Sang Pemimpi Tidak Boleh Larut Dalam Kecewa

intermezo: hmm… pernah teman2 merasa kecewa? kecewa pada orang sekitar kita dan keadaan. merasa tidak dihargai dengan hal-hal yang sudah susah payah kita usahakan. bagaimana rasanya? saya pikir cukup sakit menonjok ulu hati. kemarin saya merasakan hal ini. wajar memang jika kecewa ada dalam hati-hati manusia, karena kita hanyalah makhluk yang memiliki hal serba kurang, bodoh juga keras kepala. kemarin saya berusaha memendam rasa kecewa hingga bernyanyi kecil ala BCL:

ingin kumarah melampiaskan // tapi ku hanyalah sendiri disini // ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada // bahwa hatiku // KECEWA…

kemudian saya berpikir ulang lagi, buat apa saya nyanyi lagu ini? gak penting dan malah marah menjadi2. sehingga saya tidak bisa bersyukur. payah. akhirnya saya mencoba menenangkan diri. meski tanpa terasa air mata mengalir menuju aliran bawah wajah. dan kini, saya semakin tenang, sudah mulai bisa melupakan hal2 tsb. mohon maaf utk teman-teman yang menjadi objek dan sebab kekecewaan saya (meski sebenarnya sikap kalian harus diperbaiki juga dan harus peka terhadap perasaan orang lain. :) ).

salah satu sebab kecewa saya mereda ialah dengan menonton SANG PEMIMPI di 21 Bintaro Plaza kemarin (19/12). air mata saya kembali meleleh ketika nonton SANG PEMIMPI itu, bukan karena kembali kesal, namun karena terharu luar biasa. berikut ulasannya.

***

”Bangkitlah, wahai para Pelopor!!!, pekikkan padaku kata-kata yang menerangi gelap gulita rongga dadamu! Kata-kata yang memberimu inspirasi!!!” (Sang Pemimpi, Andrea Hirata)

dikisahkan ikal kecil tumbuh menjadi anak remaja dan harus merantau ke luar kampungnya untuk bersekolah di SMAN 1 Manggar. ikal bersama dua orang sahabatnya, arai (yang juga sepupu jauh ikal) dan jimbron menyewa satu rumah kecil untuk ditinggali selama mereka bersekolah disana. selain sekolah, mereka juga bekerja paruh waktu demi memenuhi kebutuhan hidup dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. mimpi-mimpi yang jika dilihat dan dibandingkan dengan kondisi mereka sangat jauh. dua orang anak kampung di antah berantah indonesia yang bermimpi untuk bersekolah di Sorbonne, Paris. tapi itulah kehebatan mereka, tak ada yang bisa mematikan mimpi yang mereka punya.

banyak tokoh hebat (tentunya) dalam film ini. namun biar saya hanya menyebut beberapa saja seperti pak balia (guru sma ikal, dkk), ayah ikal dan arai si sepupu ikal yang suka buat rusuh itu. pak balia, selalu menyebut siswa-siswanya dengan SANG PELOPOR. sebelum memulai dan menyudahi pelajaran, ia selalu meminta para siswanya untuk mengutip kata-kata dari orang-orang besar yang memberi mereka inspirasi. orang-orang besar yang dimaksud disini ialah tak terbatas pada tokoh dunia dan nasional namun siapapun orang yang berhasil memberi inspirasi pada diri mereka. dari sanalah mimpi-mimpi berhasil tumbuh tinggi dalam benak para siswa, tidak ada ketakutan mereka untuk bermimpi karena sudah ada kekuatan yang lebih besar yakni keyakinan.

disini, ayah ikal, ditonjolkan dengan perannya yang sangat sabar dalam menerima apapun yang menimpanya. tiada ada kata kecewa atau keluhan yang keluar dari bibirnya. ah tidak seperti saya yang selalu ekspresif dengan hal-hal yang sensitif. kesabarannya itulah yang membuat ikal selalu menyebut dirinya sebagai ayah juara satu sedunia.

arai, sepupu jauh ikal yang sebatang kara karena telah ditinggal mati ibu-ayahnya ialah orang yang paling tangguh di mata ikal. ia-lah sang pemimpi. ia membuat ikal berani menempuh mimpi-mimpinya. suatu ketika ia berkata, Kalau kita tak punya mimpi, orang-orang seperti kita akan mati, Kal!” Seperti ayah ikal, arai digambarkan tidak pernah mengeluh dengan keadaannya. ia selalu tampak riang dan terus mempertahankan mimpinya dengan berusaha sebaik mungkin. dan satu hal lagi yang menjadi keunggulannya, ia selalu punya cara dan tindakan yang tak bisa diduga orang lain.

ah, begitulah orang-orang yang yakin dengan mimpi-mimpinya. lalu bagaimana dengan kita? jangan menyerah yah. itulah kenapa saya buat kontes dengan meminta teman2 menuliskan impian, biar diingat kembali dan dicoba diwujudkan. itu kalo impiannya gak ngayal yah, hehe.

oia, satu lagi yang saya perhatikan dalam film ini, make-up artistnya bagus lho. soalnya penampilan wajah ayah dan ibu ikal sejak zaman ke zaman bisa berubah dan meyakinkan. maksud saya ketika ikal kecil, rieke diyah pitaloka dan mathias muchus yang memerankan ayah-ibu ikal terlihat tampak muda, lalu ketika ikal remaja, penampilan setengah baya mereka meyakinkan dan ketika ikal dewasa, mereka tampak sangat tua dan lemah dengan make up yang didominasi warna gelap. luar biasa. two thumbs up untuk petugas make up SANG PEMIMPI. :mrgreen:

oke dicukupkan untuk ulasan SANG PEMIMPI kali ini. baik Para Pelopor, sebelum kita akhiri ulasan kita, pekikkan padaku kata-kata yang menerangi gelap gulita rongga dadamu! kata-kata yang memberimu inspirasi! :mrgreen:

 

 

The Class: Dokumenter Seorang Guru

imageHari Guru memang sudah lewat di bulan November kemarin. tapi tidak ada kata berhenti untuk berterima kasih pada mereka yang telah menjadi guru bagi yang lainnya. tidak ada batasan hari atau waktu. membahas peran guru memang tidak akan pernah habis, sebab sosoknya sangat begitu kita kenal sejak kecil dan akan selalu dekat dengan kehidupan kita. kali ini saya akan membahas film mengenai guru yang berjudul THE CLASS.

The Class, merupakan film Perancis yang berjudul asli ENTRE LES MURS. film yang pernah meraih penghargaan Festival Film Cannes ke –61 di tahun 2008 ini merupakan semi dokumenter karena berdasarkan kisah nyata seorang guru bernama Francois Begaudeau (bernama Francois Marin dalam film) yang mengajar di sekolah multi nasional yang kebanyakan siswanya berasal dari kaum pendatang luar Perancis kelas menengah ke bawah. seperti namanya, THE CLASS atau ENTRE LES MURS (arti: DI BALIK DINDING), film ini menceritakan kehidupan sebuah kelas dimana interaksi antar siswa dan gurunya terekam jelas.

yang saya suka dari film ini ialah pengambilan adegan yang tampak tidak dibuat-buat, karena hampir semua pemain disini memerankan dirinya sendiri. kegiatan belajar mengajar pun sepertinya sangat menyenangkan, tiada jarak antar guru dan siswa seperti yang biasa terjadi di negara kita. di Indonesia guru, selain menjadi sosok yang dihormati, ternyata ia juga sosok yang ditakuti. disini guru jarang berperan sebagai teman yang hangat bagi anak didiknya. sementara di negara lain, dalam hal ini Perancis, guru merupakan tutor tempat kita mendapat dan berbagi ilmu tanpa malu. dalam film ini digambarkan betapa tiada sungkannya mereka saling berdiskusi, melontar pertanyaan satu sama lain atau MENGKRITIK satu sama lain, termasuk guru sendiri. cukup berbeda dengan Indonesia bukan, disini melontarkan pertanyaan wajar saja terkadang merasa sungkan, apalagi MELONTAR KRITIK pada guru, itu bisa jadi point mati untuk siswa.

film ini, meskipun menarik, namun agak membosankan jika dilihat secara keseluruhan, karena pengambilan setting hanyalah seputar sekolah dan kelas. sehingga disini kita bisa ikut serta menjadi siswa yang sedang mendapat pelajaran dari seorang guru. apalagi yang diajarkan itu TATA BAHASA PERANCIS, wah semakin pusing nontonnya. tapi itulah kalau mau melihat pesan dari sebuah film, kita harus bersabar menontonnya hingga tuntas sebelum kemudian menganalisanya.

P.S. Trims untuk salah seorang sahabat saya yang tengah menempuh S2 Kajian Wilaya Eropa, yang telah meminjamkan saya DVD film THE CLASS ini secara sukarela. semoga kapan2 mau meminjamkan bahan-bahan kuliah lainnya lagi, entah itu berupa keping DVD atau novel dan fotokopian sejarah kebudayaan Eropa. :)

credit:
http://gilasinema.blogspot.com/2009/06/class-entre-les-murs.html

Festival Film Eropa: California Dreamin’

intermezo:

selamat hari raya idul adha, semoga kita mampu mengambil hikmah dibalik perayaan ini. dan semoga penegakkan hukum dan rasa berkeadilan, simpati juga empati semakin mengisi relung-relung hati nurani masyarakat Indonesia. sehingga tiada lagi salah vonis atau berat sebelah seperti yang terjadi pada kebanyakan rakyat kecil. masa sih mencuri sebuah semangka karena lapar dan haus (padahal belum jadi dicuri) juga tiga buah kakao harus mendapat hukuman penjara 5 tahun dan 1,5 bulan. sementara pelaku korupsi yang jelas-jelas ketauan belangnya engga kena penjara. hmm…

***

Di November dan Desember 2009 ini ada beberapa Festival Film yang diadakan di beberapa kota di Indonesia seperti Festival Film Eropa (24 Oktober – 22 November), Festival Film Amerika (12 – 18 November), Jakarta International Film Festival (4 – 12 Desember). nah, kemarin alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk ikut serta menonton salah satu film Eropa dalam rangka Festival Film Eropa di CCF (Center Culture Francais) Jakarta. sebenarnya engga sempat, waktunya mepet banget. tapi saya coba sempat-sempatkan dan paksakan diri untuk nonton (niat banget ya) bersama salah seorang teman waktu kuliah, namanya Mika, cewek tomboy yang cinta mati sama Inter Milan dan band My Chemical Romance (MCR) :mrgreen:

Film yang kita tonton ketika itu ialah Film Rumania yang berjudul California Dreamin’ (Nestarshit). film ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada tahun 1999 ketika NATO melakukan pem-bom-an pada Yugoslavia. dan ketika itu sebuah kereta yang mengangkut sekelompok kecil tentara asal Amerika melewati sebuah desa Calpanita yang ada di Rumania. kereta tersebut ingin menuju Kosovo, namun diberhentikan di stasiun di desa tersebut oleh sang kepala stasiun, Doiaru. Doiaru memiliki kebiasaan korup dan mencuri besi-besi kereta api yang melewati stasiunnya. kebetulan kereta yang tengah ditahan itu kehilangan surat izin jalan-nya, jadilah kereta dan para penumpangnya ikut tertahan beberapa hari.

sementara itu sang walikota senang melihat adanya kereta yang ditumpangi orang Amerika tertahan. ia berpikir ini adalah kesempatan baik untuk menyambut para tentara Amerika itu dengan luar biasa. jadilah selama beberapa hari kota kecil tersebut selalu mengadakan pesta untuk tamu-tamu mereka yang tertahan. padahal sebenarnya, komandan tentara sangat gelisah dengan penahanan mereka dan ingin segera urusan kereta selesai dan bisa langsung menuju ke Kosovo, tempat tugas mereka.

dibalik masalah serius yang ditampilkan, adegan komedi pun bermunculan dalam film ini, dan kebanyakan penuh sindiran. salah satunya penggambaran pengurusan surat jalan yang hilang hingga ke pemerintah Rumania. ternyata laporan-laporan kehilangan surat tersebut tak pernah sampai dikarenakan kantor salah satu menteri selalu kosong dan jelas ada putusnya komunikasi disini. kemudian penggambaran masyarakat kota tersebut yang beragam, mulai dari yang sangat meng-agung-agung-kan Amerika sebagai negara paling hebat (seperti sang walikota) hingga yang sangat membenci Amerika dan memanfaatkan keberadaan sementara tentara Amerika itu dengan menggelar tuntutan kemiskinan mereka.

film ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk nonton ketika festival. tapi sayangnya, tidak ada sensor untuk film ini sehingga adegan-adegan yang cukup vulgar mendapat posisi aman disini. maklum kali ya kalo film-film festival biasanya gak masuk badan sensor terlebih dahulu.

trims sebelumnya (sekali lagi) untuk Mika, sudah mau diajak nonton dan pulang malem-malem. jalan dari Harmoni sampe Monas jam 11 malem  (soalnya bis dan angkot udah gak lewat jam segitu, jadinya terpaksa jalan. sepi dan serem bangedt tau di sepanjang Jl. Merdeka :( ), hingga ketemu supir taxi baik hati yang mau nganterin sampe Ciputat. jangan kapok ya Mika, kapan-kapan kita nonton film festival lagi, tapi dengan catatan JANGAN AMBIL JADWAL FILM MALAM HARI kalo engga mau pulang kemaleman. :mrgreen:

Brick Lane on the Novel and the Movie

Akhirnya kerinduan bersambut juga setelah sekian lama saya tidak mengulas buku dan film di blog ini. Sebenarnya bukan saya tak ingin mengulas buku yang sudah saya baca atau film yang telah saya tonton di blog yang full curhatan kosong ini. Namun semata-mata hal ini disebabkan sudah dua bulan ini saya tidak membaca buku apapun. Ah payah juga saya ini, padahal saya berjanji dan mentargetkan pada diri saya sendiri untuk membaca minimal dua buku dalam sebulan, namun sayangnya saya mengingkari hal tsb. Buku-buku yang sudah saya beli dan saya pinjam, harus bersabar menanti dibaca oleh penulis bodoh ini. Sebenarnya pun bukan karena tidak ada waktu, namun lebih karena rasa malas yang menggunung. Tapi yang lebih benar sih karena dalam dua bulan ini saya kesulitan menamatkan sebuah novel special yang saya beli dengan harga special juga yakni Rp. 225.000,-. Novel tersebut ialah novel berbahasa Inggris berjudul ‘BRICK LANE’.

51320ZiTg6L._SL500_AA240_ Brick Lane

Saya pun sebenarnya juga telah membaca buku ini sejak Januari 2009, karena saya memang membelinya pada bulan tsb pula. Niat awalnya sih karena ingin membantu teman yang tengah mencari bahan untuk skripsi. Dan saya berniat novel ini agar dibahas teman saya itu untuk skripsi, namun akhirnya tidak jadi karena ternyata telah ada teman saya yang lain yang lebih dulu membahas novel ini. buat teman-teman yang udah baca novelnya, yuk kita bahas bareng novel ini. dan buat yang belum, bisa baca artikel dibawah ini sebagai referensi.

Novel karya Monica Ali ini sangat menarik. Sampai-sampai novel ini menjadi nominasi untuk beberapa penghargaan seperti ‘the National Book Critics Circle Award’ dan ‘the Los Angeles Times Book Prize Shortlisted for the the Man Booker Prize’. Novel ini pun juga di-filmkan dengan judul yang sama.

Brick Lane menceritakan tentang seorang wanita Muslim Bangladesh bernama Nazneen yang dijodohi dengan seorang laki-laki (Chanu) yang 20 tahun lebih tua darinya. Setelah menikah ia diboyong suaminya ke London. Ia pun ikut suaminya dan meninggalkan kampung halamannya dan orang-orang yang dicintainya termasuk adik semata wayangnya yang bernama Hasina. Sebagai seorang Muslimah yang baik, ia mencoba untuk tidak bertanya apapun tentang takdir dan hidup yang dijalaninya. Namun suatu ketika ia terlibat affair dengan seorang pemuda tampan (Karim) yang radikal dan lebih muda darinya.

Begitulah singkat cerita novel tsb. Meski sebenarnya isinya lebih rumit dari itu karena banyak isu yang ditawarkan sang penulis disini. Sampai-sampai saya bingung ingin menuliskan hal yang mana dulu, hoho. Karena saya ingin membahas novel dan filmnya sekaligus. Moga-moga teman-teman blogger gak bosen baca ulasan saya ini yah. Soalnya kayaknya bakalan panjang kali lebar nih. :mrgreen:

  • Isu Ke-Islaman

Oke, yang pertama ialah mengenai Islam itu sendiri. Nah, ini pun dijabarkan dengan masalah yang tidak sederhana dalam novel ini. Pertama tentang takdir. Nazneen dilahirkan dari seorang ibu yang bersifat dan bersikap pasrah terhadap takdir Tuhan. Contoh kecil ketika Nazneen lahir, ia tidak menangis sama sekali dan terlihat seperti mengalami gangguan kesehatan, namun ibunya yang dipanggil ‘Amma’ itu tidak berusaha untuk membawanya ke dokter meski sudah disarankan oleh keluarganya yang lain. Ia memiliki motto, ‘whatever I did, only God decided’. Dan hal inilah yang menurun pada Nazneen. Dalam novel ini pun dinyatakan bahwa seorang manusia itu tidak boleh sepenuhnya pasrah tanpa berbuat apapun. Hal ini disampaikan lewat karakter sang bibi Nazneen yang bernama Mumtaz ketika ia berbicara pada Amma, “Sister, but until He reveals them we have to get on by ourselves”.

Kedua tentang refleksi ummat Muslim yang belum menjalankan ibadahnya dengan baik. Disini hampir semua karakter merefleksikan hal ini. Pertama, Nazneen, yang meski sangat taat dalam sholat namun ia hampir tidak pernah membaca Al-Quran (krn memang ia kurang pandai membaca huruf arab). Al-Quran hanya disimpan saja di tempat yang baik. Dan ia pun terpeleset melakukan hubungan gelap dengan Karim.

Lalu, tokoh Chanu yang merupakan suami Nazneen. Bisa dibilang ia merefleksikan seseorang yang beragama ‘Islam KTP’. Ya, hanya seorang Islam yang cuma memenuhi data statistik kepndudukan saja. Ia seorang yang berpendidikan dan sangat mencintai buku-buku miliknya. Namun untuk urusan Islam, ia menyimpannya dalam hati dan menganggap Islam ada dalam hatinya. “Islam is in here, in my heart.” Begitu katanya dalam film.

Kemudian tokoh Karim yang menjadi pacar gelap Nazneen. Ia merupakan gambaran seorang pemuda Muslim yang peduli dengan isu-isu umat Islam di seluruh dunia. Ia yang memberikan informasi pada Nazneen tentang kondisi umat Islam di dunia, mulai dari Palestina hingga Muslim di Afrika dan belahan bumi lainnya. Ia mendirikan gerakan komunitas Muslim yang dianggap radikal (Bengal Tigers) oleh pemerintah London. Namun ironisnya meski ilmu keislamannya cukup memadai (hadist, dsb) namun ia tidak cukup dalam mengaplikasikannya. Ia sendiri yang memulai hubungan gelapnya dengan Nazneen.

Lalu ada tokoh yang bernama Mrs. Islam. Ia adalah seorang wanita tua yang dikenal Nazneen di London. Ia pun berasal dari Bangladesh. Pada awalnya ia terlihat sangat baik dengan menasehati Nazneen akan banyak hal khususnya soal Islam. Namun dibalik itu ternyata ia adalah seorang lintah darat atau kasarnya pemakan riba.

Memang jarang ada Muslim yang menjalankan ibadahnya dengan sempurna. Apalagi yang nulis artikel ini. :mrgreen:

  • Isu Immigrant (Cultural Identity)

Karena novel ini bercerita tentang immigrant yang menetap di London, isu-isu immigrant pun tak lepas dari novel ini. seperti ketika misalnya Bengal Tigers mengadakan rapat perdana, terlihat dari cara mereka rapat mereka terikat sangat kuat dengan identitas asal Negara mereka yang pastinya melingkupi identitas Muslim mereka pula.

  • Isu Gender

Nah ini yang menarik. Tokoh utama dalam novel dan film Brick Lane ini ialah perempuan bernama Nazneen. Disini dijabarkan tentang berbagai karakter perempuan. Seperti perempuan yang pasrah dan hanya diam ketika ia menghadapi hidup yang diwakili oleh karakter Nazneen. Nazneen pun digambarkan sebagai perempuan yang sangat menghargai dan menghormati suaminya meski sebenarnya ia tidak mencintainya. Kemudian karakter perempuan yang pemberontak dan menentang aturan yang diwakili oleh karakter Hasina, adik kandung Nazneen. Ia diceritakan kawin lari oleh seorang lelaki yang dicintainya hingga akhirnya ia dikucilkan ayahnya sendiri. Ia menganggap hidup ini tidak harus selamanya pasrah dan harus berbuat sesuatu. Sangat kontras dengan Nazneen yang tidak pernah menyatakan keinginannya dan hanya diam dan diam. Namun justru inilah yang disukai Chanu dan Karim. Mereka menganggap perempuan seperti ini ialah perempuan yang ideal yang harus dimiliki laki-laki. Chanu dan Karim berkata tentang Nazneen, ‘the real thing’ dan ‘girl from the village’.

Satu lagi yakni mengenai masalah wanita karir, ada pernyataan dari tokoh Chanu ketika ia menanggapi permintaan istrinya untuk bekerja sebagai tukang jahit di rumah, “Some of uneducated ones, they say that if the wife is working it is only because the husband cannot feed them. Lucky for you I am an educated man” (Monica Ali, 2007:147)

Yaa, begitulah setidaknya permasalahan yang bisa saya tangkap setelah membaca novel ini. Andai saja novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pastilah dijadikan referensi untuk bacaan senggang yang wajib. Sayang, saya belum mampu menerjemahkan berlembar-lembar novel ini karena bahasa Inggris saya yang pas-pasan.

Oke, sekarang kita lanjut ke film Brick Lane yah. Monica Ali sebagai penulis novel ini berkata bahwa dalam ini adalah film yang cukup membuat heboh dan kontroversial. Berkali-kali pembuatan film ini mendapat protes dari kalangan tertentu. Namun Monica menganggap bahwa kebanyakan orang yang protes tsb ialah orang yang belum membaca novel Brick Lane ini. ya saya pun berpikir begitu. Namun mungkin ya memang wajar jadi kontroversial karena isu yang diangkat dalam novel ini cukup sensitive.

Ketika selesai menonton filmnya via internet secara online (bukan download) saya langsung mengambil kesimpulan, ‘wow, cerita yang diangkat tidak serumit dalam novel’. banyak yang bertanya-tanya termasuk saya, bagaimana caranya sang sutradara memasukkan lembaran-lembaran novel yang masalahnya sungguh kompleks ke dalam sebuah film yang cuma berdurasi 100 menit. Sarah Gravon, sang sutradara pun menjawab ketika pertanyaan ini mampir pada dirinya, “That’s the kind of question I like”.

ya karena memang yang difokuskan disini ialah karakter Nazneen dengan kisah cinta segitiganya. Ya, sekilas memang kisah cinta segitiga. Namun jika mau dianalisa, sesungguhnya ini ialah pergulatan batin seorang perempuan dalam pilihan yang begitu menguras pikiran. Antara kepatuhan dan keinginan hatinya. Antara Chanu dan Karim. Antara kembali ke Bangladesh dan tetap tinggal di London. Pada akhirnya ia dengan brilliant mencoba memadukan kepatuhan dan keinginannya. Ia memutuskan hubungannya dengan Karim dengan alasan ia memiliki tanggung jawab yang cukup besar sebagai seorang ibu dan istri. Namun ia pun memutuskan untuk tetap tinggal di London bersama dua putrinya ketika Chanu mengajaknya kembali pulang ke Bangladesh. Menetap di London ialah keinginan hatinya memenuhi permintaan putri pertamanya untuk tetap tinggal.

Berikut ialah sutradara dan pemain yang terlibat dalam Brick Lane the Movie:

sarah Sarah Gavron (sutradara)

tannishta Tannishtha Chatterjee (Nazneen)

satish Satish Kaushik (Chanu)

christopher_simpson Christopher Simpson (Karim)

Untuk menonton filmnya, bisa klik di
http://www.movie25.com/brick-lane_531.html

Dan untuk mengunjungi official website Brick Lane the Movie bisa klik
http://www.bricklanemovie.co.uk/
.

lb0905_brick_2_09-05-08_2JBERS2

Garuda yang Menyatukan Kami

3363200582_6b60037f28

Akhirnya, setelah seminggu film ‘Garuda di Dadaku’ ditayangkan perdana untuk umum, saya bersama teman-teman menonton juga. Rasa bungah dan semangat memenuhi jiwa kami meski harus berdesak-desakan bersama anak-anak kecil yang mendominasi bangku penonton. Hehe, ya, anak-anak kecil. Maklum film keluarga ini memang tepat ditayangkan kala liburan seperti sekarang.

Seperti gambar yang terlihat di poster-posternya, film ini memang bertemakan sepak bola dan cukup nasionalisme. Itulah yang membuat saya tertarik dengan film ini. Mungkin karena saya cukup senang dengan sepak bola dan dalam hati saya pun ada impian bahwa suatu saat sepak bola Indonesia bisa berbicara di kancah dunia seperti World Cup. Who knows? Ya ga?

Untuk cerita, standard sih. Yakni tentang seorang anak laki-laki bernama Bayu yang punya hobby sepak bola namun kesenangannya ini harus terhambat karena kakeknya melarang habis-habisan Bayu untuk menekuni hobby-nya itu. namun ada peran-peran yang saya suka disini seperti Heri (sahabat Bayu) dan Bang Dulloh (supir Heri) yang selalu menyemangati Bayu untuk terus mengasah bakatnya. Heri ialah seorang anak laki-laki yang juga sangat mencintai sepak bola. Ia berasal dari keluarga kaya raya. Namun sayangnya kedua kakinya lumpuh sehingga harapannya tentang sepak bola ia limpahkan kepada Bayu. Ia berharap Bayu yang jago bermain sepak bola di lapangan bisa semangat mewujudkan cita-citanya.

Salah satu adegan yang saya suka ialah ketika Bang Dulloh membantu Bayu dan Heri mencari lapangan sepak bola di Jakarta untuk keperluan latihan Bayu demi mendapatkan beasiswa di SS (Soccer School) Arsenal. Meski sebenarnya di dekat rumah Bayu ada lapangan sepak bola, namun ia tidak bisa latihan disana karena khawatir terendus kakeknya. Sehingga akhirnya terpaksa mereka mencari lapangan yang jauh dari rumah. Ternyata mencari lapangan sepak bola di Jakarta cukup sulit. Hingga Bang Dulloh kurang lebih berkata begini, “Ya gini dah nyari lapangan sepak bola di Jakarta. Susah nemunya. Udah pada jadi gedung semua. Pantesan sepak bola Indonesia gak maju-maju. Lapangan aja gak ada.”

Ya, betul kata Bang Dulloh. Saya pun memiliki impian jika mall-mall yang ada di Jadebotabek ini “dibabat” aja dan digantikan dengan stadion sepak bola. Dan semoga di daerah-daerah lain juga dibangun stadion yang cukup memadai demi kemajuan sepak bola nasional. Ah, itu Cuma impian seorang dila untuk sepak bola di Indonesia.

Dulu, ketika saya kecil entah umur 9 atau 10 tahun, yang jelas ketika itu sedang hangat-hangatnya World Cup 1998 (kayaknya). Saya pernah membaca cerpen mengenai sepak bola di sebuah majalah kanak-kanank yang populer sampai sekarang. Di cerpen tersebut diceritakan tentang tim nasional Indonesia yang berhasil mencapai final World Cup melawan Italia (entah World Cup kapan yak. Namanya juga cerpen.). Diceritakan bagaimana kerasnya perjuangan timnas di lapangan hingga meraih skor 5-0 untuk kemenangan Indonesia sebagai Juara baru World Cup. Hehe, ya ampun mimpi banget yah? Tapi jujur, saya amat menyukai cerpen tersebut hingga saya baca berulang-ulang sambil terus bermimpi untuk kemajuan sepak bola nasional. Ah, lagi-lagi ini Cuma mimpi seorang dila.

Begitulah kawan sedikit impian mengenai sepak bola. Sepak bola yang menyatukan dunia. Baiklah, mungkin saya tertarik dengan sepak bola karena teman-teman saya juga suka. Oke, mungkin pada awalnya saya memaksakan diri mengerti sepak bola karena cerita-cerita sepupu saya mengenai asyiknya nonton bola. Dan oke, mungkin saya tertarik dengan sepak bola karena para pemainnya. Namun percayalah ada getaran halus yang merambahi seluruh saraf ketika menonton bola. Terkadang sepak bola membuat saya harus menangis. percayalah. Hidup Sepak Bola Indonesia! Jaya selalu!!

GARUDA DI DADAKU… GARUDA KEBANGGAANKU…

KUYAKIN HARI INI PASTI MENANG

KOBARKAN SEMANGATMU… TUNJUKKAN SPORTIVITASMU

KUYAKIN HARI INI PASTI MENANG

PS. gambar diatas dikopi tanpa izin dari
http://farm4.static.flickr.com/3627/3363200582_6b60037f28.jpg