Komentator Spesial

Pernahkah teman-teman mendapat kejutan berupa komentator spesial dalam salah satu artikel yang teman-teman tulis? Pasti pernah ya. Dan saya yakin definisi dari yang dimaksud ‘komentator spesial’ pun beragam. Entah itu seseorang yang disukai, guru yang galak, atau apapun itu yang menjadi definisi spesial bagi kita. Coba bayangkan mereka yang spesial secara mengejutkan mengomentari tulisan kita di blog. Menyenangkan atau tidak? ;)

Beberapa kali saya mendapat komentator spesial di blog. Dan hebatnya para komentator itu selalu berbeda-beda. Lalu memang siapa komentator saya itu? Ya, komentator saya adalah orang-orang yang tidak kenal secara langsung namun mereka menjadi topik untuk tulisan-tulisan saya. Setidaknya ada tiga yang sempat saya hitung sebagai komentator spesial dalam tulisan-tulisan yang awalnya biasa saja namun akhirnya menjadi spesial karena para komentator itu.

1. Wisuda Bareng Wali Band | Tulisan ini dibuat karena ketika itu saya sedang merayakan wisuda kesarjanaan setelah sekian lama berkutat dengan paper. Kemudian akhirnya banyak komentar mengerubungi tulisan saya ini hingga ratusan. Dan yang paling spesial adalah komentator dengan nomor absen 105 (Siti Muizah, si peraih gelar MAHASISWA TERBAIK dengan IPK 3,95 dari fakultas saya hehe. *norak*) dan 106 (Rizki Aji, yang ternyata juga di-wisuda bareng dengan saya).

2. Serial Percy Jackson: Review Part 2 | Tulisan ini merupakan review dari film layar lebar Percy Jackson and The Lightening Thief. Sebelumnya pada review di Part 1, saya me-review novelnya yang diberikan oleh Raymond Lew, salah satu teman USA. Dan pasti bloggers sudah bisa menebak siapa yang menjadi komentator spesial. Yap, tepat, si komentator spesial kali ini adalah Raymond Lew sendiri. Horray!

3. Dafa dan Dua Bendera | Yang terakhir ini lebih bikin surprise! hoho. Ini tentang tulisan saya yang berjudul Dafa dan Dua Bendera. Mengenai anak kecil yang tidak bisa diam dan amat menggemaskan. Saya tidak ada feeling jika orang tua anak ini (Daffa) berhasil menemukan tulisan saya yang secara diam-diam saya muat untuk blog sederhana ini. Saya sangat senang karena Daffa yang ternyata punya blog dengan alamat http://daffaoke.blogspot.com ini sudah membaca semua yang saya tulis tentang dia. Ah, berkesan sekali. :mesem:

So, apakah teman-teman pernah mengalami hal yang istimewa sama seperti saya ini? It’s so surprising, you know. :)

Di Tanggal 25

Yay, hari ini tanggal 25! *lompat-lompat* :mrgreen: Bukan sebab tanggal 25 adalah tanggal penerimaan gaji bagi para karyawan di perusahaan-perusahaan tertentu yang bertatus perusahaan internasional. Bukan juga karena saya sedang berulang tahun atau dalam kondisi berbahagia lainnya seperti dilamar orang misalnya. Tetapi karena ini adalah 25 November! Bulan November untuk hari ke-25, satu hari yang ditetapkan secara resmi sebagai Hari Guru di Indonesia.

Hari Guru Nasional diperingati bersama hari ulang tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Hari Guru Nasional bukan hari libur resmi, dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. (sumber: wikipedia.org)

Dengan adanya Hari Guru kita dapat mengenang kembali jasa-jasa para guru kita dimanapun. Bukan hanya mengenang sebetulnya, kita juga bisa meneladani sepenuhnya, meniru sikap welas asih dan tanpa pamrihnya. Guru dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ya, tidak ada jasa untuk guru secara nyata yang diwujudkan dalam bentuk materi. Tetapi bentuk jasa guru adalah ilmu dan keberhasilan para anak didiknya. Apapun yang diberikan guru secara tidak langsung akan menjadi manfaat bagi para muridnya.

Untuk semua para guru. Semuanya. Bukan hanya guru-guru resmi di sekolah-sekolah, tetapi juga orang-orang yang bersukarela menjadi guru bagi siapapun meski yang bersangkutan bukan guru secara profesional. Untuk semua guru. Guru yang siapapun bagi siapapun. Saya ucapkan selamat untuk kebaikan hati kalian. Untuk ketulusan dan murahnya pemberian atas ilmu-ilmu kepada sesama manusia. Selamat!

Terpujilah wahai engkau ibu-bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. …. Engkau adalah pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. …. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku, tuk pengabdianmu. (Hymne Guru – Dengan lirik yang saya bongkar pasang)

Layang-Layang Putus

Bloggers, kali ini saya akan mengulas novel yang baru saya baca. Novel yang bukan termasuk dalam hitungan best seller atau juga paling baru ini berjudul ‘Layang-Layang Putus’. Novel ini sudah terbit sejak Februari 2005, hanya saja sepertinya tidak terlalu menarik minat banyak pembeli. Sebab berkali-kali novel ini menjadi langganan dalam daftar obral dan diskon pada pameran buku. Meski begitu, isi yang disajikan dalam ceritanya tidak obralan alias cukup bermutu untuk menjadi sebuah bacaan.

Novel karya Masharto Alfathi ini bercerita tentang perjuangan orang-orang difabel (different abbilities) dalam menjalani hidup. Difabel lebih dikenal sebagai penyandang cacat oleh orang-orang umum yang dalam kehidupan berkemampuan ‘normal’. Novel ini memperjuangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kesetaraan orang-orang yang dianggap cacat. Seperti tentang penggunaan kata difabel yang lebih disukai daripada ‘penyandang cacat’ yang dianggap sangat mendiskriminasi. Orang-orang difabel selalu dianggap kelas dua atau bahkan kelas tiga (jika ditambah dengan predikat miskin) oleh kebanyakan masyarakat. Mereka selalu dianggap tidak memiliki kemampuan dan sangat menyusahkan orang lain. Pemikiran seperti inilah yang seharusnya diubah. Orang-orang difabel menjadi tidak mampu karena mereka seringkali tidak diberi kesempatan untuk berjuang secara mandiri. Mereka selalu dianggap kaum yang butuh bantuan terus menerus. Padahal jika diberi kesempatan untuk mandiri, jika tidak dicemooh dan dianggap lemah mereka mampu menjadi hidup bersama dengan orang-orang ‘normal’ tanpa harus dianggap sebelah mata. Contoh yang populer adalah Nick Vujicic, seorang motivator yang terlahir tanpa tangan dan kaki. Lanjut membaca

Nulis Apa Ya??

Setelah bilang kangen kemarin, saya semakin ingin menulis (semoga bukan janji palsu) hehe. Tapi entah karena saking banyaknya ide atau saking malasnya nulis atau sok sibuk saya tidak tahu. Maka dari itu saat ini saya curcol NULIS APA YA?? Soal buku-buku yang sudah saya baca? Soal Kuliner di Ambon yang dari kemarin belum sempat saya tulis? Atau soal curhatan kosong? Ho-ho,, entah mau nulis apa. Yang jelas dari ide yang banyak itu, banyak sekali yang saya tunda kelahirannya. Bahkan janinnya pun sampai digugurkan lagi. Hmm, kasihan ide-ide itu. Sepertinya saya memang benar-benar tidak boleh mengasihani diri sendiri yang terlalu banyak menunda datangnya ide. Nanti makin malas merajalela jadinya.. Fuih.

Kangen

Sekarang tulisan saya berubah menjadi tulisan penuh rasa kangen. Setelah bolak-balik hiatus, saya merasa semakin terpuruk (halah bahasanya). Saya semakin jarang menulis, semakin jarang blogwalking, semakin jarang dikunjungi juga sama teman-teman. Dan kini saya merasa sangat kangen dengan teman-teman blogger saya. Saya kangen dengan aktivitas bertukar pikiran dan saling berbagi lewat tulisan dan komentar-komentar yang santun. Dan sekarang saya cuma bisa bilang KANGEN. Semoga saya bisa kembali menulis dan berbagi dengan yang lain. Semoga bisa berkumpul lagi. KANGEN.