“Karena kalian anak-anak dan kalian bisa mengerti” – Dolphus Raymond dalam To Kill A Mockingbird karya Harper Lee: 365.
pernyataan diatas yang diwakilkan oleh salah satu karakter pendukung dalam sebuah novel terlaris dan sangat luar biasa karya Harper Lee, To Kill A Mockingbird, ialah merupakan landasan dasar pemikiran dari novel ini. ini murni pendapat saya ya. jadi jangan sampai diangkat lagi menjadi sumber untuk makalah analisa nantinya. landasan pemikiran bukan berarti juga sebagai pesan moral, namun yaa merupakan inti kecil yang juga harus dianggap penting.
jadi begini, Lee, sebagai sang penulis, secara tak langsung ingin menunjukkan bahwa sesungguhnya terkadang anak-anak dapat menjadi lebih peka, lebih bijak dan dewasa. di awal novel ini, kita disuguhkan sebuah pernyataan dari Charles Lamb yang menyatakan, “Pengacara, kukira, pernah jadi kanak-kanak.” meskipun yang pernah menjadi anak-anak bukan hanya pengacara saja, tapi juga seluruh manusia. tetapi karena karakter utama dalam novel ini ialah pengacara (Atticus Finch) dan adegan-adegan pentingnya kebanyakan membicarakan hukum, maka sungguh tepat jika Lee mengutip perkataan Lamb yang ini.
To Kill A Mockingbird ialah sebuah novel karya Harper Lee satu-satunya (Lee tidak pernah menerbitkan buku lagi setelah ini), yang terbit pada 1960. ia merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman penulisnya ketika kecil di kampung halamannya pada sekitar tahun 1930-an. Lee mengangkat isu sosial yang sangat sensitif yakni rasisme yang memang rentan terjadi di Amerika, juga masalah pemerkosaan. namun yang menarik disini ialah, lagi-lagi, ia menggunakan sudut pandang seorang anak kecil. anak kecil bernama Jean Louis ‘Scout’ Finch inilah yang berperan menjadi narator ‘AKU’ (orang pertama) yang bertugas untuk mengawal perjalanan cerita ini. sehingga mungkin masalah serius dan kritis yang diangkat sang penulis disini tidak terlalu berat dibaca dan dipandang oleh reader karena kehadiran anak-anak kecil yang dominan. apalagi disini mereka mendapat porsi yang cukup besar untuk ikut campur dalam urusan orang dewasa di sekitarnya.
menceritakan sebuah keluarga kecil dari seorang pengacara di kota kecil Maycomb, Alabama, USA. pengacara yang bernama Atticus Finch ini tinggal bersama dua orang anaknya yang sedang bertumbuh yakni Jem Finch dan Jean Louis Finch (Scout), juga seorang pembantu berkulit hitam mereka, Calpurnia. masalah datang ketika Atticus memutuskan untuk membela seorang Nigger (sebutan untuk warga berkulit hitam di USA) yang dituduh melakukan pemerkosaan terhadap wanita kulit putih di pengadilan. keluarga tersebut jadi bahan kucilan orang-orang kulit putih lainnya. pada awalnya Jem dan Scout tidak terima atas penghinaan yang diterima mereka. namun semakin diberi penjelasan ayahnya mengenai sopan santun dan tata krama hidup berdampingan (bahwa tidak dibenarkan alasan apapun untuk menyerang orang lain), akhirnya mereka pun, terutama Scout, mengerti. di Amerika ketika itu hukum rasisme (kulit putih selalu diatas kulit hitam) memang sangat kuat. kulit putih akan selalu menang dan benar daripada kulit hitam. nah, disini, keluarga Finch mencoba untuk menunjukkan pada kawan-kawan kulit putih lain bahwa anggapan itu tidak benar.
novel ini menjadi novel yang sangat sukses di Amerika Serikat. dan ia masuk dalam daftar buku yang wajib dibaca kedua setelah Injil. akhirnya dua tahun kemudian, yakni pada tahun 1962, novel ini diangkat ke layar lebar dengan sutradara Robert Mulligan. sungguh prestasi yang tak bisa dibilang rendah untuk sebuah novel yang baru terbit. ditambah filmnya pun laris manis hingga mampu pula meraih penghargaan Oscar.
saya harap teman-teman bisa ikut membacanya. karena sungguh, novel ini memberikan pesan moral yang luar biasa tanpa harus menggurui.
“Kau tidak akan bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” – Harper Lee.

26/10/2009 at 6:41 am |
kalau novelnya saya memang belum pernah baca, tapi saya mencoba mengingat apa pernah nonton pelemnya ini ya, kok ya sepertinya samar-samar ingat, karena genre macam ini saya suka.
26/10/2009 at 11:53 am |
umm… wah kayaknya dejavu tuh pakacil. hihi..
26/10/2009 at 9:17 am |
biasanya justru sering terdengar kata-kata: “karena kalian anak-anak, maka kalian belum bisa mengerti..”
buku dan film yang harus bundo tonton **hehhe sok iye sempat
**dhila sibuk yaa, kemarin ndak hadir pelantikan di Ladang Bundo, dhila diangkat jadi MenLu biar bisa ke London
26/10/2009 at 11:56 am |
iya, bun. betul. hoo..
** wah, bundo, maap, aku emang blum sempat dan menyempatkan diri blogwalking ke blognya teman2… wah maap.. hmm, dan aku jadi menlu? amiinn! klo gak menlu, DIPLOMAT ajah deh bund.
26/10/2009 at 9:50 am |
great..
gini kalau lulusan sastra beraksi,. he3..
kalah saya..
26/10/2009 at 11:57 am |
wohoho… masa sih?
menurut saya, ketika baca ulang artikel ini, kok kesannya terlalu bertela-tele dan agak banyak kata yg mubadzir ya? hihi, mengkritik diri sendiri tak mengapa toh?
26/10/2009 at 10:59 am |
untuk mengenal orang lain memang harus berinteraksi dan berjalanlah bersamanya sehinga engkau akan tahu siapa sesungguhnya dia. Novel adalah salah satu pembelajaran tentang hiudp
26/10/2009 at 12:22 pm |
yup, setuju, pak.
26/10/2009 at 11:21 am |
Yang saya amati juga begitu. Konon katanya anak kecil bisa melihat roh halus, sementara orang dewasa tidak kecuali yg mempunyai kemampuan khusus. Anak kecil mudah ngambek/nangis karena sudut pandang pemikirannya masih tahap beta, tapi di sisi lain anak kecil terkadang sanggup mencetuskan ide brilian karena kejujurannya dalam mengungkapkan sesuatu. Beda sekali dengan orang dewasa yg penuh pertimbangan.
Keren diL… dapet aja novel jadul…
26/10/2009 at 12:24 pm |
hmm.. ya, itulah kenapa saya ingin kembali menjadi anak-anak.
** aku dapet novel jadul ini krn direkomendasiin salah satu teman blogger. kebetulan beliau juga komen disini tuh, kang. tuh… orangnya yg jadi komentator ke-tiga.
26/10/2009 at 3:16 pm |
Wuiiiih Kereen banget tuh novel pastinya yah Dhil, aku suka banget ama novel-novel seperti ini. Jadi teringaat ama novel Totochan dari Jepang. rasanya kita benar-benar ikut bermain bersamanya di dalam setiap liku ceritanya. Thanks yah dikasih link buat download ebooknya…
26/10/2009 at 9:32 pm |
iya, mba. sama2
26/10/2009 at 4:19 pm |
Belum pernah baca novelnya. Keknya kudu mburu segera.
26/10/2009 at 9:34 pm |
yoo… segera buru.
26/10/2009 at 5:03 pm |
wah.. Baru baca sampe halaman 10 neh mbk. Eh dibuat ulasan ma mbk dila, jadi tambah penasaran pengen ngrampungin bacanya.. *SEMANGAT* :p
26/10/2009 at 9:35 pm |
*semangat!!!*
26/10/2009 at 10:52 pm |
saya punya bukunya dan udah nonton film hitam-putihnya…
pesan moralnya bagus sekali. pesan yang paling menarik menurut saya, selain pesan anti-rasismenya, adalah betapa sebaiknya kita tidak suudzon dulu pada orang. ingat kan kalau Scout dan Abangnya pernah menyusup ke rumah tetangga depannya? hehe..
dan Filmnya persis seperti imajinasi saya ketika baca bukunya.
27/10/2009 at 6:53 am |
iya, filmnya cukup pas dengan imajinasi kita ketika baca bukunya.
27/10/2009 at 12:03 am |
ini novel klasik ya dil?
brsn googling dulu, ternyata novel ini banyak yg mengapreasi..
27/10/2009 at 6:53 am |
iya, masuk novel jadul, Gus. dan saya termasuk yang mengapreasi.
27/10/2009 at 1:18 pm |
kata2 yang tertulis di paling akhir itu yang sangat menarik.Biskah kita mencobanya utk diri sendiri.
wah, Dila koleksi bukunya bagus2 ya, di gramedia ada ya Dila ?
Salam.
27/10/2009 at 5:00 pm |
Wah… dengan senang hati saya akan turut membacanya jeng. Tapi ngomong2, boleh pinjem nggak ni?
He.he.
27/10/2009 at 11:27 pm |
Saya sendiri sering belajar dari anak2…
salam kenal
28/10/2009 at 10:35 am |
boleh nih… bukunya..masih beredar ga dhil…???
emang ada filmnya juga ya?? jadi penasaran