hingga ceremonial wisuda dimulai. Pdelman datang dengan membawa tongkat kebesaran UIN Syarif Hidayatullah diikuti Rektor Prof. Dr. Komaruddin Hidayat beserta Purek, Dekan, dan Guru Besar dari setiap fakultas. saya merinding ketika mereka berjalan ber-iringan begitu, rasanya campur aduk ada bangga, haru, kagum, terpana dan heran karena merasa prosesi wisuda ini rasa-rasanya mirip dengan upacara misa atau adat ummat kristiani di Vatican.

masih lemes dengan keringat dingin hingga prosesi wisuda untuk fakultas saya, Fakultas Adab dan Humaniora tiba. saya bersama teman-teman se-fakultas berdiri gagah. siap-siap mendapat senyuman manis dari pak rektor komeng eh pak Komar, sorry. hehe. oh iya, wisudawan terbaik saat ini ialah wisudawan dari fakultas saya lhoooo! namanya Siti Muizah dari prodi Bahasa dan Sastra Arab dengan IPK 3,95! wow! saya ikut bangga meski sebenarnya agak ngiri. maklumlah seorang bodoh yang cuma dapet IPK tiga koma sekian namun gak cum laude kayak saya ini, emang cuma bisa gigit jari ajah. namun seperti kata d’masive, syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah!

oke, saya sudah dilantik dan merasa lega menerima senyum manis dari pak rektor juga ucapan selamat yang ramah dan pak dekan. kemudian saya bersama teman-teman fakultas duduk kembali menunggu giliran teman-teman fakultas lain dilantik. maklum, fakultas saya mendapat giliran kedua pelantikan. jadi lumayan enaklah. dan setelah 6 fakultas mendapat giliran pelantikan, rektor istirahat sementara. soalnya mindahin kunciran kepala toga punya 933 wisudawan pegel banget bowww! ya kan. nahhh, pas disini nih WALI beraksi. lumayan kaget juga soalnya ada salah satu personil WALI (gitarisnya) yang bernama Aan Kurniawan (Apoy) dari jurusan Akuntasi, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial ikut diwisuda sabtu ini. akhirnya WALI yang personilnya emang alumni UIN semua ini sempet manggung di acara wisuda. saya yang masih lemas hanya bisa memasang tampang capek, soalnya prosesi wisuda yang harusnya hikmat malah bikin para wisudawan foto-foto, nyanyi2 gituh. padahal hp dan kamera harus mati. bahkan tertawa saja tidak diperbolehkan. tapi apa daya, namanya juga manusia. ya gak. hehe.

oke, WALI selesai tampil dan lanjut ke prosesi pelantikan wisuda yang tersisa yakni 4 fakultas dan sekolah pascasarjana. kemudian setelah itu, giliran pembacaan prasetya sarjana oleh 11 wisudawan-wisudawati terbaik. kami berdiri kembali sambil mengikuti 3 point prasetya yang dibacakan tsb. dan oke, itu selesai. lanjut ke pidato dari salah satu alumni UIN. dan yang terpilih untuk pidato saat itu ialah (yang jelas bukan saya), Apoy sang Guitarist WALI BAND. hehe, kalo wisuda ke-74 di bulan Januari 2009 kemarin, Yusuf Mansyur yang diwisuda dan disuruh pidato, sekarang Apoy WALI yang dapat giliran itu. emang UIN diam2 full ngartist! hohooo.

oke, Apoy selesai pidato, dan giliran pak Komar pidato nih. wah, seneng deh bisa liat beliau, meski sebenarnya jauh jauh hari saya pernah foto bareng sama beliau. senang kan? oke, pak Komar selesai pidato. lanjut ke pembacaan doa dan penutupan sidang terbuka wisuda. setelah itu bisa ditebak, pdelman menghentakkan tongkat kebesaran UIN Sayrif Hidayatullah untuk menjemput Rektor, Purek, Dekan dan Guru Besar keluar auditorium utama. dan setelah itu, kami pun ikut keluar. haaah dan ternyata kami mengalami sesak napas ketika berjalan menuju pintu keluar. bayangkan saja, serasa selebritis kami dihadang ribuan pengunjung yang sekedar ingin memberi ucapan selamat atau bunga. saya makin merasa panas dan lemas luar biasa. tapi saya terpaksa keluar demi mencari ayah ibu yang entah dimana ketika itu.

nur-dila-mika oke, pencarian ayah ibu dan foto bersama keluarga selesai. kemudian saya langsung menuju fakultas karena teman-teman jurusan baik yang sudah dan belum wisuda telah berada disana. ah senangnya. apalagi ketika datang saya disambut bak pahlawan kesiangan. hohoo, prosesi yang mengharukan. apalagi ketika itu saya langsung menerima buket-buket  bunga mawar. senangya. dan seketika saya lupa kalau saya sedang sakit.

dan oke, sesi foto2 selesai. saya ingat kalau belum sholat zuhur. jadi zuhur dulu deh. trus langsung pulang ke rumah di tengah hujan yang mengguyur Ciputat.

Dapat Apa Sih dari Universitas?? *

Sebelumnya, mau ngasih tau kalo judul diatas, *‘Dapat Apa Sih Dari Univeritas?’* ialah judul bukunya pak Romi Satria Wahono, pakar IT sekaligus peneliti LIPI dan penemu e-learning Indonesia yang juga aktivis KAMMI Jepang semasa beliau kuliah dulu di negeri sakura tsb. Namun, kali ini saya tidak akan mengulas buku ini. Soalnya, belum beli bukunya sih. :D Saat ini saya Cuma mau merenung tentang apa yang saya dapatkan dari universitas. Aduh, apa ya? Jangan-jangan selama ini saya Cuma main-main kuliahnya *kayaknya gitu deh ya. :mrgreen: *

Oke, sekarang saya coba me-list teman-teman saya yang semuanya sudah lulus kuliah duluan.

  • Teman sebangku saya waktu SD sudah jadi dokter. Mungkin untuk buka praktek sendiri hanya tinggal menunggu beberapa tahun lagi.
  • Teman saya yang juga mantan ketua OSIS waktu SMP berhasil lulus 3,5 tahun dari jurusan Akuntansi UNPAD. Sekarang bekerja dan berencana melanjutkan S2.
  • Salah satu sahabat saya ketika SMP sekarang tengah berkutat dengan thesis program magister-nya. Dia berhasil lulus 3,5 tahun dan langsung melanjutkan S2 tanpa jeda yang cukup lama setelah lulus S1.
  • Teman SMP saya yang kuliah di jurusan Teknik Metalurgi UI berhasil lulus normal dan langsung bekerja di salah satu perusahaan di Cilegon.
  • Teman SMP yang kebetulan juga satu universitas dengan saya dengan jurusan Perbankan Syariah pun berhasil lulus dengan nilai memuaskan dan sekarang diterima bekerja di salah satu perusahaan di bilangan Kuningan, Jakarta.
  • Salah satu teman SMP saya yang dulu selalu berada di kelas unggulan pertama sekarang tengah menanti detik-detik keberangkatannya ke USA. Sebab ia lolos seleksi S2 di salah satu universitas di USA. Dia akan mulai kuliah disana sekitar 21 September 2009 nanti.
  • Teman baik saya ketika SMA yang dulu juga ketua OSIS di SMA telah berhasil lulus normal dari Pendidikan Bahasa Inggris UNJ. Kini ia bekerja di salah satu perusahaan asing di Jakarta.

Begitulah keadaan sebagian teman-teman saya. sepertinya berbeda jauh dengan saya ya? Saya tidak berhasil lulus normal (saya lulus dengan durasi 4,5 tahun) dalam menempuh S1. meski untuk usia wisudawan-wisudawati saya termasuk paling muda di fakultas dan jurusan. Namun tetap saja tidak semuda Riana Helmi, dokter lulusan UGM yang lulus dari kuliahnya dengan usia 18 tahun! Ya terang saja, ia masuk kuliah dengan usia yang sangat muda sekali, yakni sekitar 14 tahun. Sementara saya, dalam usia 17 tahun baru bisa merasakan tingkat satu perkuliahan. Ah, coba seandainya di SMP dan SMA saya ada program akselerasi, pasti saya akan masuk S1 dengan usia 13,5 tahun saja. Dan pasti saya sudah lulus S2 sekarang. Seandainya…seandainya…. Ah, mengandai-andai terus nih. Itu kan perbuatan setan, Dil. Jangan gitu-lah.

Oke, jangan terlalu dan selalu merendahkan diri (klo rendah hati mah harus). Coba dengarkan kata hati. Ayo, sudah dapat apa dari universitas? Sekarang mau dengerin kata hati saya dulu yah…

Hai, perkenalkan, saya kata hati-nya dila. Dan sekarang saya ingin kasih wejangan buat nih anak. Memang rada-rada nih dia, kadang suka minder dan kurang punya kemauan. Bener tuh kata bokapnya. Oke, dil, lo denger gue yah.

  • Pertama, soal universitas. Gue tau lo dulu gak pingin masuk UIN. Malah ngotot-ngotot pengen pindah dan nyoba SPMB lagi. Tapi gak tau kenapa akhirnya bertahan di UIN juga. Oke, gue bilangin, BERSYUKUR-lah. Masih banyak yang pingin masuk UIN. Bahkan lo dulu diterima di 2 universitas negeri. Tuh kan berarti satu jatah bangku PTN sia-sia. Pokoknya kuliah di manapun elo, pasti memang sudah jalan dari-Nya. Dan gak mungkin lo akan sia-sia setelah itu.
  • Kedua, soal temen-temen lo yang kata lo mereka smua sukses dan wah banget. Oke, bolehlah menjadikan mereka sebagai pemacu lo untuk lebih baik. Tapi jangan sampai lo rendah diri dan down gara2 ngebanding-bandingin terus diri lo sendiri sama mereka. Lo juga punya kelebihan kok. Sekali lagi bersyukurlah.
  • Gini dil, sekali lagi soal lo kuliah di UIN. Kayaknya lo agak-agak masih nyesel yah? *dila says: kata hati sok tau nih. Engga gitu kok!!* denger gue, dil. Kalo lo gak kuliah di UIN, mana bisa lo ketemu teman-teman terbaik yang sekarang selalu mendukung lo? Kalo lo gak kuliah di UIN, mana mungkin lo bisa dapet kesempatan magang di kantor sejak semester 2 dan bahkan bertahan sampai sekarang?! Kalo lo gak kuliah di UIN, lo belum tentu bisa dapet kesempatan menjadi aktivis mahasiswa dan bahkan berkesempatan belajar bagaimana berpolitik dan menjadi salah satu kandidat untuk posisi presiden BEM di fakultas (meski akhirnya kalah hehe). Itu smua pengalaman yang belum tentu bisa lo dapet di tempat lain. ya gak? Sekali lagi, bersyukur!
  • Sekarang yang harus lo lakukan ialah, terus bersyukur. Dan berkemauan dan berusaha keras. Rancang mimpi-lo dan wujudkan sebaik-baiknya. dengerin kata bokap-lo, kalo lo gak disiplin dan gak punya kemauan, gimana lo mau maju?? Oke, udah ah segitu aja wejangan dari gue.

Hehe, oke, thx buat kata hatiku. Ya, insya Allah saya akan selalu bersyukur. Tentang apa sih yang saya dapet dari universitas? Ah, apapun itu saya berharap bisa menjadi berkah untuk seluruh alam ini. sehingga saya bisa dengan tenang menyebarkan apa yang sudah saya dapat itu dengan bahagia. Buat teman-teman yang masih kuliah, jangan main-main ketika kuliah ya. Oke, serius dan pikirkan masa depan. Sekarang cobalah berpikir visioner. Mau apa nanti setelah kuliah. Yup, tetap semangat!!

*wah, kayaknya saya harus beli bukunya pak Romi nih…. Insya Allah semoga saya diberi kesempatan untuk beli. :) *

Sebuah Negara dalam Kampus

Note: tulisan ini saya sengaja posting di tengah hiruk pikuk pemilu negeri ini. semoga nyambung dengan postingannya. Jaya Negeri dan Bangsaku! :)

IMG_0400

kampanye salah satu partai kampus

Beberapa waktu lalu saya bertanya soal kapan PEMIRA (Pemilihan Umum Raya) akan kembali dilangsungkan di kampus pada adik kelas. Dia menjawab dengan ragu, “katanya sih Agustus, kak. Tapi kayaknya gak akan mungkin juga deh.” Saya pun mengangguk paham. Saya mencoba mengerti (lebih tepatnya sok tau) dengan keadaan sospol (sosial politik) kampus yang carut marut, tidak beda jauh dengan keadaan politik negeri ini. Di kampus kami pengadaan pemilu untuk BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) baik tingkat jurusan, fakultas dan universitas memang tidak pernah tepat waktu alias selalu molor. Seharusnya kampanye dan pemilu raya sudah diadakan bulan Juni, namun sampai awal Juli pun belum ada tanda-tanda persiapan pembentukkan KPU dan panitia pengawas pemilu. Sementara beberapa partai mahasiswa sudah tampak menyiapkan diri untuk pertarungan berikutnya. Ah entah kenapa mulanya PEMIRA bisa tidak tepat waktu begini. Padahal dulu ketika saya pertama kali mengenal dunia politik di kampus (2005), pemilu dilakukan setiap bulan Juni. Namun pada PEMIRA berikutnya (2006), entah apa sebabnya di-molorkan hingga dilangsungkan pada bulan September. Dan PEMIRA 2008 kemarin menjadi lebih molor lagi yakni dilangsungkan pada dua bulan terakhir di akhir tahun. Lalu kapan nih PEMIRA tahun ini ya??

PC010012

suasana TPS di salah satu fakultas

Begitulah kampus kami yang mengusung student government sebagai bentuk kebebasan berpolitik bagi mahasiswanya. Banyak yang bilang bahwa student government yang kami miliki persis seperti dengan miniatur NKRI. Mungkin begitu juga dengan kampus lain yang juga mengusung student government sebagai jalurnya. Student government alias pemerintahan mahasiswa memiliki sistem yang cukup rumit juga. Ya, persislah seperti Negara. Ada partai mahasiswa (kampus) yang berfungsi sebagai afiliasi politik bagi para mahasiswa. Di kampus kami setidaknya ada 6 partai kampus. Dan dari 6 partai inilah visi-misi, calon legislative dan executive digulirkan dan ditawarkan. Ada kampanye dll, biasalah persis kayak sistem demokrasi Indonesia. Bagi mahasiswa yang suka politik atau terlanjur terekrut dan aktif di perpolitikan kampus, pastinya getol dalam mempromosikan partainya. Bagi mahasiswa yang lebih aktif di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) biasanya berpikir lebih netral walaupun terkadang ada juga anggota UKM yang menjadi anggota partai kampus. Tapi disinilah fungsinya UKM, khususnya UKM yang spesifik kepada media kampus, mereka menjadi monitor bagi perpolitikan kampus. Bagi mahasiswa yang SO (study oriented) atau bahkan yang apatis (kupu-kupu alias kuliah pulang 2x) pastinya menjadi target empuk bagi para politikus kampus.

PC010038

suasana TPS di salah satu fakultas (dibalik bilik suara)

Bahkan pengalaman saya nih (ketika tingkat 1, kebetulan memang ketika itu masih hot-hotnya berpolitik) hanya karena berbeda partai politik, teman sekelas pun bisa jadi musuh. Saya merasakan suasana yang cukup panas dan alot di kelas ketika tengah musim kampanye dan pemira tiba. Ketika itu banyak teman yang bilang, “beda partai udah kayak beda agama”. :mrgreen: Ya, mau tak mau itulah yang harus diakui bersama. Segala cara bisa ditempuh Cuma karena ingin memenangkan kampus. Tapi bagi saya, ini bukan hanya sekedar berbicara tentang kekuasaan. Namun kita berbicara tentang ide-ide kita dalam membangun kampus lebih baik. Buat saya mahasiswa jangan hanya menuntut kepada kampus, tapi lakukan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan. Dan itulah salah satu alasan kenapa saya ikut berpartisipasi dalam politik kampus, setidaknya mau menjadi tim logistik kampanye dan bahkan diusung menjadi calon presiden di fakultas. Karena saya ingin berbagi ide untuk kampus saya yang lebih baik. Atau mungkin saya yang terlalu idealis? Ya-ya mungkin saja.

Sebuah Negara dalam kampus, tentu saja merupakan program yang cukup baik bagi perkembangan sense mahasiswa dalam kebebasan berpolitik. Jadi, isu untuk pembubaran student government di kampus kami, moga tidak menjadi nyata. Walaupun sebenarnya untuk belajar berorganisasi tidak harus melalui sistem student government. Oke kepada seluruh aktivis mahasiswa, tetap semangat! Jangan mengabaikan kuliah demi organisasi atau sospol. Dan jangan juga terlalu apatis sehingga mematikan kebebasan berorganisasi dalam hati. Karena sesungguhnya itu pun kebutuhan kita sebagai mahasiswa.

Lebih lanjut untuk artikel tips menjadi mahasiswa yang cerdas dan aktif, lihat disini.

Lebih lanjut untuk artikel-artikel lama saya tentang politik kampus UIN Syahid, lihat list berikut:

Lewat Teater, Kami Bicara Soal Indonesia

*saat latihan* adegan pembuka: para warga Desa Miskin tengah beraktivitas. terlihat sang pembawa prolog tengah mengelilingi panggung sambil membaca puisi.

*saat latihan* adegan pembuka: para warga Desa Miskin tengah beraktivitas. terlihat sang pembawa prolog tengah mengelilingi panggung sambil membaca puisi.

Akhirnya, alhamdulillah, saya punya ide baru lagi untuk menulis. Dengan mood yang baik dan inspirasi yang telah menunggu mampir beserta kata-kata yang siap diluncurkan di pikiran brilian ini.

Pemilihan-pemilihan umum-disingkat sebagai PEMILU. Kabarnya pemilu merupakan wujud nyata demokrasi, sehingga banyak yang menyambut baik pemilihan umum model begini yakni yang dengan cara langsung dipilih dari rakyat. Tapi ternyata dengan pemilu pun pemimpin yang lahir tidak bisa menghasilkan apa-apa, malah terkadang rakyat merasa sengsara dengan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan kondisi mereka. Lalu mengapa pemilu harus dipe

*saat latihan* masih dalam adegan aktivitas warga

rtahankan? Hmm….

Soal pemilu yang carut marut ini, kami dari mahasiswa hanya bisa mengkritisi dengan berbagai cara terbaik kami. Entah itu dengan menulis blog seperti yang saya lakukan sekarang ini, atau dengan aksi turun ke jalan, atau dengan aksi teaterikal, dll. Nah, dengan begitu kami berharap suara-suara kritis kami bisa didengar dan dipertimbangkan dan ditindaklanjuti oleh mereka yang merasa berwenang.

100_0087

*saat latihan* adegan debat kandidat

Soal aksi teaterikal, saya pun pernah melakukannya dengan teman-teman sekelas. Meski sebenarnya aksi yang kami lakukan bukan sebenar-benarnya aksi. Melainkan kami tengah melakukan ujian akhir semester (final test) kami untuk mata kuliah DRAMA. Ketika itu kami sekelas diminta untuk melakukan pementasan drama dengan tema bebas dan karya bebas juga. Akhirnya kami mengambil kesempatan ini untuk benar-benar mementaskan naskah drama buatan kami sendiri (buatan sutradara kami, Waode Fadhilah Fitriah). Waode memilih tema yang tidak biasa, yakni soal situasi pemilu di Indonesia yang carut marut. Kebetulan ketika itu sedang ramai-ramainya berbagai pilkada (pemilihan kepala daerah) di berbagai kota dan kabupaten dan provinsi di Indonesia yang ternyata (lucu dan miris) selalu berakhir dengan sedikit (kalo gak mau dibilang banyak) kericuhan. Maka kami bersegera menuangkan konsep itu ke dalam teater yang akan kami pentaskan untuk UAS kelas kami.

Ceritanya berlatar belakang sebuah desa miskin dan kumuh yang sudah sampai saatnya melangsungkan pemilihan kepala desa yang baru. Penduduk di desa miskin itu benar-benar terdiri da

*saat latihan* adegan mengantri nyoblos

*saat latihan* adegan mengantri nyoblos

ri orang miskin yang gajinya dibawah UMR. Sehari-harinya mereka hanya memikirkan bagaimana mereka harus makan dan tidak familiar sama sekali dengan pilkada yang akan berlangsung di desa mereka. Hingga suatu saat panitia pilkada datang berkunjung untuk memberitahu soal pilkada secara umum berikut calon-calonnya. Para penduduk cukup antusias mendengarnya dan berharap mereka bisa mendapatkan pemimpin baru yang adil dan sejahtera.

Kemudian saat kampanye tiba. Kebetulan untuk pilkada di desa kumuh ini hanya ada dua calon, yang pertama calon perempuan (Mrs. Ratu stared by Nurhayati) dan yang kedua calon laki-laki (Mr. Sudarisman stared by Yoga Sudarisman). Mrs. Ratu mendapat giliran kampanye pada hari pertama, sedangkan Mr. Sudarisman mendapat giliran pada hari kedua. Kampanye mereka dihadiri warga dengan cukup antusias. Mereka, para calon tersebut, selain membawa a

saat break latihan... huah, lumayan serius lho kita evaluasi...

saat break latihan... huah, lumayan serius lho kita evaluasi...

sisten pribadi dan ajudan mereka, juga membawa janji-janji untuk perubahan di desa miskin tersebut. Sehingga warga semakin antusias.

Sebelum diadakan pilkada, panitia pilkada inisiatif bersama warga desa miskin yang terdiri dari pemulung, pengemis, tukang dagang, pengamen, dan juga preman mengadakan debat kandidat pada H-1. Pada momen tersebut terlihat para calon saling beradu argument dan saling pamer janji. Sementara para warga terbagi atas dua kubu yang mendukung Mrs. Ratu dan Mr. Sudarisman.

Dan akhirnya, tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yakni pemilihan pilkada di desa miskin itu. Ketika para warga tengah sibuk berbaris, ternyata ajudan dari masing-masing kandidat tengah berusaha memberi uang kepada para warga secara diam-diam. Uang yang diberikan itu dimaksudkan untuk agar supaya (halaahh, mubazir kata dech) para warga bisa memberikan suaranya di bilik suara. Dan merupakan konsep yang brilian, ketika di panggung bilik suara di-setting menghadap penonton dengan tanpa penutup dan penghalang apapun di pintu depan. Sehingga penonton bisa melihat calon mana yang dipilih warga.

ini dia sutradara kelas kami, Waode Fadhilah Fitriah...

ini dia sutradara kelas kami, Waode Fadhilah Fitriah...

Oke, tiba ke perhitungan suara, ternyata hasil suara seri untuk masing-masing kandidat. Dan ini sangat mengherankan (ternyata kedua kandidat melakukan money politic dan penggelembungan suara). Akhirnya kedua kandidat tidak menerima dan saling menuduh. Panitia pilkada pun tidak bisa berbuat banyak. Sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan. Perkelahian antar kedua kubu pun tidak bisa dielakkan. Dan kericuhan pun terjadi. Semua berkelahi. Semua berteriak dan berlari. Juga menangis. Dan akhirnya, lampu panggung mati. GELAP. Semua mati. Tidak ada kehidupan. Kemudian lampu panggung menyala lagi, sutradara maju ke depan panggung. Dan disanalah para penonton baru sadar jika pentas telah usai. Tepuk tangan pun MERIAH. Dan kami mendapat nilai A+ untuk UAS DRAMA ini. Alhamdulillah….

Phhuiiihhh…. Panjang betul ceritanya yup. Baik teman, jadi intinya begini, lewat pentas drama tadi kami mencoba memberi pesan kepada para penonton soal apa yang tengah terjadi di Negara kita ini. Sungguh menngerikan. Saya menulis ini karena saya pikir momennya tengah tepat, yakni di saat hari-hari menuju pilpres di Juni 2009 nanti. Semoga bermanfaat dan ada hikmahnya.

Thx to:

  • Allah SWT
  • Rasulullah SAW
  • Momen PILKADA DKI JAKARTA pada Juli 2007. Mungkin ini adalah salah satu inspirasi bagi kami dalam berteater.
  • Mrs. Ina (Dosen DRAMA yang udah ngasih nilai “excellent” buat kita, tapi sayangnya karena nilai UTS kita jelek-jelek, nilai akhirnya jarang yang dapet A. hehehhh)
  • Teman-teman di kelas B jurusan Sastra Inggris 04 UIN Syahid; Ode (sutradara
    ini foto beberapa pemain dgn pengamen2 cilik yg berhasil masuk kampus tanpa ketauan satpam. ada Mika, si-wartawan yg lagi megang mic. trus Nuril yg berperan sebagai banci. dan Dila (penulis blog ini) dgn peran sebagai pemulung. hehehhh

    ini foto beberapa pemain dgn pengamen2 cilik yg berhasil masuk kampus tanpa ketauan satpam. ada Mika, si-wartawan yg lagi megang mic. trus Nuril yg berperan sebagai banci. dan Dila (penulis blog ini) dgn peran sebagai pemulung. hehehhh

    ), Nova (pembawa prolog), Edy (penata musik), Wulan (make-up), Nur (Mrs. Ratu), Yoga (Mr. Sudarisman), Habibi (Ajudan Mr. Sudarisman), Adrian (Ajudan Mrs. Ratu), Risa (Asisten Mrs. Ratu), Devi (Asisten Mr. Sudarisman), Iqbal (ketua panitia pilkada), Bayu (staff penitia pilkada), Ipeh (staff panitia pilkada), Lisa (pengemis), Yanti (preman pasar), Nuril (banci pasar), Meiva (tukang sayur), Aya (tukang ikan), Dening (tukang jamu), Ida (pembeli 1), Kiki (pembeli 2), Mela (pembeli 3), Mika (wartawan TV), Ede (kameramen), Toriq (anak dari Mrs. Ratu yang berpacaran dengan anak Mr. Sudarisman), Nufus (anak dari Mr. Sudarisman yang berpacaran dengan anak Mrs. Ratu), dan dila alias diriku sendiri (sebagai pemulung).

  • Teman-teman yang udah nonton.
  • Juga semua pribadi yang tak bisa kami sebutkan satu per satu.