Budaya nge-BLOG = Budaya MENULIS

freeimages.co.uk workplace images

Tulisan ini terinspirasi dari tulisannya Mas Irfan soal Nge-Blog dengan Hati, yang katanya tulisan itu juga inspirasi dari blognya ndoroKakung. Heheh. Gapapa, keren tuh kan. Dengan jadi blogger kita bisa menjadi inspirasi dan ter-inspirasi bahkan dengan tanpa kita sadari.

Blog ialah sarana bagi para surfer yang suka nulis dan ingin berbagi soal pengalaman dan ilmunya lewat dunia maya. Dengan memiliki dan menulis blog kita bisa belajar banyak hal, khususnya dalam hal MENULIS. Sebenarnya dengan menjadi blogger (sebutan untuk pengguna blog) tanpa disadari kita tengah berlomba dan berkompetisi dalam mengasah kemampuan kita menulis dan mengungkapkan berbagai ilmu dan pengalaman kita. Tidak ada hadiahnya memang dalam kompetisi ini, tapi kebanyakan blogger sudah sangat senang ketika ada orang lain yang mengunjungi blog-nya dan membaca tulisannya lalu apalagi mengomentari tulisan-tulisan tersebut. Itu artinya blog-nya disenangi orang lain.

Memang jika kita pertama kali menjadi blogger, sepertinya getol sekali berpromosi tentang blog kita dan mencari cara bagaimana caranya stats kita naik dan blog kita selalu menjadi primadona di dunia maya. Menurut saya itu hal yang wajar, selama itu menjadi stimulus bagi para blogger untuk mengembangkan dan mengasah kemampuan menulisnya, khususnya bagi yang merasa susah sekali menulis. Tapi lambat laun, lakukanlah sesuatu yang bernama nge-blog dengan hati. Jadi maksudnya, nge-blog bukan karena kita CAPER alias cari perhatian karena blog kita ingin dibaca dan dikunjungi orang, namun tulislah dengan sepenuh hati dan lagi-lagi tanpa disadari tulisan kita akan menjadi berkah dan diminati juga dicari orang lain.

Oke teman-teman, selamat nge-BLOG, selamat MENULIS. Salam…. :mrgreen:

Hati-Hati Provokasi dari Hatimu, Teman

Lagi-lagi didedikasikan untuk ikhwah, teman-teman yang berkecimpung di dunia Dakwah Kampus UIN SyaHid. Kalian pejuang, tetaplah menahan gelombang lunturnya semangat. Juga untuk teman-teman blogger yang baca artikel ini, tetap menjaga hati.

GeNing loBA eCeng

Akhirnya di penghujung bulan Mei 2009 ini saya “dipaksa” oleh diri saya sendiri untuk menulis tentang sesuatu yang tengah RISKAN dan MENGKHAWATIRKAN bagi saya dan bagi kebanyakan manusia yang peduli dengan kekotoran hati. Saya menulis ini pada hal yang sangat mendasar, ialah untuk MENGINGATKAN diri saya sendiri juga teman-teman seperjuangan saya dan bagi mereka yang kebetulan tengah membaca blog saya ini.

Masih soal DUNIA MAYA dan konco-konconya. Akhir-akhir ini kita semua tahu bahwa manusia dunia tengah kena SINDROM FACEBOOK atau situs jejaring social lain yang terkadang membuat para penggunanya terlena luar biasa. Setiap saat yang dibicarakan hanya facebook. Bahkan ketika ada rapat penting pun, terkadang facebook dibawa-bawa. Bukan sesuatu yang baru sebenarnya, karena hal ini telah lama ada. Ya, virus facebook pun telah menjangkiti ikhwah UIN yang kurang waspada dengan hatinya *termasuk saya sepertinya*.

Situs jejaring social seperti facebook dan konco-konconya, tidak bermasalah sebenarnya. Namun yang menjadi penyakit ialah para pengguna situs jejaring social tersebut. Seringkali mereka menggunakan situs itu dengan segala hal yang kurang penting. Khususnya bagi ikhwah atau bagi mereka yang mengaku berseru kepada kebaikan, namun ternyata mereka sendiri lalai. Dari situs itu, yang pada awalnya berniat ingin menjalin silaturahim, eh malah kelempar ke jurang-jurang VMJ. Yeeeaaa,, lagi-lagi virus merah ini, aduh!!! Mungkin teman-teman bilang, “ah engga kok. Engga mungkin ane kena beginian. Engga mungkin saya begituan. Dll.” Tapi ingat teman-teman, ikhwahfillah, terkadang VIRUS telah menjalar dalam aliran darah kalian dengan TANPA DISADARI.

Bukan saya mengatakan bahwa FB tidak baik, sama sekali bukan. Tapi yang ingin saya tekankan disini ialah, ketika kalian berurusan dengan FB sambil membawa NIAT yang tidak-tidak. Yang pada awalnya ke internet hanya untuk urusan kuliah dan dakwah, sekarang jadi ditambah timingnya untuk urusan FB dan mengomentari status orang lain dengan komen-komen yang tidak penting. Masih mending jika komentar itu terjadi dengan sejenis, namun jika komentar itu terjadi antar lawan jenis?? Luruskan niat, bapak2 dan ibu2…. Ayo luruskan!

Jadi, hati-hati dengan provokasi hatimu, teman! Jangan pancing-pancing lawan jenis dengan komentar yang TIDAK PENTING. Kuatkan, puasakan nafsu kita. Dan saya sarankan buat teman-teman yang lagi addict sama FB (jadi inget saya dulu, kecanduan beberapa bulan lamanya), cobalah beralih ke BLOG apakah itu untuk selamanya atau untuk sementara. Karena menurut saya, dengan menjadi blogger, kita tidak hanya sekedar nge-net, tapi juga belajar; BELAJAR MEMBACA dan BELAJAR MENULIS. Untuk hal ini pernah saya jelaskan dalam tulisan saya yang berjudul PERAN DAKWAH ADK UIN SYAHID DI DUNIA VIRTUAL: ANALISA DAN TAKSIRAN. Oke teman, tetap semangat! ;)

Lanjutan, bisa buka artikel Budaya nge-Blog = Budaya MENULIS.

ber-KENANG-KENANG

hmm… gara-gara gak tau mau nulis apa kali ini. juga karena belum sempat menulis artikel-artikel yang sebenarnya sudah masuk dalam daftar list saya dengan judul “TULIS titik dua!” tapi akhirnya… saya memutuskan untuk tidak menulis sejenak beberapa hari ini, termasuk pengadaan halaman sastra inggris saya yang belum jadi (tapi sebentar lagi insya Allah, pasti akan ada artikel perdananya kok untuk halaman itu).

namun begitu, meski saya memutuskan istirahat sejenak, kali ini saya ingin ber-KENANG-KENANG dengan tulisan-tulisan lalu saya. tulisan-tulisan yang saya buat dengan inspirasi dari berbagai orang yang saya temui di sekitar kita. mulai ketika saya terpesona dan jatuh cinta dengan seorang kakek tukang sayur dekat kosan di kampus. dengan pengamen kecil bernama IRFAN yang setiap kali saya bertemu, saya tak bisa menghapus senyum manis untuknya. atau ulah iseng saya yang suka ngambil gambar di tempat-tempat umum. beberapa orang dan benda pernah menjadi korbannya seperti mba-mba yang salah nyari tempat duduk, sebuah HELM yang salah ditempatkan oleh pemiliknya, wartawan-wartawan yang pernah saya foto, SELOKAN yang beralih fungsi menjadi KAMAR MANDI UMUM, seorang ANAK KECIL yang naik angkot sendirian dengan baju basah kuyup karena kehujanan, dan seorang PRIA BERKALUNG ZIONIS yang saya foto dari dalam bus way. dan semuanya, semua yang saya temui dan amati selalu menjadi proses tadabbur dan renungan bagi saya. maka saya patut BERTERIMAKASIH kepada CAPUNG yang telah hinggap di tangan saya, juga untuk AYAH dan ANAK yang tengah lelah membawa kardus hasil pencariannya seharian untuk dijual, untuk TUKANG KORAN yang eksis di kampus dan TUKANG BECAK yang jadi langganan saya tiap kali pulang malam dengan fisik lelah. terimakasih telah menunjukkan saya banyak hal. meski kalian tidak tahu. namun, spesial buat adik yang semakin hari semakin saya cinta dan yakin bahwa dikau ialah anugrah bagi keluarga ini.

KOTA TUA kayak apa sih??

fatahillah_s

jkt-kota-tua-toni

merupakan fenomena yang menyedihkan tentang diri saya. wew! pasalnya, saya adalah warga Jakarta yang KUPER tentang kotanya sendiri. maklum-lah anak rumahan, penakut dan sering ditakutin. kenapa KUPER? ya, karena saya belum pernah jalan2 ke KOTA TUA dan mengunjungi museum-museum yang ada disana. hiks-hiks… menyedihkan!! padahal saya ingin sekali REFRESHING, entah sendirian atau dengan teman-teman dekat. saya ingin jalan-jalan ke museum (bosen keseringan ke mall atau ke toko buku). soalnya mumpung ada KOTA TUA yang bersejarah, yang dekat dan murah-meriah… kenapa harus yang lain dulu? atau kenapa wisata ke luar kota harus didahulukan?? hikz-hikz… kabulkanlah TUHAN… saya ingin melihat PESONA KOTA TUA bersama teman-teman. amin.

Lewat Teater, Kami Bicara Soal Indonesia

*saat latihan* adegan pembuka: para warga Desa Miskin tengah beraktivitas. terlihat sang pembawa prolog tengah mengelilingi panggung sambil membaca puisi.

*saat latihan* adegan pembuka: para warga Desa Miskin tengah beraktivitas. terlihat sang pembawa prolog tengah mengelilingi panggung sambil membaca puisi.

Akhirnya, alhamdulillah, saya punya ide baru lagi untuk menulis. Dengan mood yang baik dan inspirasi yang telah menunggu mampir beserta kata-kata yang siap diluncurkan di pikiran brilian ini.

Pemilihan-pemilihan umum-disingkat sebagai PEMILU. Kabarnya pemilu merupakan wujud nyata demokrasi, sehingga banyak yang menyambut baik pemilihan umum model begini yakni yang dengan cara langsung dipilih dari rakyat. Tapi ternyata dengan pemilu pun pemimpin yang lahir tidak bisa menghasilkan apa-apa, malah terkadang rakyat merasa sengsara dengan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan kondisi mereka. Lalu mengapa pemilu harus dipe

*saat latihan* masih dalam adegan aktivitas warga

rtahankan? Hmm….

Soal pemilu yang carut marut ini, kami dari mahasiswa hanya bisa mengkritisi dengan berbagai cara terbaik kami. Entah itu dengan menulis blog seperti yang saya lakukan sekarang ini, atau dengan aksi turun ke jalan, atau dengan aksi teaterikal, dll. Nah, dengan begitu kami berharap suara-suara kritis kami bisa didengar dan dipertimbangkan dan ditindaklanjuti oleh mereka yang merasa berwenang.

100_0087

*saat latihan* adegan debat kandidat

Soal aksi teaterikal, saya pun pernah melakukannya dengan teman-teman sekelas. Meski sebenarnya aksi yang kami lakukan bukan sebenar-benarnya aksi. Melainkan kami tengah melakukan ujian akhir semester (final test) kami untuk mata kuliah DRAMA. Ketika itu kami sekelas diminta untuk melakukan pementasan drama dengan tema bebas dan karya bebas juga. Akhirnya kami mengambil kesempatan ini untuk benar-benar mementaskan naskah drama buatan kami sendiri (buatan sutradara kami, Waode Fadhilah Fitriah). Waode memilih tema yang tidak biasa, yakni soal situasi pemilu di Indonesia yang carut marut. Kebetulan ketika itu sedang ramai-ramainya berbagai pilkada (pemilihan kepala daerah) di berbagai kota dan kabupaten dan provinsi di Indonesia yang ternyata (lucu dan miris) selalu berakhir dengan sedikit (kalo gak mau dibilang banyak) kericuhan. Maka kami bersegera menuangkan konsep itu ke dalam teater yang akan kami pentaskan untuk UAS kelas kami.

Ceritanya berlatar belakang sebuah desa miskin dan kumuh yang sudah sampai saatnya melangsungkan pemilihan kepala desa yang baru. Penduduk di desa miskin itu benar-benar terdiri da

*saat latihan* adegan mengantri nyoblos

*saat latihan* adegan mengantri nyoblos

ri orang miskin yang gajinya dibawah UMR. Sehari-harinya mereka hanya memikirkan bagaimana mereka harus makan dan tidak familiar sama sekali dengan pilkada yang akan berlangsung di desa mereka. Hingga suatu saat panitia pilkada datang berkunjung untuk memberitahu soal pilkada secara umum berikut calon-calonnya. Para penduduk cukup antusias mendengarnya dan berharap mereka bisa mendapatkan pemimpin baru yang adil dan sejahtera.

Kemudian saat kampanye tiba. Kebetulan untuk pilkada di desa kumuh ini hanya ada dua calon, yang pertama calon perempuan (Mrs. Ratu stared by Nurhayati) dan yang kedua calon laki-laki (Mr. Sudarisman stared by Yoga Sudarisman). Mrs. Ratu mendapat giliran kampanye pada hari pertama, sedangkan Mr. Sudarisman mendapat giliran pada hari kedua. Kampanye mereka dihadiri warga dengan cukup antusias. Mereka, para calon tersebut, selain membawa a

saat break latihan... huah, lumayan serius lho kita evaluasi...

saat break latihan... huah, lumayan serius lho kita evaluasi...

sisten pribadi dan ajudan mereka, juga membawa janji-janji untuk perubahan di desa miskin tersebut. Sehingga warga semakin antusias.

Sebelum diadakan pilkada, panitia pilkada inisiatif bersama warga desa miskin yang terdiri dari pemulung, pengemis, tukang dagang, pengamen, dan juga preman mengadakan debat kandidat pada H-1. Pada momen tersebut terlihat para calon saling beradu argument dan saling pamer janji. Sementara para warga terbagi atas dua kubu yang mendukung Mrs. Ratu dan Mr. Sudarisman.

Dan akhirnya, tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yakni pemilihan pilkada di desa miskin itu. Ketika para warga tengah sibuk berbaris, ternyata ajudan dari masing-masing kandidat tengah berusaha memberi uang kepada para warga secara diam-diam. Uang yang diberikan itu dimaksudkan untuk agar supaya (halaahh, mubazir kata dech) para warga bisa memberikan suaranya di bilik suara. Dan merupakan konsep yang brilian, ketika di panggung bilik suara di-setting menghadap penonton dengan tanpa penutup dan penghalang apapun di pintu depan. Sehingga penonton bisa melihat calon mana yang dipilih warga.

ini dia sutradara kelas kami, Waode Fadhilah Fitriah...

ini dia sutradara kelas kami, Waode Fadhilah Fitriah...

Oke, tiba ke perhitungan suara, ternyata hasil suara seri untuk masing-masing kandidat. Dan ini sangat mengherankan (ternyata kedua kandidat melakukan money politic dan penggelembungan suara). Akhirnya kedua kandidat tidak menerima dan saling menuduh. Panitia pilkada pun tidak bisa berbuat banyak. Sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan. Perkelahian antar kedua kubu pun tidak bisa dielakkan. Dan kericuhan pun terjadi. Semua berkelahi. Semua berteriak dan berlari. Juga menangis. Dan akhirnya, lampu panggung mati. GELAP. Semua mati. Tidak ada kehidupan. Kemudian lampu panggung menyala lagi, sutradara maju ke depan panggung. Dan disanalah para penonton baru sadar jika pentas telah usai. Tepuk tangan pun MERIAH. Dan kami mendapat nilai A+ untuk UAS DRAMA ini. Alhamdulillah….

Phhuiiihhh…. Panjang betul ceritanya yup. Baik teman, jadi intinya begini, lewat pentas drama tadi kami mencoba memberi pesan kepada para penonton soal apa yang tengah terjadi di Negara kita ini. Sungguh menngerikan. Saya menulis ini karena saya pikir momennya tengah tepat, yakni di saat hari-hari menuju pilpres di Juni 2009 nanti. Semoga bermanfaat dan ada hikmahnya.

Thx to:

  • Allah SWT
  • Rasulullah SAW
  • Momen PILKADA DKI JAKARTA pada Juli 2007. Mungkin ini adalah salah satu inspirasi bagi kami dalam berteater.
  • Mrs. Ina (Dosen DRAMA yang udah ngasih nilai “excellent” buat kita, tapi sayangnya karena nilai UTS kita jelek-jelek, nilai akhirnya jarang yang dapet A. hehehhh)
  • Teman-teman di kelas B jurusan Sastra Inggris 04 UIN Syahid; Ode (sutradara
    ini foto beberapa pemain dgn pengamen2 cilik yg berhasil masuk kampus tanpa ketauan satpam. ada Mika, si-wartawan yg lagi megang mic. trus Nuril yg berperan sebagai banci. dan Dila (penulis blog ini) dgn peran sebagai pemulung. hehehhh

    ini foto beberapa pemain dgn pengamen2 cilik yg berhasil masuk kampus tanpa ketauan satpam. ada Mika, si-wartawan yg lagi megang mic. trus Nuril yg berperan sebagai banci. dan Dila (penulis blog ini) dgn peran sebagai pemulung. hehehhh

    ), Nova (pembawa prolog), Edy (penata musik), Wulan (make-up), Nur (Mrs. Ratu), Yoga (Mr. Sudarisman), Habibi (Ajudan Mr. Sudarisman), Adrian (Ajudan Mrs. Ratu), Risa (Asisten Mrs. Ratu), Devi (Asisten Mr. Sudarisman), Iqbal (ketua panitia pilkada), Bayu (staff penitia pilkada), Ipeh (staff panitia pilkada), Lisa (pengemis), Yanti (preman pasar), Nuril (banci pasar), Meiva (tukang sayur), Aya (tukang ikan), Dening (tukang jamu), Ida (pembeli 1), Kiki (pembeli 2), Mela (pembeli 3), Mika (wartawan TV), Ede (kameramen), Toriq (anak dari Mrs. Ratu yang berpacaran dengan anak Mr. Sudarisman), Nufus (anak dari Mr. Sudarisman yang berpacaran dengan anak Mrs. Ratu), dan dila alias diriku sendiri (sebagai pemulung).

  • Teman-teman yang udah nonton.
  • Juga semua pribadi yang tak bisa kami sebutkan satu per satu.